
Jose menatap wanita tua didepannya. Wajahnya masih terlihat cantik walaupun sudah banyak kerutan di wajahnya. Ia melihat sekeliling ruangan itu. Banyak sekali penghargaan yang diterima oleh para penghuni. Ia melihat beberapa foto. Ada satu foto yang membuatnya tertarik. Ia melihatnya dari dekat. Wajah Jessy ketika masih kecil terpasang disana. Ia menggunakan pakaian laki-laki namun tetap saja wajahnya yang cantik terlihat berbeda dari kebanyakan orang. Rambutnya yang pirang panjang dikepang dua menambah manis wajahnya.
"Mrs. Elisa, bisakah aku melihat dokumen mengenai jessy julian?" tanya Jose penasaran. Ia meninggalkan New York demi mencari informasi mengenai Jessy di Nevada. Dan sekarang ia sudah berada di tempat Jessy tumbuh.
"**?" jawab Mrs. Elisa.
Jose sedikit kebingungan ketika wanita tua didepannya mengatakan nama inisial. Tiba-tiba wanita itu tersenyum. "Kau pasti kebingungan. yang aku maksud ** adalah jessy. Ketika ia kutemukan, ia memakai kalung dengan tulisan **. Aku pikir itu nama asli dari jessy."
Jose teringat sesuatu kembali. Nama bayi yang hilang saat itu bernama Brittany Jonas. Bila disingkat menjadi **, Apakah mereka orang yang sama? Tiba-tiba ia merasa sangat antusias. Ia melihat Mrs. Elisa berdiri untuk mengambil sesuatu. Jose menunggu sambil melihat beberapa penghuni yayasan yang sedang berada diluar melalui jendela. Mereka terlihat sedang bermain.
"Tidak banyak dokumen mengenai **. Ini hanya data personal saja. Untuk apa kau menginginkannya? apakah kau salah satu keluarganya? Aku tidak pernah memperlihatkan data penghuni yayasan ini pada siapapun. Tapi melihatmu, aku langsung percaya"
"Aku kenal dengan orangtua jessy. Ketika itu mereka kehilangan bayi mereka. Namun mereka hampir menyerah karena tidak bisa menemukannya selama dua puluh tahun ini."ungkap jose.
"Aku bahagia jika itu memang benar. Aku bersalah karena tidak melaporkan pada kepolisian saat menemukan **. Saat itu aku tidak memiliki yayasan ini. Karena keberadaan **, aku dan suamiku akhirnya membuat yayasan ini. Beberapa minggu yang lalu ia datang kesini untuk membantu keuangan yayasan ini. Ia tidak pernah lupa pada tempat yang membesarkannya."
"Pantas saja ia tidak bisa ditemukan." Ucap Jose. Ia kemudian mengambil data itu dari tangan Mrs. Elisa. Ia melihatnya.
"Aku keluar dulu. Kau bisa membacanya." ucap Mrs. Elisa.
Jose melihat data itu. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia kemudian menghubungi langsung Jonas.
"Ada perkembangan?" tanya Jonas ketika ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku sudah memegang data mengenai Jessy. Sedikit yang bisa aku sampaikan. Golongan darah Jessy adalah B."
"Sama dengan golongan darahku." ucap Jonas sambil mengangguk. Tidak bisa dipungkiri ia berdebar-debar mendengar sesuatu tentang putrinya.
"Ia memiliki sebuah tanda di punggung sebelah kanan."
__ADS_1
Mata Jonas berkaca-kaca. "Aku yakin itu putriku. Aku yakin itu Brittany." ucapnya dengan nada bergetar. Lebih dari dua puluh tahun ia mencari kepastian tentang putrinya, baru kali ini ia terharu dan hampir menangis. Kedua kakinya bergetar dengan hebat ketika ia melangkah menuju tempat dimana istrinya berada.
"Satu hal yang membuatku yakin, ia memiliki sebuah kalung dengan inisial **."
Jonas berhenti melangkah. Ia menutup wajahnya dengan lengannya. Ia menangis. Itu putrinya. Jessy benar putrinya. Pantas saja ia merasa memiliki perasaan berbeda ketika pertama kali bertemu dengannya. Ia teringat kalung berinisial ** itu, ia beli dari seorang pembuat perhiasan terbaik dunia sebagai hadiah ulang tahun pertama Brittany.
"Jonas, kau masih disitu? Kau masih mendengarkan ku?"
"Ya. Aku akan langsung terbang ke Nevada untuk mengeceknya langsung."ucap Jonas.
"Kau bisa memberitahukannya pada Isabel mengenai ini."
Jonas mengangguk. "Terima kasih karena membantuku."
"Aku akan membantumu hingga semuanya benar. Aku bahagia jika kalian berdua bahagia. Aku akan mengambil foto kalung itu dan memberikannya padamu nanti."
"Baiklah." jawab Jonas sambil menghapus airmata nya. Ia berdeham dan berjalan memasuki rumah. Ketika berada diruang keluarga, ia melihat istrinya sedang melihat televisi dengan serius. Ia mendekatinya.
Jonas duduk disampingnya. "Ada berita apa?" tanyanya tenang.
"Aku tidak menyangka Dean akan melakukan hal itu. Ia sudah menikah, sayang. Lihatlah! Siapa sangka anak itu mendapatkan skandal lagi setelah ia sudah menikah. Kali ini lebih menjijikkan." ungkap Isabel kesal. "Aku tidak akan memaafkannya jika ia menyakiti anakku dengan cara seperti itu."
Jonas memegang tangan Isabel dengan erat. "Jika Jessy adalah Brittany, apa yang akan kau lakukan?"
Isabel langsung menatap Jonas tak percaya. Airmata nya tiba-tiba jatuh. "Apakah ada kabar dari Jose?"
Jonas mengangguk. "Aku yakin Jessy adalah Brittany. Semua kemiripan membuatku yakin."
Isabel langsung memeluk Jonas sambil menangis. "Dari awal aku sudah menduga. Perasaan seorang ibu itu kuat. Aku tidak menyangka kebetulan ini sesuatu yang sangat baik. Aku terharu. Aku akan menghubungi Jessy sekarang." ucapnya tergesa-gesa.
__ADS_1
***
"Apakah perutmu masih sakit?" tanya pramugari ketika Jessy bersiap untuk turun dari pesawat. Ia sudah menenteng tas kecilnya.
"Tidak. Terimakasih atas bantuan mu semalam. Aku merasa baik."
"Aku senang melakukannya. Baiklah, ada yang bisa ku bantu lagi?"
Jessy menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."
"Baiklah, hati-hati dijalan dan selamat datang di Santorini."
Jessy belum pernah ke Santorini sebelumnya. Ketika ia melihat di buku panduan yang ada didalam pesawat, ia merasa bermimpi bisa ke tempat romantis seperti ini. Ketika ia kecil, ia sering melihat suasana Santorini dari sebuah majalah dan koran. Ia tidak menyangka akan langsung menginjakkan kakinya di pulau indah ini. Ketika ia melangkah didalam bandara, ponselnya berbunyi tak lama setelah ia hidupkan. Terlihat Isabel memanggilnya.
"Halo.."
"Halo sayang, mama tidak sabar untuk bertemu denganmu. Kau dimana sekarang?" tanya Isabel berburu-buru.
Rasanya aneh, Isabel menyebut dirinya mama. Namun itu tidak masalah baginya karena ia sudah menganggap Isabel seperti ibunya. Kebaikan Isabel melebihi apapun. Kehamilan inipun, Isabel belum mengetahuinya. Saat ia sudah memberitahukannya pada Dean, ia akan mengatakannya pada Isabel
"Aku sedang berada di Santorini. Aku berencana menyusul Dean hingga syuting selesai."
"Kau sudah melihat berita itu? Kau akan diam saja melihat suamimu seperti itu? Aku tidak menerima dia menyakitimu. Aku akan menjemputmu disana." ucap Isabel kesal.
"Apa yang terjadi?"tanya Jessy. Ia duduk disalah satu kursi bandara. Beberapa penumpang terlihat berbisik sambil menatapnya. Apa yang terjadi? Apakah mereka mengenalinya?
Isabel menutup sambungannya. Karena penasaran, Jessy melihat sebuah berita baru di ponselnya. Sebuah gambar tidak senonoh antara suaminya dengan wanita lain terpampang jelas. Sebuah judul berita memojokkannya. Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa wanita baru yang berani mencium suaminya didepan umum? Itu bukan Rossy. Wanita mana lagi? Ia merasa lemas. Ia tidak tahu apakah kedatangannya kali ini benar? Bagaimana jika Dean menolaknya? Jika ia kembali, ia akan mengecewakan Joan karena memintanya untuk berbaikan dengan Dean. Ia menyandarkan punggungnya sejenak ke kursi dan menutup matanya. Apakah kepercayaannya telah dikhianati?
Jangan menyerah Jessy, setidaknya sampai kau bertemu dengan Dean dan mendengarkan semua penjelasannya. Suara hatinya berkata seperti itu. Jessy menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Baru saja mendarat, ia langsung mendapat berita mengejutkan. Bagaimana ia akan bertahan? Ia mengeluarkan sebuah kertas yang diberikan Joan padanya. Sebuah lokasi syuting tempat Dean bekerja saat ini.
__ADS_1
Iapun berdiri dan mengangkat wajahnya. Setidaknya ia telah berkorban dengan datang ke tempat ini seorang diri. Ia akan menyelesaikan semuanya. Ia tidak peduli bagaimana hasilnya, namun yang pasti ia sudah berusaha. Iapun mulai melangkah keluar bandara.