
"Ana, Kemarilah! Semua yang kau khawatirkan telah hilang." panggil Lee. Ketika tidak ada jawaban, ia memanggilnya kembali. "Ana!"
"Ya.." jawab Anastasia sambil berlari.
Lee tertawa sambil menatap ponselnya. Tidak kali ini saja ia mendapatkan berita baik. Ketika media menyebut Dean sebagai salah satu sutradara terbaik, ia melihatnya melalui ponselnya. Kali ini ia tenang melihat daftar trending. Tidak semua berita mengenai kesalahan Dean ataupun keburukan Dean lagi. Wajah cantik menantunya terpasang di beberapa channel gosip. Ketika beberapa waktu ini ia mendapatkan berita keburukan Dean secara bertubi-tubi, ia memikirkan perasaan Jessy.
Jessy hanyalah gadis biasa yang beruntung bisa menikahi Dean yang sedang terkenal. Banyak yang meragukan pernikahan mereka. Tapi tidak dengannya. Sejak awal ia yakin pada Jessy. Jika bukan Jessy siapa lagi yang akan dengan tulus mencintai putranya tanpa melihat statusnya?
Anastasia mendekati Lee. "Ada apa? Apakah ada berita baik?"
Lee mengangguk. "Sangat baik. Kau harus melihatnya."
Anastasia duduk disamping Lee. "Aku malas jika berita yang aku tonton isinya tentang manajer Dean terbaru."
"Abaikan itu. Lihatlah, berita ini semua tentang Jessy yang datang ke Yunani untuk menyusul Dean."
Sesaat Anastasia terkejut namun ketika Lee menyerahkan ponselnya, ia kini percaya. "Bukankah Jessy sedang berada di Nevada?"
"Apakah kau pikir Dean akan diam saja melihat istrinya ada di New York seorang diri?"
"Ya, aku rasa kau benar. Bagaimana bisa ia pergi ke Yunani sendiri?" tanya Anastasia
Anastasia mulai melihat berita demi berita yang menampilkan wajah Jessy dan Dean. Ia tersenyum. "Lihatlah tatapan Dean. Ia benar-benar mencintai Jessy. Ia menatapnya dengan tulus. Aku terharu." ucapnya. Ia memang tidak dekat dengan Dean karena saat ia menikah dengan ayahnya, Dean sulit menerimanya. "Semuanya berita positif."
"Apakah kau pikir pernikahan mereka akan berlangsung lama?" tanya Lee tiba-tiba.
"Kenapa kau tanyakan itu? tentu saja mereka akan bertahan hingga memberikan kita beberapa cucu." jawab Anastasia sedikit kesal.
"Aku hanya ketakutan. Aku tidak pernah menerima orang baru seumur hidupku. Kau tidak aku hitung karena kau adalah belahan jiwaku. Namun, usia mereka masih muda. Banyak yang tidak bisa bertahan."
"Kau sangat menyukai Jessy?" tanya Anastasia
"Ya, ia gadis yang baik dan bersemangat. Aku menyukainya." jawab Lee
"Aku yakinkan apa yang sedang kau khawatirkan tidak akan terjadi." ucap Anastasia sambil memeluk Lee.
"Oh, apa yang sedang kau lakukan tadi?"
"Aku sedang menyiapkan pakaian untuk kita bawa nanti malam."
"Aku ingin mengundurnya. Joan akan datang malam ini. Aku ingin bertemu dengannya beberapa hari."
__ADS_1
Anastasia menghela nafas. Ia tidak pernah menolak permintaan Lee selama ia menikah. Ia berusaha menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi kedua anaknya. "Baiklah. Aku akan mengundurnya." jawabnya sambil berdiri.
"Dad!" panggil seseorang.
Lee menoleh. Matanya terbuka dengan lebar. Gadis kecilnya telah kembali. Ia berdiri dan tidak percaya. Gadis yang ia sayangi kembali. Entah berapa lama ia tidak bertemu secara langsung dengan Joan. Ketika ia mengunjunginya beberapa bulan yang lalu, Joan sedang berada di Swiss.
"Dad.." panggil Joan kembali.
Lee berjalan menghampiri Joan. "Akhirnya kau kembali, gadis kecilku." ucapnya senang.
"Aku merindukanmu, dad.." ucap Joan haru.
Lee mengangkat kedua tangannya. "Kemarilah, biarkan aku memelukmu"
Joan melepaskan tangannya yang sedang memegang tas. Ia menghampiri ayahnya dan memeluknya dengan erat. "Aku juga merindukanmu. Baru saja kita berbicara mengenai kepulanganmu."
"Ayo kita duduk." ucap Lee.
Joan menatap Anastasia dan memeluknya. Ketika ayahnya memutuskan menikahi Anastasia, ia tidak bisa menolaknya. Kehilangan ibunya membuat ayahnya sangat terpukul dan tidak mau berhubungan dengan wanita manapun. "Apa kabar?" tanya Joan
"Aku baik-baik saja." ucap Anastasia sambil membalas pelukan wanita itu.
"Aku melihatnya dad.." ucap Joan tiba-tiba.
"Gosip mengenai Dean. Aku rasa berita itu muncul karena sesuatu. Aku tidak yakin apa itu.."
"Jangan kau pikirkan. Semuanya sudah berakhir. Mereka bahagia." jawab Lee. "Apa proyek terakhirmu? Kapan kau akan kembali ke Paris?"
"Terakhir kali aku ikut proyek besar sebuah rumah mode yang biasa membuat gaun untuk istana. Kembali ke Paris? Aku tidak tahu. Aku ingin tinggal disini hingga bosan."
"Sayang, kami mengundur keberangkatan kami ke Karibia karena kami ingin lebih lama bersama denganmu. Bagaimana jika kau ikut kami?" tanya Lee.
Joan menggeleng dengan cepat. "Aku tidak suka berlibur dengan orangtua."
"Kami masih muda.." seru Lee.
"Tolonglah Tuan Lee, kau bahkan sudah bisa menimang seorang cucu." goda Joan. Lee hanya tertawa mendengar godaan anaknya. Sudah lama sekali mereka tidak saling menggoda.
"Kalau begitu, aku meminta kau menjaga adikmu. Terutama Jessy."
"Tidak masalah. Aku sedang terpikir untuk mengajaknya bekerja sama." jelas Joan.
__ADS_1
Lee mengerutkan keningnya. "Kerjasama apa?"
"Pakaian dad. Aku belum melihat Jessy secara langsung. Tapi aku melihatnya di media, ia gadis yang cantik dan tentu saja bisa aku ajak memasuki dunia hiburan." ucap Joan.
...***...
"Apakah Joan akan menyukaiku?" tanya Jessy ketika ia sedang makan malam dengan Dean disebuah restoran.
"Joan banyak mendukungku. Aku yakin ia akan menerimamu." jawab Dean.
Ketika mengingat ucapan Harris dan wanita itu, ia ingin kembali cepat-cepat. "Berapa lama kau melakukan syuting?"
Dean menghentikan makannya. "Kenapa? Apakah kau bosan?"
Jessy menggelengkan kepalanya. "Aku nyaman berada di New York. Ijinkan aku pulang cepat." ucapnya.
"Ada yang terjadi selama kau tidak bersamaku? Kau baru saja tiba beberapa jam yang lalu. Untuk apa kau datang jika kau ingin pulang cepat?" tanya Dean marah.
Jessy memegang jari-jari Dean. Ia menatapnya. "Jangan marah. Aku tidak meminta pulang hari ini dan detik ini juga. Aku meminta ijin pulang cepat. Aku bisa berada disini paling lama satu minggu. Jangan paksa aku untuk terus berada disampingmu. Kau butuh fokus pada pekerjaanmu. Tanpa ada aku. Aku pernah mengatakan padamu, buatlah film sebagus mungkin, sehingga aku bisa berada di acara penghargaan itu sebagai istrimu. Bukan kekasihmu. Aku akan dengan bangga berada disampingmu dan membuktikan pada dunia jika semua gosip tentang kita salah. Tolong, jangan marah."
Dean menatap Jessy. Tidak terlihat wajah seperti menahan beban. Ketika ia berada jauh darinya, ia takut Rossy melakukan sesuatu. Tapi sepertinya tidak. Jessy tetap diam dan tenang.
"Baiklah. Tapi aku tidak mau kau pergi jauh dariku. Kau harus tetap pada pengawasanku ketika di lokasi syuting nanti. Kau harus menungguku. Syuting ini memang melelahkan. Kami hanya berencana melakukan syuting ini selama dua bulan. Selanjutnya sunting editor harus dilakukan paling lama satu bulan." jelas Dean.
"Mengapa Harris mengambil semuanya? Maksudku, rumah produksi dan manajemen artis dilakukan oleh Harris. Kenapa kau tidak membuat rumah produksi sendiri? Jika suatu hari aku menjadi seorang artis, aku akan menjadi salah satu aktris yang terlibat dalam rumah produksi milikmu." goda Jessy.
"Kau ingin menjadi seorang aktris?" tanya Dean terkejut.
"Apakah salah?" tanya Jessy
Wajah Dean berubah. "Aku tidak mengharapkan kau menjadi seorang artis. Aku hanya ingin kau menjadi seorang istri sutradara. Tapi, aku pun tidak bisa memaksamu untuk terus mengikuti keinginanku bukan?" ucapnya sedih.
Jessy tertawa. "Pekerjaan membuatmu sensitif, Dean. Kau belum mengenalku. Bagaimana bisa aku menjadi seorang aktris, jika akting saja aku tidak bisa "
Dean melirik pada Jessy. "Kau menggodaku?"
"Menurutmu?" tanya Jessy sambil tertawa.
Dean mulai memasang wajah cemberut. Ia berfikir sejenak. "Aku tidak akan melarangmu jika suatu hari kau ingin menjadi seorang aktris."
Jessy menggelengkan kepalanya. "Tidak akan pernah. Kecuali..."
__ADS_1
Dean menatapnya. "Kecuali apa?"
"Kecuali kau menghentikan memberikan uang saku untukku."