
Cuaca Istanbul cukup dingin untuk siang ini. Beberapa pejalan kaki terlihat memakai mantelnya. Banyak yang berpasangan karena bulan ini memasuki bulan februari. Beberapa tahun telah ia lewati dengan mudah. Turki, negara yang ia kunjungi ketika melakukan bedah pada wajahnya kala itu. Tentu saja dengan bantuan Alv. Kini ia bisa lebih percaya diri dalam bertindak.
Brittany sudah memesan satu buah meja di Asitane Restaurant sejak beberapa jam yang lalu. Restoran ini adalah tempat kesukaan Alv ketika mereka menyempatkan diri untuk bertemu. Namun kali ini ia bukan bertemu dengan Alv, melainkan dengan Lily Aysun.
Ya, sejak kejadian hampir tiga tahun yang lalu itu, kini ia dan Lily berteman dengan sangat baik. Namun, sejak satu tahun yang lalu Lily memutuskan untuk pindah ke Athena karena ia ingin berada ditempat kelahiran orangtuanya. Mengingat kepergian Lily dari Istanbul, Brittany sendiri sudah hampir tiga tahun tidak kembali ke benua Amerika. Ia tidak mau kembali. Ia hanya ingin hidup bebas dan tanpa beban masa lalu. Ketika ia terfikir untuk balas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya, Alv membuatnya berfikir. Pria itu meragukan semua rencana yang akan ia lakukan. Alv hanya ingin dirinya hidup dengan bebas dan melupakan masa lalunya. Namun ada yang tidak diketahui oleh Alv. Beberapa hal tidak ia utarakan pada Alv walaupun mereka sangat dekat. Hanya Alv yang berada disampingnya hampir tiga tahun ini. Balas dendam itu akan selalu ada, hanya waktunya saja yang belum tepat. Rasa sakit hatinya tidak dapat diobati oleh apapun.
Tiga tahun. Waktu yang cukup lama untuknya menenangkan diri. Ia kehilangan bayinya dan bahkan kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Ia membutuhkan ketenangan jiwa. Hanya ada satu pria yang menenangkannya, yaitu Alv. Alv adalah salah satu dari sekian pria yang paling baik yang pernah ia temui. Alv tidak seperti pria Amerika. Hanya untuk membandingkan, pria itu tidak seperti mantan suaminya. Alv tidak pernah menyakitinya sedikitpun. Alv menghargai dan membuatnya bahagia.
Sedangkan kedua orangtuanya, tidak ada yang lebih membahagiakan selain bertemu dengan kedua orangtua kandungnya. Wajah mereka yang membuat hari-harinya cerah. Mereka masih tinggal di Austria sedangkan dirinya masih berada di Turki. Satu bulan sekali mereka datang berkunjung ke apartemen mininya.
Oh ya, kesibukannya di Turki selama beberapa tahun terakhir adalah bekerja disalah satu restoran milik keluarga Alv. Ia senang tidak ada yang mengenalnya kini. Rambutnya yang pirang ia ganti menjadi hitam. Ada beberapa perubahan di wajahnya yang semakin membuat ia takjub. Ia lebih bahagia saat ini dibandingkan sebelumnya. Ia tidak membutuhkan pasangan dan hanya ingin hidup sendiri. Tentu saja fokus utamanya, ia ingin mencari perhatian dengan wajah barunya. Dengan begitu orang-orang yang menyakitinya akan mengetahuinya dengan cepat.
Ketika langkahnya sampai ke restoran, beberapa pasang mata menyorotnya. Awalnya ia memang takut mendapat tatapan seperti itu karena mengingatkannya ketika menjadi seorang istri sutradara. Tapi kini ia sadar jika dirinya kini bukanlah Jessy Julian. Situasi seperti ini sedikit mengejutkannya. Tetapi lagi-lagi, ia tidak pernah merasakan hidup seperti sekarang. Ia bahagia.
Ia tidak perlu menunggu Lily Aysun karena sahabatnya itu sudah duduk disalah satu meja yang ia pesan. Wajahnya terlihat muram. Lily tengah meminum salah satu minuman yang paling terkenal di restoran ini. Alv sering memesannya. Sebelum bertemu dengan Lily, ia menyempatkan diri menemui pelayan untuk memesan makanan. Wajar saja, siang ini ia belum makan. Cukup sulit menemukan makanan yang sesuai dengan seleranya. Jika beberapa tahun yang lalu ia tidak pernah mengatur pola makannya, kali ini ia harus mengatur agar tubuhnya tetap ideal. Ketika suatu hari ia bertemu dengan orang-orang yang menyakitinya, ia akan dengan bangga mengatakan jika dirinya kini bahagia.
"Apakah kau merindukanku?"tanya Brittany seraya membungkukkan kepalanya ke samping Lily. Cukup terkejut melihat reaksi Lily yang biasa saja. Ia terlalu datar untuk pertemuan pertama seperti saat ini. Ada sesuatu yang terjadi. Ia yakin itu. Untuk itulah Lily datang menemuinya di Istanbul.
"Hai, Brittany.." jawab Lily dengan nada lemas. Ia tidak berani mengangkat wajahnya untuk bertemu dengan wajah Brittany. Ketika melihat wajahnya yang cantik, ia mulai menyadari satu hal. Ia tidak bisa mengikuti cara Brittany. "Apakah aku seorang gadis jahat jika aku mengatakan aku sangat membencimu."
Brittany terkejut namun ia dapat tertawa. Ia menatap Lily yang masih tidak berani menatapnya. "Apa yang terjadi Lily? Setahuku, tidak ada seseorang yang berani mengatakan ia membenci orang yang ada didepannya. Aku sakit ketika kau mengatakan hal itu. Kenapa kau membenciku? Apa salahku?" goda Brittany dengan nada sedih.
Lily langsung menoleh pada Brittany. Ia merasa bersalah mengatakan hal itu. Ketika sedang sedih, ia memang sering mengatakan hal yang tidak beraturan. Itulah kelemahannya. Sering kali orang merasa sakit hati padanya. Ia memegang lengan Brittany. "Brittany..kau marah padaku?"
"Aku marah jika kau mengatakan apa yang terjadi. Hampir tiga bulan kau tidak mengunjungi ku, inikah balasan mu padaku?"
Lily menggeleng dengan cepat. "Maafkan aku. Aku membencimu karena kau cantik. Sulit untukku mendapatkan Jose. Sudah tiga tahun, sepertinya aku menyerah saja."
Brittany tidak sanggup berkomentar banyak. Ia tidak bisa ikut terlibat dalam masalah hati seorang Jose. Sahabatnya itu memang sulit ditaklukkan oleh wanita manapun. Termasuk oleh Lily. Ia kagum pada Lily karena mampu bertahan selama itu. Tadi malam ia dan Jose bertelepon untuk menanyakan kabar masing-masing. Sudah lama Jose tinggal bersama orangtuanya. Rasanya egois ia meminta Jose untuk tinggal dengan orangtuanya, sedangkan ia tinggal sendiri. Lalu, itulah yang terjadi. Selama Jose mau, ia senang. Kemudian ia menatap Lily. "Ya, lebih baik kau menyerah. Untuk apa mengejar pria yang tidak mau denganmu.."
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa melupakannya. Kau bisa membantuku?" tanya Lily cepat.
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Buat Jose jatuh cinta padaku." ucap Lily.
Brittany tidak sanggup menolak permintaan sahabatnya. Ia menghela nafas. "Baiklah.."
"Jangan berhenti untuk membantuku. Aku tidak mau pria lain selain Jose.."
Brittany tersenyum. "Aku tahu. Kakakmu mengatakan jika kau wanita yang setia. Kau tidak bisa berpaling pada pria lain secepat itu."
"Apa yang terjadi?" tanya Alv tiba-tiba.
Keduanya menoleh dengan cepat. Brittany terkejut melihat keberadaan Alv. Wajahnya terlihat lelah. Bukannya ia sedang berada diluar kota? Kenapa ia tiba-tiba datang ke Istanbul?
"Bukankah kau sedang diluar kota?"
"Aku merindukanmu.." ucapnya sambil memeluknya erat.
Brittany tidak bisa menolak pelukan Alv. Hanya saja, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya oleh Alv. "Kapan kau pulang?"
Alv melepaskan pelukannya dan menatap Brittany. "Aku baru saja pulang. Ketika diperjalanan tadi aku menghubungi Aysun. Ia mengatakan sedang berada di Istanbul dan bertemu denganmu."
Lily menatap keduanya yang tengah berbincang. Ia menatap wajah kakaknya yang tampak lebih berbinar dibanding sebelumnya. Ia berpangku tangan. Ia pikir ada sesuatu diantara keduanya. Kedua matanya terus menatap mereka dengan tajam. "Ada yang tidak ku ketahui dengan hubungan kalian?"
Brittany menoleh pada Lily. "Kami hanya berteman, Lily.." ucapnya cepat.
Alv mengambil gelas milik Lily dan meminumnya. "Aku tidak berpikiran seperti itu. Aku ingin lebih dari teman." ucapnya tiba-tiba.
__ADS_1
Lily mengangkat mulutnya. Ia tidak percaya inilah pertama kalinya seorang Alv tertarik pada wanita. Ia tahu Alv pernah berhubungan dengan beberapa wanita di masa lalunya, namun selama kurang dari tiga tahun ini Alv tidak memiliki tanda-tanda berhubungan dengan wanita lain selain Brittany. Ia kemudian menatap Brittany yang terlihat kaku. Kenapa? Alv pria yang tampan dan profesinya bagus. Ia bisa dikatakan cukup kaya mengingat peninggalan kedua orangtuanya yang cukup besar. Apakah Brittany tidak bisa melupakan sutradara tampan itu? Tapi sutradara itu sudah melepaskan profesinya. Ia tahu itu. Mereka menontonnya di televisi ketika Brittany melakukan perawatan di rumah sakit.
"Kau terlihat lelah, Alv. Biarkan aku memesan makanan kesukaanmu." ucap Brittany sambil berdiri. Ia berjalan untuk menghampiri pelayan secara langsung.
Lily langsung menatap Alv. "Ia pasti terkejut mendengar ucapan mu tadi." bisiknya.
Alv menatapnya biasa saja. "Menurutmu bagaimana?"
Lily menggelengkan kepalanya. "Aku pikir saatnya belum tepat. Kau harus menjaga perasaanmu. Bagaimana jika Brittany malah menghindari mu?"
Alv melihat Brittany yang tengah berbicara dengan salah seorang pelayan. Ucapan Lily ada benarnya. Ia harus menahan diri. Sejak melihat Brittany melepaskan perban di wajahnya, ia semakin tertarik. Ia bahkan tidak menoleh pada wanita lain.
"Aku sudah memesan makanan kesukaanmu, Alv." ucap Brittany ketika menghampirinya.
"Kau lebih tahu makanan kesukaan Alv dibandingkan aku adiknya sendiri." goda Lily.
"Karena aku dan Alv sering sekali ke restoran ini. Hanya menu itu yang ia pesan. Aku jadi tahu kesukaan Alv seperti apa.." jawab Brittany sambil tersenyum.
"Brittany.. lusa apakah waktumu kosong?" tanya Alv serius.
Brittany berfikir sejenak. "Ya, kau akan mengajakku kemana?"
"Ada sebuah acara peluncuran produk kesehatan. Aku diundang sebagai pembicara. Kau mau ikut?" tanya Alv.
"Kenapa kau tidak mengajakku?" protes Lily.
"Karena mereka tahu kau itu adikku. Aku ingin Brittany yang ikut sebagai pasanganku." ungkap Alv.
Brittany terdiam. Pasangan? Kenapa mirip sekali dengan acara itu? Apakah disana ada media? Apakah disana ada paparazzi? Pikiran buruk terus berkecamuk di kepalanya. Ia pikir inilah saat yang tepat untuknya. Jika ada media disana yang mengenalnya, itu cukup baik. Ia cukup percaya diri karena wajahnya yang baru. Ia kemudian menatap Alv. "Baiklah.. pukul berapa aku harus siap?"
__ADS_1
"Pukul 8 malam."