Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Move


__ADS_3

Isabel meremas kertas yang baru saja ia kirimkan ke rumah Lee. Ia berjanji dari awal. Ia tidak akan membiarkan Dean mendekati anaknya kembali. Ia tidak peduli dengan status Dean yang merupakan anak dari sahabatnya. Ia sakit hati melihat anaknya disia-siakan. Ia melanjutkan langkahnya ke kamar Brittany. Ya, tidak ada seseorang bernama Jessy Julian saat ini. Hanya ada Brittany Jonas. Ia berjalan menuju ruangan. Ketika ia sampai didepan kamar Brittany, seorang perempuan muda tengah berdiri didepan kamar sambil membawa bunga mawar ditangannya. Sepertinya ia mengenal wanita itu. Iapun mendekat.


"Halo.." ucap Isabel ramah. Namun tetap saja ia patut waspada.


Wanita itu menoleh padanya. Ia terkejut namun berusaha menutupinya. Ia tersenyum padanya. Ia mengingat siapa wanita ini.


"Bagaimana keadaan Brittany sekarang?" tanya wanita itu cemas. Ia terlihat meenggenggam erat bunga yang sedang dibawanya. "Aku menyesal karena Brittany harus kehilangan bayinya. Aku benar-benar menyesal."


"Itu semua bukan kesalahanmu sepenuhnya. Ayo masuklah.." ucap Isabel ramah. "Oh ya, siapa namamu?"


"Lily Aysun" ucapnya cepat.


Isabel membuka pintu kamar dan menemukan suaminya tengah sibuk melipat selimut. Jonas melihat mereka berdua. Ia tersenyum.


"Selamat sore.. Aku ingin melihat keadaan Brittany." ucap Lily gugup.


Brittany? Jessy mengerutkan keningnya. Sejak kapan namanya berubah menjadi Brittany? Sejak ia siuman, ia selalu disebut Brittany dan ia diam saja. Ia mulai kebingungan. Siapa yang merubah namanya? Lalu siapa wanita ini?


Jessy tidak mau menatap wanita yang tidak ia kenal itu. Hidup ini baginya hanyalah sebuah adegan drama. Ia tidak mempercayai siapapun. Kehilangan telah membuat matanya terbuka. Setiap orang hanya bersandiwara padanya. Apakah karena ia miskin dan tidak memiliki siapapun didunia ini? Bukan salahnya ia seorang diri. Ketika ia merasa dirinya dibuang oleh orang-orang terdekatnya, iapun telah membuang satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya. Jika malam itu ia tidak diperlakukan seperti itu oleh Dean, ia tidak akan mungkin bisa menembus badai itu seorang diri.


"Sayang, kenalkan ini Lily Aysun.." ucap Isabel


Lily tersenyum pada Jessy. "Bagaimana keadaanmu? Maafkan aku, Britanny.." ucapnya dengan nada bergetar. "Aku yang bersalah sehingga kau kehilangan bayimu. Aku bersedia bertanggungjawab."


Jessy menoleh pada Isabel penuh dengan pertanyaan dikepalanya. Siapa wanita ini? Apakah ia yang menabrak dirinya malam itu?


"Aku yang menabrakmu malam itu. Aku tidak sengaja melakukannya. Aku benar-benar bersalah." ucap Lily dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Ternyata pikirannya benar. Wanita ini yang telah menabraknya. Jessy melihat wajah tulus dari wanita itu. Ia tidak yakin wanita yang usianya tak jauh darinya itu berbohong. "Aku tidak menyalahkanmu atas kecelakaan itu." ucapnya pelan. "Tanggungjawabmu tidak akan membuat anakku kembali." tambahnya. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Aku yang membuat anakku pergi. Bukan kau.."


"Jangan berkata seperti itu..Sejak malam itu aku tidak bisa tidur dengan tenang. Aku merasa bersalah namun aku tidak bisa melakukan apapun. Aku ikut denganmu ketika kau kritis sejak di Santorini. Aku takut kau tidak selamat saat itu. Namun aku salah, kau memiliki tubuh yang kuat" ucap Lily. Ia kemudian menyerahkan bunga yang ia pegang pada Jessy. "Aku membawakan ini untukmu."


Isabel menarik kursi agar Lily bisa duduk.


"Duduklah. Kau terlihat gugup." ucap Isabel.


Lily mengangguk namun ia kembali menatap Jessy. "Aku memiliki seorang kakak laki-laki. Ia seorang dokter terkenal di Turki. Ia bahkan memiliki lisensi internasional. Dan ia tampan. Ia bisa membantu menyembuhkan luka di wajahmu. Aku berjanji." ucap Lily bersemangat.


"Terimakasih Lily." ucap Isabel.


"Aku tidak mau." jawab Jessy.


Lily tampak bersedih. Tapi ia tidak mau menyerah. "Kenapa tidak mau? Apakah suamimu melarangnya? Oh ya, dimana suamimu?" tanyanya.


"Brittany tidak memiliki suami. Ia meninggalkan Brittany dan bayinya." jawab Jonas cepat. Ia berdiri dari duduknya duduknya dan menghampiri ketiganya.


"Kami pulang beberapa hari lagi " ucap Jonas.


Isabel menoleh pada suaminya. "Legalitas Brittany?"


"Sudah aku atur. Semuanya sudah selesai." Jawab Jonas. Iapun menatap anaknya. "Tidak ada Jessy Julian saat ini. Hanya ada Brittany Jonas. Kau harus ingat itu. Dan aku, panggil aku papa. Dan ia, panggilah mama." tunjuknya pada Isabel.


Jessy terdiam. Ia menutup matanya. Inilah saatnya ia memiliki identitas baru. Akan ia hancurkan siapapun yang telah membuatnya kehilangan bayinya. Baiklah, namanya kini Brittany Jonas. Jessy Julian telah mati. Iapun menoleh pada Lily. "Aku ingin berkenalan dengan kakakmu." ucapnya.


Harris berdiri didepan sebuah kamar apartemen sambil berpangku tangan. Ia menunggu seseorang membukakan pintu. Dean menghilang entah kemana. Semua pekerjaan terkendala. Editor film menunggu Dean kembali. Orang-orang mulai menunggu. Para investor pun tengah menunggu kabar darinya.

__ADS_1


Ia mengetuk kembali pintu. Ketika pintu terbuka, wanita itu tengah menatapnya dengan keadaan dirinya yang kacau. Ia hanya bisa mengerutkan keningnya. Ia ingat ketika ia meminta wanita ini muncul karena seorang Dean. Pesona Dean adalah asset untuk perusahaannya.


"Ada apa kau mencariku?" tanya Rossy malas. Ia mengikat rambutnya keatas dan berjalan menghampiri sofa.


"Aku merindukanmu." ucap Harris. Ia melihat sekeliling ruangan. Begitu rapi dan bersih. "Aku tidak yakin kau memiliki apartemen sebagus ini. Bayaranmu pasti mahal."


"Pekerjaan diperusahaanmu tidak akan cukup membantu sisi ekonomiku. "


Harris tersenyum. Ia duduk disofa dengan santai. "Aku mengerti. Tunggulah beberapa waktu lagi hingga Dean muncul kembali."


"Dean? Apakah kau tidak memiliki aktris atau aktor lain selain Dean? Kau terlalu ketergantungan hanya dengan satu sutradara."


"Kau membela Dean? Kenapa? Ia sudah menyakitimu."


"Beberapa waktu aku merenung diruangan ini. Aku mengerti satu hal. Cinta tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mau jatuh lebih sakit dan terlibat didalamnya. Aku menerima tawaranmu untuk menjadi manajer Dean karena aku pikir aku memiliki kesempatan dengan dekat dengannya. Namun berulangkali Dean mengatakan tidak. Lalu untuk apa aku bertahan?"


Harris terkejut dengan pengakuan Rossy. "Rossy, ada apa denganmu?"


Rossy mulai menangis. "Aku lelah dengan perasaanku. Ketika gosip mengenai Dean dan aktris itu muncul, aku tidak tahu harus berbuat apa. Dean dengan mudahnya bertemu dengan wanita lain. Sedangkan aku? Ia tidak pernah menganggapku. Aku pikir, dengan munculnya gosip antara Dean denganku akan merubah semuanya. Namun nyatanya tidak. Ia tidak terpengaruh sedikitpun." ucapnya sambil terisak.


Harris marah. Rencananya akan gagal jika seperti ini. Ia berdiri. "Kau tahu bukan resiko dengan meninggalkan perusahaan?"


Rossy mengangkat wajahnya. "Resiko?"


"Ya, kita sudah menekan kontrak. Jika kau mundur menjadi manajer Dean, kau harus membayar ganti rugi."


Rossy menyipitkan matanya. "Ternyata kau sangat licik, Harris. Keluar dari rumahku sekarang!" usirnya.

__ADS_1


"Tentu saja, aku tidak mau rugi. Kau bisa membaca kembali isi kontraknya. Kau terlalu antusias dengan Dean sehingga kau bodoh tidak membaca kontrak itu dengan seksama." ucap Harris sambil melangkah keluar.


Rossy mengepalkan jari-jarinya. Ia marah sekali. "Aku akan membuat Dean pergi dari perusahaanmu juga. Jangan menyesal karena telah bermain-main denganku, Harris." ucapnya.


__ADS_2