Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Panic


__ADS_3

“Tidak akan kubiarkan. Lihat saja.”


Lily terus melihat kebawah untuk menunggu tanda-tanda kepulangan kakaknya. Ia mengigit kuku jarinya. Hatinya begitu gugup dan kemarahannya yang begitu menyiksa. Ia geram. Ia tidak akan lupa bagaimana wanita itu keluar dari kamar kakaknya dengan hanya memakai dress tidur yang cukup terbuka seperti itu. Apa yang sudah mereka lakukan?


Dasar wanita j****g!


“Siapa yang kau sebut wanita j****g?” tanya Alv sambil melipat kedua tangannya didepan. Ia sudah masuk kedalam apartemen tanpa diketahui oleh Lily.


Lily cukup terkejut karena ia tidak tahu kakaknya telah kembali. Ketika kemarahan menutupi hatinya, ia tidak bisa berfikir jernih. Bahkan orang yang sedang ditunggunya pun tidak terlihat oleh kedua matanya.


“Aysun!” tanya Alv kembali dengan nada tinggi.


Lily menatap mata Alv. “Siapa lagi? wanita itu yang sudah menyerahkan tubuhnya padamu. Bukankah itu sama saja dengan j****g? Kau tidak perlu membelanya.”


“Lily! Jaga ucapanmu!” teriak Alv marah. Ini adalah pertama kalinya ia marah pada Lily. "Aku tidak pernah marah tapi kali ini kau keterlaluan! "


Wajah Lily berubah merah. Ia menatapnya nanar.  “Kau tidak pernah marah seperti ini padaku, Alv.” Ucapnya sedih. Ia menutup wajahnya dan mulai menangis.


Alv menghela nafas. Ia menghampiri Lily. “Dengarkan aku, tolong  jangan berkata buruk mengenai istriku. Kau harus menerimanya mulai dari sekarang. Aku mencintainya."


“Tidak! Kau tidak boleh mencintai wanita seperti itu! Kau sudah berjanji pada mama bahwa kau akan menjagaku seumur hidupmu.” teriak Lily histeris. Ia menutup kedua telinganya.


“Aku memang berjanji seperti itu. Kecuali pernikahan ini. Aku pun ingin bahagia seperti pasangan lainnya.” Protes Alv.


“Tapi tidak dengan wanita itu. Aku membenci semua yang berhubungan dengan wanita itu! Aku membencinya! "


Alv mengambil jaketnya dan memakainya kembali. “Lebih baik aku pergi. Cobalah introspeksi diri agar kau berfikir bahwa kebencianmu itu tidak wajar."


“Alv, wanita itu yang meninggalkanmu ketika pernikahan. Dan wanita yang menjadi istrimu sekarang hanya sebagai pengganti. Kau lupa bahwa kau hanya bermain-main akan pernikahan ini?” teriak Lily. Ternyata Alv tidak menggubrisnya. Ia tetap berjalan melewati pintu yang masih terbuka sedikit itu. Ketika pintu ditutup, ia berteriak marah.


Alv mengendarai mobilnya tanpa tujuan. Ia menghela nafas. Memanjakan Lily selama ini telah berdampak seperti ini. Ia salah karena selalu menuruti ucapannya. Ia kembali teringat ucapan ibu tirinya ketika koma dahulu. Jaga Lily untukku. Perlakukan ia layaknya saudara kandungmu sendiri. Sebuah permintaan yang aneh. Tapi ia selalu mengabaikan ingatan tentang itu.

__ADS_1


Faktanya sampai saat ini ia selalu menjaga Lily. Baginya ia adalah satu-satunya saudara kandung. Ketika kesalahan yang ia buat saat itu pun, ia yang bertanggung jawab. Ia menjaganya agar kasus itu tidak diperpanjang oleh pihak kepolisian. Lily salah jika ia harus terus menjaganya. Lambat laun mereka akan memiliki jalan hidup masing-masing. Lalu sekarang bagaimana caranya agar Lily mau menerima Joan sebagai kakaknya? Apakah pengorbanannya belum cukup selama ini?


Mobil perlahan dihentikan di sebuah pengisian bahan bakar yang berada di pinggiran kota. Ia kembali mengingat kejadian hadirnya Lily. Di suatu pagi, ketika ibunya belum lama meninggal dunia karena berjuang melawan breast cancer, ia mendapati ayahnya pulang kerumah bersama seorang wanita muda yang ia tahu adalah sekretaris pribadi ayahnya. Yang ia tidak habis pikir adalah, wanita itu datang dalam keadaan tengah hamil besar. Otaknya seketika berfikir. Selama ibunya sakit, ayahnya ternyata telah berselingkuh dengan wanita itu.


Berusia sangat muda ketika ia kehilangan ibunya,  iapun harus kehilangan ayahnya. Ayahnya dan sekretaris pribadinya pindah ke Athena karena perusahaan ayahnya sedang berkembang disana. Dan memang secara kebetulan, istri barunya berasal dari sana. Ia hidup seorang diri. Namun ia tidak merasa sendiri, ia yakin ibunya selalu ada disampingnya.


Malam itu, sebuah kecelakaan maut harus terjadi. Ia diberitahu oleh salah seorang kerabat istri ayahnya jika keduanya mengalami kecelakaan fatal. Tidak pernah peduli maupun memberi kabar baik, satu-satunya kabar yaitu mengenai kecelakaan itu. Ketika ia baru sampai di rumah sakit yang ada di kota Athena, ia mendapatkan kabar jika ayahnya telah meninggal karena pendarahan yang sangat hebat di kepala. Tidak ada airmata ketika ia kehilangan ayahnya. Sedangkan ibu tirinya, harus mengalami koma karena mengalami shock berat di kepala.


Satu jam sebelum ibu tirinya meninggal, ia siuman. Seorang balita perempuan berusia lima tahun berada disampingnya bersama beberapa kerabatnya. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu Lily setelah lima tahun mereka berpisah. Gadis cantik dengan wajah mirip sekali ibunya selalu menatapnya dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Ia selalu mengingat ucapan ibu tirinya saat itu. “Lihatlah adikmu, dia manis sekali bukan, Alv? Aku yakin hidupku hanya tinggal beberapa saat lagi. Aku tidak bisa menahannya. Ini terlalu sakit. Aku mohon padamu, jagalah Lily Aysun untukku. Perlakukanlah ia seperti saudara kandungmu sendiri.”


Selama dua puluh tahun ia menjaga Lily, baru kali ini ia merasa apa yang telah ia lakukan padanya sudah cukup. Ia ingin hidup bahagia dengan Joan tanpa gangguan apapun. Pernah ketika sekolah dulu, teman-temannya mengejeknya karena wajah mereka yang tidak mirip. Lily kembali ke rumah sambil menangis dan mengadu atas apa yang terjadi. Tanpa menunggu lama, ia datang ke sekolah untuk memberi pelajaran pada orang yang telah membuatnya menangis saat itu. Kemudian, ketika Lily memutuskan pindah ke Athena, ia lulus mendapatkan pekerjaan disebuah instansi negara itu. Ia datang mengunjunginya setiap akhir pekan. Semuanya sudah cukup. Waktu dan tenaganya telah ia berikan pada Lily tanpa batas.


...***...


Kegelisahan Joan terjadi. Tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk melihat Lily datang ke New York dan merusak semuanya.  Ia tidak bisa hanya diam dirumah dan menunggu. Ia harus menemui orangtuanya dan menceritakan apa yang terjadi. Ia pun harus bertemu dengan Jessy untuk bertanya beberapa hal mengenai Lily. Terdengar suara klakson taxi didepan pagar rumahnya. Ia berdiri dan masih memakai pakaian tidurnya yang ia tutupi dengan long jacket keluar dari rumah.


Ketika di perjalanan, ia mencoba menghubungi Alv. Tapi sayang ponselnya tidak bisa dihubungi. Apakah Alv sedang menyelesaikan semua perselisihannya dengan Lily? Apakah ia menyerah dan hanya memilih Lily? Tidak, Alv tidak akan seperti itu. Alv berkata jika ia mencintainya. Ia tidak perlu ragu.


"Dad.. " panggilnya ketika ia membuka pintu. Terlihat sepi. Tidak ada jawaban.


"Lalu bagaimana sekarang? " tanya Jessy dengan nada khawatir.


Joan menghentikan langkahnya. Sepertinya semua orang sedang berada di ruang kerja ayahnya. Ia berjalan pelan dan berdiri didepan pintu.


"Aku bisa mengurusnya. Kau jangan khawatir. Tidak ada sponsor maupun iklan tidak dapat menghentikan langkahku untuk membuat sebuah film televisi. " jawab Dean


"Semuanya gara-gara aku.. " ucap Jessy sambil terisak.


"Tidak, sayang. Aku yang memutuskan semuanya. Masih banyak perusahaan yang memerlukan sebuah iklan. Kau tidak perlu takut. "


"Tapi kau akan rugi besar jika film mu tidak sesuai."

__ADS_1


Dean menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kontrak dengan televisi sudah disetujui 60 episode. Aku bertaruh jika dalam episode 10, sponsor dan iklan akan saling berebut. "


Joan yang berada diluar terdiam. Sepertinya semua sedang ada masalah. Apakah etis jika ia membicarakan apa yang terjadi padanya, sedangkan semua orang sedang memiliki masalahnya masing-masing?


Ia pun berdeham dan membuka pintu sambil tersenyum. "Aku datang!! " serunya.


Anastasia berdiri. "Kau tidak bekerja? "


Joan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Apa yang terjadi disini? Kenapa wajah kalian tegang? "


"Joan, kau mau bekerjasama denganku? " tanya Dean bersemangat.


"Apa? "


"Apakah kau mau menjadi sponsor untuk film televisi terbaru yang akan aku buat?"


"Apakah produk pakaian cocok untuk film mu? " tanya Joan bingung.


"Apa yang salah? Aku bisa menyimpan logo pakaianmu di setiap episode. Pakaian yang kau buat akan terus digunakan oleh aktor dan aktris. Butik dan namamu akan semakin terkenal. Bagaimana? " jawab Dean


"Hmm.. tidak buruk." jawab Joan sambil tersenyum. Ia melihat wajah Jessy yang mulai kembali normal.


"Kenapa kau tidak bekerja, sayang? Kau sakit? " tanya Anastasia cemas.


Joan menggelengkan kepalanya. "Tidak mom. Aku sedang libur. Aku ingin mengunjungi kalian.. " ucapnya sambil tersenyum.


"Bukankah beberapa hari yang lalu baru berkunjung? Lalu dimana suamimu? "


Joan mengganti posisi duduknya. Ia tersenyum memaksa. "Ia sedang bekerja.. " jawabnya tenang.


Joan menunduk. Ia tidak akan membicarakan tentang masalahnya. Biarlah ia dan Alv yang menyelesaikan nya. Ia hanya bisa menghela nafas dan menahan emosinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2