Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
premier


__ADS_3

"Dean, aku menunggumu diluar." ucap Joan tergesa-gesa.


Untuk apa tergesa-gesa. Yang menjadi bintang hari ini adalah dirinya. Jam berapapun ia datang, Orang-orang pasti menunggunya. Dean menatap dirinya di cermin. Ia merapikan dasi kupu-kupu dan merapikan jasnya. Pilihan untuk melangsungkan pemutaran perdana film yang dibuatnya dilaksanakan di Turki. Tempat dimana filmnya dibuat saat itu.


Banyak yang terjadi di Turki. Ia bisa melihat billboard seorang Jessy disini. Tapi yang lalu biarlah. Jessy akan menikah beberapa hari lagi. Ia tidak akan pernah melihatnya kembali. Ia akan menjauh demi kebahagiaannya yang baru.


"Dean! " teriak Joan.


"Ya, aku datang! " jawab Dean cepat. Ia setengah berlari keluar dari kamarnya.


"Kau baik-baik saja? " tanya Joan.


"Apa yang kau tanyakan? Pertanyaan mu tidak mendasar. Aku baik-baik saja. Apakah menurutmu aku akan menyesali diri? Itu tidak mungkin." jawab Dean sambil tertawa.


Joan hanya menatap nya serius. "Pertanyaan ku tidak mendasar?" tanyanya bingung.


"Ayo kita pergi." tarik Dean sambil mengapit lengan Joan. "Beruntung aku memiliki kakak yang cantik. Tidak akan memalukan jika aku membawamu ke sebuah acara"


"Hari ini kau harus membayar ku sangat mahal." seru Joan.


"Kau mau aku kenalkan dengan rekanan ku?" goda Dean.

__ADS_1


"Berisik! Tutup mulutmu! "


Dean terkekeh. "Aku tahu bagaimana kehidupan cintamu. Banyak pria yang tidak tahan padamu. Kau bahkan tidak bisa berhubungan dengan pria lebih dari satu minggu. "


"Dean! Diam!" seru Joan sambil mencubit lengan Dean.


Ketika Joan memintanya untuk datang ke Turki sebagai pasangannya, ia tidak bisa menolaknya. Bagaimana bisa ia membiarkan adik kesayangannya melakukan semua sendiri. Ia membutuhkan support dari orang-orang terdekatnya. Semua orang sedih dan kecewa dengan keputusan Jessy. Tidak ada saling menyalahkan. Namun hidup itu pilihan. Jika menurut Jessy, pria itu yang dapat membahagiakannya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Pria yang dapat meluluhkan hati Jessy itu adalah Albertico Alv. Seorang dokter yang datang dari Turki hanya untuk bertemu dengan Jessy. Sungguh membuatnya iri. Ketika ia bersama Lana, ia sering bercerita tentang pria itu. Namun ia tidak pernah melihat bagaimana rupa dokter tampan itu.


Sungguh keterlaluan. Ia melihat dokter tampan itu ketika melihat Dean di rumah sakit. Dunia begitu sempit. Pria yang bertabrakan dengannya di bandara adalah pria itu. Ketika itu mereka berdua benar-benar terburu-buru karena mendapat kabar tentang peristiwa penculikan Jessy. Ternyata ia dan pria itu mendatangi pasien yang sama. Namun ketika ia melihat Dean, ia tidak mau melihat Jessy. Ia tidak akan sanggup melihat pria yang membuatnya tertarik untuk pertama kali itu bersama dengan Jessy. Mendengar mereka akan menikah? tentu saja membuatnya seakan dunia ini akan runtuh. Mengapa pria itu?


"Apa yang kau lamun kan?" tanya Dean dengan nada berbisik.


"Kalau begitu, ayo kita turun." ucap Dean sambil membuka pintu.


Baru saja Dean membuka pintu, cahaya blitz dan jepretan kamera membuatnya silau. Ia mengangkat satu tangannya dan melambai. Sudah lama sekali ia tidak merasakan hal seperti ini. Satu tangannya kemudian menarik Joan untuk turun. Jepretan kamera membuat Joan menyadari posisinya. Ia tersenyum dengan sangat manis dan melambaikan salah satu tangannya.


Dean mulai melangkah dengan beralaskan karpet merah. Spanduk mengenai filmnya telah terpasang dengan rapi di seluruh sudut gedung.


"Dean, kau temui wartawan. Mereka ingin mewawancarai mu. Aku akan menunggu didalam. " bisik Joan

__ADS_1


Dean mengangguk. Ia mulai menghampiri salah satu wartawan.


"Hai, Dean.. Hampir 3 tahun kau tidak membuat sebuah film."


Dean tersenyum. "Ya, butuh keinginan kuat untuk membuatnya."


"Apa yang kau harapkan dari film ini?"


"Tentu saja aku hanya ingin diterima kembali oleh masyarakat."


Sebuah panggilan lagi mengganggunya. Ia menoleh dan melihat ada wartawan lain yang ingin mewawancarai nya. Ia pun berjalan mendekati wanita itu.


"Dean.. genre yang kau buat kali ini sangat berbeda sekali dengan film-film yang kau buat sebelumnya. Apakah kau yakin film ini akan menggebrak pasar dunia dimana mereka sedang kehilangan sebuah genre? "


Dean kembali tersenyum. "Untuk itulah aku membuat film dengan genre romantic comedy. Aku tidak ingin sebuah penghargaan. Aku hanya ingin menyampaikan pesan melalui film ini. "


"Pesan apa yang kau buat? Untuk siapa? "


"Sepertinya tidak etis jika aku mengatakannya disini. Kalian harus menontonnya juga." goda Dean


"Baiklah. Semoga film mu sukses, Dean! " seru wartawan itu.

__ADS_1


"Pasti! " jawab Dean. Ia kembali menghampiri wartawan yang mengajukan pertanyaan padanya. Begitu banyak orang yang masih peduli padanya. Tak terasa, film akan segera dimulai. Dean merapikan jasnya dan menghela nafas. "Oke, Mudah-mudahan sesuai dengan harapan. " ucapnya pelan. Ia pun masuk kedalam gedung bersama dengan para artis dan lainnya.


__ADS_2