Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
New Chapter


__ADS_3

Sorot cahaya, jepretan blitz kamera, teriakan kameraman, dan sibuknya orang-orang membuat suasana pemotretan itu terasa cepat berlalu. Pemotretan ini menjadi proyek untuk kesekian kalinya bagi Brittany. Bagaimana tidak, semuanya gara-gara acara yang ia datangi saat itu. Hari yang dapat mengubah segalanya. Satu bulan telah berlalu, permintaan dari beberapa agensi dunia mulai berdatangan. Mereka berebut untuk menarik perhatiannya. Nilai kontrak yang cukup besar mereka tawarkan. Namun tidak bagi Brittany. Ia harus menahannya hingga semuanya siap. Ia tidak akan menerima semuanya hingga orang-orang itu menyadari keberadaannya.


Ia teringat pertama kali ia dikenalkan pada media ketika acara peragaan busana yang ia lakukan di Paris satu bulan yang lalu. Ia hanya melakukan kesalahan sedikit saja namun membuat hal itu menjadi ingatan bagi banyak orang. Ya, tidak ada yang menyangka kesalahannya pertama kali diatas panggung adalah harus kehilangan satu sepatunya. Baginya hal itu sesuatu yang fatal, namun tidak bagi penonton dan para designer yang hadir disana. Semuanya terjadi begitu cepat sehingga ia harus melewatkan pencarian sepatunya yang hilang. Model yang ada disana bukan hanya satu atau dua orang. Puluhan model didatangkan dari berbagai dunia. Bisa dibayangkan jika ia harus mencari sepatunya diantara kaki-kaki jenjang para model. Pengenalan produk dari beberapa designer langsung dilakukan bersama-sama. Ketika kesalahan bodohnya menjadi sebuah perhatian, ia sempat ketakutan ketika berfikir Joan Lee akan menjadi salah satu designer yang ikut terlibat. Namun, dugaannya salah. Ia datang sebagai tamu undangan. Tetap saja, Joan sempat mencuri perhatiannya. Ia terus menatapnya. Beruntungnya ia bisa melarikan diri.


Dugaannya pun sempat salah ketika mendapat sorotan dari sahabat Dean.  Lana terus mencercanya dengan berbagai pertanyaan yang sulit ia jawab. Tapi dewi fortuna masih berpihak padanya. Ketika ia mulai tersudut, Lana harus segera mengurus para model dibelakang panggung.


Kembali pada cerita kehilangan salah satu sepatunya. Sepatunya itu bernilai fantastis. Karena saat itu ia tengah memamerkan sebuah tas dan sepatu. Namun karena itulah, kini ia menjadi salah satu model sepatu premium dengan pasar para aktris maupun para sosialita dunia. Kini saatnya ia menunjukkan seorang pesona Brittany Jonas yang baru. Brittany Jonas adalah aktris dengan mental sekuat baja, ia berani, cantik dan sexy. Banyak yang akan kesulitan menandinginya. Beruntungnya Alv memberikan sebuah perubahan bukan hanya pada wajahnya. Namun ada beberapa tubuhnya yang mengalami perubahan. Tubuhnya kini semakin padat dan sexy, itu harus dilakukannya untuk menunjang pesonanya.


Segala pose sudah ia lakukan dengan semua kemampuannya. Ia tidak pernah canggung melihat kamera. Kameraman sempat ragu namun ia bisa bekerja dengan baik. Oh ya, pemotretan kali ini dilakukan disebuah kastil yang berada di salah satu negara di Eropa.


“Oke, finish!”teriak kameraman.


Seorang gadis remaja menghampirinya sambil berlari. Ia memegang sebuah catatan dan cardigan ditangannya. Joey, usianya kini menginjak remaja. Jika kalian belum tahu. Joey ini adalah salah satu penghuni yayasan dimana ia tinggal dulu. Ia sengaja mengadopsi Joey dengan nama kedua orangtuanya. Ia ingin Joey hidup dengan baik.  Ia menyayangi Joey seperti adiknya sendiri. Mrs. Elisa sempat terkejut dengan keberadaan dirinya. Ia bisa menceritakan semua yang terjadi padanya dengan mudah dan tentu saja ada sesuatu yang masih harus disembunyikan. Ia ingin membuat yayasan Mrs. Elisa tumbuh semakin baik. Untuk itulah ia mengadopsi Joey.


Brittany menarik cardigan yang dipegang oleh joey dan memakainya. Ia berjalan menuju mobil van. Manajernya berdiri diluar mobil. Sebuah ipad selalu ia pegang.


“Ada berita terbaru mengenai sepatu yang hilang itu?” goda Brittany.


Pria berwajah Eropa itu tersenyum. “Kau masih dijuluki Cinderella modern bagi para brand. Apakah kau sudah tahu jika iklan pertamamu akan dipasang malam ini di seluruh mall di Turki?” tanya Deniz.


Brittany menatap pria itu cepat. Kedua matanya membesar. Ia tidak percaya iklan pertamanya akan launching malam ini. Ia pernah melihat foto-foto yang akan dipakai untuk billboard disalah satu mall. Itu adalah Brittany Jonas. Bukan wanita lain. Ia bangga. “Aku terkejut dan sedikit terharu. Tentu saja, itu iklan pertamaku.”


“Kau pasti ingin tahu sambutan yang akan kau dapatkan dari iklan pertamamu, bukan?”

__ADS_1


“Tentu saja. Apakah aku bisa melihatnya sekarang?” tanya Brittany.


“Tunggu beberapa jam. Lebih baik kita kembali ke hotel. Besok pagi kita harus kembali ke Turki. Banyak pekerjaan yang sudah menunggumu.”


Brittany menatap Joey. “Kau senang bukan, Joey?”


“Tentu saja. Jess” Jawab Joey tertahan sebelum ia menyadari salah memanggil nama. “Brittany..” ucapnya kemudian.


Brittany tersenyum. Ia berbisik pada Joey. “Nanti kau akan terbiasa memanggilku Brittany.”


Joey mengangguk. “Maafkan aku.”


Brittany memegang lengan Joey sambil tersenyum. “Tidak apa-apa sayang. Ayo kita kembali ke hotel.”


Dean tengah membawa mobil yang ia sewa ke sebuah tempat tinggi. Menurut aktor lokal yang ia pakai untuk filmnya, Camlica hills bisa menjadi tempat yang paling indah ketika merasakan kerinduan pada keluarga. Ya, ia sangat merindukan Jessy. Melihat adegan-adegan romantis aktor dan aktris utama membuatnya sedih. Ia terlalu larut pada jalan cerita film yang dibuatnya. Sudah satu bulan ia lalui dengan membuat film di tempat baru. Namun rasa rindu itu terus menghampirinya. Hari ini merupakan hari terakhir di Istanbul karena pengambilan gambar telah selesai.


Mobilnya telah sampai ditempat yang dimaksud. Ia terdiam dan takjub melihat keindahan kota dimalam hari. Seandainya saja istrinya ada di kota ini bersamanya, mereka bisa menikmati pemandangan kota ini berdua. Walaupun belum terlalu malam., namun lampu-lampu kota membuat semuanya menjadi indah. Ia tidak bisa menggambarkan keindahan kota dengan kata-kata. Ia hanya bisa mengambil foto setiap tempat yang membuat ia menarik.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi ketika ia sedang mengambil gambar. Seseorang akan mengganggunya dengan beberapa candaan. Ia yakin itu.


“Halo..”


“Aku merindukanmu, sayang..” ucap seseorang dibalik telepon.

__ADS_1


“Lana, bagaimana kabarmu?” tanya Dean cepat.


“Aku pikir ponselmu diganti. Aku baru saja selesai dengan semua pekerjaanku. Lusa aku kembali ke NY.” jawab Lana.


“Aku tidak mungkin mengganti ponselku. Aku takut Jessy sulit menghubungiku.” ucap Dean sedih.


“Aku sedih karena Jessy belum kau temukan. Tapi Dean, aku menemukan seseorang yang mirip sekali dengan Jessy. Apakah mungkin seseorang bisa merubah jati dirinya dalam waktu tiga tahun?” tanya Lana


“Lana, jangan bicara omong kosong. Untuk apa Jessy melakukannya? Lagipula saat ini aku sedang benar-benar merindukannya. Ucapan mu mengenai Jessy membuatku sedih dan aku semakin merindukannya.” jawab Dean.


“Maafkan aku, Dean. Mungkin aku memang salah. Aku tidak akan mengganggumu malam ini. Besok aku akan menghubungimu kembali.”


Dean menyimpan ponselnya disaku celananya. Kedua tangannya memegang pagar pembatas. Ia menunduk sedih. Ia menyesal membuat Jessy terluka. Ia terus memikirkan Jessy dengan bayinya.


Ketika melihat jam tangannya, ia pikir perjalanannya di Camlica Hills telah selesai. Ia akan berjalan-jalan di kota sambil melihat suasana malam. Selama syuting, ia tidak pernah melihat kegiatan malam warga sekitar. Mungkin saja perasaannya akan jauh lebih baik jika ia melihat banyak orang.


Mobilnya ia bawa ke kota. Ada beberapa kegiatan yang membuatnya tertarik. Beberapa pemuda dan pemudi tengah berkonvoi untuk merayakan sebuah kemenangan sepakbola kebanggaannya. Mereka memakai atribut kesebelasan yang mereka dukung.


Selesai dari itu, ia membawa mobilnya ke depan sebuah mall. Jalanan saat itu sedikit ramai. Ia belum bisa bergerak. Ia menoleh untuk melihat aktifitas beberapa orang pekerja. Pemasangan billboard baru. Billboard apa yang akan mereka pasang? Karena merasa tertarik dengan antusias orang-orang disana, Dean penasaran. Ia menyimpan mobilnya dipinggir jalan agar mobil lain bisa maju terlebih dahulu. Walaupun saat itu tengah macet.


Dari orang-orang, ia dapat mendengar nama seseorang disebut. Brittany Jonas. Ia baru mendengar nama itu. Ia menunggu sebentar hingga billboard itu dinaikkan. Terpasang dengan sempurna. Saatnya ia pulang ke hotel yang berada tak jauh dari tempatnya saat ini. Ia kembali menaiki mobil dan menyalakannya dengan mudah. Ia melirik sekilas. Lampu billboard perlahan mulai terang. Namun belum seluruhnya. Ia kembali menatap kedepan. Teriakan orang-orang semakin kencang. Ia menoleh kembali. Lampu billboard sudah menerangi billboard itu dengan sempurna. Kedua matanya terbelalak. Ia terkejut dan tidak percaya apa yang dilihatnya. Ia menghentikan mobilnya dengan cepat. Ia tidak peduli teriakan orang-orang dari mobil dibelakangnya.


 *PROLOG*

__ADS_1


__ADS_2