
"Aku pikir dengan kejadian kemarin akan meluluhkan hati Bije. Ternyata ia lebih memilih Alv daripada Dean. Aku merasa kasihan pada anak itu. Padahal awalnya aku menolak dengan keras. Namun aku salah. Bije mungkin merasa tidak enak padaku. Sehingga ia lebih memilih Alv. "
Jonas menatap istrinya dibalik cermin. Kasihan istrinya. Ia terlihat merasa bersalah. "Mereka belum menikah, sayang. Masih ada kesempatan."
"Alv pria yang baik. Namun entahlah. Aku pikir Dean lebih baik." ucapnya sambil melamun. Ia terdiam sejenak sebelum kembali berbicara. "Aku lebih baik bertemu mereka sekarang. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Lee dan Anastasia. " ujar Isabela. Ia berdiri dan mengambil tas tangannya.
Jonas ikut berdiri. "Kita langsung ke rumah Lee?"
"Ya."
"Aku ingin tahu bagaimana pendapat mereka mengenai pernikahan Bije dengan Alv." ucap Isabela.
Jonas dan Isabela pergi menggunakan taxi menuju kediaman Lee. Ketika Bije berada di rumah sakit, mereka tidak pernah sekalipun pergi keluar selain ke rumah sakit. Karena saat ini Bije berada di kondo nya, mereka akhirnya menggunakan apartemen yang merupakan hadiah dari Jonas untuk sementara waktu.
Lee terlihat lebih tua dari biasanya.
"Aku sangat senang melihat kalian." ucapnya.
Jonas dan Isabela tersenyum pada pria yang telah banyak memberi mereka bantuan ketika mereka berdua kesulitan.
"Kalian hanya berdua? " tanya Jonas.
"Ada Joan didalam dengan Anastasia. Mereka bersemangat ketika tahu kalian akan datang. Ayo masuk. " ucap Lee.
Jonas dan Isabela masuk kedalam rumah dengan rasa khawatir. Jika mereka bertemu dengan Dean, apa yang harus mereka lakukan? Mereka berjalan melewati kebun mini milik Anastasia. Tiga tahun tidak datang ke rumah ini, banyak perubahan yang terjadi.
"Kau membuat sebuah gazebo? " tanya Jonas.
"Ya, karena pada akhirnya aku akan berada di rumah. Aku berubah pikiran untuk berlibur secara terus menerus. Aku pikir liburan kami sudah cukup." ucap Lee.
Mereka bertiga memasuki sebuah gazebo. Ada beberapa ornamen klasik berupa lampu-lampu klasik yang terpasang dengan indah. Isabela sempat terpesona melihatnya.
"Duduklah." ucap Lee
__ADS_1
Jonas dan Isabela duduk. Mereka berdua terdiam. Entah apa yang harus mereka mulai. Semuanya terlihat kaku.
"Aku senang putri kalian telah kembali. Aku begitu terkejut ketika mengetahui kebenaran itu. Aku yakin kalian pun terkejut." ucap Lee.
"Aku hanya ingin langsung ke permasalahannya." ucap Jonas cepat. Ia menghela nafas. "Kau tahu jika Brittany akan menikah dengan dokter Alv"
"Tidak mungkin! " seru Joan. Ia membawa minuman untuk tamu mereka. Ia menyimpannya dimeja kemudian menatap Jonas. "Itu tidak mungkin! Bagaimana dengan Dean?"
"Dean sudah tahu tentang itu." jawab Isabela.
"Lalu bagaimana dengan wajahnya? Apakah ia baik-baik saja?"
"Apakah Dean tidak pernah membicarakan tentang hal ini pada kalian? " tanya Isabela.
"Semenjak kembali dari rumah sakit, Dean tidak pernah pulang. Ia menyibukkan diri di kantor. Terlebih ia memiliki film yang akan ia keluarkan." jawab Lee. "Kapan mereka akan menikah? "
"Alv ingin melakukannya bulan depan. Ia tidak mau menyia-nyiakan waktu liburnya." jawab Jonas.
"Tapi dad, kau ingat bagaimana pengorbanan Dean melewati masa sulit karena rasa bersalah? Apakah kau ingat bagaimana Dean kembali ke rumah ini setelah berjuang mencari Jessy Julian hingga berkeliling dunia? Apakah kau ingat bagaimana lelahnya ia?" seru Joan kesal.
"Mau bagaimana lagi, Ia sudah memutuskan. Lagipula kita tidak tahu bagaimana Dean saat ini. Ia tidak pernah mau bercerita pada kita."
Joan berpangku tangan.. "Aku akan ke kantor. Aku lebih baik bertanya secara langsung." ucapnya sambil berlari keluar.
Di kantor.
Dean mengepulkan asap rokok yang membumbung tinggi di udara. Ia melihat beberapa monitor di depannya. Beberapa perubahan warna untuk filmnya dilakukan oleh tim editor. Tinggal satu minggu filmnya diluncurkan. Ia tidak tahu jika filmnya akan tayang lebih cepat.
Beberapa hari tinggal di kantor membuat filmnya bisa cepat ditayangkan. Semua scene sudah sempurna. Sebelum ia pergi, ia ingin melihat filmnya sukses. Ia tidak mungkin tinggal di New York hanya untuk melihat pernikahan Brittany dengan dokter itu. Hatinya tidak akan sanggup.
"Selesai." ucapnya sambil berdiri.
"Apakah kau akan datang ke pemutaran pertama?"
__ADS_1
Dean menggelengkan kepalanya. Ia mengambil tongkatnya untuk berjalan. Ia melihat jam tangannya. Pukul 4 sore. Jika ia kembali ke rumah dan bertemu dengan kedua orangtuanya, ia tidak sanggup ditanya macam-macam. Lebih baik ia tinggal di kantor sementara waktu.
Langkahnya pelan melewati beberapa poster film yang pernah ia buat. Film Death. Ia ingat pertama kali bertemu dengan Brittany adalah saat film itu masih diputar. Dan karena itulah ia bisa menikahinya. Ketika ia berjalan kembali, ia melihat poster filmnya yang lain. Film paling buruk yang pernah ia kerjakan. Walaupun ia mendapatkan penghargaan sebagai sutradara terbaik dan cinematography terbaik, namun hasilnya ia harus kehilangan istrinya. Bukan hanya itu, ia pun harus mundur dari dunia film. Semuanya telah terjadi. Dan poster film barunya telah dipasang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan film ini. Sebuah genre yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya dan alasan dibalik pembuatan film ini awalnya untuk mencari keberadaan istrinya. Namun kini, semua hanya khayalan. Ia kembali sebelum film ini dirilis, namun ia harus menelan kenyataan pahit. Tidak ada lagi kesempatan baginya.
"Dean! " panggil seseorang.
Dean membalikkan badannya. Joan tiba dengan wajah pucat. Ia berjalan menghampiri nya.
"Kenapa kau datang? Apakah dad yang menyuruhmu? "
"Tidak. Aku datang atas kemauan ku sendiri." ucapnya lantang. "Dean, apakah benar Brittany akan menikahi dokter itu? " tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Dean tersenyum memaksa. "Ya. Ia sudah memilih dokter itu. "
"Kenapa kau tidak melakukan sesuatu? "
"Jika ia bahagia, aku ikut bahagia. Mencintai seseorang seharusnya seperti itu bukan? Berulang kali Brittany mengatakan tidak mau kembali padaku. Apakah aku harus memaksanya? Tidak mungkin bukan?"
Joan tiba-tiba menangis. "Aku kasihan padamu, Dean. Kenapa kau harus mengalami hal seperti ini. Kau seorang sutradara tampan. Banyak sekali wanita yang menyukaimu. Baik karena uang atau karena ketampanan mu. Tapi mengapa kisah cinta mu begitu menyedihkan? "
Dean memegang lengan Joan. "Aku baik-baik saja. Jika Brittany lebih bahagia dengan dokter itu, aku ikut bahagia."
"Tapi kenapa dengan dokter itu?" tanya Joan.
"Karena mereka sudah ditakdirkan untuk bersama." jawab Dean bijak. Ia mulai berjalan menuju ruangannya.
"Apakah Brittany tahu tentang pengorbanan mu?" tanya Joan sambil mengikuti langkah Dean
"Semua itu sudah tidak penting lagi." jawab Dean. Seketika ponselnya berbunyi.
"Ada apa Lana? " tanya Dean.
"Dean, Brittany memintaku untuk membuatkan gaun pengantin untuknya!"
__ADS_1