Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Off to Paris


__ADS_3

Pagi ini Brittany bersama manajer barunya baru saja sampai di bandara untuk pergi menuju Paris. Sesuai ucapan manajernya kemarin, ia pergi untuk pekerjaan pertamanya. Entah apa yang akan ia lakukan di Paris. Ia hanya diminta untuk pergi. Apakah disana ia akan menjadi model salah satu produk? Atau ia akan menjadi model salah satu brand pakaian? Lana pernah mengatakan padanya jika Paris telah menjadi pusat fashion dunia. Banyak sekolah-sekolah designer disana. Dan ia tahu siapa yang sedang bekerja disana. Joan Lee berada disana. Ia tidak akan berharap bertemu dengan Joan disana. Kembali lagi, jika ia menjadi model untuk salah satu pakaian disana, ia sudah siap melakukannya kapanpun.


Langkah Brittany terhenti ketika ia melihat beberapa billboard terpasang disudut bandara. Suatu saat, ia akan ada disana. Itu pasti. Ketika ia sudah terkenal, ia yakin tawaran dari berbagai brand dunia akan menghampirinya. Kemungkinan besar ia akan kembali ke tempat yang sudah mengakibatkannya menjadi seperti sekarang. Ia akan kembali ke New York atau LA. Ia sudah memikirkannya semalam.


Lalu, bagaimana dengan Alv? Apakah ia bisa disebut kejam meninggalkannya setelah apa yang ia lakukan padanya? Alv, pria sebaik dirinya harus mendapatkan wanita yang baik. Ia sedih karena mengabaikan seorang pria yang dengan tulus membantunya dikala ia merasa kesulitan. Alv telah mewujudkan mimpinya. Awalnya ketika ia tahu wajahnya rusak karena kecelakaan itu, ia merasa tidak memiliki harapan. Ia harus melewati hidup dengan keadaan cacat. Namun dorongan dan support Alv membuat ia bisa kembali bermimpi. Alv, maafkan aku. Aku bukan wanita yang pantas untukmu. Kau pantas mendapatkan yang lebih.


Sebuah bucket bunga mawar merah dipegang oleh seseorang ketika Brittany membuka pintu apartemennya malam ini. Ia tahu siapa seseorang yang mengetahui dirinya menyukai mawar merah. Ketika ia berpisah dengan Alv dirumah sakit tadi siang karena panggilan darurat padanya, ia berjanji akan menemuinya di apartemennya malam ini. Brittany membuka pintu semakin lebar. Ia mempersilahkannya masuk kedalam tanpa bertanya siapa pria dibalik bucket bunga itu.


Alv menyerahkan bunga itu padanya. “Apa yang sedang kau lakukan? Aku ingin merayakan kontrak yang baru saja kau dapatkan. Jujur saja, sebenarnya aku tidak tertarik mendengar mu terjun ke dunia yang telah jahat padamu. Namun untuk saat ini aku tidak bisa merampas kebahagiaanmu”


Brittany hanya tersenyum. Ia sudah tahu jawaban yang akan Alv berikan padanya. “Kau tidak perlu repot-repot membawakan bunga untukku, Alv.” Ia mencium wangi bunga itu dan tersenyum.


“Kau menyukainya, bukan?” tanya Alv sambil tersenyum. Ketika melihatnya dijalan tadi, ia tidak sabar untuk membelinya. Dan ia tahu Brittany memang menyukainya. Ia kemudian duduk disofa. Apartemen Brittany memang bukanlah apartemen mewah. Tidak banyak yang tersedia disana. Sering ia menanyakan tentang isi apartemennya. Namun Brittany sering berseloroh jika ia tidak menyukai hidup mewah. Pekerjaannya sebagai pelayan pun dilakukan Brittany untuk mengisi kekosongan harinya disamping proses penyembuhannya yang masih berlangsung.


“Tidak ada wanita yang tidak menyukai bunga, Alv. Istrimu kelak akan menjadi wanita yang beruntung karena kau sebaik ini” ucap Brittany. Ia menatap bunga itu lama. “Sayangnya aku tidak bisa menikmati keindahan bunga ini untuk waktu yang lama. Besok pagi aku akan pergi ke Paris untuk memulai pekerjaanku yang pertama.”


“Ke Paris?” tanya Alv terkejut.


Brittany mengangguk. Ia kemudian berjalan ke meja pantry dan mengeluarkan gelas. Sesekali ia menoleh untuk menatap Alv. Pria itu pasti terkejut.


“Kenapa kau tidak mengatakannya ketika tadi kita bertemu?Jika aku tidak mengijinkan mu pergi, apakah kau akan mengerti?”tanya Alv.


Brittany yang tengah memunggunginya merasa berada pada situasi tidak nyaman. Ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Kedua tangan Brittany disimpan diatas meja pantry. Ia berbalik dan terkejut ketika menemukan Alv sudah berdiri dibelakangnya. Brittany mencoba tenang. Ia menatap Alv lama kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa Alv, aku harus pergi. Aku sudah menandatangani kontrak dengan mereka. Aku tidak bisa seenaknya. Poin-poin kontrak itu tertera disana. Aku harus bekerja. Aku harus profesional. Dan ini adalah kesempatan untukku.”


“Aku tidak ingin kau jauh dariku. Aku mencintaimu, Brittany. Tolong jangan pergi. Aku tidak pernah jatuh cinta seperti ini pada wanita lain. Aku tidak pernah merasa takut kehilangan sebelumnya.” ucap Alv. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru tua dari saku kemejanya.


Brittany mulai cemas. Hal yang ditakutinya akan terjadi. Tiba-tiba tangannya dipegang oleh Alv dan diangkat.


“Aku ingin menikahimu. Ijinkan aku membuatmu bahagia. Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan bertanggungjawab atas kebahagiaanmu.” Ucap ALv kembali. Ia mulai membuka isi kotak itu dan terlihatlah sebuah cincin cantik. Ia mulai mengeluarkannya.


“Tunggu Alv!” seru Brittany panik.


“Kenapa? Apakah kau tidak yakin pada perasaanku? Atau kau masih mencintai suamimu? Aku memang tidak setampan suamimu. Tapi aku bisa membuatmu bahagia tidak seperti suamimu..” ucap ALv sambil mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


Brittany mengangkat kedua tangannya untuk menahan tubuh Alv agar tidak semakin mendekat. “Tunggu.. “ ucapnya gugup.


Alv menegakkan tubuhnya dan menarik tangan Brittany dengan paksa. Semakin Brittany menahan, Alv semakin mempererat pegangan tangannya. “Aku tidak menerima penolakan.” ucapnya.


Brittany mulai merasa kesal “ALV!!” teriaknya. “Kau tahu kenapa aku menolak mu? Karena kau dapat mengganggu mimpiku untuk menjadi terkenal! Aku tidak peduli dengan Dean atau pria lain manapun! Aku tidak mau mimpiku diganggu oleh siapapun!” ucapnya kencang.


Alv mulai melepaskan tangan Brittany dan berjalan keluar. Ia tidak berkata apapun lagi.


Brittany memegang dadanya dan bernafas dengan lega. Hampir saja.. Perkataannya memang jahat. Namun ia harus melakukannya agar Alv menyerah padanya.


...***...


Sesampainya di Paris. Tanpa menunggu lama, mereka berdua telah dijemput oleh seorang pria yang Brittany yakini adalah seorang supir yang akan mengantarnya ke hotel. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di Paris. Sangat menyenangkan. Ia bahkan tidak merasa lelah. Ia dapat melihat menara Eiffel yang terkenal itu. Ia antusias melihat semua hal yang baru didepannya. Ia mendengar manajernya sedang berbicara dengan menggunakan bahasa perancis dengan pria itu.


“Ia tidak akan mengantar kita ke hotel. Semua model sudah menunggu diruang rias. Kau bisa langsung tampil malam ini.” bisik manajernya.


“Baiklah..” jawab Brittany tenang. Akhirnya ia akan tampil malam ini sebagai model. Tinggi badannya menunjang dirinya untuk tampil sebagai model. Entah rencana apa yang dimiliki pria disampingnya. Selama ia menjadi seseorang yang dapat dikenal oleh orang banyak, ia senang.


“Banyak designer terkenal datang ke tempat ini. Kau harus menunjukkan pesona mu. Biarkan brand dunia tahu kau ada." bisik pria itu. Brittany hanya mengangguk mengerti.


Baru saja masuk kedalam ruangan, tangannya langsung ditarik seseorang. Ia melihat banyak sekali model yang sedang dirias. Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 5 sore. Iapun dibawa ke salah satu kursi kosong.


“Lana! Ada satu yang tertinggal!” teriak wanita itu. Ia meninggalkan Brittany sendiri.


Lana? Tunggu.. Apakah Lana itu? Tapi tidak mungkin. Brittany menoleh pada seseorang yang terlihat menghampirinya. Ia cukup terkejut melihat seorang Lana yang dipanggil. Tentu saja, itu adalah Lana nya. Mengapa ia harus bertemu Lana di Paris?


Lana mendekatinya dan memegang bahunya. Ia menunduk sejenak sambil menatap mata Brittany dari kaca. “Yang ini biar aku saja. Kau memerlukan tanganku. Bukan asistenku.” ucap Lana tenang.


Brittany cukup lega karena Lana tidak mengenalnya.


“Siapa namamu?” tanya Lana ramah


“Brittany.”

__ADS_1


“Kau baru menjadi model? Apakah ini catwalk pertama mu?”tanya Lana kembali.


Brittany hanya mengangguk. Sepertinya Lana memang tidak mengenalnya.


“Kulitmu bagus. Hanya saja..” ucap Lana tertahan. “Sepertinya kau pernah merasakan ruang bedah bukan? Apakah kau tidak nyaman dengan wajahmu yang dulu? Kau cantik, Brittany.”


Brittany merasa sesak. Jantungnya berdebar dengan kencang. Bagaimana bisa Lana tahu? Ia pikir hasil bedah tidak akan terlalu terlihat. Ia merasakan jari-jari Lana menyentuh wajahnya. Ia mulai mendapatkan riasan Lana.


“Melihat wajahmu, sepertinya aku mengingat seseorang. Jessy, sahabatku. Ia memiliki bentuk wajah sepertimu. Bahkan ketika tadi kau berdiri disini, aku pikir kau Jessy. Tubuh kalian terlihat sama. Dan kalian sama-sama cantik.” ucapnya sedih. Namun jari-jarinya masih tampak luwes memberikan shadow di wajahnya. Ia bisa melakukannya dengan cepat.


“Apakah kau sudah lama tinggal disini?” tanya Brittany mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. “Kau tidak tinggal di New York?”


“Bagaimana kau bisa tahu aku dari New York?” tanya Lana ketika ia tiba-tiba berhenti.


"Aku hanya menebaknya."Jawab Brittany gugup.


Lana tersenyum. "Sebenarnya iya. Aku dari New York. Aku memiliki butik disana. Aku lahir dan tinggal disana. Kau mengenal Dean Justin Lee? Sutradara tampan yang terkenal itu? Kami bersahabat sejak lama. Aku sering membuatkan pakaian untuk istrinya."


"Kau bukan make up artist?" tanya Brittany berpura-pura tidak tahu.


"Bukan. Aku disini menjadi tim inti dari riasan dan pakaian yang model kenakan. Tapi karena aku tertarik padamu, aku ingin merias mu secara langsung."


Brittany dibantu oleh beberapa orang dan tentu saja dengan Lana sendiri. Ia begitu cantik dan modis. Pakaian yang dikenakan olehnya merupakan rancangan terbaik. Lana ingin menonjolkan Brittany karena ini catwalk pertamanya.


Lana mengangkat kedua tangan Brittany dan menatapnya. "Jika Dean tahu tentang keberadaan mu, aku yakin ia akan langsung pergi kesini untuk melihatmu."


"Dean kehilangan istrinya?" tanya Brittany.


"Ya, aku kasihan padanya. Uang banyak namun tanpa kekasih. Aku pikir kehidupan nya menyedihkan."


Brittany berdiri. "Dean bukan menyedihkan. Ia hanya tidak beruntung!" ucapnya sambil melangkah menjauhinya.


Lana menyipitkan matanya ketika melihat Brittany meninggalkannya. Nada bicaranya terlihat menyindir. Apakah ia tahu sesuatu tentang kehidupan Dean? Apakah sebelumnya Dean pernah berhubungan dengan Brittany? Sepertinya ia harus mencari tahu.

__ADS_1


__ADS_2