
Karena sudah tidak ada pasien, Alv berjalan-jalan disekitar klinik. Ia melihat di halaman, banyak orang yang berjalan kaki kearah barat. Tidak seperti biasanya. Iapun memutuskan kembali ke ruangannya. Apakah akan ada demo? Pikirnya. Tapi di kota besar seperti New York rasanya tidak mungkin karena kota ini jauh dari pemerintahan.
Langkahnya mulai melewati beberapa orang wanita yang tengah berkumpul didekat ruangannya. Ia berdeham untuk memastikan posisinya.
“Permisi, ada yang bisa dibantu?” tanya Alv.
Semua orang menoleh padanya. Alv mundur satu langkah. Ia terkejut tapi ia menahan tawanya melihat wajah-wajah penasaran dari wanita-wanita itu.
“Dokter, apakah benar istrimu seorang model?” Tanya salah seorang suster dengan nada menyerang.
“Apakah itu salah satu pekerjaan disini? Bergosip? Apakah tidak dilarang selama masih bekerja?” Tanya Alv tenang. Ia tidak percaya wanita New York akan begitu berani bertanya tentang privasinya. Benar ucapan Jen. Ia memang harus berhati-hati.
“Aku tidak peduli, dokter. Tolong jawab pertanyaan kami.” Ucap suster itu kembali.
“Kalian akan mendapatkan jawabannya ketika acara liburan dari klinik terjadi.” Jawab Alv sambil masuk kedalam ruangannya.
Alv masuk kedalam ruangan sambil menggelengkan kepalanya. Ia masih mendengar suara orang-orang sedang berkumpul dari luar. Ia kembali melihat keluar jendela. Di sebrang jalan sudah terlihat banyak sekali mobil mewah berjajar. Ia menatap jam tangannya. Pukul 6 sore tapi jalanan tampak ramai. Banyak sekali orang-orang di sana. Apa yang terjadi.
Pintu terbuka. Jen masuk membawa beberapa dokumen pasiennya untuk esok hari.
"Dokter Alv, aku ingin kau bertahan disini. Jangan sampai kau menyerah hanya karena sikap wanita-wanita muda tidak tahu malu itu."
"Aku tidak selemah itu, Jen. Apalagi menangani beberapa wanita muda. Oh ya, ada apa di jalan hari ini? Sepertinya sangat ramai sekali. " tanya Alv bingung.
"Ada sebuah acara penghargaan diujung jalan. Itu biasa terjadi. Banyak aktor dan aktris maupun sutradara yang datang. Kau tertarik melihatnya?" goda Jen. Ia pun berdecak. "Aku tidak yakin kau akan menyukainya."
"Kenapa tidak? " jawab Alv sambil melepaskan jubah dokternya. Ia mengambil ponsel yang ada di atas meja dan berjalan menuju pintu. "Aku akan pulang nanti. Aku tertarik untuk melihatnya sebentar. "
__ADS_1
Jen menatap Alv tidak percaya. "Kau harus ingat istrimu di rumah, dok! " serunya.
"Melihat berbagai wanita cantik disana tidak akan mengurangi perasaan cintaku pada istriku. " ujar Alv sambil melambaikan tangannya. Ia berjalan keluar. Ia tidak pernah sekalipun dengan sengaja melihat sebuah acara penghargaan dalam bidang manapun. Namun kali ini berbeda. Ia ingin melihat
Brittany. Apakah wanita itu akan hadir? Walaupun ucapan Jen salah, setidaknya ia masih menyimpan rasa penasaran pada Brittany. Ia kini mengakuinya. Ia ingin melihatnya.
Jarak antara klinik dengan tempat itu lumayan jauh. Terlihat banyak sekali masyarakat yang berbondong-bondong ingin melihat acara itu. Dalam
benaknya terus terlintas. Apakah ia bisa melihat Brittany malam ini?Jika Brittany datang bersama pria itu, kali ini ia akan menutup matanya untuk sementara.
Joan membetulkan letak gaunnya ketika ia menaiki mobil limousine bersama Dean dan Jessy. Tatapan kedua orang di depannya terasa menusuk. Sejak
mereka berdua pulang dari Beijing, yang ditanyakan keduanya adalah apakah pernikahannya baik-baik saja? Tentu saja pernikahannya tidak baik-baik. Tapi
untuk apa ia mengatakannya. Menikah dengan Alv adalah pilihannya. Ia menyadari konsekuensi dengan menikahi pria yang tidak mencintainya. Namun jika melihat kebahagiaan pasangan didepannya, apakah ia harus kecewa dengan pernikahannya? Tentu saja tidak. Ia merasa bersyukur telah menikahi pria yang tepat. Apalagi ia dan Alv akan bertemu.
"Ada apa kalian menatapku? "
"Ya, gedung tempat acara mengundurkan sewanya. Sungguh itu bisa terjadi, Jessy. Ketika berada di Paris, tidak pernah ada seseorang yang tidak profesional seperti itu. " geram Joan.
"Tapi disini kau bisa mengenalkan merk pakaianmu. Kau akan mendunia mulai hari ini. " ucap Dean.
"Aku harap seperti itu karena kalian berdua menjadi salah satu bintang disini." jawab Joan.
Mobil yang mereka tumpangi perlahan sudah mendekat. Joan bersiap-siap untuk turun. "Aku akan turun terlebih dahulu. Aku akan
menunggu kalian di sana. " ucapnya cepat.
__ADS_1
Mobil pun berhenti. Joan turun terlebih dahulu ketika mobil yang ia tumpangi sudah mulai mengantri. Pakaiannya yang sedikit terbuka menjadi
sasaran mata yang melihatnya. Ia menutup dadanya yang sedikit terbuka dengan pouch dan setengah berlari untuk segera masuk kedalam.
Baru saja melangkah, lengannya ditarik seseorang. Ia terkejut dan melihat siapa yang menarik tangannya. Kedua matanya terbelalak.
"Dokter Alv? Sedang apa kau disini? " tanya Joan bingung.
"Dokter? " tanya Alv sambil menahan tawa.
"Em.. maksudku Alv. Sedang apa kau disini? Apakah kau diundang acara ini? " tanya Joan kembali.
"Pertanyaan mu aneh. Kau tidak seperti sedang berbicara dengan suamimu sendiri. "
Suami? Ya benar, karena terkejut secara tiba-tiba ia melupakan statusnya dengan pria didepannya. Pria didepannya terlihat keren sekali. Ia memakai kemeja dan jas. Namun ia tidak berdasi. Tubuh Alv yang tinggi dapat menutupi tubuhnya yang kecil.
Joan menurunkan pouch yang dipegangnya untuk menutup bagian dada.
"Apakah kau mau menggoda suamimu sendiri? " bisik Alv tepat ditelinga Joan.
Wajah Joan langsung memerah. Ia mengangkat kembali pouch nya. "Aku harus pergi sekarang. Pertemuan kita bukan hari ini. Jangan lupa itu. " ucapnya.
"Kenapa wajahmu merah? Apakah kau malu? Kau tahu? Aku sangat menantikan pertemuan denganmu. Aku akan menghubungi ponselmu nanti. Bagaimana? "
"Baiklah.. " jawab Joan sambil mulai berjalan meninggalkan Alv. Semua begitu tiba-tiba. Tidak ada waktu untuknya ke kamar mandi hanya untuk melihat riasannya ketika bertemu dengan Alv. Tiba-tiba tangannya kembali ditarik.
"Apa? "
__ADS_1
Alv tersenyum dan melepaskan tangannya. "Kau sangat cantik malam ini. "
Joan berlari masuk kedalam dengan serius. Namun sesampainya di dalam ruangan, Ia tersenyum tanpa henti. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya akibat malu. Siapa yang menduga akan bertemu dengan "suaminya" ditempat seperti ini. Bahkan ketika ia pikir gombalan suaminya hanya sebuah permainan kata-kata, ia baik-baik saja dikatakan seperti itu.