
Jessy hanya bisa menatap keluar jendela kamarnya. Ia terdiam. Jari-jarinya terangkat dan menyentuh perutnya. Hanya satu pertanyaan yang mengusiknya sejak ia berbicara dengan Dean malam itu. Apakah ia bisa hamil? Apakah dengan memiliki seorang anak akan merubah semuanya? Jika Dean malam itu tidak memakai pengaman, setidaknya harapannya untuk hamil akan mungkin terjadi. Jika ia hamil, apakah Dean masih menginginkannya? Apakah jika ia hamil, ia akan baik-baik saja? mengingat usianya masih bisa dikatakan muda.
"Apa yang sedang kau lamunkan? Kalau kau sudah siap, kita bisa langsung berangkat ke restoran." ucap Joan yang saat itu sudah berada dibelakangnya sambil berkacak pinggang. "Apakah Dean mengatakan sesuatu? Kau terlihat aneh."
Jessy menggelengkan kepalanya. "Tidak ada sama sekali."
"Kalau begitu kau tunggu apa lagi? Ayo kita pergi." ucap Joan.
Jessy mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar. Langkahnya menuju mobil membuatnya terasa malas. Tadi pagi Joan mengajaknya untuk makan siang di luar. Selain itu ia ingin mengajaknya berjalan-jalan di sebuah mall untuk membeli sebuah buku. Ia tidak tahu rencana apa yang dimiliki untuknya sekarang. Ketika ayahnya Dean mengatakan ia dan Dean dalam pengawasan Joan, ia hanya mengangguk pasrah.
"Hari ini kita sibuk, Jessy! Kau harus mulai belajar mulai detik ini." ucap Joan.
"Jessy!" panggil seseorang.
Joan dan Jessy membalikkan badannya. Joan melirik pada Jessy karena ia tidak mengenalnya.
"Kau mengenalnya?"
Jessy ingat terakhir kali bertemu dengan pria itu disebuah pesta. Pria itu adalah salah satu kerabat Isabela dan Jonas. Sebenarnya ia tidak terlalu percaya, mengingat wajah pria itu sangat kental dengan latin. Namun saat itu Jonas mengangguk ketika ia bertanya tentang Jose.
Mungkin sebuah kebetulan jika pekerjaan Jose sebagai seorang paparazzi. Ia telah banyak membantunya termasuk ketika gosip antara Dean dan Rossy muncul. Pria itu membantu membuatnya merasa aman.
"Aku mengenalnya. Ia kerabat Isabela, teman daddy" jawab Jessy tenang.
Ia melihat pria itu berlari menghampirinya. Ia terlihat senang sekali. Ada satu yang menarik perhatiannya. Ia tidak membawa kamera yang biasa ia bawa. Iapun tidak memakai pakaian layaknya paparazzi seperti yang lainnya.
"Halo, Jessy! Aku pikir tidak bisa bertemu denganmu lagi." ucap Jose sambil terengah-engah.
"Aku tidak perlu menjelaskan kemana aku pergi bukan?" tanya Jessy.
"Ya"
"Kemana perlengkapan kerjamu?"
Jose tersenyum. "Aku bukan lagi seorang paparazzi. Aku berhenti."
Joan menatap tajam pria didepannya. "Kenapa kau berhenti?"
"Tidak ada jawaban." jawab Jose tenang.
"Setahuku, jika seorang paparazzi berhenti dari pekerjaannya karena dua hal. Pertama ia jatuh cinta pada artis itu, dan kedua.. ia sudah tidak memerlukan uang banyak. Jadi alasanmu yang mana?"
"Tidak ada alasan aku harus menjawab pertanyaanmu." ucap Jose ketus.
__ADS_1
Jessy melihat pertengkaran kecil keduanya. Ia merasa harus membawa Joan pergi dari sana. Iapun merangkulkan tangannya pada lengan Joan.
"Kami harus pergi sekarang. Nanti jika ada kesempatan kita bisa berbicara kembali." ucap Jessy cepat.
"Oke, aku akan menunggumu."
Jessy langsung membawa Joan menuju mobil. "Aku saja yang mengendarai." ucapnya cepat.
Joan merasa mencurigai sesuatu. Jika pria itu akan merusak hubungan kedua adiknya, ia yang akan memberikan pelajaran padanya. Ia melirik pada Jessy. Apakah wanita ini sebegitu polosnya hingga tidak tahu apa yang direncanakan seseorang padanya. Bisa saja pria itu menjebaknya dengan berpura-pura baik.
"Kau harus berhati-hati pada pria itu, Jessy!"
Jessy tersenyum. "Jose sepertinya bukan pria seperti itu. Sejak pertama aku menikah dengan Dean, ia yang banyak membantuku. Ketika aku diserbu wartawan, Jose pula yang membantu dan memberikanku rasa aman." ucapnya
"Kau tahu jika suamimu itu cemburunya melebihi apapun? Walaupun ia tidak pernah memiliki hubungan cinta dengan wanita lain, tapi aku tahu ia pencemburu. Ketika dad menikah, ia sulit menerima kehadiran Anastasia. Cukup lama untuk menerimanya sebagai pengganti mama. Untuk itulah Kau harus berhati-hati. Jangan terlalu dekat dengan pria itu."
"Aku mengerti." jawab Jessy sambil tersenyum.
Joan begitu antusias ketika berada di sebuah perpustakaan kota. Ketika berada di London maupun Milan, ia sering berkunjung ke perpustakaan kota satu minggu dua kali. Ia senang membaca. Ketika ayahnya memintanya untuk mengajarkan kepribadian pada Jessy, tentu saja ia antusias. Ia mulai mengambil beberapa buku. Ia dapat melihat Jessy berada di ujung lorong. Karena penasaran, iapun menghampirinya.
Ia melihat buku-buku tentang kehamilan. Ia melirik pada Jessy. Adiknya itu terlihat sedang melihat sebuah buku. Ia menyempatkan untuk menyimpan buku di atas meja dan menghampiri Jessy. Ia berjalan perlahan. Disaat Jessy lengah, ia mengambil buku yang sedang ia baca. Ia sedikit terkejut ketika melihat sampul depan buku itu.
"Jessy! Apakah kau...?" tanya Joan tidak bisa berbicara banyak.
Jessy menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Joan. Aku hanya membacanya saja." ucapnya gugup.
Jessy menghela nafas. "Baiklah, aku akan bercerita." ucapnya sambil berjalan menuju meja. "Dean mengatakan menyukai anak-anak."
"Aku tahu itu." jawab Joan sambil mengangguk.
"Kami bercerita malam itu tentang banyak hal. Termasuk anak kecil. Kemudian, ia bertanya padaku yang pada intinya apakah aku tertarik pada anak kecil? dan apakah aku siap jika mengandung anaknya? Lalu.. tanpa bertanggungjawab, Dean berkata jika ia tidak memakai pengaman ketika kami..." ucap Jessy ragu.
Joan menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terlalu terdengar. "Hanya karena itu kau melamun?" tanyanya sambil menahan tawa.
Jessy mengangguk. "Aku takut.."
"Kau takut hamil?"
"Aku takut jika aku hamil akan menimbulkan masalah. Aku.. aku belum siap memiliki anak karena usiaku yang masih muda. Aku begitu takut Joan, aku mencintai Dean dari lubuk hatiku. Tapi aku belum siap. Bagaimana jika ia kecewa padaku?"
Joan memegang tangan Jessy. "Kau bisa berkata baik-baik pada Dean. Lalu sekarang apa yang kau rasakan?"
"Aku tidak merasakan apa-apa."
__ADS_1
Joan tersenyum. "Aku yakin Dean mau menunggu. Jangan cemas. Lagipula, tanpa pengaman belum tentu bisa langsung hamil. Kau bisa memeriksanya ke dokter."
"Betulkah?" tanya Jessy terkejut.
Joan mengangguk. Ia menatap Jessy yang terlihat lebih tenang. Sayang sekali jika Jessy belum siap. Padahal dengan memiliki anak, kehidupan pernikahan mereka tidak akan terganggu oleh siapapun. Termasuk pria tadi.
"Lalu, kapan kita akan mulai belajar?" tanya Joan mengalihkan pembicaraan.
...***...
"Kamera empat standby! Ayo, tinggal beberapa scene lagi! Kita bisa!" seru Dean pada para tim produksi.
"Bisakah kita beristirahat sebentar?" tanya Rossy yang cemas melihat semangat kerja Dean.
"Aku ingin menyelesaikannya cepat. Jika kau ingin beristirahat, pergilah. Aku tidak memerlukan bantuan mu!"
Rossy membalikkan badannya dan berjalan pergi. Sejak wanita itu tidak ada, Dean seperti dikejar sesuatu. Ia bekerja lebih lama sehingga proses produksi bisa lebih cepat selesai. Jika pekerjaan ini cepat selesai, ia akan dengan cepat bertemu istrinya. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Dean melihat naskah halaman demi halaman. Ia menghitung beberapa scene yang tersisa. Sepertinya semuanya akan sesuai rencana. Syuting di Yunani sesuai target yaitu dua bulan. Masih ada waktu satu bulan setengah hingga ia menyelesaikan semuanya. Ia yakin film ini akan booming melebihi blood yang digadang-gadang menjadi pemenang penghargaan bergensi tahun depan. Namun tidak akan selama ia membuat film ini bagus. Ia akan membayar janjinya pada Jessy untuk membawa piala kemenangan untuk filmnya.
"Kau terlalu bersemangat. Aku yakin semuanya akan sesuai rencana." ucap seseorang yang berada dibelakangnya.
Dean menoleh. Ia melihat Louis, sang aktor utama mengalami beberapa memar di lengannya.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Lebam dan memar ini tidak seberapa. Ketika syuting blood bahkan lebih parah." jelas Louis.
"Kau bisa meminta asuransi perusahaan untuk mengganti semuanya."
"Itu mudah."
"Masuklah ke set. Kita harus mulai."
Louis terdiam. "Bisakah kita mengulangi adegan yang tadi. Sepertinya ada sesuatu yang kurang. Ledakan di ujung lorong itu tidak terlalu buas. Aku pikir masih terlihat seperti kebohongan sebuah film."
Dean membuka video mengenai adegan demi adegan yang Louis bicarakan.
"Api ini tidak meledak tepat saat aku lari. Itu membutuhkan waktu selama beberapa menit. Aku ingin kau menggantinya."
Dean mengangguk. "Aku mengakui kehebatan mu dalam melihat sebuah produksi."
Louis tersenyum. "Untuk itulah aku ingin bergabung denganmu. Bekerja sama denganmu menjadi sebuah tantangan."
__ADS_1
Dean menepuk lengan Louis dan berjalan ke set untuk mengecek secara langsung apa yang Louis ucapkan.
"Kamera empat tahan!" teriak Dean.