
"Bangunlah, Brittany.. Ayo kita pulang. Jangan menyiksa kami lebih lama lagi." bisik Isabel sambil memegang tangan Jessy dengan erat.
Jari-jari Jessy bergerak pelan. Kedua matanya berkerut seperti tengah merasakan kesakitan. Isabel mulai panik. Ia menoleh pada suaminya.
"Sayang, Brittany sepertinya siuman." ucapnya panik.
Jonas yang tengah duduk di sofa dibelakangnya langsung berdiri. Ia menghampiri dan melihat keadaan putrinya. Ia tersenyum. "Aku akan mencari dokter." ucapnya sambil melangkah keluar. Akhirnya setelah beberapa hari, putrinya sadar. Ia bahagia sekali. Masa kritisnya sepertinya telah lewat.
Jessy membuka kedua matanya. Ia melihat kesamping. Isabel? Ia bisa melihat wajah cemas Isabel. Tapi, mengapa Isabel ada disampingnya? Apa yang terjadi padanya?
"Mama senang kau sudah sadar, sayang. Bagaimana perasaanmu?"
Benar, Jessy ingat sekarang. Isabel ingin dipanggil mama olehnya. Tapi kenapa ia ada disampingnya? Cukup lama baginya mengingat apa yang terjadi. Ia tersenyum walaupun wajahnya sakit. "Aku kesakitan di bagian wajah."
"Kau akan baik-baik saja seperti semula, sayang." ucap Isabel.
Jessy menutup matanya. Tiba-tiba ia teringat kecelakaan itu. Ia bangun namun karena tulang punggungnya sempat patah, ia mengeluh kesakitan.
"Bayiku. Bagaimana bayiku?" tanyanya histeris. Ia melepaskan pegangan tangan Isabel dan memegang perutnya. Kosong. Ia merasa kosong. Ia panik sambil menatap Isabel. Ia tidak merasakan kesakitan di wajahnya ketika mengetahui apa yang terjadi. Ia mulai menangis. "Bayiku!" teriaknya histeris.
Isabel memegang tangannya dengan erat. Melihat putrinya menangis, ia kesakitan. Ia pun ikut menangis.
"Tenang sayang.."
"Kemana bayiku?" teriaknya sambil menangis. Ia hanya bisa berteriak karena ia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Iapun merasakan wajahnya kesakitan. Ia memegang wajahnya. "Apa yang terjadi dengan wajahku?"
__ADS_1
Seorang dokter masuk bersama Jonas kedalam kamar. Melihat pasiennya histeris, ia menyuntikkan obat penenang kedalam selang infus. Ia dan seorang suster mengecek kondisi Jessy melalui monitor yang selalu terpasang disamping tempat tidur.
"Ma.. apa yang terjadi dengan bayiku?" tanyanya ketika tubuhnya melemah. Ia mulai menangis.
"Nanti mama ceritakan semua. Namun, saat ini kau lebih baik tenang." bisik Isabel sambil mengusap lengannya.
Dokter mulai memeriksanya. Ia mengangguk mengerti. Ia menoleh pada Jonas. "Keadaan pasien mulai membaik. Jaga perasaannya. Ia harus lebih tenang. Bicaralah pelan-pelan mengenai kondisinya. Iapun harus tahu."
Jonas mengangguk mengerti. Ia mengikuti langkah dokter keluar.
"Apakah aku kehilangan bayiku?" tanya Jessy lagi dengan suara pelan. Akibat efek obat penenang, tubuhnya lemas. Ia menatap Isabel. "Katakan ma.. Apakah aku kehilangannya?"
Isabel mengangguk pelan.
Isabel kembali mengangguk.
"Aku tidak akan pernah memaafkannya. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkannya!" ucapnya sambil kembali tertidur.
Isabel mengepalkan tangannya. "Ya, sayang. Jangan pernah memaafkan orang yang menyia-nyiakanmu. Mama akan jadi orang pertama yang menolak Dean. Mama tidak menerima ia memperlakukan gadis sebaik dirimu. Mama akan berdiri dibelakangmu." ucapnya marah.
...***...
Langkah Dean semakin pelan. Ia sudah menghubungi kantor polisi setempat untuk mencari kabar. Namun hasilnya nihil. Iapun sempat mencari ke beberapa rumah sakit, namun hasilnya tetap sama. Ia tidak menemukan korban kecelakaan bernama Jessy Julian. Kemana lagi ia harus mencari?
Hari sudah menjelang pagi, langkahnya semakin berat. Ia terduduk dengan lesu dikursi depan pantai. Ia menatap matahari yang mulai menunjukkan pesonanya. Berapa lama ia mencari? Sudah berapa lama ia melangkah? Ia tidak bisa berfikir lagi. Terbayang wajah Jessy didalam kepalanya. Ia menghela nafas dan menunduk malas.
__ADS_1
Jessy, dimanapun kau berada.. Aku harap kau bisa menjaga kesehatanmu. Aku menyesal mengusirmu dari kehidupanku. Aku ingin kau tahu, aku mencintaimu. Aku akan berusaha mencarimu betapa sulitnya itu. Aku akan mencarimu bahkan hingga ke ujung dunia. Kau boleh marah padaku. Kau bisa memukulku bahkan menjambakku. Aku tidak peduli dengan itu. Aku hanya ingin menemukanmu.
Ketika kita bertemu di New york beberapa minggu yang lalu, kau sempat berjanji untuk tidak meninggalkanku. Kau berjanji menerimaku walaupun itu akan sakit pada akhirnya. Apakah aku harus mati agar kau keluar dari persembunyianmu tanpa aku cari?
Tiba-tiba ia teringat pada seseorang yang bisa membantunya mencari Jessy. Iapun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku pikir kau sudah melupakanku." ucap seseorang ketika menerima panggilan darinya.
"Apakah aku mengganggumu?" tanya Dean serius.
"Tidak. Demi sutradara terkenal sepertimu, semua waktuku bisa kau ambil." ucapnya.
"Will, aku kehilangan istriku. Aku ingin kau menemukannya. Berapapun orang yang harus kusewa untuk mencarinya, aku tidak keberatan. Aku hanya ingin menemukannya."
William mendengarnya dengan serius. "Kapan kau kehilangan istrimu?"
"Beberapa hari yang lalu. Namun aku baru menyadarinya kemarin. Aku tidak dapat menemukannya di manapun. Termasuk dirumahku." jawab Dean.
William adalah seorang agen FBI yang bisa disewa oleh Dean karena kedekatan mereka. Ia telah melakukannya selama beberapa kali. Terakhir ia menyewa jasa William ketika ia dan Harris kehilangan pegawainya yang membawa uang jutaan dollar. William bukan seorang agen biasa. Ia telah terlatih menyelesaikan semua tugas. Pengalamannya bahkan melebihi apa yang ia pikirkan.
"Kita bertemu lusa. Aku ingin mendengar semuanya langsung. Apakah kau sedang syuting?"
"Aku sudah menyelesaikan syuting film terbaru. Aku akan pulang secepatnya untuk bertemu denganmu. Aku harap kau bisa melakukannya dengan cepat. Aku khawatir dengan keselamatannya."
"Aku pasti membantumu. Kau biasa melakukannya bukan? Bersemangat lah."
__ADS_1