
Berkeliling kota Athena lumayan menyenangkan. Terutama guide yang mengantarnya. Ia tahu setiap seluk beluk kota. Bukan hanya itu, iapun mengantarnya dengan rasa aman. Melihat pemandangan kota, ia sedikit melupakan kejadian pahit yang ia alami ketika di lokasi syuting tadi. Kini perutnya terasa lapar. Ia sarapan bersama Dean hanya meminum satu gelas susu yang diminta Dean kepada seorang pelayan hotel.
Perutnya mulai memberontak. Ia menatap guide yang mengantarnya. Ia tidak tahu siapa nama pria itu. Hanya saja dari usianya, ia terlihat seumur dengan ayah Dean. Ia terlalu baik. Mungkin Dean bisa memberinya tips nanti setelah ia selesai memakainya.
"Bisa kau antar aku mencari restoran? Sepertinya perutku tidak bisa menahan lagi." tanya Jessy sambil bangun.
Pria itu menatapnya dari balik kaca. "Aku akan mengantarmu ke sebuah restoran keluarga yang sangat terkenal karena makanannya."
Jessy kembali menyandarkan punggungnya. "Baiklah, kalau menurutmu makanan disana enak, kau bisa menemaniku untuk makan siang yang terlambat ini."
Pria itu tersenyum. "Aku akan menunggumu diluar, nona. Kau bisa berada didalam sambil menunggu suamimu selesai syuting. Aku akan menunggu diluar karena anakku yang memiliki restoran itu."
"Benarkah? Lalu kenapa kau bekerja? Aku pikir jika anakmu memiliki restoran, kau tidak kekurangan uang bukan?" tanya Jessy antusias.
"Uang bukan segalanya. Aku hanya tidak bisa lama diam didalam rumah. Aku senang bepergian. Setelah istriku meninggal, aku lebih menyukai menjadi pemandu wisata bagi orang-orang yang ingin mengetahui kota ini. Itu lebih menyenangkan daripada tinggal seharian dirumah." jawab pria itu.
Jessy terpana. Ia kemudian menatap pria itu kembali. "Apakah restoran itu menyediakan tempat yang bisa aku diami beberapa jam?"
"Tentu saja ada ruang VIP. Hanya saja kau akan terkejut melihat pelayan disana yang antusias jika melihat wisatawan orang asing."
"Kenapa?"
"Karena anakku mempekerjakan beberapa mahasiswi bidang bahasa. Jika ada orang asing, mereka selalu antusias dengan mengajaknya berbincang. Kau bisa berbincang dengan mereka daripada duduk sendiri disana."
__ADS_1
Jessy tersenyum. "Baiklah."
Tidak perlu waktu lama ketika beberapa gadis yang mungkin seusia dengannya datang menghampirinya. Dan benar saja, mereka tampak antusias ketika melihatnya. Mereka menatapnya sambil berbisik dengan pelayan lainnya. Apakah mereka mengenalnya? Beberapa bulan ini wajahnya memang selalu tampil baik di televisi maupun di tabloid. Tapi kali ini ia memakai topi dan mengikat rambutnya ke atas. Ia juga mengenakan kaos ketat berwarna putih dan celana jeans.
Ketika makanan mulai disajikan, ia tidak melihat gadis-gadis itu akan pergi. Mereka mulai mendekatinya. Mungkin benar seperti yang dikatakan pria itu. Mereka akan antusias ketika melihat orang asing.
"Apakah kau seorang aktris Hollywood?" tanya mereka penasaran. Dari wajah mereka terlihat rasa keingintahuan yang tinggi.
"Bukan. Aku hanya seorang pelayan yang bernasib baik dengan liburan ke negara ini." jawab Jessy sambil tersenyum.
Mereka masih berbisik.
Jessy menepuk kursi di sampingnya. "Duduklah. Kalian bisa bertanya apapun padaku." ucapnya ramah.
"Apakah wajahku terlalu mirip. Aku yakin sekali aku bukan seorang aktris. Aku tidak bisa berakting sedikitpun." jawab Jessy merasa lucu. Ia menatap gadis yang bertanya padanya yang terlihat masih ragu.
"Apakah kau amerika?" tanya gadis yang lain.
Jessy mengangguk. "Ya, aku berasal dari Nevada."
"Tapi wajahmu terlihat seperti orang Eropa." ucap gadis yang lain lagi.
Jessy mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Seperti inilah wajahku." ucapnya. Ia kemudian menatap makanan didepannya. "Boleh aku mulai makan?"
__ADS_1
"Tentu saja. Maaf kami mengganggu." ucap mereka sambil berdiri.
"Tidak apa-apa. Duduklah, kita bisa berbincang selagi aku makan."
Suara bantingan gelas kaca terdengar kencang dibalik sebuah ruangan. Jam menunjukkan pukul 5 sore, namun ia sudah mabuk dan tidak berdaya. Ia membanting setiap benda yang ada disekitarnya. Ia marah dan benar-benar kesal. Ia kehilangan Jessy. Ia menghilang bak ditelan bumi. Ia tidak dapat menemukannya.
Ia berjalan kembali ke meja dan mengisi kembali gelas yang kosong dengan bir. Ia meminumnya kembali dan menyimpannya dengan keras. Sudah beberapa hari ia tidak melihat Jessy. Terakhir mereka bertemu ketika berada di acara pesta Isabela dan Jonas.
Terkadang ia lupa tujuannya mendekati Jessy. Sejak pesta itu, pandangannya berubah. Ia mengikuti hati nuraninya. Ia ingin dekat dengan Jessy bukan sebagai seorang paparazzi yang ditakuti. Ia ingin mendekati Jessy dan menjadikannya miliknya. Ia akan memisahkan Jessy dan Dean dengan cepat. Ia menunggu saat itu tiba.
Terdengar suara ponselnya berbunyi. Ia berjalan dengan langkah gontai.
"Aku membayarmu untuk membuat mereka berpisah." seru pria itu marah.
Jose mengerutkan keningnya. Ia melihat layar ponselnya. Ternyata sutradara itu. "Apa maksudmu?"
"Lihat berita hari ini." ucapnya sambil menutup sambungan telepon.
Jose dengan berat duduk di kursi dan membuka laptopnya. Ia terkejut melihat berita hari ini. Dean dan Jessy bersatu. Mereka tengah berada di Yunani. Jessy datang menemaninya. Bukan hanya itu. Berita positif diantara keduanya telah menurunkan berita buruk yang memenuhi lebih dari satu minggu ini. Pencarian berita keduanya pun berada di posisi lima teratas.
"Sial!" ucapnya marah.
Ia menghela nafas. Kali ini ia akan membiarkan mereka bersama. Tapi tunggu saatnya Jessy Julian akan menjadi miliknya. Ia mengepal jari-jarinya dengan kuat.
__ADS_1