Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
holiday


__ADS_3

“Aku pikir datang ke ruangan yang salah. Tidak ada papan nama


didepan. “ ucap Joan sambil melangkah kedalam ruangan.


Alv masih terdiam melihat bagaimana Joan berbusana. Ia terlihat


kasual dengan celana jeans skinny dan kaos bertuliskan New York berwarna putih


yang kebesaran. Ia pun memakai topi berwarna pink. Ia melihat Joan berbalik dan


menatapnya.


“Kenapa kau tidak berbicara? Apakah kau terpesona dengan


kecantikan ku? Aku khawatir kau akan jatuh cinta padaku. “ goda Joan.


Alv tersenyum dan menundukkan kepalanya. Kemudian ia mengangkat


kepalanya dan menatap Joan. “Bagaimana jika ya? “


Joan berjalan menuju kursi Alv dan duduk disana. “Jadi disinilah


kau bekerja.” Ucapnya sambil melihat keseluruh ruangan. “Apakah kau biasa


mengobati pasienmu disana?” Tanya Joan seraya menunjuk sebuah kursi besar yang


pernah ia lihat di tayangan televise. Walaupun Joan seorang wanita , tapi ia


belum pernah menemui seorang dokter untuk membantunya merawat wajah.


Tiba-tiba Alv duduk dimeja yang berada didepan Joan. Ia sedikit


terkurung karena kedua kaki pria itu menutupi jalannya.


“Kau mengganti pembicaraan. Apakah ini kelebihanmu. Mengganti pembicaraan

__ADS_1


penting disaat seperti ini.”


Joan mengerutkan keningnya. Ia tidak mau menatap pria


disampingnya. Pria yang membuatnya mati kutu dengan pertanyaannya. Ia memegang


kursi dengan erat. Ia mulai merasakan tubuh pria itu mendekatinya. Jantungnya


mulai berdebar. Didalam kepalanya hanya terlintas pertanyaan. Apakah pria ini


mulai mendekatinya? Atau apakah pria ini hanya menggodanya saja?


“Sepertinya aku mengganggu kalian? “ ucap seseorang didepan pintu


yang terbuka. Ia menatap mereka berdua sambil tersipu malu.


Alv bangun dari duduknya dan melangkah keluar dari posisi yang


sangat dekat itu. Ia melihat Jen disana dengan wajah merah. “Kau sakit?” goda


Jen masuk kedalam untuk melihat wanita yang sangat ingin


dilihatnya. Wanita itu tengah mengipasi wajahnya. Ia malu. Jen merasa seperti


jaman ketika ia muda dulu. Pasangan yang baru menikah biasanya selalu


berapi-api.


“Istrimu yang sakit, dok!” seru Jen sambil berjalan menghampiri


Joan. Ia menatapnya lama. “Cantik dan sangat asia sekali. Jarang sekali melihat


kulit seorang wanita yang putih bersih seperti ini. Kedua matanya sedikit besar


untuk ukuran asia. Dan bibir tipisnya sangat menggoda pria manapun.”

__ADS_1


“Pria manapun?” Tanya Alv dengan nada sedikit tinggi. Alis


kanannya terangkat dan kedua tangannya saling melipat. Ia membutuhkan


penjelasan dari Jen.


Jen tersenyum. “Maksudku, istrimu sangat cantik dokter.” Jawabnya


Joan berdiri dan berjalan menghampiri Jen. “Ini siapa, sayang?” Tanya


Joan tenang.


Alv terkejut dengan panggilan itu. Namun ia memegang tangan Joan


dan menariknya untuk mendekat. “Ini asistenku. Jennifer. Ia penasaran karena


ingin bertemu denganmu.”


“Oh ya?” jawab Joan merasa senang. Ia sempat berfikir jika asisten


Alv adalah seorang wanita muda dengan segala daya tariknya.


“Ya. Karena dokter Alv menjadi kebanggaan klinik ini, dan sudah


diketahui jika dokter ALv sudah menikah, untuk itu aku berusaha untuk mengamankan


posisi dokter Alv dari gadis manapun.” Jawab jen lantang.


“Apa? Mengamankan?” Tanya Joan sambil tertawa.


“kau tidak cemburu melihat suamimu


di kelilingi wanita muda dan cantik?” Tanya Jen sambil menatap Joan serius.


“Tidak. Aku tidak apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2