Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Mad at you, Rossy!


__ADS_3

"Ada kabar apa?" Tanya Dean ketika ia baru saja bangun tidur. Awalnya ia pikir Jessy ada disampingnya. Ternyata hanya halusinasinya saja. Mereka sedang berpisah. Semalam ia menghubungi Jessy namun ponselnya tidak aktif. Ia menghubungi rumahnya pun, kedua orangtuanya tidak ada. Ia merasa khawatir semalaman. Ia sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan istrinya itu.


Pagi ini cuaca sedikit sejuk. Angin berhembus pelan ketika ia keluar kamar. ia melihat Rossy sedang menyiapkan sarapan untuknya. Ia tengah memegang tabletnya. Sejak kejadian di pesawat, mereka tidak berbicara hingga keesokan harinya. Ia mengulangi perkataannya. "Ada kabar apa?"


Rossy berbalik dan menutup tabletnya dengan cepat. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."


Dean mencurigai sesuatu. Tapi ia malas bertanya. Iapun duduk didepannya. Secangkir kopi sudah tersedia di meja. Begitupun dengan sarapan pagi nya. Hari ini ia akan memulai syuting di kota Athena. Ia hanya menunggu Harris untuk menjemput mereka. Ia mulai meminum kopinya. Rossy masih mengingat rasa kopi kesukaannya. Ia kembali menatap Rossy. Wanita itu masih terdiam. Iapun mengeluarkan ponselnya. Ia akan menghubungi Jessy.


Ia mulai menghubunginya namun beberapa nada terlewat. Jessy tidak mengangkat telepon darinya. Ia mulai mengirimkan pesan singkat padanya.


'Sayang, aku merindukanmu. Apakah kau baik-baik saja?'


"Aktris muda yang sejak dulu menyukaimu ingin bertemu. Ia bahkan rela terbang kesini dari Itali untuk menemui mu." Ucap Rossy tiba-tiba.


Dean menyimpan ponselnya. Ia menatap Rossy. "Aku tegaskan satu hal. Aku sudah menikah. Aku tidak mau kepercayaan Jessy dirusak hanya karena aku bertemu seorang aktris yang sejak dulu mengejar ku."


"Shane anak dari perusahaan yang menaruh investasi setidaknya tiga puluh persen di film ini. Aku yakin kau tidak mau melewatkannya."


Dean menghentikan makannya. "Apa maksudmu?"


"Begitulah kenyataannya. Ayahnya memang berniat memberikan investasi sebesar itu untuk kebahagiaan anaknya. Aku pernah mengatakan padamu, kau terlalu cepat memutuskan menikah. Sedangkan masa depanmu sudah ada didepan mata tapi kau melewatkannya." Ucap Rossy.

__ADS_1


Dean menggebrak meja dengan kencang. Ia membuat Rossy terkejut karena kemarahannya. Ia berdiri dan pergi keluar. Ketika diluar, ia bertemu dengan Harris yang akan menjemputnya.


"Kau akan pergi kemana? Satu jam lagi kita dijemput untuk menuju lokasi." Tanya Harris.


Untuk saat ini ia hanya memiliki kemarahan terbesar. Harris yang membawa para investor itu. Bagaimana bisa Harris tidak mengatakan padanya tentang hal ini. Ia melanjutkan langkahnya.


"Dean, kita harus syuting. Kau harus bertanggungjawab pada aktor dan aktris yang sudah menunggumu di lokasi syuting!" teriak Harris.


"Aku harus mencari udara segar. Satu jam lagi aku akan menyusul." jawabnya sambil setengah berlari. Ia marah, kesal dan kecewa. Pembuatan film ini tidak seperti pembuatan film yang lain. Film ini harus membawa urusan pribadinya. Ia tidak pernah berharap mendapatkan perlakuan seperti itu dari para wanita. Shane dan Cindy masih satu tipe. Mereka berdua mengejarnya layaknya tidak ada hari esok. Mereka mengejarnya hanya untuk mencari ketenaran. Ia sudah bisa menyingkirkan Cindy. Tapi, jika ia menyingkirkan Shane, itu berarti investasi film ini akan buruk.


Dean kembali menatap ponselnya. Jessy masih tidak menjawab pesannya. Iapun mulai menghubunginya. Ketika ia sedang mengalami masalah seperti ini, ia ingin Jessy ada disampingnya. Ia ingin ada yang mendengarkan keluh kesahnya.


"Halo.." jawab Jessy dingin.


"Tidak ada apa-apa." jawab Jessy dingin.


"Sayang, ini permintaanku yang terakhir. Datanglah ke sini. Aku ingin kau ada disini. Jangan menolak lagi. Aku memintamu untuk datang. Aku membutuhkanmu di sampingku." ucap Dean.


"Kau memiliki Rossy disana." jawab Jessy ketus.


"Rossy? Sejak di pesawat aku sudah bertengkar dengannya. Ia bukan manajer yang baik. Aku harus memecatnya." jelas Dean. Ia mendengar nada cemburu di nada bicara Jessy.

__ADS_1


"Aku pikir kau senang karena mantan kekasihmu kembali."


Dean mengerutkan keningnya. "Mantan kekasih? Apakah kau berfikir demikian?"


"Bukan aku, tapi mereka." Isak Jessy.


"Sayang, apa yang terjadi? Apakah terjadi sesuatu disana? Kau baik-baik saja?" tanya Dean cemas.


"Apakah kau menyediakan bodyguard untuk membuatku aman? Tapi berita itu tetap terlihat olehku." jawab Jessy sedih.


"Berita apa? Aku tidak mengetahuinya.. Aku memberikanmu bodyguard karena kau memang memerlukannya. Ketika aku tidak ada disamping mu, kau harus dijaga seseorang. Katakan Jessy, berita apa?"


Jessy mulai menangis. "Aku ketakutan, Dean. Wartawan banyak sekali dibawah. Mereka bertanya padaku tentang kontrak pernikahan kita. Mereka bahkan mengatakan jika Rossy datang untuk mengambil mu."


"Tidak, itu salah. Aku tidak pernah memiliki hubungan yang seperti itu dengan Rossy. Aku belum pernah memiliki kekasih karena aku belum pernah merasakan jatuh cinta, sayang. Kau harus percaya padaku."


"Tapi mereka mengatakan hal seperti itu.."


"Jangan percaya. Lebih baik kau menyusul ku kesini. Aku akan meminta ibuku untuk mengatur semuanya. Aku katakan sekali lagi. Berita itu tidak benar!"


"Baiklah. Maafkan aku Dean, tapi bekerjalah. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku akan menyusul mu setelah semua urusanku disini selesai." ucap Jessy tenang.

__ADS_1


"Baiklah sayang. Kau harus menjaga dirimu. Kau harus berhati-hati. Aku akan menunggumu disini. Kita bisa mengunjungi Santorini disela kekosongan syuting. Sekarang lebih baik kau tidur dan beristirahat.


Jessy mengangguk. Ia pun mematikan teleponnya. Ia menatapnya keluar jendela untuk melihat suasana kota yang masih saja ramai padahal jam dindingnya menunjukkan pukul empat pagi. Perbedaan waktu antara New York dan Yunani tidak terlalu lama. Hanya saja, Jessy tidak bisa tidur sejak kejadian dikerubungi wartawan sebanyak itu. Ia mempererat pelukannya pada kedua kakinya. Ia memainkan kaos kakinya. Menyusul ke Yunani? Padahal ia tidak mau mengganggu Dean pada awalnya, tapi jika keadaan disini tidak terkendali, setidaknya ia harus melakukan sesuatu. Ia harus berada disamping Dean dan memastikan sesuatu dengan suaminya itu. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepalanya sejak berita itu beredar.


__ADS_2