
Joan terisak. Betapa berjiwa besar adiknya. Ia bangga. Ia menyadari kesalahannya. Ia menyampaikan pesan yang menyentuh untuk mantan istrinya. Sungguh.. Ia tidak pernah menyangka akan melihat hal ini seumur hidupnya.
Cubitan kecil Dean membuatnya menoleh.
"Kenapa?" goda Dean
"Kau berbakat, Dean. Jenis film apapun untukmu menjadi hal biasa."
"Kau bangga padaku, bukan? " tanya Dean. "Tapi kenapa kau menangis? "
"Aku tersentuh dengan kata-kata mu. Kapan kau belajar menjadi seorang pria yang melankolis? "
"Karena pengalaman yang bisa membuatku melakukannya. Aku membuat film ini karena rasa rinduku pada Jessy. Aku meminta bantuan Jefry untuk membuatkan sebuah cerita romantis sesuai dengan apa yang aku inginkan. Ia berhasil melakukannya. Akhir cerita ini berakhir bahagia. " jawab Dean sambil tersenyum puas.
"Sayangnya.. hal itu tidak sama dengan kisah cintamu."
Ucapan Joan ada benarnya. Ia sadar tidak pernah beruntung dalam percintaan. Ia menoleh ke jendela. Senyumannya terpaksa menghilang karena memikirkannya. Tinggal beberapa hari lagi mereka akan menikah.
"Dean.. besok pagi kita langsung pulang ke New York. Kau harus tidur lebih awal. Acara mu hari ini sukses besar. Kita bisa merayakannya besok ketika pulang di rumah dad. " dorong Joan ketika mereka sudah sampai ke kamar hotel. Karena kamar mereka saling terhubung, Joan bisa mengecek setiap saat jikalau Dean pergi.
"Aku tidak akan pulang, Joan. Aku pernah mengatakannya bukan? " elak Dean.
"Tidak bisa. Kau harus tetap pulang denganku. Kau harus melakukan promosi di sana. " dorong Joan.
Dean membalikkan tubuhnya. "Tidak Joan, aku tidak akan pernah pulang. Tolong mengerti."
Joan melepaskan tangannya. "Baiklah, aku akan pulang sendiri. "
"Kau beristirahatlah. Aku akan berjalan-jalan sebentar." ucap Dean. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju lobby. Ia telah menyewa sebuah mobil lengkap dengan supirnya. Ia hanya ingin diantar ke sebuah tempat.
Hagia Sovia. Sebuah bangunan tua yang digunakan oleh warga setempat untuk melakukan ibadah. Pria itu membawanya ke sana. Menurutnya tempat itu sangat nyaman. Banyak wisatawan berkunjung ke sana hanya untuk menikmati malam di taman yang berada di belakang bangunan itu.
Tempat itu indah. Jauh dari hingar bingar kota. Dean berjalan menyusuri taman. Terdapat beberapa penjual makanan khas Turki. Ada beberapa orang yang duduk-duduk di taman. Ada pula yang masih membawa anaknya bermain malam-malam begini. Ia pun duduk di sebuah kursi taman. Sendirian. Ia hanya ingin melepaskan semua lelahnya beberapa hari terakhir. Bohong jika ia tidak kesakitan. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun untuk menyembuhkan hatinya. Ia mengangkat tangannya dan melepaskan cincin pernikahan yang tidak pernah ia lepaskan selama ini. Ia menatapnya. Terdapat nama Jessy Julian. Ia mulai merasa tersentuh. Gejolak kesedihannya mulai terasa ketika ia mendengar sayup-sayup lagu Turki bergema. Sebuah lagu yang terdengar menyedihkan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa sangat sedih sekali.
__ADS_1
Kırık kalbimin son ümitleri
Çiçek açtı ilk bakışınla
Bir hayaldi bu sevgimiz
Huzur oldu dokunuşunla
Ne yaparım ben yar sensiz?
Derdimi kime söylerim?
Hasretinden gece gündüz
Ağlar yüreğim
Aşkım benim, meleğim
Harapan terakhir dari hatiku yang hancur
Cinta kita adalah mimpi
Damai ada dengan sentuhan mu
Apa yang akan saya lakukan tanpa Anda?
Kepada siapa saya menceritakan masalah saya?
Rindu siang dan malam
Hatiku menangis
Cintaku, bidadari ku
__ADS_1
-askim benim-
...***...
"Lana, kau marah? " tanya Brittany sambil menatap cermin. Ia datang seorang diri ke butik Lana untuk mencoba gaun pernikahannya.
Lana masih sibuk merapikan gaun yang sedang dipakai Brittany. Ia tidak menapik ucapan Brittany padanya. Sejak ia memintanya membuatkan gaun untuknya, ia hanya berfokus untuk membuat hingga pernikahan itu tiba. Ia berdiri.
"Tidak. Aku selalu seperti ini jika sedang bekerja."
"Lana.. jangan marah. Aku sedih melihatmu seperti ini." ucap Brittany.
"Aku tidak akan marah jika kau mau pergi denganku. " ucap Lana. "Sebelum kau menikah, aku ingin kau pergi denganku. Kita makan, nonton bioskop dan mencoba beberapa pakaian di butik. Bagaimana?"
Brittany tertawa ringan. "Semudah itu?"
"Aku tidak pernah memintamu sesuatu yang tidak bisa kau lakukan."
"Baiklah. Aku akan pergi denganmu." jawab Brittany.
Lana tersenyum. Ia menarik resleting gaun bagian belakang ke atas. Ia melihatnya. "Sepertinya sudah pas."
Brittany tersenyum. "Indah sekali. Kau terbaik, Lana. Sayangnya Alv tidak ada. Ia hanya bisa melihatku ketika pernikahan terjadi."
"Aku menggunakan bahan-bahan impor yang sangat sulit didapat. Aku membuatnya sesuai dengan pesanan seseorang. Ia memintaku agar kau memakai gaun pernikahan yang indah. Ia ingin kau menjadi pusat perhatian ketika berada pada acara terbesarmu. "
Brittany menoleh pada Lana. "Aku ingat. Kau pernah mengatakan tentang seseorang. Siapa seseorang itu? "
"Dean." jawab Lana.
Brittany menurunkan tangannya yang sejak tadi ia angkat untuk menahan dadanya. "Kenapa Dean melakukannya? "
"Ia hanya ingin kau hidup bahagia. Sebelum ia pergi, ia sempat mengatakan untuk memberimu sesuatu yang terbaik. Dan inilah, aku melakukannya. " jawab Lana.
__ADS_1
Brittany terdiam. Dean melakukannya? Tapi untuk apa? Seharusnya Dean membencinya karena ia menikah dengan Alv. Tapi kenapa ia mendukung pernikahan ini?