
“Aku pikir datang ke ruangan yang salah. Tidak ada papan nama
didepan. “ ucap Joan sambil melangkah kedalam ruangan.
Alv masih terdiam melihat bagaimana Joan berbusana. Ia terlihat
kasual dengan celana jeans skinny dan kaos bertuliskan New York berwarna putih
yang kebesaran. Ia pun memakai topi berwarna pink. Ia melihat Joan berbalik dan
menatapnya.
“Kenapa kau tidak berbicara? Apakah kau terpesona dengan
kecantikan ku? Aku khawatir kau akan jatuh cinta padaku. “ goda Joan.
Alv tersenyum dan menundukkan kepalanya. Kemudian ia mengangkat
kepalanya dan menatap Joan. “Bagaimana jika ya? “
Joan berjalan menuju kursi Alv dan duduk disana. “Jadi disinilah
kau bekerja.” Ucapnya sambil melihat keseluruh ruangan. “Apakah kau biasa
mengobati pasienmu disana?” Tanya Joan seraya menunjuk sebuah kursi besar yang
pernah ia lihat di tayangan televise. Walaupun Joan seorang wanita , tapi ia
belum pernah menemui seorang dokter untuk membantunya merawat wajah.
Tiba-tiba Alv duduk dimeja yang berada didepan Joan. Ia sedikit
terkurung karena kedua kaki pria itu menutupi jalannya.
“Kau mengganti pembicaraan. Apakah ini kelebihanmu. Mengganti pembicaraan
__ADS_1
penting disaat seperti ini.”
Joan mengerutkan keningnya. Ia tidak mau menatap pria
disampingnya. Pria yang membuatnya mati kutu dengan pertanyaannya. Ia memegang
kursi dengan erat. Ia mulai merasakan tubuh pria itu mendekatinya. Jantungnya
mulai berdebar. Didalam kepalanya hanya terlintas pertanyaan. Apakah pria ini
mulai mendekatinya? Atau apakah pria ini hanya menggodanya saja?
“Sepertinya aku mengganggu kalian? “ ucap seseorang didepan pintu
yang terbuka. Ia menatap mereka berdua sambil tersipu malu.
Alv bangun dari duduknya dan melangkah keluar dari posisi yang
sangat dekat itu. Ia melihat Jen disana dengan wajah merah. “Kau sakit?” goda
Jen masuk kedalam untuk melihat wanita yang sangat ingin
dilihatnya. Wanita itu tengah mengipasi wajahnya. Ia malu. Jen merasa seperti
jaman ketika ia muda dulu. Pasangan yang baru menikah biasanya selalu
berapi-api.
“Istrimu yang sakit, dok!” seru Jen sambil berjalan menghampiri
Joan. Ia menatapnya lama. “Cantik dan sangat asia sekali. Jarang sekali melihat
kulit seorang wanita yang putih bersih seperti ini. Kedua matanya sedikit besar
untuk ukuran asia. Dan bibir tipisnya sangat menggoda pria manapun.”
__ADS_1
“Pria manapun?” Tanya Alv dengan nada sedikit tinggi. Alis
kanannya terangkat dan kedua tangannya saling melipat. Ia membutuhkan
penjelasan dari Jen.
Jen tersenyum. “Maksudku, istrimu sangat cantik dokter.” Jawabnya
Joan berdiri dan berjalan menghampiri Jen. “Ini siapa, sayang?” Tanya
Joan tenang.
Alv terkejut dengan panggilan itu. Namun ia memegang tangan Joan
dan menariknya untuk mendekat. “Ini asistenku. Jennifer. Ia penasaran karena
ingin bertemu denganmu.”
“Oh ya?” jawab Joan merasa senang. Ia sempat berfikir jika asisten
Alv adalah seorang wanita muda dengan segala daya tariknya.
“Ya. Karena dokter Alv menjadi kebanggaan klinik ini, dan sudah
diketahui jika dokter ALv sudah menikah, untuk itu aku berusaha untuk mengamankan
posisi dokter Alv dari gadis manapun.” Jawab jen lantang.
“Apa? Mengamankan?” Tanya Joan sambil tertawa.
“kau tidak cemburu melihat suamimu
di kelilingi wanita muda dan cantik?” Tanya Jen sambil menatap Joan serius.
“Tidak. Aku tidak apa-apa.
__ADS_1