Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Episode 16


__ADS_3

"Jadi kau akan menikah?" tanya Harris ketika mereka bertemu di kantor manajemennya.


"Begitulah" jawab Dean santai. Ia menyimpan salah satu tangannya di pinggiran sofa sambil mengetukkan jari-jarinya. Sampai saat inipun ia masih merasa jika keputusan untuk menikah dengan Jessy adalah sesuatu yang benar. Hanya Jessy yang mampu menutupi semua skandalnya.


"Kau menyukainya?"


Dean menatap Harris. "Menyukai semua wanita cantik."


"Lalu untuk apa kau menikah? Kau mau membuat skandal lebih hebat lagi? Semua orang didunia ingin melihat karyamu. Bukan skandalmu."


"Justru aku menikah untuk menghapus semua skandalku."


"Aku pikir pertemuan kalian hanya sebatas acara penghargaan itu."


Dean tersenyum. "Awalnya memang seperti itu. Tapi, aku melihat Jessy menangis. Aku melihat dia di tindas oleh Cindy. Aku melihat dia ketakutan melihat wartawan sebanyak itu. Aku ingin melindunginya mulai saat itu."


Harris tertawa. "Aku tidak tahu kau seperti itu. Jangan terlalu dalam. Aku yakin calon istrimu akan menyesal setelah menikah dengan mu nanti."


"Tidak mungkin. Aku sudah membuat perjanjian dengannya." jawab Dean.


"Oke, satu juta dollar setiap bulan. Itu tidak termasuk uang lain-lain." ucap Jessy ketika ia menyerahkan satu lembar kertas padanya dimalam ia melamarnya. Bukan melamar, tapi memaksakan kehendak untuk menikahi Jessy secara sepihak. Ia hanya mengikuti ucapan ayahnya untuk menikahi Jessy.


"Satu juta dollar?"


Jessy mengangguk. "Ya, ini semua untuk keperluanku."


"Baiklah. Tidak banyak yang kau minta. Aku kecewa." jawab Dean menggodanya. Ia bisa melihat perubahan wajah Jessy. "Seharusnya kau memintanya lebih banyak. Aku bisa memberimu lebih banyak."


Jessy cemberut. Ia langsung berjalan keluar.


"Tidak akan mencium calon suamimu ini sebentar, sayang?" teriak Dean. Jessy menjawabnya dengan bantingan pintu yang sangat keras. Dean langsung tertawa melihatnya.


"Calon istrimu meminta itu?" tanya Harris terkejut.


Dean tersenyum. "Bukan uang yang besar. Pendapatan dari film ini saja hampir 400 juta dollar. Satu juta diberikan pada Jessy tidak menjadi masalah" jawabnya.


"Calon istrimu tidak jauh berbeda dengan wanita kebanyakan. Mereka menyukai uang. Menurutku satu juta dollar uang yang sangat besar"

__ADS_1


"Tidak masalah selama ia mau berada disampingku."


Harris menyerah berbicara dengan Dean. Berulang kali Dean berbicara tentang cinta. Tidak akan pernah ada cinta dihatinya. Ia menatap Dean. Ia tidak yakin suatu saat Dean akan mengatakan hal yang sama. "Aku bahagia tentang pernikahanmu nanti. Kali ini kita membicarakan tentang film action yang akan kau kerjakan. Pertemuan kita dengan sponsor dari Paris beberapa hari yang lalu telah mencapai kata sepakat. Mereka sudah melihat naskah yang dibuat Jeremy. Mereka menyukainya. Mereka yakin kali ini akan lebih meledak dari Death. Kau harus mencurahkan seluruh kemampuanmu pada film ini." ucap Harris. Ia mengambil kertas yang baru saja ia print.


"Dimana set yang pas kali ini. Aku harus membaca naskahnya terlebih dahulu."


"Menurut Jeremy, negara yang cocok sekali adalah Yunani."


"Yunani?" tanya Dean


"Lebih baik kau membacanya dirumah. Sudah malam. Kau berada disini sejak siang hari. Aku bosan melihatmu." ucap Harris.


Dean berdiri. "Aku juga bosan melihatmu." jawabnya sambil berjalan keluar.


Mobil Dean menembus pekatnya malam. Fokus?Tentu saja ia akan mencurahkan semua kemampuannya pada film ini. Ia ingin membuktikan kembali pada ayahnya jika ia bisa mengalahkannya membuat film terbaik. Yunani? Bukannya Yunani adalah negara romantis? Kenapa film action dilakukan disana? Sepertinya ia harus bertemu dengan Jeremy untuk memastikan sesuatu. Nada telepon tersambung. Terdengar suara musik yang sangat keras.


"Ya, Dean.. Ada apa mencariku?" teriak Jeremy.


"Besok kita harus bertemu." ucap Dean.


"Ada apa? syuting belum dimulai bukan?" tanya Jeremy dengan suara musik sedikit meredam. Ia berada diluar untuk menerimanya.


"Aku yakin kau menyukainya." jawab Jeremy.


"Besok aku akan menjelaskannya."


"Baiklah." telepon pun ditutup.


Sesampainya dirumah, ia melihat ayahnya sedang duduk di ruang keluarga. Ia tertidur. Iapun menghampirinya.


"Dad, kau akan sakit jika tidur disini." ucap Dean.


Tidak terlihat ayahnya membuka matanya. Ia menghela nafas. Ia tahu caranya membangunkan ayahnya. Ia menarik nafas perlahan. "DAD.. ADA ASAP DIRUMAH!!" teriak Dean.


Lee terbangun dengan cepat dan melihat ke sekelilingnya. Kemudian ia sadar jika ia sedang dijahili anaknya. Ia menoleh untuk melihat Dean. Anaknya itu tampak tidak merasa bersalah.


"Tidurlah didalam. Nanti kau sakit." ucapnya sambil berlari keatas.

__ADS_1


"Dasar! Kau mengganggu tidurku!" ucap Lee kesal. Iapun kembali duduk dan kembali menutup matanya.


Jessy menatap dirinya di cermin kamar mandi. Ritual yang biasa ia lakukan ketika pulang bekerja dahulu bisa ia lakukan disini. Kamar tamu ini memiliki bath tub yang ukurannya hampir sama dengan yang ada di apartemen mininya. Ia tersenyum ketika melihatnya dicermin. "Ternyata kau cantik, Jessy.." ucapnya sambil mengedipkan matanya. Ia memainkan kalung dengan bandul berbentuk huruf **. Kalung yang sejak kecil ada di lehernya. Ia masih menggunakan handuk di kepala dan bath robe di tubuhnya. "Kau juga sexy.." ucapnya kembali sambil mengedipkan matanya. Ia tertawa malu. Ia tidak peduli karena tidak ada yang mendengarnya. Tak lama ia keluar dari kamar mandi sambil bernyanyi pelan.


"You are my everything......."


"Aku tahu. Aku memang segalanya untukmu." ucap Dean tepat di belakangnya.


Jessy berbalik dan terkejut. Matanya terbelalak. "Sedang apa kau disini?" tanya Jessy kencang.


"Aku sedang melihat seorang wanita sexy yang baru saja bernyanyi untukku." jawab Dean sambil berbisik. Ia kemudian menghampirinya. Tapi Jessy langsung berlari menuju tempat tidur.


"Jangan mendekatiku!" teriak Jessy.


"Kau calon istriku. Kenapa kau tidak mau aku dekati?" tanya Dean.


"Tidak. Aku membencimu!" teriak Jessy histeris.


Dean semakin tidak tahan untuk menggodanya.


"Setelah itu kau akan mencintaiku." jawab Dean.


Jessy langsung naik keatas tempat tidur dan menutup dirinya dengan selimut. Jika saja Dean bisa tertawa, ia ingin melakukannya saat ini. Iapun menaiki tempat tidur dan mendekatinya.


"Tidak.. jangan mendekatiku!" teriak Jessy. Ia terus mundur hingga tanpa sadar kepalanya membentur meja nakas. "AARGGH!" teriak Jessy sambil memegang kepalanya.


Dean tertawa sambil memegang kepala Jessy dengan kedua tangannya. "Kau terlalu ketakutan padaku. Sebenci itukah kau pada pria yang hendak menikahimu?"


"Berapa kali aku katakan jangan mendekatiku!" jawab Jessy sambil meringis.


Dean tertawa. "Maafkan aku."


Jessy membuka selimutnya tanpa sadar bathrobe nya terbuka sehingga memperlihatkan sebagian dadanya. Dean yang melihat itu langsung berdeham dan turun dari tempat tidur. "Kalau begitu aku keluar dahulu. Terima kasih untuk pemandangan yang tak terduga malam ini."


Jessy langsung melihat bathrobenya. Ia terkejut. "Apa yang kau lihat?" teriak Jessy marah.


"Pemandangan yang membuatku bisa tidur dengan nyenyak." Jawab Dean sambil membuka pintu.

__ADS_1


"Dasar pervert!" teriak Jessy sambil melemparkan bantal ke pintu. Namun sayang, lemparannya mengenai tembok.


Dean berjalan ke kamarnya yang ada disebelahnya. Ia berbohong. Ia tidak mungkin bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Ia tersenyum ketika mengingat wajah panik Jessy.


__ADS_2