Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Not alone


__ADS_3

Joan menatap langit-langit kamarnya. Malam ini ia sendiri dirumahnya. Malam sudah sudah sangat petang tapi ia belum bisa menutup matanya. Tubuhnya berguling-guling ke sisi kiri dan kanan. Ia terdiam ketika memikirkan Lily. Ia menyentuh perutnya. Jika ia hamil, apakah Lily akan menerimanya? pikirnya. Namun untuk saat ini, biar Alv menyelesaikan urusannya terlebih dahulu dengan adiknya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Joan membuka matanya cepat. Apakah Alv datang? Tapi kenapa ia tidak memanggil? Atau pencuri? Ia menutup tubuhnya dengan selimut. Selama ia tinggal disini, belum pernah ada sekalipun pencuri yang mencuri di perumahan sekitar sini.


"Kau belum tidur? "


Joan membuka selimutnya. Ia menoleh. Alv sedang berdiri disana sambil memakai pakaian santai nya. Ia langsung bangun dan menghambur ke pelukan suaminya itu.


"Aku pikir kau tidak pulang, Alv.. "


"Tentu saja aku harus pulang karena aku memiliki istri. " jawab Alv tenang. Ia membalas pelukan Joan sambil tersenyum.


"Sayang, kau mau ikut denganku ke hawai lagi besok siang? Aku memiliki undangan dari forum kesehatan dunia. Jika kau mau ikut, aku akan menyiapkan tiketnya. " ucap Alv.


Joan melepaskan pelukannya. "Kau mau pergi? Ketika adikmu ada disini? " tanya nya terkejut.


"Sebenarnya aku tidak mau pergi, tapi pihak klinik memintaku menjadi perwakilan dari mereka. " jawab Alv.


Joan langsung cemberut. "Sayangnya situasinya tidak tepat. "


"Kenapa? "


"Ya, Dean memintaku untuk menjadi sponsor film televisi miliknya karena sposor utama telah mengundurkan diri. Ia mengatakan bisa memperkenalkan merk dagang ku ke seluruh dunia." jawab Joan sedih.


"Itu bagus sekali. Aku senang kau melakukannya. Kau bisa sibuk selama aku pergi. Aku pergi tidak akan lama. Hanya satu minggu. Aku pastikan ketika aku kembali nanti, aku akan menyelesaikan semuanya dengan Lily. "


"Apakah Lily tahu kau kesini? "


Alv menggelengkan kepalanya. "Aku percaya jika Lily tidak akan menyakitimu secara fisik ketika aku pergi. Aku berharap kau baik-baik saja. Aku ingin kau terus memberikan kabar padaku ketika aku tidak ada disampingmu. Aku merasa kecewa karena kau tidak ikut. Tapi demi masa depanmu, kau harus ikut andil dalam proyek Dean. Aku tidak mau membebanimu dengan menjadi seorang istri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kau harus mengeluarkan keahlian terbaikmu."


Joan merasa tenang. Walaupun satu minggu mereka tidak akan bertemu, tapi ucapan Alv cukup membuat hatinya tenang. Ia menatap Alv lama. "Apa kau sudah makan? Aku sedih karena kau tidak bisa memakan masakanku. " ucapnya sambil menyentuh wajahnya.

__ADS_1


Alv tersenyum. "Aku kenyang hanya dengan melihatmu. " godanya.


Joan tersenyum. Ia memukul lengan Alv. "Jika kau seperti ini, bagaimana bisa aku kehilanganmu? "


Alv tertawa ringan. "Tentu saja aku lapar. Kau mau memasakanku sesuatu? Kau tidak mengantuk? "


Joan menggelengkan kepalanya. "Sudah aku katakan tadi, aku tidak bisa tidur. Mungkin setelah melihatmu makan, aku bisa tidur dengan tenang."


...***...


Pukul 8 pagi, Joan sudah berada dikantor Dean. Walaupun perusahaan ini milik ayahnya, tapi baru kali ini ia menginjakkan kakinya disana. Para pegawai banyak yang menyapanya. Mungkin karena wajahnya mirip dengan Dean sehingga banyak yang langsung mengetahui siapa dirinya.


Langkahnya langsung membawanya menuju kantor Dean. Sesekali ia menatap jam tangannya. Siang ini ia harus mengantar Alv ke bandara. Sepanjang malam ia menyadari jika Alv tidak pernah tidur karena semalam pun ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sesekali ia merasa Alv sedang menghela nafas. Ada yang dipikirkannya. Walaupun sebenarnya Alv tidak mengatakannya tapi ia bisa tahu.


Ia membuka ruangan Dean ketika didepan pintu tertera nama adiknya disana. Seperti biasa, ruangan pria selalu rapi. Jika membandingkan dengan ruangannya, sungguh berbeda terbalik. Berbagai jenis rancangan, kertas, kain potongan bahkan jarum berserakan di meja nya. Ia tertarik ketika melihat foto pernikahan Dean dengan Jessy. Ia menatapnya lama.


"Kau harus membuatnya yang sama.. " ucap Dean.


"Sejak memiliki Jessy, jadwal tidurku, kemudian jadwal pekerjaanku menjadi lebih teratur." Ucap Dean bangga. Iapun duduk di kursi nya.


Joan duduk didepannya. Sejak bersama Jessy, wajah Dean memang tidak lagi sama. Terlebih Jessy kini tengah hamil.


"Dean, apakah kau bahagia? "


Dean menyandarkan punggungnya. "Yah.. setelah apa yang aku lalui, pernikahan aneh, dikejar wartawan karena beberapa skandal, berpisah dengan jessy untuk waktu yang lama, kematian sahabatku, perubahan Jessy, dan beberapa kejadian yang masih kuingat dahulu, rasanya kali ini adalah saat dimana aku sangat bahagia. Bagaimana denganmu? Apakah kau bahagia setelah mendapatkan Alv?"


"Aku tidak mendapatkan Alv, ia sendiri yang mendatangi ku setelah pernikahan itu. " elak Joan.


Dean tertawa ringan. "Kau menyukai Alv sejak pernikahan kalian, kakakku tersayang.. Alv yang terlambat menyadari bahwa kakakku ini yang terbaik. "


Joan menilai ucapan Dean ada benarnya. Tapi bagaimana ia bisa tahu jika ia yang mencintai Alv terlebih dahulu? Tapi, lebih baik pertanyaan itu diabaikan. "Terserah padamu saja. Siang ini aku harus mengantar Alv ke bandara. Jadi proyek apa yang sedang kau kerjakan? Kenapa aku harus menjadi salah satu sponsor mu? Kemana sponsormu yang lain? "

__ADS_1


"Sponsor terbesar proyek ini adalah perusahaan telekomunikasi. Kau tahu kenapa ia membatalkannya? " tanya Dean. Ia sesekali merasa lucu pada kakaknya. Ia tahu Joan malu ketika membicarakan nya.


"Tentu saja aku tidak tahu jika kau tidak mengatakannya. " jawab Joan.


"Karena CEO perusahaan itu adalah seorang wanita. Dan ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa aku penuhi. Kau bisa menggarisbawahi. Tidak aku penuhi. "


"Seharusnya kau mendengarkan apa yang ia minta. Apakah terlalu berat karena permintaan itu tidak bisa kau penuhi?"


Dean tertawa. "Tentu saja aku menolak jika wanita itu menyukaiku. Ia bahkan menawarkannya menjadi wanita kedua diantara pernikahanku dengan Jessy. Apakah kau pikir ia tidak gila? "


"Apa? Karena masalah pribadi? " tanya Joan terkejut


"Siapa nama CEO itu? Apakah aku mengenalnya? "


"Jika aku mengatakannya, berarti aku telah menghianati perusahaan. Maaf, walaupun kau saudaraku tapi aku tidak bisa mengatakannya. "


"Lalu untuk apa kau mengatakannya? Kau menyebalkan... " ucap Joan kesal.


Dean tertawa. Ia bangun dari duduknya dan berjalan menuju sebuah lemari arsip. Ia mengeluarkan salah satunya.


"Sebuah film televisi mengenai thriller. Bukan film horror, tapi lebih ke sebuah kejahatan cyber. Sebenarnya kostum yang dipakai pemain tidak terlalu berat. Hanya saja aku ingin kau membuat mark agar nama brand mu muncul. "


Joan mengambil dokumen itu dari tangan Dean. Ia membacanya sebentar. "Tunggu, ada scene di sebuah rumah sakit. Maksudmu aku harus membuat pakaian suster?Disini dikatakan jika pemeran utamanya bekerja sebagai seorang suster rumah sakit yang memiliki pekerjaan lain sebagai hacker dunia maya. "


"Tidak seperti itu, Joan. Kau lihat di episode 10. Ada scene dimana pemeran utama harus menghadiri sebuah acara makan malam kantor suaminya. Tentu saja ia harus memakai gaun. " jelas Dean.


Joan hanya mengangguk-angguk tanpa melepaskan tatapannya pada dokumen yang dipegangnya. "Kapan aku harus menyiapkan pakaian-pakaian ini? "


"Tiga hari kau harus menyiapkan 10 jenis pakaian kasual. " jawab Dean.


"Apa? " teriak Joan.

__ADS_1


__ADS_2