Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Good News


__ADS_3

“Jessy hamil? “ seru Joan terkejut.


Alhasil orang-orang yang berada di butik nya terkejut. Ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya setelah mendengar kabar baik hari ini. Ia membayangkan wajah kedua orangtuanya dan adiknya. Walaupun Jessy sempat divonis tidak bisa memiliki anak, tapi mereka bekerja keras mengobatinya. Alv pun pernah bercerita padanya mengenai kondisi Jessy. Ia pernah mengatakan jika Jessy masih bisa hamil jika diobati dengan baik. Mungkin karena itulah mereka berusaha. Dan sekarang kabar baik itu datang.


Tidak ingin berlama-lama merayakan kebahagiaan keluarganya ditempat ini, Joan berlari menuju ruangannya dan mengambil tasnya. Ia ingin


melihat Brittany dan mengucapkan selamat atas kehamilannya. Namun sebelum itu, ia harus menghubungi suaminya.


“Alv! Brittany hamil. Aku langsung ke rumah untuk menemuinya. “ seru Joan ketika Alv baru saja mengangkat telepon.


“Aku tahu itu. Aku akan menjemputmu nanti malam. Sore ini ada sedikit operasi kecil. Aku tidak bisa ke sana sekarang“ jawab Alv sambil tersenyum. Akhirnya, hal yang ditunggu-tunggu tiba. Brittany pernah merasakan pahit karena kehilangan bayinya tiga tahun yang lalu. Mendengar ia hamil, ia senang sekali. Sesuai dengan prediksinya beberapa waktu yang lalu. Ternyata ia benar. Brittany tengah mengandung. Matanya saat itu tidak bisa dibohongi saat itu. Perubahan mencolok pada Brittany mengingatkannya pada salah seorang pasiennya yang terkejut pada kehamilannya yang mendadak padahal saat itu ia sedang melakukan diet ketat. Ia tidak tahu akan hamil.


Alv duduk di kursi dan menyandarkan punggungnya. Akhirnya seluruh perasaannya pada seorang Brittany Jonas telah hilang. Ia lega. Tiba-tiba ia tersenyum. Bayangan liarnya mulai menghampiri nya. Ia membayangkan jika Joan yang sedang mengandung anaknya. Bagaimana mereka nanti?


Joan menggunakan taxi menuju rumah kedua orangtuanya. Tanpa sadar ia memegang perutnya. Jika suatu hari ia diijinkan untuk mendapatkan seorang anak dari Alv, ia tidak dapat membayangkan bagaimana bahagianya keluarganya. Seorang cucu yang sangat ia inginkan bukan saja dari Dean tapi dari dirinya juga.


...Jika suatu saat nanti kau hadir di perutku, aku akan menyambut mu...


Di rumah keluarga Lee.


Dean menggenggam tangan Jessy dengan erat. Ia menatapnya lama. Rasa sayang dan cintanya semakin besar setiap hari. Dan hari ini, ia mendapatkan berita yang sangat luar biasa baik. Ia akan memiliki anak.


Pertaruhan selama beberapa bulan menghasilkan sesuatu yang baik. Jika ia bisa bertemu dan mengatakan terima kasihnya kepada tabib yang menyembuhkan istrinya, ia akan langsung menemuinya. Hanya saja ia tidak mungkin bisa melakukannya saat ini karena tabib yang menyembuhkan Jessy sudah meninggal minggu lalu. Kehamilan Jessy adalah mukjizat bagi mereka


berdua. Perjalanan panjang semasa bulan madu mereka membuahkan hasil. Jessy sembuh.


Salah satu tangan Dean memegang perut Jessy. Kehamilannya menuju minggu ketujuh. Ia membayangkan wajahnya. Jika seorang perempuan, mungkin wajahnya mirip sekali dengan Jessy. Sifatnya seperti Jessy atau sifatnya seperti dirinya? Begitupun sebaliknya jika ia memiliki anak seorang laki-laki, mungkin wajahnya mirip dengannya. Ia menghela nafas perlahan. Ia sudah tidak sabar menunggu setiap proses yang terjadi selama sembilan bulan ini. Entah mengapa ia merasa sedih sekali jika mengingat perjuangan Jessy selama ini. Ia menundukkan kepalanya. Ia merasa buruk sekali. Ia menitikkan air mata. Air mata kebahagiaan dan air mata penyesalan. Jika saat itu ia tahu keadaan Jessy yang sebenarnya, mereka berdua tidak akan kehilangan bayi yang sedang Jessy kandung. Kali ini ia akan melindungi bayi dan Jessy sekalipun nyawanya yang akan menjadi taruhannya.


Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pipinya. Ia mengangkat kepalanya. Jessy sedang tersenyum padanya.


“Kau masih tidak percaya aku hamil? “ tanya Jessy pelan.


Dean mengangguk cepat. “Semuanya sangat tiba-tiba. “


“Bukankah kau sudah tahu sebelumnya?” tanya Jessy kembali.


“Aku hanya asal bicara. Tapi mendengar Alv mengatakan hal itu, jantungku berdebar dengan kencang. Aku berbicara seakan-akan aku sudah tahu. Padahal sebenarnya aku tidak tahu. Aku mengatakan pada vendor mu tentang kehamilan mu saat itu dengan alasan kau hamil. Kau tahu Jantungku saat ini masih berdebar dengan kencang. Aku masih tidak percaya. Aku melihat bayi kita di layar monitor itu. Ada detak jantung!” seru


Dean dengan mata berkaca-kaca.


“Ya, Alv mengatakannya padaku. Tapi aku tidak langsung mempercayainya. Walaupun kau mengatakannya juga, aku tetap tidak percaya selama kita belum memeriksanya. Untuk itu aku mengajakmu hari ini ke dokter kandungan. Ternyata ucapan Alv benar. “


“Alv seorang dokter juga, sayang. Kau harus ingat itu. Ia dapat melihat perubahan padamu. “ ucap Dean.


Jessy mengangkat jari-jarinya dan menghapus air mata Alv. “Kau terlihat cengeng. Bagaimana jika anakmu melihatmu menangis seperti ini? Kau tidak malu? “ godanya.


Dean tersenyum. “Aku menangis karena keberadaannya diperut mu. Aku tersentuh dan sangat terharu. “


Jessy bangun dari tidurnya dan memeluk Dean dengan erat. “Jangan menangis, dad. Aku akan tumbuh dan lahir dengan baik. “


Dean membalas pelukan Jessy dengan erat.

__ADS_1


...***...


Pintu gerbang dibuka dengan kencang. Joan berlari agar sampai dengan cepat ke dalam rumahnya. “Mom, benarkah Jessy hamil? “ teriak Joan.


Anastasia mengangguk. Ia menghampiri Joan. “Minggu ketujuh.” Jawabnya sambil tersenyum senang.


“Lalu dimana dad sekarang? Aku ingin menemuinya“


“Ada di ruangannya. “


Tanpa lama-lama, Joan berlari ke ruangan belakang. Ia ingin melihat keadaan ayahnya sebelum melihat kondisi Jessy. Pintu ruangan ayahnya terbuka. Ia melihat ayahnya tengah membaca sebuah buku di kursinya.


“Dad! “ seru Joan.


Lee bangun dari duduknya. “Joan, aku akan memiliki seorang cucu.. “ ucapnya dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Kedua matanya


berkaca-kaca.


Joan tahu kebahagiaan terbesar ayahnya adalah melihat anak-anaknya bahagia. Ditambah dengan berita kehamilan Jessy. Ia melangkah menuju ayahnya dan memeluk nya. “Selamat dad, kau akan menjadi kakek. “


“Aku seperti bermimpi disiang hari, Joan. “ ucap Lee


terharu.


“Aku bahagia karena perlahan kehidupan kita menjadi lebih baik. Aku ikut bahagia atas kehamilan Jessy. “


“Kau pun harus bahagia, sayang. Kau harus berfikir untuk memberikanku cucu juga. Bagaimanapun kalian sudah resmi menikah. Jika aku mendapatkan seorang cucu darimu, kebahagiaanku bertambah banyak. “


“Itu pasti. Apalagi yang seorang ayah inginkan jika bukan kebahagiaan anaknya. Aku pasti mendoakan mu.”


“Dad, aku harus melihat Jessy. Nanti kita melanjutkan obrolan kita.” bisik Joan.


“Ya, kau harus melihatnya.” Seru Lee.


Joan berjalan keluar dari ruangan ayahnya menuju kamar Dean. Ia mengetuk pintu sambil berteriak.. “Jessy! “ panggilnya.


Dean membuka pintu setelah mendengar teriakan Joan. Beberapa waktu yang lalu ia diberitahu, tanpa disangka ia datang dengan sangat cepat.


“Kau datang terlalu cepat.” ujar Dean malas.


Joan mendorong tubuh Dean dan masuk dengan cepat. Ia menghampiri Jessy dengan cepat.


"Bagaimana rasanya? " tanya Joan


Jessy tersenyum. "Biasa saja. Aku tidak merasakan apapun. "


"Jangan ganggu Jessy. Ia harus istirahat. " seru Dean.


"Jessy, beberapa hari yang lalu aku melihat Dean seorang diri di restoran. Apakah kau tidak curiga sesuatu? " bisik Joan.


"Hey... Kau datang kesini untuk melihat Jessy, bukan untuk bergosip." ejek Dean.

__ADS_1


"Aku datang untuk melihat keadaan Jessy. Setelah melihat keadaan Jessy baik-baik saja, aku ingin berbicara sesama wanita. Lebih baik kau keluar dan jangan mengganggu kami. "


"Tidak bisa. Jessy harus banyak beristirahat. Jika kau hamil, Alv pun akan melakukan hal yang sama."


"Kembali ke masalah kehamilan. Jadi, usia kandungan mu berapa bulan? "


"Minggu ketujuh. Detak jantung sudah terdengar. Dean tadi hampir menangis ketika melihat itu dari layar monitor. Ia sangat antusias sekali. " jawab Jessy.


"Pasti. Ini bayi kalian yang kedua. Pasti Dean antusias. Kau harus menjaganya. Jika aku hamil, aku tidak tahu bagaimana menghadapinya. " ucap Joan sambil memegang perutnya.


Jessy melirik pada Dean. Ia berbisik pada Joan. "Jika kalian sudah berbaikan, apakah kalian sudah tidur bersama? "


"Apa yang kalian perbincangkan? " tanya Dean keras.


Joan tidak peduli dengan ucapan Dean. "Tentu saja. Alv tidak pernah membuatku tidur nyenyak. " balas Joan sambil berbisik.


"Apakah kalian sudah membicarakan tentang keturunan? "


Joan menggeleng. "Belum sampai sana. Kami masih menikmati masa pernikahan yang masih baru ini. "


Jessy melihat Dean keluar karena tidak diajak mengobrol.


"Lalu bagaimana? " tanya Jessy dengan suara normal.


"Aku memikirkan sesuatu. Tapi, ini adalah masalahku. Ini adalah sebuah bom yang setiap saat bisa saja meledak. "


Jessy mengerutkan keningnya. "Apa itu? "


Joan terdiam. Ia menundukkan kepalanya.


"Kau bisa bercerita padaku. Aku mengenal Alv sangat dekat sejak tiga tahun yang lalu. Apakah ini tentang adiknya? "


Joan terkejut. "Kenapa kau bisa tahu? "


"Aku tahu karena sejak awal Lily tidak setuju kalian menikah. Namun siapa sangka kalian malah jatuh cinta dan menikmati pernikahan ini. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan diam jika Lily sampai menyakitimu. "


"Aku tidak tahu bagaimana Alv saat ini. Apakah ia terpikir tentang adiknya yang seperti itu? "


"Alv pasti memikirkannya. Tapi, Alv pria bertanggungjawab. Ia pasti sudah memiliki rencana. Kau jangan takut. "


"Aku tidak takut pada siapapun. Aku hanya takut kehilangan Alv karena wanita itu. "


"Apakah Alv sudah bercerita tentang masa lalunya? Tentang keluarganya dan tentang adiknya? " tanya Jessy pelan.


Joan mengangguk.


"Itu berarti Alv sangat mencintaimu. Ia tidak main-main. Ia sangat sulit menceritakan keluarganya pada siapapun. Termasuk aku yang saat itu sangat dekat dengannya. Aku hanya memiliki satu jawaban untuk kerisauan hatimu. "


Joan mendekatkan kepalanya. "Apa itu? "


"Hamil. Kau harus hamil anak Alv dalam waktu dekat. " bisik Jessy.

__ADS_1


"Apa? " teriak Joan tak percaya


__ADS_2