
"Aku harus pergi ke Yunani besok." ucap Dean sedih.
Jessy tersenyum. Ia memeluk Dean. "Lalu apa yang kau pikirkan?"
"Kau benar-benar tidak mau ikut denganku? Ini terakhir kalinya aku bertanya padamu."
Jessy menggelengkan kepalanya. "Lebih baik aku menunggu disini. Aku menunggu kesuksesanmu. Aku ingin kau bekerja dengan fokus tanpa ada aku. Aku ingin kau membuat film terbaik. Aku ingin kau mengalahkan semua film yang tayang sama dengan filmnu. Kau tahu kenapa aku meminta itu? Aku ingin kau memenangkan penghargaan berharga dengan aku sebagai pasanganmu. Bukan sebagai kekasih palsu. Tapi sebagai istrimu."
Dean melepaskan tangan Jessy yang memeluknya. Ia menatap Jessy lama. "Aku mencintaimu." bisik Dean.
Dean pergi menggunakan penerbangan pagi melalui LAX. Ada beberapa pers yang mengikuti mereka sejak keluar dari rumah orangtuanya. Dean terus menggenggam tangan Jessy dalam diam. Ia bahkan terdiam selama di perjalanan menuju bandara. Jessy menunduk sambil memainkan tangannya yang digenggam oleh Dean. Ada dua bodyguard yang mendampingi mereka. Awalnya ia terkejut ketika melihat keduanya. Tapi setelah dijelaskan oleh Dean, ia mulai mengerti. Ia memiliki rencana setelah pulang mengantar Dean nanti.
"Sudah sampai." ucap Dean pendek.
Jessy mengangkat kepalanya. Walaupun ini kali pertama ia menyentuhkan kakinya di bandara, ia tidak merasa ragu untuk tidak melepaskan genggaman tangan Dean. Banyak yang menatap mereka. Dean sangat terkenal. Wajar saja banyak yang menginginkan Dean.
"Aku mulai malas dengan wartawan yang mengejar kita" bisik Jessy
"Kau tenang saja. Aku tidak akan membiarkan mereka mengganggumu."
Jessy mengangguk. Ia dengan tenang mengangkat wajahnya untuk melihat orang-orang. Ketika mereka sudah sampai diruang tunggu VIP, mereka melihat Harris sudah berada disana."
"Dimana yang lainnya?" tanya Dean
Jessy duduk disamping Dean dan menyimpan tas jinjingnya. Ia tersenyum ketika menatap Harris
"Kru dan aktris menggunakan maskapai berbeda. Mereka sudah pergi satu jam yang lalu." jawab Harris.
__ADS_1
Dean mengangguk mengerti.
Kemudian Harris menatap Jessy. "Kau tenang saja berada di LA. Aku yang akan menjaga suamimu. Aku akan meyakinkanmu jika Dean tidak akan terpesona pada wanita manapun."
Jessy hanya tersenyum.
"Aku memberimu seorang manajer. Ia akan membantu semua schedule yang akan kau lakukan selama di Yunani. Kau sudah mengenal siapa manajer barumu." ucap Harris.
"Aku tidak membutuhkan manajer. Aku bisa mengatur schedule ku sendiri."
Harris menyandarkan tubuhnya. "Oh ya? Aku rasa kau salah." ucapnya. "Yang sedang kita bicarakan akhirnya datang."
Seorang wanita dengan tubuh langsing dan tinggi semampai sedang berjalan menghampiri mereka. Rambutnya hitam panjang terurai. Ia memakai celana jeans ketat dengan keatasan berupa tank top dan blazer berwarna biru muda. Ia menggunakan kacamata hitam. Jalannya sangat anggun. Ia bahkan menjadi sorotan orang-orang.
Jessy tidak bisa menutup mulutnya untuk mengatakan betapa cantiknya wanita itu. Ia merasa berbeda jauh dengannya. Manajer? Wanita itu akan ada disamping suaminya selama di Yunani. Bagaimana jika ia terpesona dengan wanita itu?
"Maafkan aku karena membuat kalian menunggu." ucap wanita itu. Ia kemudian menatap Dean. "Dean, kau lupa padaku?" tanyanya.
"Halo, Rossy. Aku tidak mungkin tidak mengenalmu. Dari cara jalanmu saja aku sudah dapat menebak siapa wanita yang sedang berjalan." ucap Dean sambil berdiri.
Rossy langsung memeluknya. "Aku merindukanmu, Dean. Aku tidak menyangka Harris langsung menghubungiku untuk menjadi manajermu. Sejak kau menikah aku kesulitan menghubungimu."
Dean melepaskan pelukan Rossy. "Istriku bisa cemburu jika kau melakukan ini."
Rossy melepaskan pelukannya. Raut wajahnya berubah. Ia menatap Jessy. "Ia istrimu?" tanyanya.
"Ya, ia istriku. Aku yakin kau sering melihat kabar kami."
__ADS_1
Rossy mengulurkan tangannya. "Aku Rossy. Semua schedule suamimu akan aku atur." ucapnya dingin.
Jessy membalas uluran tangan wanita itu. Ia tidak mengerti apapun masalah pekerjaan Dean.
"Aku Jessy."
Rossy dengan cepat melepaskan tangannya. Ia menatap Dean. "Aku sudah membuat schedule untukmu hari ini. Wanita itu kemudian menatap Jessy. "Bisa kau pindah duduk? Aku harus merundingkan sesuatu."
Jessy berdiri dengan cepat dan pindah tempat duduk. Ia hanya bisa melihat bagaimana wanita itu dengan pintar mengatur jadwal Dean selama di Yunani. Mereka berdua sudah terlihat dekat. Jessy menggeser duduknya. Ia merasa menjadi orang asing ketika ketiga orang itu tengah membahas filmnya.
Untung saja pengeras suara mengatakan jika Dean harus check in. Mereka bertiga berdiri. Harris dan wanita itu berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Dean menghampirinya.
Dean menarik tangannya dan memegangnya dengan erat.
"Aku akan cepat pulang. Jika aku memintamu untuk datang ke Yunani, kau harus datang kesana untuk menjengukku."
Jessy mengangguk sambil tersenyum.
"Aku akan cepat kembali. Jadi bersabarlah dan tunggu aku pulang." ucap Dean.
"Baiklah." jawab Jessy sambil tersenyum.
Dean menatap Jessy lama. Ia menyentuh wajahnya untuk memastikan istrinya baik-baik saja. "Aku akan sangat merindukanmu."
Jessy mendekat dan memeluknya. "Aku juga. Hati-hati di jalan, Dean. Kau harus cepat pulang. Dan hubungi aku jika kau sudah sampai."
"Ya.." jawab Dean pelan. Ia mengangkat wajah Jessy dan menciumnya sebagai tanda perpisahan. "Aku mencintaimu.." ucapnya ketika ia melepaskan diri.
__ADS_1
Jessy hanya mengangguk. Ia melambaikan tangannya ketika Dean mulai masuk ke sebuah ruangan lain. Beberapa orang memeriksa tubuh dan tas yang dibawanya. Ketika Dean berbalik untuk melihatnya, ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Buatlah film yang bagus. Dan cepatlah kembali.." bisik Jessy