
"Besok kita berencana ke NY. Setelah malam ini, kau memutuskan apakah kau akan menandatangani kontrak dengan Harris atau tidak."Ucap Deniz ketika mereka berdua berjalan untuk bertemu dengan Harris di mobilnya.
"NY? Apakah pekerjaanku sudah habis?" tanya Brittany
"Masih ada pemotretan dengan majalah fashion minggu depan. Namun masih di kota New York."
Mobil yang ditumpangi Harris merupakan mobil Limosin berwarna hitam pekat yang menjadi perhatian beberapa orang pejalan kaki. Brittany harus menutup wajahnya agar tidak dikenali oleh orang-orang disekitarnya. Ketika ia di taxi untuk pemotretan ini, wajahnya sudah terpampang di beberapa billboard kota.
Deniz mengetuk pintu mobil namun yang muncul sopir mobil itu. Ia membukakan pintu. Deniz dan Brittany masuk kedalam mobil. Harris terlihat duduk ditengah kursi.
"Bagaimana? Apakah kau tertarik menandatangani kontrak denganku?"
"Aku akan menandatanganinya ketika kita berada di NY. Esok kami pindah kesana." jawab Brittany.
"Ada beberapa point' yang harus disepakati tentang kontrak ini. Agensi tidak akan membiarkan salah seorang di perusahaan berhubungan selama masa kontrak dengan agensi utama habis. Brittany menandatangani kontrak dengan perusahaan mu untuk melakukan pekerjaan selama berada di Amerika." jelas Deniz.
Harris tertawa. "Tentu saja aku mengerti." Ia kemudian menatap Brittany. "Dimana kau akan tinggal?"
Brittany berfikir sebentar. Kemudian ia menatap Harris. "Aku sudah memiliki tempat." jawabnya ragu.
...***...
Brittany menatap alamat apartemen yang ayahnya berikan. Ia menatap nanar kertas yang tengah ia pegang. Mengapa ayahnya memberikan alamat apartemen milik Dean? Mengapa? Apa yang ayahnya lakukan?
Tak terasa langkahnya begitu cepat sehingga ia sudah sampai didepan apartemen yang masih terlihat mewah itu. Ia masuk kedalam dengan hati-hati. Ia takut jika ia bertemu dengan Dean disana. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Namun kenangan itu begitu jelas. Pertama kali ia bertemu dengan Dean ketika ia membawakan tas berisi pakaian laundry. Kenangan itu begitu jelas. Ia sulit menghapusnya.
__ADS_1
Ia masih ingat dimana lift itu berada. Apartemen ini belum direnovasi sehingga semua bagian masih terlihat sama. Ketika pintu lift terbuka, ia melihat beberapa cleaning service tengah bercanda. Namun ketika mereka melihatnya, mereka terdiam. Ia masuk sambil menundukkan kepalanya. Kakinya bergetar. Ketika pintu lift terbuka, ia keluar sambil memegang kunci. Tangannya bergetar. Apakah sekarang apartemen itu kosong?
Berada didepan pintu apartemen yang telah merubah nasibnya tiga tahun lalu, jiwanya seakan menolak. Tapi ia penasaran. Apakah apartemen ini kosong? Tidak perlu kunci untuk membukanya. Ia masih ingat kode kunci itu. Tanggal kelahirannya. Jari-jarinya menekan tombol perlahan. Terdengar suara kunci terbuka. Ia hanya bisa menutup matanya. Kodenya masih sama, bisiknya. Ia membuka perlahan.
Semua barang telah ditutup oleh kain putih. Ia menyentuh tembok dan beberapa barang yang ada didepannya dengan perasaan haru. Ia tak percaya ayahnya melakukan ini. Apakah Dean dan ayahnya sudah bertukar informasi mengenai kemunculannya?
Brittany berjalan cepat ke sebuah sofa yang biasa ia gunakan untuk merenggangkan kaki. Ia harus menghubungi ayahnya. Ia pun mengeluarkan ponsel dan menghubungi ayahnya.
Terdengar suara ayahnya tengah memanggilnya.
"Ada apa sayang? bagaimana kabarmu?" tanya Jonas bersemangat.
"Kenapa kau lakukan ini padaku, dad? Kenapa kau memberikan kunci apartemen Dean padaku?" tanya Brittany sambil terisak. "Percuma saja aku melakukan semua ini jika pada akhirnya kau merusaknya dengan mengingatkanku tentang Dean."
"Maafkan dad, sayang. Dad tidak mau kau melupakan masa lalu mu. Begitu pula dengan rencana balas dendam mu yang menurut dad sedikit berbahaya. Sampai sekarang, dad ingin tahu semua cerita utuh darimu. Jadi kita bisa menyimpulkan satu hal. Saat ini kau telah menjadi seorang artis dimana segala perilaku mu akan menjadi buah bibir. Kau harus ingat itu."
"Apartemen itu dijual oleh Lee karena Dean tidak pernah kembali. Dad pikir kau pasti menyukai apartemen itu karena kau pernah tinggal disana. Tapi jika kau keberatan, kita bisa menjualnya pada orang lain."
Brittany mulai merasa kesal. "Dad! apakah dad tahu aku sedang menyamar? Aku bukan Jessy Julian, dad.."
"Kau tidak perlu membentak ku, Sayang. Tentu saja aku tahu tentang itu. Tapi lama-lama identitas mu akan terkuak. Mereka akan tahu kau adalah Jessy Julian." jelas Jonas. Ia sudah dapat memperkirakan hal ini akan terjadi.
"Aku tahu. Sebelum itu terjadi, aku ingin menyelesaikan rencana ku, dad. Apakah kau mengerti? Aku tidak mau tinggal ditempat ini. Aku akan mencari kondo." tegas Brittany.
"Baiklah, maafkan dad. Seharusnya dad tidak melakukan itu. Dad bersalah." ucap Jonas pelan. Nadanya terdengar khawatir.
__ADS_1
Brittany menghela nafas. "Dad.. aku tahu kau melakukan ini demi kebaikanku. Maafkan aku juga dad. Tapi saat ini aku tidak membutuhkan tempat ini. Karena kenangan itu masih membekas. Aku akan tetap menyimpan kuncinya."
"Baiklah, sayang. Jaga dirimu baik-baik." jawab Jonas.
Setelah menutup panggilan pada ayahnya, Brittany keluar dari apartemen itu dengan cepat. Ia setengah berlari untuk sampai ke lobby. Ia datang ke LA untuk bekerja dan melakukan pembalasan. Bukan untuk bernostalgia dan kembali pada Dean. Hal itu tidak ada dalam pikirannya. Ia berlari hingga berada diluar apartemen. Ia kembali memakai topi dan kacamata hitamnya. Celananya yang sedikit kebesaran mengganggu jalannya. Apalagi menuju laundry tempatnya bekerja harus melewati beberapa blok.
Brittany melupakan sejenak pertengkaran dengan ayahnya. Ia kini berada didepan sebuah toko roti. Ia kebingungan mendapati laundry tempatnya bekerja dulu sudah tidak ada. Ia masih ingat jalan menuju tempat laundry dari apartemen Dean. Apa yang terjadi dengan Mrs. Patty?
"Apa yang kau lihat? Kau tidak mau membeli roti buatan ku?" tanya seseorang.
Brittany menoleh dan terkejut ketika melihat Mrs. Patty berada didepan pintu. Wajahnya masih tetap sama. Ia sedang tersenyum padanya. Brittany tidak dapat menutupi kebahagiaannya. Ia berlari untuk memeluk wanita itu.
"Hey! Aku menawarkan mu sebuah roti! Bukan sebuah pelukan!" seru Mrs. Patty kebingungan.
"Aku akan membayar pelukan ini berapapun kau minta.." jawab Brittany sedih.
"Benarkah?" Kedua mata Mrs. Patty terbuka lebar. "Baiklah, kalau begitu peluklah aku.." ucapnya sambil tersenyum senang.
Brittany telah melewatkan beberapa tahun tanpa kehadiran Mrs. Patty. Padahal ialah yang banyak membantunya ketika ia mulai menapakkan kakinya di NY. Banyak pengorbanan yang dilakukan Mrs. Patty untuknya. Ia yang memberikan apartemen mininya ketika ia tidak memiliki tempat tinggal. Ketika ia melepaskan pelukannya, Brittany sudah terlebih dahulu menghapus air matanya.
"Kau mau mencicipi roti buatan ku?" tanya Mrs. Patty.
Brittany mengangguk. "Ya, aku mau.."
"Kalau begitu.. ayo kita kedalam." ucap Mrs. Patty sambil menarik tangan Brittany.
__ADS_1
Brittany menatap sedih wanita itu. Seandainya ia tahu siapa yang sedang ia pegang saat ini...