
CUT!
Dean menatap layar didepannya dengan serius. Ketika semua aktor dan aktris menyelesaikan pekerjaannya, Dean masih saja menatap layar dan memutar kembali screen yang sudah ia ambil beberapa kali. Pilihannya menggandeng Louis sebagai pemeran utama tidak salah. Jiwanya telah dilahirkan untuk menjadi seorang aktor. Ia bahkan bisa berakting laga tanpa bantuan profesional. Semua ini membuatnya sangat puas.
Ia menutup layar dan menyandarkan tubuhnya. Sinar matahari mulai meredup. Hari sudah menjelang siang. Take hari ini memang hanya sampai sore. Tapi besok pukul satu pagi ia harus mengambil scene. Ia mengangkat kedua tangannya keatas untuk merenggangkan sendi-sendinya.
Ia teringat belum menghubungi Jessy hari ini. Sangat disayangkan ia mengundurkan kedatangannya ke Yunani. Padahal ia bisa membuat Rossy menjauhinya jika Jessy ada disini bersamanya. Ia menghela nafas sambil menatap matahari yang mulai menghilang berganti malam. Ia menatap kru yang tengah bersiap-siap membereskan peralatan. Syuting hari ini telah selesai. Namun ia membutuhkan waktu beberapa jam kedepan untuk memulai syuting kembali.
Dean berdiri dari duduknya dan mencari Rossy. Ia ingin menghubungi Jessy saat ini. Langkah Dean dipercepat. Ia tidak melihat Rossy ketika syuting tadi. Ia melihat Rossy sedang berbicara dengan Harris serius. Ia berjalan mengendap-endap. Iapun penasaran karena sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
“Aku sudah menyiapkan tempatnya.” ucap Rossy.
“Bagus. Aku tidak mau Dean tahu tentang gosip itu. Beruntung kau datang dan gosip itu menyebar dengan cepat. Sejak menikah , popularitas Dean tidak terlalu baik dan itu mempengaruhi perusahaan kita.” jawab Harris.
Rossy tertawa. “Kau tidak mempedulikan bagaimana paniknya wanita itu. Aku melihatnya. Jika Dean melihatnya, aku tidak yakin kita sudah memulai syuting.”
Dean berjalan cepat dan merebut ponsel Rossy.
“Apa yang sedang kalian sembunyikan?” tanya Dean sambil melihat ponsel milik Rossy. Ia mulai melihat beberapa gambar. Seakan tidak puas, ia mulai mencari berita-berita yang masih saja muncul mengenai dirinya dan Jessy. Berita penuh kebohongan itu membuatnya sangat marah. Pantas saja Jessy menangis ketika ia menghubunginya saat itu. Ia menatap Harris dan Rossy secara bersamaan. Ia tidak menyangka mereka berdua telah melakukan hal seperti ini padanya. "Kalian berdua!" pekik Dean marah.
Harris menghampirinya. "Tenang Dean, ini semua demi film yang sedang kita buat.." ucap Harris menenangkan. Sedangkan Rossy tertunduk sambil berpangku tangan.
"Kalian menyakiti Jessy. Tanpa sadar kalian juga menyakitiku. Kenapa kalian tidak mengatakan semua ini padaku? Kenapa kalian diam?" teriak Dean marah.
Rossy menghampirinya dan berteriak. "Karena kami peduli padamu! Kami ingin agar kau fokus pada pekerjaanmu. Kita harus mencapai sebuah penghargaan dengan judul film terbaik, screen terbaik dan sutradara terbaik. Jika bisa kita menginginkan aktor dan aktris terbaik. Ini semua kami lakukan untukmu juga!"
__ADS_1
"Apalah artinya penghargaan jika kalian menyakiti Jessy!" ucap Dean marah. Ia berlari menuju tenda untuk bersiap pulang. Ia dapat merasakan betapa sakitnya Jessy mendapatkan perlakuan seperti itu. Ia pasti shock. Ia pasti sedih. Bagaimana ia bisa menghiburnya jika ia berada jauh darinya.
...***...
"Jessy! aku senang kau datang. Silahkan masuk!" seru Isabela ketika melihat Jessy datang seorang diri.
Jessy masuk didampingi kedua bodyguardnya. Ia memeluk Isabela dengan erat. Walaupun baru pertama kali bertemu ketika mereka datang ke pesta ulangtahunnya, tapi ia merasa dekat dengannya.
"Aku sedih karena pesta ini adalah pesta perpisahan untuk kepindahanmu." ucap Jessy dengan nada sedih.
"Jangan katakan itu. Kita masih bisa bertemu." ucap Isabela sambil merangkul lengan Jessy.
Jessy menoleh pada kedua bodyguardnya untuk berhenti mengikutinya. Iapun berjalan masuk kedalam rumah Isabela yang benar-benar indah.
"Ketika bekerja dulu, aku dan suamiku tidak pernah berada dirumah. Rumah ini bukan rumah utama kami. Rumah ini kami sewa selama beberapa minggu. Karena kami harus pindah, kami terpaksa melakukan pesta disini karena teman-tema kami ada disini. Kami tidak bisa tinggal disini lebih lama." ungkap Isabela.
"Kami pindah ke desa di Eropa sayang. Jika semuanya sudah siap, nanti kami akan mengundang kalian untuk datang kesan. Kenapa kami terburu-buru melakukannya? Karena kami berdua sudah lelah. Kami ingin secepatnya beristirahat."
"Kau tidak memiliki anak?" tanya Jessy hati-hati.
Isabela menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kalau begitu biarkan aku menjadi anak angkat kalian.." ucap Jessy sambil memeluk Isabela.
"Dengan senang hati, Jessy. Suamiku begitu menyukaimu ketika ia melihatmu pertama kali.
__ADS_1
Ketika mereka berjalan, ponsel Jessy bergetar. Ia melihat Dean menghubunginya. Ia menjawabnya dan munculah wajah Dean dengan raut khawatir.
Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Hai, Dean."
"Kau baik-baik saja? Dimana kau sekarang?" tanya Dean cemas.
"Aku sudah memberitahumu jika hari ini ada pesta dirumah Isabela." jawab Jessy. Saat itulah Dean melihat wajah Isabela muncul di balik tubuh istrinya.
"Isabela!"panggil Dean. Melihat Jessy dan Isabela tersenyum bahagia seperti itu membuatnya tenang. Ia hanya bisa berkata. "Isabela, jaga istriku hari ini. Nanti aku akan menghubungimu lagi. Bersenang-senanglah dengan pesta kalian." ucap Dean.
Jessy tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Nanti aku hubungi kau kembali. Aku mencintaimu.." ucap Dean.
Ketika telepon ditutup, Isabela melihat wajah bahagia Jessy. "Kau mencintainya? Tadi aku dengar ia mengatakan mencintaimu."
"Ya. Dean adalah cinta pertamaku, mom.." jawab Jessy.
"Mom?" tanya Isabela terkejut.
Jessy tersenyum. "Bukankah kau ibu angkatku?" tanya Jessy.
Isabela mengangguk senang. "Tentu saja. Ayo kita masuk kedalam."
__ADS_1
Dean merasa tenang melihat Jessy tersenyum seperti itu. Setidaknya berita itu tidak terlalu mempengaruhinya. Ia bersyukur wanita yang menjadi istrinya adalah wanita kuat. Jika wanita lain, belum tentu bisa menahan semua berita yang terus tersebar. Kini ia hanya bisa marah dan kesal pada kedua orang itu. Ia keluar dari tenda dan menaiki taxi untuk sampai ke hotel tempatnya menginap. Ia tidak mau bertemu bahkan satu mobil dengan Harris maupun Rossy.