Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Joan wish


__ADS_3

"Syuting!!" teriak Dean dingin. Seluruh kru begitu terkejut dengan teriakan Dean yang tiba-tiba. Kemarin saja ia masih dalam suasana yang baik. Namun entah mengapa siang ini berbeda. Beberapa kru berlarian bersiap di tempat masing-masing.


"Aktor utama keluar!" teriak Dean kembali. "Pemeran pembantu kedua keluar! Stuntman keluar!" teriaknya lagi. Ia duduk di kursi sutradaranya sambil menatap monitor didepannya. Ia tampak tidak merasa bersalah setelah berteriak seperti itu. Ia menatap serius layar didepannya. Ia kemudian melihat naskah yang ada ditangannya. Ia kembali melihat monitor. Para aktor belum ada yang masuk ke set. Ia kembali berteriak. "Dalam 5 menit tidak ada aktor yang keluar, kita selesaikan hari ini! Silahkan jika kalian ingin rugi!"


Para kru yang sudah diam ditempat hanya bisa menunduk. Mereka ketakutan melihat sutradara yang mereka kenal kembali menjadi sutradara yang dahulu lagi. Dean memang terkenal sangat disiplin. Ia tidak segan memutus aktor yang tidak sejalan dengannya. Salah satu kru khawatir. Syuting kali ini akan selesai paling lama dua minggu lagi. Mereka sudah menyelesaikan pekerjaan hampir 70 persen. Jika ia bermasalah dengan aktor, mereka harus mencari pengganti dan itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama lagi.


Disudut tempat, Harris tersenyum melihat perubahan Dean dalam waktu satu malam. Ternyata wanita itu yang telah membuat perubahan besar padanya. Dean belum tahu,nIa masih memiliki foto terbaru ditangannya. Ia baru saja mendapatkannya tadi pagi melalui emailnya. Jika ia memperlihatkannya pada Dean, ia yakin Dean akan lebih kejam dari hari ini.


"Rencanamu sukses besar." ucap Rossy yang berjalan menghampirinya.


Harris berbalik. "Mendekati sukses. Kau pun senang bukan?"


Rossy duduk di kursi yang ada disampingnya. "Jika Dean tahu tentang ini, aku tidak yakin ia akan melanjutkan kerjasama denganmu. Ia pasti akan marah sekali. Sekali aku melihatnya marah besar. Menakutkan.."


"Jika Dean tahu, berarti kau yang membocorkannya. Karena tidak ada yang tahu tentang ini." ucap Harris tenang.


Rossy mengeluarkan Ipad-nya. "Kau tahu berita apa yang sedang panas saat ini?"


Harris menggelengkan kepalanya.


Rossy memberikan iPad itu pada Harris. "Lihatlah. Kau pasti terkejut. Aku tidak melakukan apapun. Namun sepertinya ada yang membantu kita."


Harris tertawa kencang. "Aku benar-benar beruntung!"


"Ada yang menghubungimu!" ucap Rossy.


Harris tidak mendengar ada panggilan masuk ke ponselnya. Ia melihat Jessy menghubunginya. Ia menatap Rossy. "Jessy yang menghubungiku."

__ADS_1


"Kau hanya tinggal mengangkatnya." ucap Rossy malas.


"Apakah harus ku angkat? Aku tidak memiliki kepentingan dengan wanita itu."


Rossy berdiri untuk menghampiri Dean. "Terserah. Aku sedikitpun tidak peduli dengan wanita itu."


Harris menatap terus ponselnya. Dengan malas ia mengangkatnya.


"Apa yang kau inginkan?" tanyanya tajam.


Jessy terkejut mendengar ucapan Harris untuk pertama kalinya. " Apakah Dean baik-baik saja? Aku kesulitan menghubunginya."


"Dean dalam keadaan sangat baik. Kau harus bersyukur karena ia bisa menjaga dirinya dengan baik."


Jessy tidak pernah menginginkan jawaban tajam seperti itu. Ia memegang perutnya dan mengelusnya perlahan. "Apakah aku bisa berbicara dengannya?" tanyanya gugup.


"Tidak bisa. Ia tengah mengambil gambar. Jangan sekalipun mengganggu Dean yang sedang bekerja. Kau hanya sebuah benda yang bisa saja ditendang oleh Dean kapanpun ia mau."


"Karena kau yang merusak semuanya. Kau membuat Dean berubah. Aku tidak menyukaimu." ucap Harris tajam. Ia langsung menutup sambungan telepon. Ia muak mendengar suara wanita itu. Sejak ia mengganggu ladang uangnya, ia mulai membenci wanita itu.


Jessy mulai terisak. Ia mengelus perutnya pelan. "Mama sabar. Mama kuat. Mama akan bertahan demi kau." ucapnya terbata. Ia melanjutkan kembali membaca berita mengenai Dean yang muncul sejak semalam.


Pergolakan perutnya terus terjadi sejak tadi pagi. Ia berlari ke wastafel untuk mengeluarkan semua yang mengganjal perutnya sejak pagi.


"Jessy!" panggil Joan.


Jessy langsung membasuh wajahnya. "Ya, aku sedang berada di kamar mandi!" serunya. Ia mencoba menarik nafas perlahan. Ia kemudian memegang perutnya. "Tahan. Mama tidak akan memberitahu keberadaanmu pada siapapun sebelum ayahmu mengetahuinya."

__ADS_1


"Kau sedang apa?" tanya Joan.


"Aku sedang membasuh wajahku." jawab Jessy sambil membuka pintu kamar mandi.


Joan menatapnya. "Kau baik-baik saja?"


Jessy mengangguk.


Joan kemudian melihat layar laptop. Ia berbalik dan melihat Jessy. "Apakah kau baik-baik saja dengan berita itu?"


Jessy tersenyum kaku. "Aku tidak tahu. Apakah aku harus baik-baik saja dengan itu?"


Joan menghampirinya dan memegang kedua tangan Jessy erat. "Dunia hiburan itu keras. Kau jangan mudah percaya dengan berita yang beredar. Kau sudah berbicara dengan Dean?" pancing Joan. Padahal ia tahu jika Dean marah pada Jessy.


Jessy kembali tersenyum samar. "Aku tidak tahu. Dean tidak bisa aku hubungi. Jika memang mereka berdua ada hubungan pun, aku bersedia..." ucapnya tercekat.


"Jangan berkata sesuatu yang belum terjadi. Kau harus membawa Dean kembali. Jangan menyerah. Aku tidak mau memiliki adik lain selain kau yang menjadi istri Dean. Tolong jangan menyerah! Pergilah ke Santorini. Katakan semua yang kau tahu. Semua yang kau rasakan. Katakan padanya siapa Jose itu. Katakan padanya kau tidak bisa hidup tanpanya. Tolong Jessy, aku memaksamu melakukannya!" seru Joan dengan mata berkaca-kaca.


"Akan aku pikirkan." jawab Jessy pelan.


"Tidak ada pernyataan 'akan aku pikirkan!'. Kau akan terlambat. Kau harus secepatnya pergi karena berita itu semakin lama akan semakin meluas. Kau akan rugi. Semua media akan mencari masa lalumu."


Jessy sangat ingin pergi. Tapi mengingat kehamilannya yang baru beberapa minggu, ia takut terjadi sesuatu pada bayinya. Apa yang harus ia lakukan?


"Tolong. Jika kau mencintai Dean, selesaikan semuanya. Katakan jika kau tidak memiiki hubungan apapun dengan Jose. Ia akan mendengar mu."


Jessy menghela nafas. "Baiklah. Aku akan pergi esok."

__ADS_1


"Bagus. Akan aku siapkan semua." ucap Joan sambil berjalan keluar kamar.


Jessy duduk di sofa. Matanya tertuju pada foto pernikahan mereka. Pernikahan mereka belum berlangsung lama, namun mereka sudah memiliki konflik karena pihak ketiga. Mengapa pernikahan mereka menyedihkan seperti itu? Namun dalam hatinya ia yakin semuanya akan berbeda jika Dean mau mendengarkan penjelasannya. Bayi yang sedang dikandungnya akan merubah pemikiran Dean. Ia yakin itu.


__ADS_2