
Alv telah memesan sebuah tempat di Le Coucou Restaurant yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Brooklyn. Apa yang ia lakukan? Le Coucou terkenal dengan makan malam romantis. Joan tidak menduga seorang Albertico Alv tahu cara membahagiakan seorang wanita. Sebuah sambutan hangat dari para pelayan di sana seakan memberitahu kualitas restoran ini. Tempat itu tidak terlalu ramai. Namun suasana romantis langsung terasa sejak awal mereka memasuki pintu utama.
Joan merasa tangannya dingin. Ia tidak rela jika malam ini usai. Ketika ia terbangun di esok hari, ia takut semua ini hanya mimpi. Ia mengangkat kedua tangannya dan saling menggenggam. Ia melihat juga beberapa pasangan yang tengah dimabuk asmara. Di tengah ruangan, ada seorang pria yang sedang melamar kekasihnya.
Pelayan itu terdengar berbicara dengan Alv. Sedangkan ia sendiri tengah sibuk memperhatikan pria yang tengah melamar kekasihnya itu.
"Sayang.. kau keberatan jika meja kita disini? " tanya Alv.
Karena serius melihat pria itu, Joan hampir tidak menyadari panggilan Alv padanya. Sayang? Siapa yang Alv panggil sayang? Joan menoleh pada Alv. "Kau bertanya padaku? "
Alv tersenyum. "Tentu saja. Memang ada lagi wanita yang aku bawa kesini selain kau? "
"Tidak." jawab Joan polos.
"Lalu? Jawabannya? " tanya Alv dengan alis terangkat.
"Apa yang kau tanyakan tadi? " jawab Joan. Ia bisa melihat pelayan itu tersenyum. Gara-gara pria itu, ia menjadi orang bodoh. "Maafkan aku, aku terlalu sibuk melihat pasangan itu. " ucapnya sambil menunduk. Ia merasa lengannya disentuh.
"Tidak apa-apa. Aku tadi bertanya padamu. Apakah kau keberatan jika kita duduk di meja ini? "
Joan melihat meja didepannya. Ada vas berisi bunga mawar putih dan beberapa lilin. Terlihat romantis sekali. Ia sulit menjawabnya.
"Meja ini merupakan meja terbaik. Kalian tidak akan terlalu terganggu dengan para pengunjung yang lain. Kalian bisa menikmati makan malam romantis kalian disini. " jelas pelayan itu.
Alv melepaskan tangannya pada lengan Joan. "Jika kau keberatan, kita bisa pindah. " ucap Alv.
"Aku menyukainya." jawab Joan sambil menarik kursi itu dan duduk di sana. "Ini bukan masalah besar, Alv. Aku menyukai meja ini. "
Alv duduk didepannya. Ia dibantu oleh pelayan wanita itu. "Tadi siang aku memesan meja ini. Aku tidak tahu dimana restoran terbaik. Hanya saja, dari sini kau bisa pulang ke rumah lebih dekat." Ucap Alv.
"Kau penuh dengan rencana. Aku menyukainya. " jawab Joan. Tiba-tiba terdengar suara bersorak dari arah belakangnya. Ia langsung berdiri dan melihat apa yang terjadi. Pria yang sejak tadi dilihatnya terlihat sedang menggebrak meja. Ia terlihat kecewa. Lalu dimana wanita yang dilamarnya? Ia kemudian menatap Alv. "Apakah ia ditolak? "
"Sepertinya begitu." jawab Alv tenang.
Joan duduk kembali. "Sayang sekali. "
Alv tertawa ringan. "Sayang, bukan kau yang mengalaminya. Sepertinya kau sangat kecewa. "
"Aku selalu merasa sebuah pengorbanan itu harus mendapatkan hasil yang memuaskan. Apakah menurutmu seperti itu? "
"Tidak semua pengorbanan itu mendapatkan hasil yang baik. Contohnya aku. Pada akhirnya semua pengorbananku mengharuskan ku menikah denganmu."
"Kau menyesal? " tanya Joan dengan wajah kesal.
"Tapi... kau dengar ucapan ku terlebih dahulu. Jangan dipotong dan dengarkan baik-baik. Aku banyak sekali berkorban untuk mendapatkan Brittany Jonas. Tapi semua pengorbananku itu mengharuskan ku menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Saat itu.. Kau jelas bukan? Pada saat itu aku tidak mencintainya. Aku memiliki rencana buruk pada wanita itu tapi aku tidak pernah menyesal atas apa yang sudah aku lakukan. Pada saat ini, kedua mataku sudah terbuka. Aku senang berada di samping wanita itu. Aku nyaman berada di dekatnya. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku mencintaimu, Joan Lee. Aku tidak berbohong." jelas Alv.
Joan terkejut dengan pengakuan cinta Alv yang begitu tiba-tiba. Ia mengambil air minum dengan tangan bergetar dan meminumnya. Ia menatap Alv untuk mencari letak kebohongannya. Ia malah melihat sebuah tatapan tulus. "Alv.. " ucapnya dengan bibir bergetar.
__ADS_1
Alv memegang tangan Joan dengan erat.
"Kita bahkan belum memulainya. Tapi kau sudah menyatakan isi hatimu. " ucap Joan dengan jantung berdebar. Ucapannya terdengar bergetar.
Alv tertawa ringan. "Aku hanya tidak sabar mengatakannya. "
"Lilin di meja kita saja bahkan belum dinyalakan. Kau tidak romantis, Alv.. " protes Joan.
Alv tertawa. Ia kemudian duduk di samping Joan tanpa melepaskan tangannya. "Aku menunggu jawabannya."
"Jawaban apa?" tanya Joan gugup.
"Jawaban atas pernyataan ku. " jawab Alv.
Joan tidak pernah melihat seorang pria yang seperti Alv. Ia terlalu terburu-buru. Ia hanya bisa menunduk. Ia mencubit serbet untuk menghilangkan kegugupan nya. Ia merasakan tatapan Alv padanya semakin tajam.
"Apa yang harus aku katakan, Alv? Aku memang sudah tertarik padamu sejak di airport itu. Kenapa aku meminta kau menikah denganku, karena aku pikir kau bisa melupakan Brittany dan mulai mencintaiku. "
"Dan kau berhasil melakukannya. " jawab Alv senang.
Sebuah meja dorong membuyarkan suasana tegang itu. Meja berisi makanan telah datang. Dan tentu saja satu botol wine.
Alv mencium tangan Joan dan pindah duduk didepan Joan. "Mari kita rayakan hari ini. Jika kita belum menikah, mungkin malam ini aku akan melamar mu. Seperti pria tadi. "
Joan menatap makanan didepannya. Makanan pembuka dan makanan utama telah disiapkan. Ia tidak yakin akan sanggup memakan semuanya. Ia melihat Alv membuka wine tersebut dan menuangkannya kedalam gelas.
Joan mulai mencium bau wine itu. "Wine terbaik.. " ucapnya sambil mencicipi sedikit. "Aku menyukainya. "
Alv hanya tersenyum lega melihat Joan menyukainya.
...***...
Malam semakin larut. Mereka memutuskan untuk pulang. Joan membawa mobilnya menuju apartemen Alv. Ia mengingat jalanan ini. Salah satu butiknya ada disini.
"Sepertinya butik ku ada di sekitar sini."
"Kau benar sekali. Setiap hari aku bisa melihat wajahmu hanya dari depan kamarku. " ucap Alv dengan mata tertutup.
"Benarkah?"
"Ya, karena butik mu hanya berjarak beberapa bangunan dari apartemen ku. " jelas Alv.
Mobil pun sudah sampai tepat didepan apartemen Alv. Pembicaraan mereka "Kau tidak akan mampir? Kita bisa melanjutkan obrolan tadi di atas. "
"Aku harus pulang. Maafkan aku. " elak Joan.
"Ayolah, Aku masih memiliki wine yang aku beli minggu lalu. Kita masih bisa berbicara di atas. " ucapnya dengan wajah memohon. "Aku mohon.. Aku tidak mau berpisah denganmu secepat ini. "
__ADS_1
Tidak ada yang bisa menolak pesona Albertico Alv. Apalagi permintaan dengan memohon seperti itu. Joan tidak bisa menolak ketika Alv menarik lengannya untuk mencapai lift dengan cepat. Mereka meninggalkan mobil Joan di parkiran tepat didepan pintu gawat darurat. Kedua tangan Alv memeluk erat Joan.
"Jika mereka melihat kita, aku bisa malu.. " ucap Joan sambil tersenyum.
"Apakah ada yang peduli? Aku rasa tidak. Kecuali kau tinggal di Istanbul. " jawab Alv.
Tak lama pintu lift terbuka. Mereka berjalan menuju kamar Alv.
"Apakah apartemen mu pernah kedatangan tamu? "
"Tidak pernah sekalipun." jawab Alv sambil membuka pintu kamarnya.
Joan terdiam melihat isi kamar Alv. Tidak ada apapun. Hanya sofa dan beberapa peralatan olahraga. "Sepertinya hidupmu membosankan. Kau tidak memiliki kendaraan dan kamarmu tidak memiliki apapun. " ucap Joan jujur.
Alv tersenyum. Ia menyimpan kunci di gagang pintu. "Silahkan masuk. Aku tidak suka dengan apartemen mewah. Aku memilih apartemen ini karena dekat dengan pusat perbelanjaan. Aku bisa melihatmu dari sini. " ucapnya sambil membuka pintu jendela.
Joan mengikutinya. Ia berdiri di beranda. Dapat terlihat olehnya sebuah gambar dirinya dengan jelas. "Apakah karena itu kau jatuh cinta padaku? Apakah dengan gambar itu?"
"Walaupun kau tidak ada disini, tapi aku bisa melihatmu setiap hari. Mungkin karena itu aku.. " ucap Alv tertahan karena ia mendekatkan wajahnya di telinga Joan. "Tidak bisa berpaling pada wanita lain. Wajahmu selalu menatapku dari sana. "
Joan tertawa ringan. Ia mengangkat kedua tangannya dan memeluk pria itu dengan erat. "Aku senang mendengarnya. Aku tahu kau pria yang setia. Walaupun kau harus berhubungan dengan banyak wanita cantik, tapi hatimu tetap untukku."
Alv membalas pelukan Joan. "Kau senang? Aku harap hubungan kita dimulai dari saat ini. Aku tidak ingin kehilanganmu. Mulai hari ini mari kita abaikan yang lain, tinggal lah disini denganku. Atau kau memiliki rencana lain?"
"Aku ingin kau tinggal denganku. Aku sudah menyiapkannya. " ucap Joan.
"Aku tahu. Kau menyiapkan rumah itu untuk kita tinggali bersama bukan? "
Joan mengerutkan keningnya. "Bagaimana kau tahu? "
"Aku tahu semua tentangmu. Rumahmu sangat indah. Ketika kita ke Istanbul, aku akan memperlihatkan padamu rumah indah ku." jawab Alv.
"Aku akan menantikan nya. Lagipula aku belum pernah ke sana."
Joan melepaskan pelukannya. "Sepertinya kau lupa. Tadi kau menawarkan ku sebuah wine. " goda Joan.
"Aku tidak memilikinya. Aku berbohong padamu. " jawab Alv malu.
"Lalu mengapa kau memaksaku untuk kesini? " tanya Joan bingung.
"Aku tidak memaksamu, Mrs. Albertico. Aku hanya mengikuti instingku. Aku tidak ingin menahannya lagi. Pesona mu sungguh luar biasa. " ucap Alv yang mulai mendekatinya. Ia menciumnya ringan. "Apakah menurutmu itu cukup? Bagiku jauh dari kata cukup. " ucapnya tenang. Ia menarik tangan Joan.
"Lalu? "
"Tidak ada lalu. Mari kita membuat pernikahan kita menjadi sah. " ucap Alv sambil mendorong punggung Joan. Ia menutup pintu kamar dengan kencang.
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bahkan seorang Albertico Alv yang semula membuat pernikahan ini menjadi sebuah permainan pun harus luluh dibawah kaki Joan Lee. Alv tidak peduli dengan pendapat orang lain. Jika ada yang menentang, maka ia harus menghadapi seorang Alv terlebih dahulu. Kebahagiaannya hanya dirinya sendiri yang bisa mencarinya. Namun semua ini tak lepas dari peran Brittany Jonas. Ada satu kalimat yang ingin ia ucapkan pada wanita itu.
__ADS_1
...Brittany, Terima kasih karena kau telah mempertemukan kami. ...