Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
One month later


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Siangitu cuaca sangat cerah. Beberapa media dan paparazi sedang bersiap menunggu


sebuah berita. Tidak banyak seperti biasanya. Taxi yang membawa Joan ke kantor Dean untuk pertama kalinya berhenti tepat didepan pintu masuk. Ia dan Dean akan melakukan meeting dengan beberapa sponsor. Tentu saja sponsor itu termasuk dirinya. Dean yang memintanya untuk datang, mengingat drama itu sedang berjalan hingga saat ini. Semua rumor mengenai dirinya, hal  itu benar-benar telah hilang. Benar kata Dean, siapapun dirinya, kejadian apapun tidak akan mengubah kenyataan bahwa ia hanyalah orang biasa. Dan berita itu akan menjadi sebuah skandal yang berkepanjangan. Perlahan reputasi keluarga besarnya telah membaik. Ia bisa melihat wajah tenang ayahnya. Itu sudah cukup. Apalagi yang ia mau? Yang terpenting adalah keluarganya. Joan turun dari mobil dan berjalan kedalam.


Hari demi hari, minggu demi minggu ia menunggu. Tidak ada kepastian dari Alv. Ia sendiri dirumahnya. Ia kecewa pada suaminya karena setelah pulang dari rumah sakit saat itu, tidak ada pembahasan yang berarti. Alv pulang minggu lalu hanya untuk membawa pakaian ganti. Ia tidak berbicara apapun, bahkan menatap wajahnya pun tidak. Ia tidak pernah memintanya untuk datang ke rumah sakit untuk menemuinya. Joan merasa dirinya tidak berarfti apa-apa untuk Alv. Ada satu kalimat yang paling ia ingat ketika bertemu dengan suaminya minggu lalu. Mereka bertengkar hebat.


Apa yang aku lakukan, jangan pernah ikut campur. Jika kau berfikir untuk menyakiti Lily, kau akan berhadapan denganku. Lily tetaplah adikku yang harus aku jaga


Berulang kali ia mengingat dan berfikir kembali selama kesendirian ini. Ia tidak mau selamanya terpuruk dengan perlakuan Alv.. Ia harus bangkit dengan atau tanpa seorang Alv disampingnya. Beruntung ia memiliki teman dan keluarga yang menyayanginya. Gerard dan Sophie tidak pernah absen menghubunginya. Sophie yang berada di Paris pun rela datang ke Brooklyn untuk menghiburnya. Mereka terlalu baik.


"Aku pikir kau tidak akan datang." ucap Dean ketika ia memasuki kantornya. "Paparazzi diluar apakah menyulitkanmu?"


Joan duduk di sofa yang tak jauh dari Dean. Ia langsung mengeluarkan notebooknya dan menatapnya dengan serius.


Dean menghampiri Joan dan duduk disampingnya. "Ada masalah apa?"


Joan menoleh pada Dean."Tidak ada. Kenapa?"


"Sejak rumor itu hilang, aku selalu memperhatikanmu. Ada yang berbeda. Apakah karena berita itu sudah


tenggelam, kau menjadi setenang ini? Tapi ini bukan dirimu, Jo. Dimana suamimu? Kenapa aku tidak pernah melihatnya. Ketika minggu lalu, aku melihatmu memakai taxi setelah kau makan malam dengan dad seorang diri. Ada apa? Apakah suamimu melakukan kesalahan? Atau, apa yang terjadi? Apakah kalian sudah berpisah?" tanya Dean bingung. Iapun terkejut sendiri dengan pertanyaannya sendiri.


"Tidak ada apapun. Aku hanya ingin melanjutkan pekerjaanku yang tertunda selama beberapa waktu karena


liburan waktu itu." Jawab Joan tenang.


Dean mengeluarkan ponselnya. "Aku akan mecoba menghubungi suamimu. Apakah benar yang kau katakan


itu?"


Joan berdiri. "Kau menyebalkan. Jangan ikut campur dengan semua urusanku. Aku datang kesini karena pekerjaan, bukan membahas masalahku  " ucapnya sambil berjalan keluar.

__ADS_1


Dean mengerutkan keningnya ketika melihat Joan keluar ruangan. Kakaknya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Entah berapa lama ia menjadi pemurung. Ia terlalu sibuk bekerja hingga tidak tahu apa yang terjadi pada kakaknya. Ia ingat ibunya sering sekali mengunjungi rumah Joan. Tapi tidak pernah sekalipun mereka membahas tentang Alv. Sebenarnya apa yang terjadi? Kemarinpun ia meminta Joan untuk hadir di meeting sponsor hari ini. Sudah terlalu lama ia mengurung dirinya dirumah.


Dean mengambil ponselnya diatas meja dan menghubungi seseorang. Nada tersambung. Jika Joan berfikir ia sedang menghubungi suaminya, ia salah. Ia menghubungi istrinya.


Joan berjalan ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Apakah terlihat aneh jika ia tidak mau membahas Alv? Ia


memegang cangkir kopi dengan kedua tangannya. Ia menghela nafas. Alv jarang  menghubunginya sejak pertengkaran mereka terakhir kali. Uap panas yang keluar dari kopi yang sedang dibuatnya, membuat hatinya tenang.  Ia mulai meminum kopi itu sedikit demi sedikit. Namun perutnya seperti hendak menolak kopi yang sedang ia minum. Ia sesekali memegang perutnya. Ketika ia merasa stress, hal ini sering terjadi padanya.


"Jo, meeting akan dimulai" ucap sekretaris Dean. Pria itu terlihat terburu-buru.


Joanpun menyimpan cangkir yang sedang dipegangnya dan berjalan menuju ruang meeting. Ini adalah meeting


pertamanya dengan sponsor lain. Entah apa yang sedang dilakukan Dean, sepertinya ia menginginkannya bekerja banyak.


***


Joan melihat sketsa gambar yang baru saja ia buat. Ia malas pulang kerumah. Jadi, disinilah ia berada. Ketika semua orang pergi dari ruangan ini, hanya ia yang bertahan. Ia menunduk dan menyimpan kepalanya diatas meja. Kepalanya berputar jika ia memikirkan Alv. Apakah keputusannya salah? Terdengar pintu diketuk. Ia mengangkat kepalanya. Jessy sedang berdiri didepan pintu. Ia sedang tersenyum padanya. Jessy pun pernah mengalami


“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Jessy sambil berjalan menghampirinya.


Joan menatapnya lama. Perut Jessy sudah terlihat besar. Sepertinya, kebahagiaan selalu berpihak padanya. Dean


sangat mencintai Jessy. Mereka bahkan berusaha untuk menyembuhkan Jessy mengenai rahimnya. Ia beruntung.


“Jo.. kenapa kau melihatku seperti itu? Aku malu” Tanya Jessy sambil tertawa.


Joan tersenyum. “Kau beruntung karena mendapatkan pria yang mencintaimu.”


Jessy duduk disampingnya. “Ada apa? Apakah sesuatu terjadi pada kau dan suamimu?”


“Sepertinya aku akan berpisah.” Ucap Joan tenang.

__ADS_1


“Tunggu..tunggu, apakah Alv akan pindah ke negaranya? Lalu kau? Jelaskan, aku tidak mengerti.” Ucap Jessy panik.


“Aku pikir, aku belum siap untuk mendapatkan masalah mengenai pasangan dan pernikahan. Mentalku tidak sekuat dirimu. Berkali-kali kau disakiti, tapi kau bisa bangkit dengan mudah. Sedangkan aku, Alv adalah pria pertama yang aku cintai. Aku curahkan semuanya pada pria itu. Tapi semakin hari aku berfikir, sepertinya aku salah. Kami tidak seharusnya menikah."ucapnya dengan tatapan kosong. Ia menambahkan. "Awalnya aku ketakutan ia akan membalas dendam padamu karena kau menikah dengan Dean. Aku tidak menyalahkanmu atas semua yang terjadi. Aku hanya ingin melindungi adikku. Kau dan Dean pantas bahagia.” Jelas Joan dengan mata berkaca-kaca.


Jessy memegang kedua tangan Joan. “Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kau ingin berpisah dengan Alv? Ia jatuh cinta padamu, Jo. Ia mengatakannya padaku. Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?”


Joan menutup matanya. “Sudah aku katakan, aku tidak siap untuk menikah. Aku ingin melanjutkan pekerjaanku saja. Aku ingin kembali ke Paris. Paris adalah duniaku. Aku tidak cocok dengan udara Brooklyn. Terlalu banyak masalah yang harus aku hadapi."


Jessy melepaskan tangannya. Ia menatap Joan. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


“Aku pikir kau keterlaluan Jo. Kau tidak memikirkan perasaan Alv. Ia banyak berkorban untukmu. Kau tega karena


memainkan hati seseorang. Alv pria baik. Ia tidak pantas menerima ini.” Ucap Jessy emosi.


"Jika aku katakan ALv menyakitiku, apakah kau percaya?" tanya Joan kembali.


"Alv memang terkadang selalu mengikuti emosinya sesaat. Ia tidak memikirkan  perasaan orang lain. Tapi itu bukan tanpa sebab. Ia memiliki alasan melakukannya. Alv sebenarnya orang baik."


Joan tersenyum hambar. “Karena Alv orang baik, untuk itulah aku ingin berpisah. Ia tidak pantas mendapatkan


wanita sepertiku. Aku sudah memutuskannya. Kau pikir untuk apa aku datang kesini jika aku tidak serius ingin fokus pada pekerjaanku.”


“Ya, aku berfikir jika Dean yang selalu memintamu untuk datang ke perusahaan. Ia khawatir padamu. Kau tidak


pernah muncul walaupun berita itu sudah hilang. Anastasia selalu mengunjungimu tapi ia tidak pernah mendapatkan jawaban. Kau membuat kami khawatir.”


Joan berdiri. “Maafkan aku. Aku akan berbicara dengan dad masalah ini.”


“Aku hanya meminta kau memikirkan kembali. Pikirkan perasaan Alv. Aku tidak ingin kau menyesal. Jangan sampai


ceritaku terulang kembali.”ucap Jessy

__ADS_1


Joan melangkah keluar tanpa membalas ucapan Jessy. Pikirkan perasaan Alv? Apakah Alv juga memikirkan perasaannya? Ia tidak ingin merasakan sakit karena cinta. Sudah cukup. Ia tidak ingin berlama-lama merasakan sakit. Cinta itu sakit. Ia tidak mau mengulanginya kembali. Tidak ada yang bisa menyakitinya lagi. Entah itu Lily maupun Alv.


__ADS_2