Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Enchantmen


__ADS_3

Dean tengah berjalan menuju sebuah restoran yang terletak di tengah kota New York. Panggilan kedua mengenai proyek barunya yang akan ia garap di sebuah televisi sudah siap didepan mata. Ia antusias karena project barunya sesuai dengan ucapan Jessy, ia bisa menunjukkan pada orang-orang jika keahliannya bukan hanya sebagai sutradara film. Tapi ia bisa membuat beberapa acara yang bisa dinikmati oleh banyak pasang mata.


Seorang pelayan menghampirinya ketika ia memasuki restoran itu. Tidak perlu dibantu karena ia bertemu dengan kru nya di sana.


"Aku sengaja menunggumu disini. Kenapa lama sekali? " tanya pria berkaca mata itu. Jefri, ia adalah seorang penulis naskah film untuknya. Sudah berulang kali ia bekerja sama dengan pria itu. Dan acara kali ini, ia ingin Jefri terlibat langsung dalam pembuatan skenarionya.


"Aku makan siang di rumah. Aku tidak mau kebiasaan ku hilang sejak menikah. Tapi, mereka belum tahu bukan aku sudah menikah? " tanya Dean tenang.


"Sebaiknya kau jangan memberitahu mereka."


"Mengapa? " tanya Dean bingung.


"Kau akan mengetahuinya nanti. " jawab Jefri.


Cukup menggantung jawaban dari Jefri. Tapi ia bisa mengetahuinya didalam.


Sebuah pintu dari kaca terlihat olehnya. Sedikit berbeda dibandingkan dengan interior restoran ini. Sebuah tulisan VIP terlihat jelas olehnya. Ia melirik pada Jefri. "Seperti apa sponsor kita kali ini?"


Pintu kaca terbuka. Ia dan Jefri masuk kedalam. Seorang wanita muda dan dua pria paruh baya tersenyum padanya. Ada sedikit yang mengganggunya. Wanita muda itu. Dandanannya terlihat mencolok. Dan pakaiannya, sepertinya tidak pantas ia kenakan untuk acara seperti ini. Ia mencoba mengabaikannya. Ia tersenyum pada dua pria itu.


"Aku terkejut melihat pria-pria hebat di depanku. Aku dengar ini pertama kalinya kalian melakukan sponsor pada sebuah perusahaan entertainment?" tanya Dean sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Kami tidak ada apa-apanya dibanding nona muda ini." ucap pria berkepala botak itu. Sedangkan salah satunya terlihat tengah membetulkan kacamatanya.


Dean melihat wanita muda itu. "Jika boleh tahu, siapa nona ini? "


"Ia CEO perusahaan kami. Jessica O'Clain."


Dean mengerutkan keningnya. "Jessica? mirip sekali namanya. " ucapnya sambil tersenyum. "Menjadi CEO diusia muda membuatku takjub. Apa alasanmu untuk bergabung dengan perusahaan ku?"


"Karena kau pemiliknya. " ucap wanita itu tenang


Dean menoleh pada Jefri yang menatapnya sambil mengangkat kedua bahunya. Tetap saja ada sesuatu yang janggal. Namun ia tidak mau mencari tahu lebih dalam apa kejanggalan itu. Ia tersenyum dan melanjutkan ucapannya.


"Sesuai dengan target pasar perusahaan kalian, produk ini akan tayang pada jam-jam strategis. Kalian tidak perlu khawatir dengan itu. Ini adalah dokumen yang bisa kalian pelajari." ucap Dean sambil menyerahkan dokumen yang ia pegang pada ketiga orang tersebut.


"Kami bisa menjadi sponsor utama jika kau mau. Kami bisa mengeluarkan uang lebih dan hanya menjadi sponsor satu-satunya." ungkap Jessica.


Dean mengerutkan keningnya. "Kau begitu antusias sekali, nona.. "


"Sudah aku katakan karena kau pemiliknya, maka aku antusias. Aku penggemarmu sejak pertama kali menonton film Blood. Tapi apa yang aku keluarkan untuk project baru mu harus ada timbal


balik."


Dean melihat kedua pria itu yang tiba-tiba menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? "


"Aku ingin kau kencan denganku. Berdua. Di yatch pribadiku. Bagaimana? " tanya wanita itu. Ia tidak terlihat malu sedikitpun.


"Aku tidak pernah mencampur urusan pribadiku dengan pekerjaan. " jawab Dean tegas.


"Kali ini kau harus jika tidak ingin kehilangan sponsor. "


Dean mulai menyadari sesuatu. Ia menoleh pada Jefri sebentar kemudian kembali menatap wanita itu. "Bagaimana jika aku katakan aku telah menikah? "


"Bohong. Kau jelas-jelas belum menikah. Kau pernah menikahi wanita biasa dan wanita itu meninggalkanmu."


"Untuk apa aku berbohong. Hanya media yang tidak tahu tentang pernikahan ini. Orang-orang terdekat ku sudah mengetahuinya. Lagipula aku sudah bukan lagi seorang sutradara dengan segala macam skandalnya. Tidak ada media yang tertarik pada privasi ku saat ini. "


Siapa yang menjadi istrimu? Kau tidak pandai berbohong.” Seringai Jessica. Ia tidak akan tinggal diam melihat kebohongan didepan matanya. Perusahaannya menolak berbagai kerjasama hanya karena ia ingin bekerja sama dengan perusahaan entertainment milik Dean Justin Lee. Bertahun-tahun ia menunggu saat yang tepat untuk muncul didepan Dean setelah ia kehilangan istrinya.


Dean mengeluarkan ponselnya. “Jika aku memperlihatkan wajah istri baruku, apakah kau akan terkejut?”


Jessica menumpangkan kakinya. “Tergantung. Apakah dia lebih cantik dariku?” ucapnya bangga.


Dean melihat kedua pria disamping wanita itu. “Jika kalian tidak keberatan, aku minta kalian keluar sebentar. Karena ini masalah privasi yang tidak bisa aku umbar pada siapapun.” Ucapnya. Kemudian ia melihat Jefri. “Kau juga keluar, aku akan membereskan semuanya.”


Jefri dan kedua pria itu pergi keluar. Kini hanya tinggal Dean dan Jessica.


“Katakan apa mau mu? Apakah kau memang sengaja menawarkan diri menjadi sponsor perusahaanku dengan embel-embel untuk dekat denganku?” tanya Dean tajam.


“Aku sudah menikah. Aku ulangi lagi. Aku seorang pria yang telah menikah. Kau perlu bukti? Aku akan memperlihatkan sesuatu padamu.” Ucap Dean sambil membuka ponselnya. Beberapa foto pernikahan yang ia simpan di ponselnya diberikan pada wanita itu.


Jessica melihatnya dan terkejut. “Ini.. Bukankah ini Brittany Jonas?”


“Ya, aku dengar perusahaan kalian hampir saja merekrut Brittany untuk menjadi model kalian?”


Jessica menggigit bibir bawahnya. Ia marah karena tidak tahu tentang ini. Ia kemudian menyerahkan kembali ponsel itu. “Aku bisa menjadi yang kedua. Aku tidak peduli kau sudah menikah. Asalkan kau bersama denganku, yang lainnya aku tidak peduli. Jika kau menolak, aku berhak membatalkan diri menjadi sponsor utama perusahaan mu.”


Dean tertawa hambar. “Aku pikir setelah menikah pesonaku akan pudar. Ternyata aku masih memiliki pesona. Seharusnya istriku waspada melihat wanita sepertimu. Sayangnya, setelah kejadian ini aku tidak peduli dengan sponsor. Aku tidak peduli dengan perusahaan mu. Seberapa besar perusahaan mu, kau tidak bisa membeliku. Aku membuat acara ini karena istriku yang memintanya. Apakah kau pikir aku mau berselingkuh denganmu sedangkan project yang akan kau berikan sponsor adalah ide dari istriku? Konyol sekali.”


Wajah Jessica merah padam. Ia berdiri dengan angkuh. “Kau akan menyesal karena tidak mendapatkan sponsor dariku.”


“Tentu saja tidak. Aku bisa berdiri sendiri walaupun tanpa sponsor. Acaraku akan dinikmati tanpa iklan. Perusahaan-perusahaan akan mendekatiku ketika acaraku dirasakan berarti untuk penonton. Kau yang akan menggigit jari karena menyesal.” Jawab Dean mulai kesal.


Jessica berjalan menuju pintu dan pergi meninggalkan dirinya sendiri di ruangan.


“Apa yang kau katakan?” tanya Jefri


“Kejadian sebenarnya. Acara kita tidak memerlukan sponsor. Kita akan mendapatkannya ketika acara kita mulai berjalan.”

__ADS_1


“Kau yakin?”


“Aku yakin sekali. Ayo kita kembali ke kantor.” Ucap Dean sambil berjalan keluar.


“Sudah  pukul 3 sore. Aku akan pulang karena kekasihku sudah menunggu.” Ucap Jefri.


“Sepertinya kau lebih mementingkan kekasihmu daripada pekerjaan?”


“Hanya untuk saat ini. Ia adalah seorang kekasih tanpa banyak menuntut.” Jawab Jefri


“Pergilah..”


Dean keluar dari restoran itu dan berjalan menuju parkiran. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat dua  orang yang ia kenal. Mereka baru saja keluar dari mobil. Dean tersenyum jahil. Sepertinya mereka berdua hendak melakukan sesuatu.


“Aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian disini.” Ucap Dean.


Joan terkejut sehingga dengan cepat ia langsung menyembunyikan bunga yang sedang ia pegang. “Dean.. sedang apa kau disini?”


“Aku baru saja bertemu dengan klien. Kalian sedang apa? Makan malam?” goda Dean. Ia menatap jam tangannya. “Masih pukul 3 sore. Apakah tidak terlalu pagi untuk melakukan hal romantis?”


“Tidak. Joan hanya menemaniku untuk makan siang.” Jawab Alv tenang.


Joan langsung mengangguk cepat.


Dean mengerutkan keningnya. “Kalau begitu, ayo kedalam. Kebetulan aku belum makan siang.”ucapnya.


Joan melirik pada Alv. Ia kesal karena tiba-tiba Dean ada didepannya dan mengganggu acaranya. Ia tahu Dean sedang menggodanya.


“Dean, ini tidak benar. Kau bisa mengganggu acara kami. Kau bisa pergi sekarang?” tanya Joan kesal.


Dean membalikkan tubuhnya. “Suamimu saja tidak menolak. Kenapa kau menolak?”


“Aku menolak karena ini acaraku. Pergilah dan jangan ganggu kami!” seru Joan kesal.


Dean tertawa ringan. Ia menatap Alv. “Kau harus sabar menghadapi kakakku. Percayalah, ia wanita paling setia dan paling baik di muka bumi.” Ucapnya sambil melirik pada Joan.


“Aku tahu itu. Terima kasih karena sudah memberitahuku.” Jawab Alv.


Dean memutuskan untuk kembali ke mobil. “Baiklah, karena Joan marah jika aku ikut makan dengan kalian, lebih baik aku kembali ke pelukan Jessy.” Ucapnya tenang sambil berjalan menjauhi mereka berdua.


“Ya, kembalilah ke pasanganmu. Jangan ganggu pasangan yang sedang menikmati kencan berdua.” Seru Joan.


“Jangan berlebihan, sayang.” Seru Alv.


“Aku tidak berlebihan Alv. Beginilah cara komunikasi yang baik antara aku dengan Dean. Dean sering menggodaku. Sejak dulu.”

__ADS_1


Alv hanya tersenyum. Ia mengapit lengan Joan dan masuk kedalam restaurant.


__ADS_2