Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Take off


__ADS_3

Alv tengah duduk di ruang tunggu bandara ketika pesawat yang akan membawanya ke Hawai akan berangkat satu jam lagi. Suara panggilan manifest dan jadwal penerbangan dari pengeras suara cukup memekakkan telinga Alv mengingat alat itu ada diatas kepalanya. Ia memesan satu cangkir kopi untuk membuatnya tetap segar. Tidak tidur semalaman karena mengkhawatirkan Joan membuat kedua matanya mengantuk. Sesekali ia menguap. Sekelompok orang yang berada pada beberapa meja didepannya membuatnya cukup tertarik. Ia meyakini mereka terdiri dari beberapa generasi. Yang membuatnya takjub adalah mereka sangat kompak. Ia sempat berfikir jika keluarganya bisa seperti itu suatu hari nanti. Ia memang bukan berasal dari keluarga besar. Ibunya yang seorang yatim piatu dan ayahnya hanya memiliki adik perempuan yang tinggal sangat jauh dari Istanbul. Ia sendiri jarang bertemu dengannya.


Seorang anak menghampirinya. Usianya tidak lebih dari 10 tahun. Wajah cantik gadis kecil itu menatapnya seraya menyelidiki sesuatu. Alv menunduk dan tersenyum pada gadis itu. "Kenapa kau melihatku seperti itu, cantik?"


Gadis kecil itu berlari mendekati orangtuanya. Apakah ia begitu menakutkan bagi anak kecil? Alv merasa lucu sekali. Terdengar suara panggilan untuk penerbangannya. Iapun berdiri. Ia melihat sekeliling. Joan belum terlihat. Ia akan menunggu didepan pintu masuk check in bandara.


Alv mendorong koper dan mengambil tas tangannya. Benar saja, Joan sudah berada didepan tempat check in dengan wajah serius. Ia menggenggam ponsel ditangannya. Kedua matanya melihat ke sekeliling. Alv menatapnya sedih. Seminggu bukan waktu yang lama, tapi mengapa ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi seminggu ke depan. Ia menghentikan langkahnya ketika jarak mereka hanya berjarak 50 meter.


"Joan!" panggil Alv.


Joan melihat ke asal suara. Ia berlari menghampirinya.


"Alv..." ucapnya sambil memeluk tubuh Alv dengan erat.


"Jaga diri baik-baik dan tunggu aku pulang. Aku akan menyelesaikan semuanya." bisik Alv


"Aku pikir terlambat. Aku pikir tidak dapat bertemu denganmu."


"Aku memesan kopi di ruang tunggu. Maafkan aku, kau cemas tidak bisa bertemu denganku?" tanya Alv sambil melepaskan pelukannya.


Joan mengangguk. Ia tidak mau menatapnya.

__ADS_1


"Tatap aku.." jawab Alv.


Joan menggelengkan kepalanya.


Alv mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kau tidak mau melihatku?"


"Aku takut tidak bisa membiarkanmu pergi. Aku takut tidak rela."


Alv mengangkat wajah Joan. "Aku akan pulang sayang.. Aku percaya kau bisa melalui satu minggu ini tanpa ada aku."


Kedua mata Joan berkaca-kaca. "Rasanya aku ingin memukul orang yang telah membuat kau pergi ke Hawai. Mendengar Hawai saja, aku pikir kau bukan bekerja di sana tapi liburan." sewot Joan.


Joan hanya mengangguk pelan.


Alv memeluk Joan kembali sambil tersenyum. "Oh, cintaku. Aku tidak tega meninggalkanmu sendiri."


"Pergilah.." jawab Joan.


Alv melepaskan pelukannya dan menundukkan wajahnya. Ia memberikan sedikit kecupan perpisahan di kening Joan. "Aku mencintaimu.." ucapnya. Ia pun berjalan memasuki ruang check in sambil melambaikan tangannya.


...***...

__ADS_1


"Aku akan memisahkan kalian!" pekik Lily ketika melihat kemesraan kakaknya. Pagi ini ia melihat jadwal yang masuk ke laptop kakaknya dan tahu jika Alv harus pergi ke Hawai selama seminggu. Iapun tahu semua jadwal kakaknya.


Awalnya ia tidak ingin pergi ke bandara, tapi ternyata ia menemukan fakta jika keinginannya untuk memisahkan kakaknya dari wanita itu harus terjadi. Jika mereka tidak bisa dipisahkan, maka ia berjanji akan menghancurkan wanita itu beserta keluarganya.


Lily ingin cepat sampai ke apartemen. Pantas semalam kakaknya tidak pulang. Mereka pasti bermalam bersama, pikirnya. Taxi yang membawanya ke apartemen mendapat keluhan pertama darinya. Supir taxi membawa kendaraan dengan sangat lambat, tulisnya disalah satu aplikasi sistem taxi.


Sesampainya di apartemen, Lily langsung mengacak-acak dokumen milik Alv yang berada didalam lemari. Ia tersenyum ketika melihat sebuah dokumen. Ia membawanya keluar kamar dan mulai membacanya. Lily tertawa ketika membaca salah satu dokumen.


Perjanjian Pernikahan


- Bertemu ketika saling membutuhkan seperti acara keluarga.


- Jika tidak ada hal penting diwajibkan untuk tidak bertemu


- Tidak jatuh cinta


- Tidak mengurusi urusan masing-masing


Lily tertawa. Dengan begini saja sudah diketahui jika pernikahan mereka bermasalah sejak awal. Kemesraan mereka hanya sebuah kebohongan. Ia kemudian membuka laptop miliknya dan mulai mencari tahu tentang seorang Joan Lee. Sebuah situs membuka semua isi mengenai Joan Lee beserta semua keluarganya. Ia mengerutkan keningnya. Dean Justin Lee, seingatnya pria itu yang merebut Brittany dari kakaknya. Ia kemudian membaca kembali. Ada satu berita yang muncul pada hari ini. Sebuah film televisi yang disponsori oleh label milik Joan Lee akan dibuat oleh Dean Justin Lee yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Apakah ada nepotisme dibalik pembuatan film ini? Entahlah, yang pasti ia bisa menghancurkan semuanya.


"Jangan bermain-main dengan keluargaku, Brittany Jonas dan kau Joan Lee..." geramnya

__ADS_1


__ADS_2