Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Prank


__ADS_3

Dean melihat potongan demi potongan gambar yang sudah diedit oleh editor dan dirinya. Ia cukup puas dengan hasilnya. Mengingat ia tidak ahli dengan cerita romantis seperti ini. Jika editing film ini tidak lama, ia akan dengan mudah mendekati Brittany Jonas. Itulah keinginannya. Namun semalam ia bermimpi tentang Jessy. Dalam mimpi pun Jessy tidak mau menatapnya. Ia pergi meninggalkannya dengan seorang anak kecil. Ia mulai ragu. Tapi perasaannya pada Brittany sama seperti perasaanya pada Jessy. Ia jatuh cinta.


"Para kritikus sudah siap menyerang." ujar Lee.


"Aku tidak peduli, dad. Dari film ini aku hanya ingin menyampaikan pesan untuk Jessy. Jika ia melihat artis dan aktor yang terlibat, ia pasti menontonnya. Itupun jika ia masih hidup. Tidak ada yang tidak mungkin." jawab Dean tanpa melepaskan tatapannya pada monitor.


"Kid, aku mendengar kau sedang mengejar seorang wanita. Siapa dia?"


Dean terkejut. Ia menatap ayahnya. "Siapa yang mengatakannya?"


"Joan. Aku mendengar karena ia mirip dengan istrimu, lalu kau kejar. Dad harap kau tidak melakukannya karena ia mirip Jessy. Kasihan. Ia akan merasa menjadi pengganti istrimu." jawab Lee.


"Kau salah dad. Aku sedang menyelidiki sesuatu. Sebenarnya aku merasa ia adalah Jessy. Tapi itu masih kuselidiki. Sekarang Lana ada bersamanya."


"Wajah mereka berbeda, kid. Aku sudah melihatnya."


"Ia sudah mengubahnya."


"Bagaimana bisa ia melakukannya? untuk apa?"


Dean mengangkat bahunya. "Hanya ia yang tahu."


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Ia mengambilnya. Dari Lana. Ketika ia membuka isinya, ia terkejut. Ia langsung berdiri.


"Maaf dad, aku pergi dahulu." ucapnya panik.


"Jangan lupa makan malam dirumah!" teriak Lee.


Dean tidak mendengarnya karena ia telah berlari secepat mungkin menuju mobilnya. Sial, lagi-lagi Harris! Melihat Lana mengirimkan pesan teks padanya tentang Brittany yang akan menandatangani kontrak hari ini dengan Harris membuat darahnya mendidih. Ia akan menggagalkan segala upaya Brittany. Ia mengenal Harris karena telah lama bekerjasama. Harris tidak akan membiarkan artis mereka tenang. Harris akan terus memeras tenaga mereka untuk bekerja. Bahkan setiap skandal akan ia keluarkan demi popularitas. Ia tidak akan membiarkan Brittany melakukannya.

__ADS_1


Mobilnya memasuki halaman gedung yang telah lama ia tinggalkan. Tidak banyak perubahan berarti. Tentu saja, Harris tidak akan berani mengeluarkan dana sepeserpun untuk melakukan perubahan pada gedung ini. Ia menunggu didalam mobil. Menurut keterangan Lana, ia baru saja berangkat dari kondo milik Brittany.


Tidak perlu menunggu lama untuk melihat sebuah mobil masuk. Terlihat Lana disana. Tanpa lama-lama Dean keluar dari mobilnya dan berlari menuju mobil yang baru saja berhenti itu. Brittany keluar dari mobil, namun tangannya langsung ditarik oleh Dean. Ia terkejut ketika melihatnya.


"Kau tidak bisa melakukannya!" seru Dean.


"Kau siapa berhak mengaturku? Apa yang aku lakukan, semua adalah urusanku!" jawab Brittany marah.


"Kau tidak tahu bagaimana Harris itu!"


Brittany melepaskan tangannya. "Aku akan tahu dan itu semua bukan urusanmu. Apa yang aku lakukan sudah aku pikirkan. Apa yang akan terjadi padaku nanti, aku yang akan menjalaninya. Jadi jangan mengganggu urusanku!"


"Itu memang bukan urusanku, tapi mengapa kau memilih bekerja sama dengan Harris bukan dengan ku?" tanya Dean sambil memegang kedua bahu Brittany.


Wajah Dean terlihat frustasi. Brittany baru saja melihatnya. Ia melepaskan kedua tangan Dean di bahunya. "Maaf tuan sutradara, kita tidak sedekat ini jadi jangan menyentuhku!" jawab Brittany sambil berjalan meninggalkannya.


"Kenapa kau sangat keras kepala sekali?" teriak Dean.


Pintu ruang meeting terbuka dengan lebar. Para karyawan yang baru saja menyelesaikan meeting dengannya terlihat puas. Bagaimana tidak, karena keyakinannya terhadap Brittany yang akan menandatangani kontrak dengannya, ia rela mendapatkan proyek sebuah film baru. Ia telah bertemu dengan produser dan director untuk membahas film ini. Beberapa sponsor bahkan sudah mulai tertarik dan langsung membuat kesepakatan dengannya. Ia percaya diri Brittany akan menandatangani kontrak.


Harris menatap salinan kontrak yang dibuat olehnya dan manajer Brittany. Semuanya sempurna. Kedua belah pihak sudah setuju. Ia senang, popularitasnya akan kembali meningkat setelah kepergian Dean dari perusahaannya. Ia menyandarkan punggungnya dan tersenyum puas.


"Harris, ada tamu di kantor mu." panggil sekretarisnya.


Harris tersenyum. "Aku akan kesana."


Ia berdiri dan mulai melangkah dengan santai menuju kantornya. Ia tersenyum puas. Kali ini Dean akan kalah. Pintu ruangannya terbuka lebar. Ia melihat Deniz berdiri didekat pintu. Sedangkan Brittany sedang duduk dengan sopan. Hanya saja pakaiannya yang sedikit tidak sopan. Ia terkekeh tanpa sadar. Ia menyukainya ketika Brittany memakai pakaian terbuka seperti itu.


"Aku senang kalian datang.." ucap Harris. Ia duduk di kursinya dan menatap Brittany. "Bagaimana kabarmu, sayang?"

__ADS_1


"Aku baik dan sedang berbunga-bunga." jawab Brittany senang. Ia melirik Deniz. "Benar bukan? Kau tidak melihatku sedih bukan?"


"Tentu saja " jawab Deniz sambil tersenyum.


"Baiklah, bagaimana kita memulainya? Apakah kau mau langsung menandatangani kontrak? Aku pikir karena kau sudah ada disini, kita bisa santai melakukannya."


"Aku mendengar kau sudah mendapatkan film yang akan kau buat untukku. Apakah itu benar?" tanya Brittany.


"Tentu saja. Proyek besar ini aku siapkan untukmu. Kau akan semakin terkenal."


Bukan itu yang aku mau. Aku hanya ingin kau hancur karena aku. Brittany tersenyum. "Aku tersanjung karena kau melakukannya untukku. Bisa aku melihatnya?"


"Tentu saja." jawab Harris. Ia mengeluarkan proposal film yang akan dibuat olehnya.


Brittany membacanya. Sebuah film dengan kontrak fantastis. Keuntungannya pun tidak dapat diragukan lagi. Ia menatap Harris. "Luar biasa."


Harris tersenyum. "Aku tidak mungkin memberikanmu pekerjaan yang biasa saja. Kemunculanmu pun sangat tiba-tiba dan membuat semuanya meledak sejak awal. Lalu kapan kau akan menandatangani kontrak ini?"


"Sayangnya aku tidak akan pernah menandatangani kontrak denganmu, Harris!" ucap Brittany tiba-tiba.


Wajah Harris langsung pucat. "Apa maksudmu?"


"Aku tidak berniat menandatangi kontrak denganmu. Aku hanya ingin melihat kehancuranmu. Wajahmu terlihat lucu sekali." jawab Brittany sambil berdiri. "Selamat tinggal, Harris. Ternyata begitu mudah melihatmu hancur. Ayo Deniz!" ucapnya tenang. Ia menarik Deniz yang masih kebingungan.


"Brittany! jangan bermain-main denganku!" teriak Harris marah.


Brittany hanya melambaikan tangannya dah berjalan menuju lift.


"Apa yang kau lakukan? Harris akan rugi besar karena sponsor film itu menginginkanmu!" tanya Deniz.

__ADS_1


"Apakah aku peduli tentang itu? Tentu saja tidak peduli." jawab Brittany. "Ayo kita pulang, aku ingin berpesta.. Oh ya, jangan katakan apapun pada Lana dan Joey. Aku yang akan mengatakannya."


__ADS_2