Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Key?


__ADS_3

Lana berjalan seorang diri menembus pekatnya malam. Ia memutuskan untuk berjalan kaki dari tempatnya turun taxi tadi. Semua kebetulan ini apakah benar adanya? Bagaimana bisa Brittany tahu jika ia bukan wanita seutuhnya? Apakah teka teki ini akan terjawab? Sebuah kartu nama ia dapatkan dari lemari kaca yang berada di apartemen Brittany. Albertico Alv, seorang dokter bedah profesional. Apakah ia yang mengunjungi Brittany tadi? Ia masih penasaran. Ia harus terus menyelidikinya.


Lana membuka pintu apartemennya. Namun baru saja melangkah kedalam, ia mendapati bau rokok yang sangat menyengat. Kepulan asap rokok memenuhi ruang tamu mini miliknya. Sebagai seseorang yang membenci rokok, ia harus melakukan sesuatu.


"Dean!" teriak Lana kesal


Ia melihat salah satu pintu terbuka. Dean keluar dengan cepat. Ada satu yang membuatnya kebingungan. Dean telah memakai pakaian rapi seperti hendak pergi.


"Kemana? Kau akan pergi kemana malam-malam seperti ini?" tanya Lana bingung. Kemarahannya tiba-tiba hilang.


"Aku harus kembali malam ini ke NY." ucap Dean cepat. Ia kemudian duduk di sofa miliknya.


"Kenapa begitu mendadak sekali? Lalu bagaimana Brittany?"


"Aku harus bertemu orang penting disana. Masalah Brittany, selama kau ada disampingnya aku tenang. Lagipula aku tahu jika ia akan pindah ke LA akhir pekan ini. Atau minggu depan."


"Bagaimana kau tahu?"


Dean tersenyum samar. "Jangan pernah menyebut Dean Justin Lee jika aku tidak tahu tentang berita para artis baru. Lalu, apa yang kau dapatkan dari sana?"


"Aku melihat pria itu di apartemennya ketika aku datang."


"Apa?" tanya Dean terkejut. Ia berdiri dan menatapnya tak percaya. "Apa yang ia lakukan?"


Lana menoleh ke samping. "Ia bahkan keluar dari kamar Brittany ketika wanita itu masih memakai pakaian tidurnya."


"Aku harus melakukan sesuatu pada pria itu!" geram Dean.


"Tunggu Dean, aku memiliki sebuah bukti. Pria itu seorang dokter bedah profesional. Apakah ia yang merubah wajah Brittany?"


Dean menatap Lana. "Kau yang harus menyelidikinya. Lalu ketika kau berada di apartemennya, apakah kau melihat seorang bayi atau balita?"

__ADS_1


Lana menggelengkan kepalanya. "Tidak ada hal seperti itu. Apartemen Brittany tidak sebesar apartemen seorang artis. Aku pikir ia melakukannya karena ia tidak akan lama tinggal di Turki. Aku pikir ia sedang merencanakan sesuatu."


Dean terdiam. Ketika ia mulai merencanakan sesuatu karena menyerah akan keberadaan Jessy, tiba-tiba seorang Brittany muncul. Brittany yang ia yakini adalah Jessy, keluar dengan seorang pria misterius dibelakangnya. Ia mengangkat tangannya dan menyimpannya di kepala. Jika ia memiliki banyak waktu luang, ia akan dengan cepat menyelidikinya. Sayangnya keputusan kini ada ditangannya. Ia harus membuat Lana untuk melakukannya. Hanya Lana yang mengerti seorang Jessy.


"Dean.." panggil Lana.


Dean melirik tanpa melepaskan tangannya di kepala. "Ada apa?"


"Aku menemukan berita tentang dokter itu." seru Lana.


Dean melepaskan tangannya. "Apa yang kau temukan?"


"Albertico Alv merupakan seorang pria berkewarganegaraan Turki. Darahnya merupakan campuran Yunani dan Turki. Ia telah beberapa kali mendapatkan penghargaan internasional karena keterlibatannya pada dunia kesehatan Asia." jawab Lana sambil melirik Dean. Ia tahu Dean mulai menatapnya tajam. Ia mulai cemburu. Iapun melanjutkan. "Alv pernah memiliki beberapa kekasih namun tidak pernah serius. Ia memiliki seorang adik perempuan yang bekerja di sebuah dinas pariwisata Turki. Keluarganya cukup baik. Namun kedua orangtuanya telah meninggal karena sebuah kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Dan kabar terbaru, ia saat ini diberitakan tengah memiliki pasangan dengan seorang artis yang sedang naik daun. Brittany Jonas."


Dean berdiri dengan kasar. Ia berjalan ke kamar dan membawa tasnya. "Cukup! Aku lebih baik pergi sekarang! Jangan sekalipun kau ucapkan nama itu!" teriak Dean dari dalam kamar. "Brittany atau Jessy akan menjadi milikku!"


Lana menahan tawanya. Ia tahu Dean cemburu. Tidak ada kata-kata seperti itu dalam ponselnya. Ia hanya menambahkan. Dan ketika Dean keluar dengan marah, Lana masih bisa tersenyum. Lalu ia kembali terdiam. Ia kembali berfikir. Apa yang terjadi dengan Brittany?


...***...


Udara pedesaan yang masuk kedalam kamarnya terasa sangat segar. Ia membuka matanya. Terdengar suara kegaduhan dari arah bawah. Tepatnya di dapur. Terdengar pula suara ibunya berteriak pada ayahnya. Joey tengah tertawa mendengar pertengkaran kedua orangtuanya. Iapun bangun dan mengambil ponselnya. Ada panggilan.


"Halo.."


"Bije, ada seorang produser ingin bertemu denganmu. Perusahaannya telah mengeluarkan beberapa film box office beberapa tahun yang lalu. Ia ingin menawarkan kontrak sebuah film padamu dengan nilai fantastis. Kapan kau akan pindah ke LA?" tanya Deniz.


"Lusa. Siapa nama produser itu?"


"Harris. Kau ingat sutradara yang kau temui di pesta perusahaan? Dean Justin Lee? Awalnya ia berada di perusahaannya." jelas Deniz.


"Awalnya?"

__ADS_1


"Kau tidak ingat pembicaraan kami waktu itu? Dean telah memiliki perusahaan sendiri. Ia telah berpisah dengan Harris. Keputusan ada ditangan mu, apakah kau akan menerima tawaran Harris atau tawaran Dean? Aku ingat sutradara itu pernah menawarkan project padamu."


Brittany tentu saja tidak akan melewatkannya. Iapun ingin bertemu dengan Harris. Ia datang untuk memberikan pembalasan. Ada sesuatu yang menarik. Dean tidak bergabung dengan Harris? Kenapa ia tidak tahu? Berulang kali ia membaca berita mengenai Dean, ia tidak pernah membaca berita mengenai Harris.


Iapun bangun dan berjalan ke sebuah kursi. Ia mengambil jubah tidurnya dan memakainya. Ia memutuskan untuk keluar kamar dan menemui kedua orangtuanya. Ketika turun tangga, ia melihat ayahnya tengah membaca koran. Iapun melihat ke dapur untuk mencari ibunya. Namun sayang, ia tidak menemukannya. Ia kembali ke ruang keluarga dimana ayahnya berada.


"Dad.. Dimana mom?"


"Ia sedang mengunjungi bibi Sam sambil memberikan makanan. Kau tahu ibumu sedang bersemangat membuat kue." jawab Jonas.


Brittany duduk diseberang Jonas. "Aku akan kembali besok ke LA. Setelah tiga tahun berlalu, akhirnya aku kembali ke Amerika."


Jonas menyimpan korannya. "Mengapa LA? Mengapa bukan NYC?"


"Karena pekerjaanku disana, dad. Belum saatnya aku kembali ke New York." jawab Brittany.


"Apakah kau memiliki tempat tinggal disana?"


"Aku akan menyewa sebuah kondo mini."


"Ketika kau sampai di NY? Hubungi aku."


Brittany hanya mengangguk. Ia menatap ayahnya. "Dad, apakah yang aku lakukan ini bagus? Terkadang aku berfikir popularitas bukanlah segalanya untukku. Aku hanya ingin bahagia. Salah satu caranya adalah dengan memberikan balasan pada orang-orang yang telah menyakitiku."


"Bagaimanapun kau harus tetap berhati-hati." ucap Jonas. Ia kemudian berdiri. "Tunggu sebentar."


Brittany menunggu ayahnya yang sedang masuk ke kamar. Tidak lama ia kembali. Ia menyerahkan sebuah kunci padanya.


"Ini apa, dad?" tanya Brittany bingung.


"Kau akan membutuhkannya ketika berada di NY." jawab Jonas. "Itu hadiah dari dad karena kesuksesanmu sekarang."

__ADS_1


Brittany melihatnya dan merasa tidak asing dengan kunci itu. "Sepertinya tidak asing. Apakah ini kunci apartemen?"


"Ya, nanti dad akan memberikan alamatnya. Tapi sebaiknya kau tidak memberitahukan tentang ini pada ibumu." jawab Jonas. "Biar dad yang mengurus semuanya."


__ADS_2