
Salju pertama di musim ini telah turun. Brittany melihatnya dari balik jendela. Ia sendirian di kamarnya. Ia sudah membaik. Tapi dokter tidak mengijinkannya pulang karena sisa trauma akibat penculikan itu masih ada. Dan selama beberapa hari berada di rumah sakit, ia belum pernah sekalipun bertemu dengan Dean. Ia hanya ingin tahu keadaan Dean saat ini.
Bagaimana dengan kakinya?
Mengapa Dean belum menemuinya?
Apakah ia marah padanya?
Tidak..
Untuk apa aku memikirkan Dean? Ia bukan siapa-siapa lagi, pikir Brittany.
Ia berjalan kembali dan duduk di ranjang. Kedua orang tuanya masih belum datang. Sebenarnya cukup Joey yang menjaganya. Ia tidak perlu dijaga oleh kedua orang tuanya. Namun ibunya memang sulit untuk dibantah. Ia menunduk kemudian memainkan kaki-kaki indahnya. Ia bosan. Berulang kali ia melihat ponselnya. Yang ada hanyalah panggilan dari agensi. Semua orang menunggu kesembuhannya.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lamun kan, cantik?" Jose sudah berdiri didekatnya sambil membawa seikat bunga. Ia tersenyum senang.
Brittany menoleh namun ia tidak merasa kedatangan Jose merupakan sebuah kejutan. Ia melihatnya sinis. "Untuk apa kau datang?"
Jose terkejut dengan jawaban Brittany.
"Hah.. jawaban apa itu? "
Brittany mengikat rambutnya. "Ya, untuk apa kau datang? Kau tidak tahu jika suasana hatiku sedang tidak baik. "
"Kau marah karena aku baru datang?" tanya Jose.
Brittany tidak perlu menjawabnya. Ia diam saja, bagi Jose sudah cukup.
"Aku melihat pria itu terus berada di samping mu. Aku tidak mau mengganggu. " ucap Jose.
"Alv pria baik. Ia bukan pria seperti yang kau pikirkan."
"Jadi pelan-pelan kau membela pria itu? " goda Jose.
"Pria itu yang akan menjadi kakakmu jika kau menikahi Lily nanti. " ucap Brittany.
Jose tersenyum. "Aku akan tetap sendiri."
Brittany merasa pembicaraan ini akan semakin menarik. "Bagaimana dengan Lily? Ia wanita yang baik. Kau harus menerimanya. Ia pantas menjadi istrimu. "
"Benarkah? Aku akan lebih senang jika kau yang melakukannya. Bukan Lily. " jawab Jose.
__ADS_1
"Jose.. kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Aku tidak bisa menerimamu lebih karena.. " ucap Brittany terpotong. Ia menghela nafas.
"Aku tahu. Untuk itulah aku senang untuk menggoda mu. Aku tidak sungguh-sungguh. "
"Jose! Kau selalu seperti ini. Kau menyebalkan! " seru Brittany kesal.
Jose tersenyum puas.
"Bagaimana Dean? "
Brittany langsung menatapnya. "Aku tidak tahu! " ucapnya kesal.
"Kenapa kau kesal? Aku hanya bertanya karena Dean ada di sana saat itu." jawab Jose
"Aku tidak tahu. Ia belum menemui ku! "
"Jadi karena itu kau marah? Kau merindukan Dean?"
"Tidak! Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya. Lagipula ia yang membantuku!" seru Brittany.
"Kau masih menyayanginya bukan?"
"Tidak sama sekali!" jawab Brittany.
"Kau senang tapi aku belum tentu senang. Jangan hanya karena ia menolong ku, sehingga aku berubah pikiran untuk kembali padanya. Tidak sama sekali. Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan nya."
"Aku tidak mau kau menyesal." jawab Jose.
"Jika kau membicarakan tentang ini lagi, lebih baik kau pergi dari sini!"
Jose tersenyum.
"Kau senang besok pin mu dibuka bukan? Besok kau bisa keluar dari kamar. " tanya Lana.
Dean menyimpan kedua tangannya dibelakang kepala. Ia menyandarkan diri di ranjang rumah sakit. "Tentu saja. Aku ingin melihatnya. Aku sudah merindukannya karena tidak bertemu beberapa hari. "
"Aku pikir kau tidak akan sembuh. Kau hebat. Jika aku menjadi sepertimu, aku tidak tahu apakah aku masih bisa bertahan. Lompat dari tempat setinggi itu dengan kedua kaki diborgol tidak memutuskan harapanmu untuk mencari pertolongan." ucap Lana.
"Semua karena cinta. Maka, jatuh cinta lah. Semuanya akan kau rasakan ketika kau mencintai seseorang." jawab Dean percaya diri.
"Dean.. kau mau aku bantu mendapatkan kembali Brittany?" tanya Lana.
__ADS_1
"Sepertinya aku bisa sendiri. " jawab Dean percaya diri.
Ketika mereka berdua sedang diam, pintu kamarnya diketuk seseorang. Cukup mengejutkan siapa yang datang. Jonas dan Isabela datang bersama.
Lana berdiri. "Sepertinya aku harus keluar sebentar. Aku ingin mencari udara segar. " ucapnya sambil berjalan meninggalkan ketiganya.
Jonas merasakan genggaman istrinya begitu kuat. Ia hanya menatap Dean dan menghampiri nya.
"Bagaimana kakimu?" tanya Jonas.
"Aku baik-baik saja. Esok siang pin di kakiku sudah bisa dibuka." jawab Dean tenang. Sesekali ia melihat Isabela. Ia mengingat ucapan Isabela terakhir. Sedikit menyakitkannya.
"Aku minta maaf karena terlalu kasar padamu." ucap Isabela.
Mengejutkan. Isabela meminta maaf padanya. "Salah. Aku yang harus meminta maaf." ucap Dean cepat.
"Terimakasih untuk semuanya. Aku dan Isabela tidak bisa untuk tidak berterimakasih padamu."
"Kewajiban ku untuk membantu Brittany apapun yang terjadi. Aku senang kami berdua bisa selamat. Bagaimana keadaan Brittany sekarang? Sayangnya aku tidak bisa menemuinya sampai pin ini dibuka."
"Brittany sudah membaik." jawab Jonas.
Dean menatap keduanya. "Banyak yang ingin aku tanyakan pada kalian berdua. Tapi bisa kita lakukan lain kali. Jujur saja, hatiku sakit mendengar apa yang terjadi pada putri kalian. Tapi aku bersedia bertanggungjawab. Jika suatu hari aku kembali bersama putri kalian, apakah kalian akan setuju? Aku tidak bisa melupakan putri kalian dengan mudah. Aku akan bertanggungjawab atas kebahagiaan putri kalian. Aku berjanji." ucapnya sungguh-sungguh.
"Kemarahan ku padamu terjadi pada puncaknya ketika kami mengetahui tentang masa depan Brittany. Aku marah dan mengutuk dengan keras sikapmu. Aku tidak akan pernah menerimamu sebagai menantu ku. Namun hal itu berlaku tiga tahun yang lalu. Setelah tahu bagaimana kau mencintai putriku dan rasa tanggungjawab mu untuk menyelamatkan putriku, aku pikir sudah saatnya aku membuka diri. Tapi semuanya tergantung Brittany. Apakah ia akan menerimamu?
Apakah ia akan menerimamu?
Perkataan itu terus terngiang di kepalanya. Siang hari ketika pin di kakinya mulai dilepaskan, dengan menggunakan sebuah tongkat ia berjalan keluar.
"Jangan ikuti aku! " serunya pada Lana.
Dean tidak sabar untuk segera bertemu dengan Brittany. Ia mencari di setiap kamar. Menurut Lana, kamar Brittany hanya berjarak beberapa meter dari ruangannya. Dean percaya jika ia bisa mencarinya.
Ia melihat salah seorang dokter keluar dari ruangan. Apakah itu ruangan Brittany? Pintu kembali tertutup. Dengan sekuat tenaga Dean menghampiri kamar itu. Dari kaca luar, ia bisa melihat Brittany tengah duduk dengan seseorang. Ia tersenyum. Dean membuka pintu perlahan.
Baru saja ia berjalan satu langkah, ia melihat sebuah peristiwa yang membuatnya tidak sanggup berkata. Ia terdiam. Tidak ada senyuman di wajahnya. Ia kembali menutup pintu kamar Brittany.
Apakah sudah saatnya ia menyerah? Kebahagiaan Brittany adalah kebahagiaannya juga. Jika ia sudah memilih, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Dean menutup pintu dan berdiri di samping tembok. Ia menunduk dan tanpa sadar ia menitikkan air mata.
__ADS_1
"Berakhir sudah... " isaknya pelan
note: penasaran kan? ditunggu up besok ya.. author sedih bikinnya ðŸ˜ðŸ˜‚