
"Jessy! Makan malam sudah siap. Apakah kau sudah pulang?" teriak Anastasia sambil mengetuk pintu. Ketika tadi siang ia dan suaminya pergi keluar, Jessy pun ikut keluar.
Dean membuka matanya. Ia masih dalam keadaan memeluk Jessy. Bagaimana bisa ia tertidur? Ketika mereka berada di apartemen berdua, Jessy mengajaknya untuk pulang ke rumah.
Perlahan ia mengangkat jari-jarinya untuk merapikan rambut Jessy. Ia menatapnya serius. Apakah ia bisa hidup tanpa Jessy ketika berada di Yunani nanti? Berulang kali ia menawarkan agar Jessy bisa menemaninya namun jawabannya masih tetap sama. Ia menolak dengan keras.Jangan campurkan urusan pernikahan kita dengan pekerjaanmu. Begitulah yang ia katakan.
Terdengar kembali suara ibunya memanggil nama Jessy.
"Jessy, mom memanggilmu." panggil Dean.
Jessy membuka matanya. "Pukul berapa?"
Dean melihat jam dinding. "Pukul 8 malam. Apakah kau kelelahan sampai tertidur?"godanya.
Jessy turun dari atas tempat tidur dan memakai piyama nya. "Kau sendiri yang membuatku lelah." jawabnya sambil berjalan ke depan pintu. Ia membukanya.
"Pantas saja aku melihat mobil Dean ada di garasi." ucap Anastasia sambil menengok kedalam.
"Hi, mom.." panggil Dean sambil mengangkat tangannya.
"Kalian berdua, keluarlah. Dad sudah menunggu kalian." ucap Anastasia sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Bagaimana progress film yang akan kau buat?" tanya Lee ketika mereka sudah menyelesaikan makan malam.
"Ada masalah dad." jawab Dean serius.
Lee menatap Dean cukup lama. "Baiklah, sepertinya kau membutuhkan nasihatku. Ayo, ikut aku ke dalam." ucapnya sambil berdiri.
Anastasia dan Jessy hanya menatap kepergian keduanya. Ia kemudian membereskan piring-piringnya. Jessy pun ikut membantu.
"Ada masalah apa?" tanya Anastasia.
"Manajemen memecat aktor utama." ucap Jessy.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Anastasia terkejut. Dean tidak pernah mengalami hal semacam ini. Ia menoleh ke tempat dimana Dean dan ayahnya berbincang. Ia cemas.
...***...
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Lee.
"Pedro telah membuat masalah. Skandal pajaknya terbuka publik. Kami terpaksa memecat Pedro dan menggantinya dengan aktor baru. Tapi kami memiliki masalah kembali. Syuting yang akan dimulai minggu depan, kemungkinan harus diundur karena kami masih belum mendapatkan titik temu dari permasalahan itu." jawab Dean
"Kau harus berhati-hati. Ini adalah film besar keduamu. Kau harus melakukan yang terbaik. Apakah kau membutuhkan bantuan ku? Siapa aktor yang sedang kau siapkan?"
"Louis McIntyre." jawab Dean.
"Louis? Blood?" tanya Lee terkejut.
"Ya, aku sudah menonton filmnya." ungkap Dean. Ia menghampiri ayahnya dan duduk didepannya. "Ia bukan pemeran utama. Tapi banyak yang menyukai karakternya. Aku langsung bertanya pada orang-orang. Mereka lebih menyukai Louis daripada pemeran utamanya. Louis bisa memerankan seorang psikopat dengan baik. Untuk itulah kami langsung menemui manajernya."
Lee mengambil teleponnya. "Aku akan membantumu. Aku mengenal keluarga McIntyre dengan baik. Ayahnya Louis pernah bekerja sama denganku."
"Terimakasih dad. Kau terbaik." ucap Dean senang.
"Aku tidak butuh ucapan terima kasih. Aku hanya menginginkan film yang kau buat sukses.". ucap Lee.
"Itu sudah pasti. Terimakasih, dad.." ucap Dean kembali.
Dean berdiri. "Aku tahu. Aku ke kamar dulu. Selamat malam, dad."
Dean keluar ruangan dan pergi menemui ibunya. "Dad memang luar biasa. Aku hanya bercerita sedikit saja ia langsung mengerti. Ia malah akan membantuku."
Jessy membalikkan tubuhnya. Begitu juga dengan Anastasia. Jessy kembali mencuci piring yang tersisa, sedangkan Anastasia menarik Dean untuk duduk.
"Apa yang terjadi?"
"Aku sudah menceritakannya pada suamimu. Kau bisa bertanya sendiri." jawab Dean. Ia berjalan menghampiri Jessy. " Kau bisa melukai tanganmu jika melakukan pekerjaan itu seperti sekarang." bisiknya.
Jessy menoleh. "Kau bisa membuat citraku memburuk. Aku akan dicap sebagai menantu yang malas."
"Jessy, ayo kita berjalan-jalan diluar." ucapnya.
Anastasia tersenyum. "Pergilah, akan lebih baik jika kalian bersama. Sebentar lagi kau akan pergi, bukan?"
Jessy langsung sumringah. Ia berlari ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai, ia menghampiri Dean yang sudah menunggunya didepan pintu keluar.
__ADS_1
"Apakah diluar ada paparazzi?"
Dean tersenyum. "Apakah kau peduli tentang itu?"
Jessy menggelengkan kepalanya. "Tidak."
Dean menggenggam tangan Jessy dan membuka pintu. Sesuai perkiraannya, banyak paparazzi diluar. Karena sudah terbiasa bagi Jessy, semuanya dapat ia lewatkan dengan mudah. Mereka mulai berjalan di jalan besar. Ini pertama kalinya ia berjalan keluar dengan Dean di malam hari.
"Kau menyukainya?" tanya Dean.
"Ya. Aku tidak pernah berjalan-jalan malam hari sebelumnya." ucap Jessy.
Mereka pun berjalan sambil bergenggaman tangan. Beberapa orang sempat memperhatikan mereka, tapi Dean lagi-lagi tidak peduli.
"Dad akan membantuku?" ucap Dean
"Betulkah? Itulah namanya keluarga."
Mereka kini melewati sebuah taman kota. Dean menarik lengan Jessy untuk duduk disalah satu bangku yang ada disana.
"Aku pikir hidupku sempurna sejak berkenalan denganmu. Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Dad tidak pernah membantuku sedikitpun. Aku tidak pernah memintanya. Aku sangat dekat dengan Dad. Begitu juga Joan. Kami berdua tumbuh dengan didikan keras dad. Aku tenang bisa meninggalkanmu disini dengannya. Berat untukku meninggalkanmu disini sendiri. Untuk itulah aku ingin mengajakmu pergi." ungkap Dean.
"Aku tidak mau mengganggumu. Tapi, aku bisa menyusul mu jika aku sudah siap. Aku bisa bermain ke Yunani. Aku belum pernah kesana sebelumnya. Apakah Yunani tempat yang bagus?"
"Kau akan menyukainya."
"Dean, aku senang tinggal dengan ayah dan ibumu. Tapi aku ingin tinggal sendiri. Jika kau mengijinkanku, aku ingin tinggal di apartemen mu saja."
"Baiklah, aku akan mengijinkan mu untuk tinggal disana sendiri. Tapi aku akan meminta beberapa bodyguard untuk menjagamu. Hanya tinggal menunggu beberapa hari, kita akan berpisah. Kau masih harus menemaniku untuk pergi ke acara pesta yang dibuat oleh Jonas dan istrinya."
"Aku menunggu itu." ucap Jessy. Tiba-tiba ia memeluk Dean dengan erat. "Aaah.. Dean, sebentar lagi aku akan kehilanganmu. Cepatlah membuat film itu agar kau bisa kembali dengan cepat."
"Aku akan melakukannya untukmu." bisik Dean sambil membalas pelukan Jessy.
Kemesraan keduanya di taman kota tak ayal menjadi sasaran paparazzi untuk mengambil foto-foto mereka. Kecuali satu orang, pria itu menatap mereka dengan tajam. Ia awalnya hanya memegang kamera itu dengan erat, namun kemudian ia mulai mengangkatnya. Tatapan tajamnya bisa melukai siapapun yang melihatnya.
"Hanya sebentar saja kalian akan bersama karena aku akan merusaknya." geramnya sambil tersenyum sinis.
__ADS_1