
Alunan musik romantis masih diputar sebagai tanda pesta itu akan berakhir. Beberapa pasangan ikut turun untuk berdansa. Mereka semua bahagia. Kecuali pengantin wanita yang memasang wajah masam sejak ia masuk ke ruangan. Dean mempererat rangkulannya pada pinggang Jessy. Ia menatapnya.
"Apakah kau marah padaku?"
"Tidak" jawab Jessy tanpa mau menatapnya.
"Aku tahu kau marah padaku. Masih marah gara-gara wanita tadi?" goda Dean.
"Aku bilang tidak!" jawab Jessy kesal.
"Kalau tidak marah, kenapa harus marah?" goda Dean kembali.
Jessy menatap Dean dengan mata besarnya. Dean langsung memeluk Jessy. Wajahnya ia simpan di bahu wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu. "Maafkan aku. Sudah aku katakan beberapa kali. Aku tidak pernah tertarik pada wanita. Aku tidak pernah merasakan ada getaran. Kau mengerti? Aku tidak pernah tahu apa itu cinta. Jika kau memiliki kemampuan untuk itu, buatlah aku jatuh cinta padamu, Jessy." bisik Dean.
Jessy teringat ucapan Lana. Dean tidak pernah sekalipun jatuh cinta atau memiliki kekasih. Wanita yang menghampirinya banyak tapi tidak pernah sekalipun ia memberikan respon. "Kau menikahiku bukan untuk alasan itu. Kau tidak ingin aku menjadi sebuah berita. Apakah kau tidak sadar? aku menikah denganmu pun sudah menjadi berita. Namun aku telah siap dengan berbagai berita itu. Kau sendiri yang memaksaku untuk masuk kedalam duniamu. Jika aku tidak menikah denganmu sekarang, aku sedang tertidur di tempat tidur yang ada di apartemen miniku."
"Apartemen kumuhmu itu?" tanya Dean sambil tertawa.
"Tempat yang menurutmu adalah tempat kumuh, bisa membuatmu tidur dengan nyenyak diatas tempat tidurku." jawab Jessy.
Dean tertawa ringan. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Jessy gemas. "Selalu ada jawaban atas pernyataanku."
"Aku bukan benda mati." jawab Jessy.
Dean kembali tertawa. Ia melihat ke sekelilingnya. Para tamu mulai meninggalkan ruang pesta. Badaipun sudah terlihat sedikit mereda. Hanya air hujan yang masih turun walaupun tidak sebesar tadi.
__ADS_1
"Tentu saja kau adalah benda hidup. Kau cantik. Memiliki mata indah, rambut yang indah, tubuh yang indah..."
"Apakah aku sudah cocok menjadi seorang istri sutradara?" tanya Jessy.
Dean melihat wajah Jessy yang polos. Ia melupakan sedang marah padanya. Ia tersenyum. "Kau cantik sekali. Kau tidak menyadari ketika kita bersumpah tadi, banyak sekali wartawan yang mengambil fotomu."
"Kau beruntung karena menikah denganku. Kalau kau menikah dengan wanita lain, mungkin beritanya tidak akan sebesar ini. Mungkin karena aku wanita biasa. Seorang pegawai laundry dan tinggal di tempat tinggal kumuh. Kau harus berterima kasih padaku."
"Kau pintar, Jessy.." ucap Dean sambil tersenyum.
"Aku takut kehilangan satu juta dollar itu."
Dean sempat terkejut. Tapi ia tidak peduli. "Untuk apa uang satu juta dollar itu?" tanyanya sambil mempererat pelukannya.
"Aku ingin keliling dunia." jawab Jessy.
"Aku tidak tahu sampai kapan kau akan menikahiku. Bisa saja kau pergi meninggalkanku dan tidak kembali."
"Itu tidak mungkin. Pekerjaanku memang mengharuskan ku pergi kemanapun. Tapi pada akhirnya aku akan kembali ke rumah."ucap Dean
Jessy tampak berfikir. Ia kembali menatap Dean. Pekerjaan Dean sebagai sutradara memang berat. Ia harus pergi ke satu tempat dan ke tempat lain untuk mencari lokasi. Ia sempat mendengar dari Lana jika pekerjaan Dean akan membuatnya fokus karena Dean gila bekerja. "Apakah aku boleh memelukmu?" tanya Jessy tiba-tiba.
"Tentu saja kau bisa melakukannya." jawab Dean sambil tersenyum.
Jessy mengangkat kedua tangannya melingkari leher Dean dan memeluknya erat. Ia juga dapat merasakan kedua tangan Dean membalasnya dengan memeluknya. Ia membuka matanya dan melihat sekeliling. Tiba-tiba ia terkejut dan melepaskan diri. Ia kembali melihat sekeliling. Kemana para tamu undangan?
__ADS_1
"Kenapa?"tanya Dean.
"Kemana tamu-tamu yang ada disini?" tanya Jessy bingung.
"Sepertinya mereka sudah pulang." jawab Dean sambil tersenyum.
"Apakah acaranya sudah selesai?" tanya Jessy kembali.
Dean berjalan menghampiri Jessy. "Sepertinya. Kita berdua terlalu fokus berbicara sehingga kita tidak menyadari jika tamu sudah pulang." jawab Dean sambil tertawa.
"Lalu kita akan kemana sekarang?" tanya Jessy. Ia melihat ke kaca. Badai memang sudah berhenti. Hanya sisa-sisa rintik hujan yang membasahi tanah.
"Sementara kita akan pulang ke apartemenku. Besok sangat pagi sekali kita akan terbang ke Argentina untuk melihat perkebunan anggur Zuccardi Valle de Uco yang berada di lembah Uco, kaki pegunungan Andes. Aku yakin kau akan menyukainya. Tempatnya sangat indah."
"Kenapa kau mau membawaku kesana?" tanya Jessy.
"Tentu saja pernikahan kita membutuhkan honeymoon. Aku akan pergi meninggalkanmu dua minggu kedepan untuk syuting. Mana mungkin aku memberikan kesan buruk di awal pernikahan kita."
Jessy merangkul lengan Dean. "Baiklah, ayo kita pulang sekarang. Aku ingin berjalan kaki ke apartemenmu." ucap Jessy bersemangat.
Dean melihat dirinya yang masih menggunakan tuxedo. "Dengan pakaian ini?"
"Kau keberatan? Aku tidak masalah karena semuanya sudah tahu jika kita sudah menikah. Kapan lagi berjalan di Kota New York dengan pakaian pengantin seperti ini." ucap Jessy.
Dean menggenggam tangan Jessy dan berjalan ke mobilnya. Disana supir sudah menunggu. "Baiklah, ayo kita berjalan kaki. Tapi akan lebih baik kau menggunakan mantelmu karena cuacanya sangat dingin." ucap Dean sambil membuka bagasi mobilnya. Ia mengeluarkan dua buah mantel yang memang selalu tersedia didalam mobilnya. Ia memakaikannya pada Jessy dan memakainya untuk sendiri.
__ADS_1
"Ayo kita pergi." ucapnya.
"Ayo.. " jawab Jessy bersemangat. Ia refleks mengangkat tangannya dan memegang tangan Dean. Merekapun mulai berjalan meninggalkan gedung pernikahan mereka dengan berjalan kaki.