Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Well done


__ADS_3

Dean duduk di restoran hotel yang terletak tak jauh dari kamarnya. Jika Jessy sudah tidak marah, ia akan dengan mudah mencarinya. Dan kenapa ia memilih duduk di restoran, karena mereka menyajikan mendoza wine yang khas dari hotel ini. Ia pernah mencicipinya sekali ketika kita ia datang ke hotel ini dengan Joan dua tahun yang lalu. Ia ingin kembali melakukan itu. Ia mengambil gelas yang sudah terisi wine dan menciumnya sesaat.  Harum nya menjadi ciri khas yang membuatnya ingin kembali. Ia menyesapnya sedikit. Rasa asam dan manis berbaur menjadi satu. Ia sangat menyukainya.


Terdengar suara ponselnya berbunyi. Harris menghubunginya.


Semua kru dan aktor maupun aktris sudah berada disebuah ruangan luas. Mereka adalah orang-orang yang dipilih langsung oleh Dean untuk menjadi bagian dari film barunya. Harris menatap pria dengan usia lebih dari 40 tahun. Ia masih bingung kenapa Dean memilih Pedro sebagai pemeran utama. Aktor yang paling sombong dan angkuh yang ia ketahui dengan pasti. Tapi Dean hanya mengatakan, ia tidak peduli dengan kehidupan artis diluar layar. Ia hanya akan peduli dengan akting dan kesuksesan filmnya. Kemudian ia melihat Alicia. Seorang pendatang baru satu tahun yang lalu yang tidak diragukan lagi aktingnya. Ia mengapresiasi pilihan Dean untuk sang aktris.


Tiba-tiba tangannya dicolek. Ia memiringkan tubuhnya untuk melihat siapa yang menyentuhnya. Casper yang merupakan asissten Dean sedang menunggunya.


"Kapan kita akan memulainya?Semua tim ada disini." ucapnya.


Harris mengangguk. "Aku tahu. Aku akan menyiapkannya." ucapnya. Sebuah layar besar berwarna putih sudah tersedia. Ia bertaruh Dean akan memarahinya karena mengganggunya ketika ia sedang pergi honeymoon. Iapun mulai menghubunginya.


Wajah Dean terlihat di layar besar itu.


"Aku sudah membaca hampir setengah dari cerita itu." ucapnya tiba-tiba.


Harris mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa Dean menjawab panggilan darinya dengan tenang seperti itu?


"Alicia, aku tahu dan memperhatikan kemampuan aktingmu bertambah baik akhir-akhir ini. Aku harap kau tidak mengecewakanku." ucap Dean.


Alicia tertawa ringan. "Baiklah,sutradara tampan. Kau tidak akan menyesal karena memilihku."

__ADS_1


"Aku pikir syuting kali ini akan menyita seluruh perhatian dunia. Kau adalah kunci dari film ini." ucap Dean. Kemudian ia melihat Casper. "Casper, bisa kau berikan pistol mainan itu pada Pedro?" tanya Dean serius.


"Aku tidak memerlukan pistol mainan itu! Kau memilihku berarti kau tahu kemampuanku!" seru Pedro sambil berdiri. Ia terlihat marah dan kesal.


Dean tersenyum. "Aku suka itu. Aku memerlukan akting yang seperti itu darimu." ucap Dean membuat Harris menggelengkan kepalanya.


Zuccardi valle de Uco... zuccardi valle de uco...


zuccardi....tempat apa itu? Kenapa Dean mengajaknya kesana malam ini? Padahal ia masih marah padanya, tapi.. jika memikirkan dirinya sendiri, rasanya tidak adil. Ia akan memaafkannya untuk kali ini. Tapi jika ia melakukannya lagi, ia akan sangat marah. Kini Ia tidak tahu dimana Dean berada. Sejak siang ia belum kembali.


Sebuah ketukan membuat Jessy melihat ke arah pintu. Itu pasti Dean. Tak lama ia melihat pintu dibuka. Ia masuk dengan wajahnya yang sedikit memerah. Ia sedikit terlihat mabuk. Jessy mengerutkan keningnya.


"Tidak. Aku akan bersiap secepatnya." ucap Jessy sambil melangkah ke kamar mandi.


Dean tersenyum. Ia mengganti pakaiannya selagi menunggu Jessy bersiap.


Ketika pintu terbuka, Dean melihat pakaian yang digunakan Jessy malam ini. Sebuah dress pendek berwarna hitam pekat. Lekukan tubuh Jessy bisa terlihat dengan jelas. Apakah Lana yang membuatnya? Walaupun dadanya tertutup, ia masih bisa melihat dengan jelas. Kedua bahunya pun terlihat dengan jelas. Dean bergetar. Jantungnya berdetak dengan kencang. Ia menghampiri Jessy dan memegang tangannya.


"Siapa yang membuat gaun ini? Lana?" tanya Dean.


"Bukan. Aku membelinya seharga seribu dollar dari tempat loak yang tak jauh dari apartemenku. Menurut penjualnya, gaun ini masih sangat bagus. Jadi aku membelinya. Apakah tidak terlihat jika ini pakaian dari loak?"

__ADS_1


"Seorang istri dari sutradara terkenal memakai pakaian bekas dengan harga seribu dollar. Rasanya sedikit mengkhawatirkan. Aku bisa membelikanmu berpuluh gaun dan pakaian yang akan kau pakai sehari-hari."


Jessy memegang lengan Dean. "Sudahlah. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Gaun ini tidak terlihat murahan, bukan? Lagipula apakah disana ada wartawan?"


Dean menggelengkan kepalanya. Iapun berjalan keluar diiringi oleh langkah anggun kaki Jessy.


"Kau masih marah padaku?" tanya Dean ketika mereka berjalan menuju tempat parkir


"Aku akan marah jika kau masih berkata kasihan padaku." seru Jessy.


"Baiklah. aku minta maaf. Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku akan mengunci rapat-rapat mulutku agar ucapan itu tidak akan aku keluarkan lagi." ucap Dean serius. "Melihatmu marah membuatku takut. Jangan lakukan itu lagi. Aku ingin ketika kita berdua bertengkar, kita bisa menyelesaikannya dengan cepat."


"Tergantung.." ucap Jessy cepat.


Dean membuka pintu mobil itu. "Tergantung apa?"


"Tergantung berapa banyak kau membuatku sakit hati."


"Mudah mudahan itu tidak terjadi. Untuk kali ini saja aku merasa menyesal. Aku tidak mau lagi. Kau menakutkan jika marah." ucap Dean sambil masuk kedalam mobil. "Kau bersemangat sekali."


Jessy tersenyum. "Tentu saja. Ini acara pertamaku." jawabnya bangga.

__ADS_1


__ADS_2