
Ketika malam mulai menjelang, Alv menaiki sebuah
taxi untuk sampai ke apartemennya. Mengapa ia tidak memakai mobil? Ia tidak tertarik menggunakannya. Selain belum memiliki lisensi, iapun belum terlalu hapal kota ini. Semuanya serba baru untuknya. Bahkan ketika banyak kekhawatirannya mengenai kejahatan di kota ini, ia tidak peduli selama ia percaya jika sebuah taxi bisa mengantarnya hingga selamat sampai tujuan.
Perjalanan mereka cukup panjang karena jarak antara apartemen yang ia sewa dengan klinik cukup jauh. Ia bersandar didalam taxi dan menyimpan jasnya di kursi samping.
Ia menatap keluar jendela. Mengapa di kota ini billboard bertebaran dimana-mana? Billboard film, iklan dan promosi melalui LCD bahkan sebuah kain besar terlihat memamerkan bahan promosinya.
“Kau pasti baru di kota ini?” Tanya pengemudi.
Alv melihat pria didepannya melalui kaca depan. “Yah. Sebenarnya aku datang ke kota ini bulan lalu. Tapi aku benar-benar pindah ke kota ini baru dua minggu yang lalu. Aku masih belum paham mengenai kota ini. "
Pria itu menatapnya kembali dari kaca. “Apakah kau
seorang dokter?”
“Kau tahu?” Tanya Alv
“Kau keluar dari klinik sebuah kecantikan terpopuler
di kota ini. Banyak sekali selebriti datang ke klinik kalian. Aku melihat tampilan mu. Kau sepertinya orang pintar” Jawab pria itu.
“Sepertinya kau banyak tahu tentang kota ini. Dan tentang orang yang baru saja kau kenal.”
“Tentu saja. Aku berkeliling di kota ini hampir dua
puluh tahun lamanya. Dan aku bisa membaca sedikit tentang seseorang. Tapi kau tidak perlu takut. Aku bukan paranormal. Aku hanya seorang supir taxi." jawabnya dengan nada bercanda. "Oh ya, apartemen mu sudah dekat. Hanya tinggal dua blok saja. Hanya saja sedikit macet. Asal kau tahu. Jangan terlalu percaya dengan orang yang baru kau kenal. Beberapa taxi di kota ini ada yang bermain nakal. Kau bisa menghubungiku
ketika kau akan pergi bekerja. Kau bisa mencatatnya. Sepertinya kau harus aku
antar sebelum kau memiliki kendaraan pribadi.”
Alv mencatatnya di ponsel. “Aku tidak tertarik pada mobil. Aku lebih tertarik
mengendarai motor. Sayang, lisensi mengemudiku belum keluar. Aku harus mengurusnya minggu
depan.”
Pria itu tersenyum. “Kau pasti sibuk sekali. Tapi kau
harus tetap memprioritaskan keluargamu. New York adalah kota tersibuk. Kau bisa
__ADS_1
melihat daerah ini tidak pernah mati. Jalanan ini selalu hidup. Dan jangan
sampai lengah pada wanita.” Ucapnya sambil tertawa
“Mengapa kau katakan itu?” Tanya Alv penasaran.
Taxi yang ia tumpangi sudah sampai didepan
apartemennya. Pria itu menghentikan mobilnya. “Karena disini banyak penggoda.
Jika kau sudah menikah, kau tidak boleh lengah karena mereka bisa saja
merebutmu dari istrimu tanpa kau sadari. Yang ada hanya sebuah penyesalan.”
Alv mengeluarkan uang sesuai yang tertera didepan pengemudi
itu dan menyerahkannya. “Terimakasih atas nasihat bijak mu. Aku akan
menghubungimu besok jika aku membutuhkanmu.”
Ketika Alv keluar dari mobil, ia sempat berfikir.
memang sudah terlihat seperti seseorang yang sudah menikah? Ia hanya bisa menggelengkan
kepalanya. Iapun masuk kedalam gedung. Ada beberapa rombongan anak remaja yang terlihat
tengah membawa papan lukis ditangan mereka. Hal itu mengingatkannya pada
kejadian yang sangat lama sekali.
Aysun menyukai seni lukis sejak kecil. Sebelum kedua orangtuanya
meninggal, mereka secara khusus memberikan perhatian ekstra padanya
melalui seni lukis. Sayangnya ketika kedua orangtuanya pergi, ia tidak
ingin melakukan hal itu kembali. Melukis sama saja mengingatkannya pada kedua
orangtuanya. Aysun kecil sering menangis histeris jika mengingat tentang
orangtuanya. Untuk itulah ia hadir untuk menjadi pengganti kedua orangtuanya.
__ADS_1
Padahal mereka berbeda ibu. Ayahnya menikahi seorang gadis yang saat itu
merupakan sekretarisnya. Ketika Aysun lahir, ia tengah belajar di Turki.
Sedangkan kedua orangtuanya tinggal di Yunani karena pekerjaan mereka.
Jika mengingat hal itu, membuatnya sedikit sedih. Ia
menyayangi Aysun ketika pertama kali lahir. Ia melihat tangan mungil itu
memegangnya erat. Hingga kini ia tidak mau mengecewakan Aysun. Ketika ia
mengatakan menabrak seseorang saat itu, ia tidak bisa diam begitu saja. Ia
akan menjadi perisai jika suatu saat Aysun mendapatkan tuntutan karena
kecerobohannya.
Tidak terasa lamunannya membawanya ke depan pintu apartemen. Apartemen yang ia sewa saat ini bukanlah apartemen mewah. Apartemen ini bisa dikatakan cukup untuk ditinggali sendiri olehnya. Jika Aysun ikut tinggalnya di New York, ia tidak yakin akan membiarkannya tinggal di apartemen mini ini. Beruntung Aysun bekerja disalah satu dinas pariwisata Turki. Ia tetap tidak bisa meninggalkan negaranya.
Ia membuka pintu apartemen dan membukanya. Ia menyimpan tas dan jasnya di sofa. Ia kemudian berjalan ke dapur. Kopi buatannya tadi pagi masih tersisa dalam mesin pembuat kopi. Ia mengeluarkannya dan membuat kembali kopi untuknya. Ia bersenandung selagi membuat kopi. Jika ia masih liburan, ia pasti pergi ke bar itu kembali. Sayangnya besok ia kembali bekerja di pagi hari karena hari ini ia telah memiliki beberapa jadwal untuk besok siang.
Ia mendengar bunyi mesin kopi telah selesai membuat kopi untuknya. Ia membawa cangkir dan mengisinya dengan kopi. Ia berjalan ke depan jendela dan membuka beranda. Ia berdiri diluar sebentar. Benar ucapan pengemudi tadi. New York merupakan sebuah kota tersibuk di dunia. Ia melihat sebuah billboard raksasa yang terpasang di sebuah tempat perbelanjaan. Seorang model wanita yang memamerkan pakaiannya. Garis rahang yang tegas. Mungil namun tinggi semampai. Rambut panjang dan berkulit putih. Rasanya hal itu mengingatkan nya pada wanita itu. Ia masuk kedalam untuk mengambil ponselnya.
Alv duduk sambil mengangkat kedua kakinya keatas meja. Ia melihat foto pernikahan antara dirinya dengan wanita itu. Ia menutup matanya untuk mengingat siapa nama wanita itu. Sepertinya nomor ponsel wanita itu masih ada.
Ia penasaran. Mengapa wanita itu masih tidak menghubunginya? Mengapa wanita itu tidak menuntut atas apa yang ia lakukan? Mereka sudah menikah, tapi sejak hari pertama pernikahan mereka, mereka berdua tidak bersama bahkan tidak saling menghubungi satu sama lain. Apakah ia juga sedang mengikuti permainan ini?
Iapun menghubungi "Istri" jarak jauhnya. Baru saja ia memanggil, ada panggilan masuk. Aysun menghubunginya.
"Ada apa? Kau baik-baik saja? "
"Alv! Aku hanya ingin menegaskan kembali padamu!" serunya.
Alv tersenyum. "Ya, apa? Aku akan mendengarnya. "
"Jangan coba-coba menghubungi wanita itu! Aku ingin kalian bercerai. Sudah cukup kau bermain-main dengannya! "
"Baiklah.. " jawab Alv. Aysun menutupnya terlebih dahulu. Alv tersenyum.
Bercerai? Kami bahkan baru saja memulainya. Kami belum bertemu sejak hari itu. Tunggu sebentar lagi. Aku masih ingin bertemu dan bermain-main dengan Joan Lee. Ya, nama kau adalah Joan Lee. Aku mengingatnya sekarang.
__ADS_1