
"Tidak ada satu wanita pun." jelas Dean.
Jessy memeluk kedua kakinya tanpa berbicara sedikitpun. Ia tidak mau menatap Dean. Ia marah pada dirinya sendiri. Ia merasa malu karena telah menuduh Dean berselingkuh. Jelas sekali di kamar hotel tidak terdapat apapun. Ia menunduk. Cemburu ini menguras hatinya. Ia menutup matanya.
Dean menghampiri Jessy yang sudah duduk di sofa itu. Ia membawakan minuman hangat untuknya. Ketika ia menemukannya sedang menangis didepan kamarnya, ia terlihat kedinginan. Ia memberikan pada Jessy. "Minumlah. Kau kedinginan"
Jessy masih tidak bergeming.
Dean duduk disampingnya dan menyimpan gelas itu di atas meja. Ia menarik kedua lengan Jessy. Ia menatap wajah yang sedang menunduk itu. "Kau cemburu pada Shane?"
Jessy membuka matanya. Ia menatap Dean. "Aku cemburu pada semua wanita yang mengelilingi mu."
"Saat ini aku hanya sedang dekat dengan dua wanita. Shane dan Rossy. Tapi, itu semua hanya pekerjaan. Tidak ada wanita lain yang ada di hatiku selain kau" jelas Dean.
Jessy menurunkan kakinya ke bawah. Ia langsung memeluk Dean dan mendorongnya hingga tertidur di sofa. "Aku pikir kau bukan pria setia, Dean. Aku takut. Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi"
Dean mengangkat kedua tangannya dan memeluk Jessy. "Jangan meragukannya, sayang. Pekerjaanku yang mengharuskan ku dikelilingi beberapa wanita. Kau harus siap akan itu."
"Mereka cantik-cantik."
"Tidak lebih cantik darimu."
"Aku merindukanmu, Dean. Biarkan aku memelukmu lama." bisik Jessy.
"Tentu saja. Aku juga merindukanmu. Setiap hari aku merindukanmu. Bagaimana bisa kau sampai ke Yunani seorang diri? Aku terkejut dan tidak percaya melihatmu sedang menangis didepan kamarku. Ternyata kau begitu mencintaiku. Kau cemburu sekali pada Shane, Jessy." goda Dean.
"Kau menggodaku?" tanya Jessy
"Aku menggoda mu karena aku senang. Wajahmu sangat lucu ketika menangis tadi. Rasanya seperti mimpi melihatmu ada disini. Aku tidak menyangka kau akan memberikanku double surprise."
Jessy melepaskan pelukannya dan mengangkat kepalanya. Ia menyimpan kedua tangannya diatas dada Dean. "Dean.. aku senang berada disini denganmu. Aku tidak bisa mengekspresikan kebahagiaanku saat ini. Setiap hari aku merasa kesepian berada di apartemen. Hanya dua bodyguard itu yang menemaniku. Kedua orangtuamu pergi berlibur. Sebenarnya aku tidak mau mengganggumu dengan datang kesini. Tapi kau terus memaksaku untuk datang."
__ADS_1
Dean mengangkat kedua tangannya. Ia melepaskan handuk yang masih terikat di kepalanya. "Kau tidak pernah menggangguku. Aku sudah berjanji padamu akan membuat karya terbaik dan membuatmu bangga." Ketika rambut Jessy terurai, ia merapikannya ke belakang telinganya dan menyimpan rambutnya kebelakang. Wajah polosnya ketika baru mandi membuatnya teringat ketika berada di rumah. Ia sangat menyukainya. "Apakah kau lapar setelah melakukan perjalanan jauh tadi?"
Jessy menggelengkan kepalanya. "Aku sudah makan banyak ketika di pesawat tadi."
"Pantas saja kau berat.." goda Dean kembali.
Jessy memukul bahu Dean ringan. Ia tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di dada Dean.
"Jessy.. tapi aku lapar sekali sekarang.." bisik Dean.
Dari nadanya saja ia sudah mengetahui apa yang diinginkan Dean. Terlebih tangan nakal Dean kini berada di tali jubah mandinya. Jessy hanya terdiam ketika Dean melepaskan tali simpul itu dengan mudah.
"Kau mengerti bukan? Jika kau lelah aku akan berhenti." bisik Dean ditelinga Jessy.
Jessy mengangkat wajahnya. "Aku tidak ingin kau berhenti."
Dean tersenyum. Akhirnya setelah beberapa waktu tidak bertemu dengan istrinya, ini adalah kali pertama mereka melepaskan rindu yang amat besar. Jantungnya masih saja berdebar dengan kencang ketika bersama Jessy. Pesona Jessy tidak main-main. Baru kali ini ia bertekuk lutut pada seorang wanita. Wanita yang menjadi cinta pertama dan cinta terakhirnya saat ini. Ia memperlakukan Jessy masih tetap sama, seperti bunga yang rapuh. Ia memperlakukan Jessy dengan lembut. Ia tidak akan membuat malam ini singkat.
...***...
"Apa yang paling membahagiakan dalam hidup?" tanya Dean.
Jessy menoleh pada Dean. Ia menggelengkan kepalanya.
"Kau ada di sampingku." jawab Dean. Jessy tersenyum dan mempererat genggaman tangannya.
"Bagaimana perjalananmu ke Nevada? Apakah ada yang mengenalmu?"
Jessy teringat jika ia ingin menceritakan semuanya pada Dean. Tentang perjalanannya ke Nevada, dan tentang uang itu.
"Aku ingin bercerita padamu, Dean. Terima kasih karena kau percaya padaku tentang uang itu. Aku ingin jujur padamu. Mungkin kau bertanya-tanya. Untuk apa aku meminta uang sebanyak itu padamu. Sebenarnya aku meminta uang itu padamu untuk membantu Mrs. Elisa untuk terus melanjutkan yayasan itu. Ada hampir dari dua puluh anak yang nasibnya terkatung-katung. Mereka hampir saja kehilangan rumah untuk tempatnya bernaung."
__ADS_1
"Tidak masalah bagiku. Berapapun kau meminta uang, aku akan memberimu."
"Jika untuk pribadi, aku tidak mau menghamburkan uang mu. Aku sudah memiki seorang designer sendiri. Aku tidak mau mengkhianatinya dengan membeli barang dari orang kain."
"Aku tidak keberatan jika kau ingin mendapatkan sesuatu dari uangku."
"Dean, aku bukan wanita yang seperti kau bayangkan."
"Aku tahu. Jika mengingat bagaimana permintaanmu mengenai uang satu juta dollar itu, aku tidak peduli karena aku hanya ingin kau ada disampingku."
Jessy tersenyum. Ia mendengar ponsel Dean berbunyi. Dean melepaskan tangannya dan duduk disamping tempat tidur.
"Ada apa?" tanya Dean ketika ia melihat Harris menghubunginya.
"Apa yang kau lakukan pada Shane?"
Dean menggelengkan kepalanya. Ia menatap jam yang ada di ponselnya. "Kau menghubungiku pukul 2 pagi hanya untuk menanyakan apa yang aku lakukan pada gadis itu? Kau benar-benar menyukai uang, Harris. Kau tidak peduli pada perasaanku."
"Karena sesuatu yang terjadi pada hari ini bisa berdampak pada film yang sedang kau buat. Apa kau mengerti??" tanya Harris marah.
Dean menggeram marah. Ia membanting ponselnya dengan kencang sehingga Jessy ikut bangun dan terbingung.
"Ada apa?"
"Harris sengaja membuat perjanjian dengan ayah dari orang yang kau lihat tadi hanya untuk mendapatkan sponsor untuk film terbaru ini."geram Dean.
"Kenapa Harris melakukannya?" tanya Jessy bingung.
"Keuntungan perusahaan dengan menjual ku." jawab Dean kesal.
Jessy terdiam. Ia mulai berpikir jika hal ini ada hubungannya dengan kedatangannya. Ia tidak mau berfikir macam-macam, namun pekerjaan Dean ternyata membutuhkan sebuah pengorbanan. Ia bisa bertanya pada Harris apa yang terjadi. Jadi, sekarang ia tahu. Pertemuan Dean dengan wanita tadi ada hubungannya dengan kelangsungan perusahaan. Kenapa ia menjadi bodoh sekali? Cemburu telah menutup mata hatinya. Ia menunduk dan menyesal.
__ADS_1
"Jangan kau pikirkan. Aku yang akan memikirkan jalan keluarnya. Lebih baik kita tidur. Beberapa jam kedepan aku harus syuting. Kau mau ikut?" tanya Dean.
Ikut dengan Dean berarti ia bertemu dengan Harris. Ia mengangguk dengan cepat.