Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Epilog


__ADS_3

"Jam berapa kau tiba di gedung?"


Dean tengah merapikan pakaiannya didepan cermin besar. Ia sudah tampan dan siap berangkat ke acara award yang biasa diselenggarakan setiap tahun. Ia tinggal memakai dasi kupu-kupu dan selesailah persiapannya.


"Selesai pemotretan aku akan langsung ke gedung. Sampai jumpa di sana. " jawab Jessy dengan nada terburu-buru.


"Baiklah. Siapapun yang datang terlebih dahulu, tunggu didalam." ucap Dean. Ia kemudian teringat sesuatu. Ia memakai jam tangan R**ex nya.


Setelah selesai, ia keluar dari kamarnya. Terdengar celotehan bayinya dibawah. Ia pun turun untuk menghampiri buah hatinya. Usia Brittany baru menginjak lima bulan. Ketika dilahirkan, wajah Brittany sangat mirip sekali dengan wajah Jessy. Semua orang terharu. Termasuk kedua orangtuanya. Iapun tidak menyangka akan mendapatkan anugrah secepat itu. Keluarganya kini telah membaik. Ia kini tengah menyiapkan project barunya. Sebuah drama televisi dengan tantangan yang lebih besar. Sedangkan Jessy, setelah satu bulan melahirkan Brittany, ia mendapatkan tawaran dari sebuah PH untuk sebuah iklan.


Kedua mata mungil itu manatapnya. Ia sepertinya tahu wajah orangtuanya.


"Bri, maafkan dad karena harus meninggalkanmu disini bersama grandma. " ucap Dean sambil menatap Anastasia.


"Bukan sekali kau melakukannya." jawab Anastasia.


"Kau tidak perlu khawatirkan Bri, ia aman bersama kami. Nikmati waktumu. Aku akan melihatnya di televisi. Mudah-mudahan kau mendapatkan salah satu award. " ungkap Lee


Brittany Lee. Dean sengaja memberikan nama itu pada buah hati mereka. Ia ingin kebaikan Jessy menempel pada bayi mungil itu.


Dean menghampiri Bri dan mencium keningnya. "Dad pergi sekarang karena mommy akan marah jika dad datang terlambat. " ucapnya. Ia pun pamit pergi.


Sesampainya di gedung, ia mendapati Jessy baru tiba. Ia sudah terlihat sangat cantik. Gaun dengan potongan terbuka bagian dada itu membuat Dean menghela nafas. Ia dengan cepat menghampirinya.


"Kau baru tiba? " bisik Dean sambil memegang pinggangnya.


Jessy berbalik. "Kau baru tiba?"

__ADS_1


"Ya, Bri menangis. Aku harus menemaninya sebentar."


Jessy mengerutkan dahinya. "Lima menit yang lalu aku menghubungi dad. Ia baik-baik saja. "


Dean tertawa hambar. Ia memang tidak pandai berbohong. "Mari kita masuk kedalam. "


Beberapa media mulai mengambil gambarnya. Dean berbisik. "Kau terlihat sangat seksi. Dadamu terlihat penuh. Tidak akan ada yang menyangka jika kau baru saja melahirkan. "


"Kau menyukainya bukan? " goda Jessy.


"Tentu saja.. "


"Dean, aku mendengar Joan masuk nominasi kostum terbaik. Mengapa ia tidak hadir? "


"Jangan kau pikir Alv akan membiarkannya pergi. Kehamilan Joan sudah memasuki masanya."


"Kau benar." jawab Jessy.


****


Joan menyandar pada sofa panjang dan empuk. Ia menatap laut dari belakang rumahnya. Deburan ombak dan hembusan angin membuatnya tenang. Ketika kehamilannya memasuii bulan ke sembilan, ia sering menghabiskan waktunya dibelakang rumahnya.


Tiba-tiba ada selimut yang menutupi tubuhnya. Ia menoleh. Alv sudah kembali.


"Terimakasih." ucapnya pada Alv.


"Alasan aku membawamu pindah ke istanbul adalah karena aku tahu kau akan menyukai tempat seperti ini. Tapi jangan terlalu lama karena angin laut tidak bagus untuk tubuhmu."

__ADS_1


Joan tersenyum. "Aku tahu. "


Alv duduk disamping Joan dan memeluk bahunya. Ia melihat buku gambarnya diatas meja. "Apa yang kau lakukan? "


"Membuat sketsa baru. Dean meminta sebuah pakaian untuk Bri."


"Tidak bisakah kau kerjakan nanti? Kau harus banyak istirahat. "


"Aku membuatnya karena aku senang melakukannya. Terlalu banyak istirahat tidak bagus untuk tubuhku. "


"Kau memang tidak bisa ditolong." ucap Alv. Ia kemudian memegang perut Joan. "Tinggal menunggu beberapa hari lagi. Bayi kita akan keluar. Aku ingat kejadian waktu itu. Kau benar hamil bukan? "


Joan mengingat saat dimana mereka pergi ke dokter kandungan malam itu. Tebakan Alv benar. Ia kini harus membayar semua itu.


"Ya, karena kau seorang dokter. Sampai sekarang aku masih membayar tebakanmu itu, bukan. Aku tidak pernah meninggalkanmu."


Alv tersenyum. "Jika saat itu kau tidak menawarkan diri untuk menikah denganku, mungkin sampai sekarang aku tidak tahu apakah cinta itu. Terimakasih karena kau sudah membuka kedua mataku. Kau membuatku merasakan apa arti sebuah kehilangan. Aku tidak mau merasakannya kembali. Kau pun memberikanku calon penerus. Aku sangat bahagia. " Ia kemudian membawa kepala Joan ke dadanya. Ia memeluknya dengan erat. "Aku mendapatkan kabar jika Lily akan menikah."


Joan melepaskan pelukannya. "Benarkah? Apa yang akan kau lakukan? "


Alv mengangkat bahunya. "Tidak ada. Aku berbahagia untuknya. Apalagi yang harus aku lakukan? "


"Tidak ada. " ucap Joan sambil tersenyum.


Alv kembali memeluk Joan. "Lebih tenang seperti ini bukan?"


Joan memegang tangan Alv. "Aku menikmati setiap waktu denganmu. "

__ADS_1


"Aku mencintaimu... " bisik Alv.


END


__ADS_2