
Jessy merasa dirinya tengah melayang. Seluruh tubuhnya sakit sekali, apa yang terjadi padanya? Ia merasa takut. Ia tidak bisa membuka kedua matanya. Ia mendengar suara bayi sedang menangis. Bayinya? Apakah bayinya baik-baik saja? Kenapa ia menangis? Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Bertahanlah demi mama! Mama yang akan membesarkan mu seorang diri. Hanya mama yang akan menyayangimu. Tolong jangan menangis lagi. Hati mama sakit mendengarnya. Tolong bertahanlah..
"Korban kehilangan banyak darah dan sedang hamil. Saat ini korban kritis. Perjalanan dari Santorini menuju Athena membuat pasien hampir tidak bisa bertahan,dok! Tekanan darah saat ini sangat rendah." seru perawat wanita yang membawa tubuh Jessy kedalam ruang gawat darurat.
"Aku sudah mendengarnya. Kau sudah menghubungi keluarganya?" tanya dokter itu.
"Kami belum sempat menghubungi keluarga karena fokus kami ke pasien terlebih dahulu."
Dokter itu ikut mendorong dipan kedalam ruang khusus. "Kau cepat hubungi keluarganya. Sebelum terlambat kita tangani. Cepat!" seru dokter.
Perawat yang tadi mendorong tubuh Jessy menggunakan dipan langsung berlari ke bagian informasi. Ia membawa tas yang tadi ada bersama wanita yang ditemukannya. Ia berhasil menemukan ponsel Jessy dan passport di tas itu. Ia membukanya dan menemukan wanita yang sedang kritis tersebut bernama Jessy Julian. Ia kemudian mencoba menghubungi keluarga pasien. Hanya ada panggilan dari seseorang yang ia lakukan tadi pagi. Ia mulai menghubunginya.
"Jantungku berdebar akan bertemu dengan putri kita." ungkap Jonas ketika ia dan istrinya memutuskan untuk pergi ke Santorini untuk menyusul Jessy. Hanya itulah satu-satunya kesempatan. Jose sempat mengatakan jika mereka harus melakukan tes DNA untuk memastikan semuanya. Namun istrinya tetap berencana untuk menyusul Jessy.
"Brittany ku. Aku tidak sabar bertemu dengannya beberapa jam kedepan." ucap Isabel antusias.
"Ponselmu berbunyi. Sebelum kita naik pesawat lebih baik kau matikan." ucap Jonas.
Isabel mengeluarkan ponselnya. Ia menatapnya sejenak. "Nomornya tidak kukenal."
"Lebih baik kau angkat. Siapa tahu berita penting." ucap Jonas.
"Halo" jawab Isabel.
"Apakah ini keluarga dari Jessy Julian?"
"Jessy? Ya betul. Siapa ini?"
__ADS_1
"Saat ini kami sedang menangani korban kecelakaan bernama Jessy Julian berkewarganegaraan Amerika. Kami memerlukan persetujuan untuk melakukan tindakan secepatnya."
Tubuh Isabel jatuh ke lantai. Ia menatap Jonas sambil melepaskan ponselnya dan mulai menangis. "Brittany ku..."
Jonas berjongkok. "Ada apa? Apa yang terjadi?" tanyanya cemas. Ia kemudian memeluk tubuh Isabel dan mengambil ponsel istrinya. "Halo.."
Jonas seperti mendapatkan serangan tiba-tiba ketika mendengar seseorang menjelaskan tentang putrinya. Ia lemas. "Ya, tolong lakukan yang terbaik. Berapapun akan kami bayar. Ya, kami dalam perjalanan ke Athena sekarang." ucapnya lemas.
Ketika ponsel ditutup, ia menatap istrinya. "Kita harus mengganti penerbangan ke Athena. Brittany ada disana. Kau harus kuat demi Brittany."ucap Jonas dengan nada bergetar.
Isabel menangis sambil memeluk Jonas. "Bagaimana bisa Brittany kecelakaan? Dimana Dean?" tanyanya histeris.
"Lebih baik kita segera melakukan penerbangan. Dengan menangis tidak akan membuat waktu berbalik. Kita harus cepat melihat keadaan Brittany." ucap Jonas tegar. Ia mengangkat tubuh istrinya untuk berdiri.
Suster yang menangani luka Jessy menatap wanita didepannya dengan sedih. Ia melihat sebulir airmata menetes di ujung mata wanita itu.
"Dok, pasien menangis!" ungkapnya. Ia menatapnya terharu. "Wajahnya, sayang sekali.."
"Bukankah tadi mereka menyerahkannya pada kita?" ucap seorang perawat.
Dokter pria itu menatapnya penuh kasihan. Apapun tindakan yang akan ia lakukan harus dengan persetujuan keluarga. Karena ini menyangkut masa depannya.
"Pendarahan parah dok, lebih baik kita mencoba menyelamatkan salah satu nyawa terlebih dahulu. Jika tidak, kita akan kehilangan dua nyawa. Pasien tidak akan bertahan dengan pendarahan hebat seperti ini." ungkap dokter yang lain.
Keputusan berat harus dialami dokter-dokter itu setelah melakukan pemeriksaan. Nyawa janin yang masih muda itu harus hilang untuk menyelamatkan ibunya. Namun ada hal yang membuat mereka harus segera berunding dengan keluarganya.
...***...
__ADS_1
"Dean, badai sudah berhenti. Apakah kau akan melanjutkan syuting hari ini?" tanya salah satu kru.
Dean menatap kosong kedepan. Suasana hening. Hanya terdengar deburan ombak. Ia terfikir, ucapannya pada Jessy sangat kasar. Ia melakukannya ketika melihat Jessy melepas pakaiannya. Apa yang ingin ia lakukan dengan itu? Ia mengangkat salah satu tangannya untuk mengusap wajah. Ia terus menatap keluar. Badai sudah berhenti. Apakah ia harus menyusul Jessy? Santorini bukan daerah yang besar. Ia bisa menemukannya di hotel manapun yang ada di Santorini. Mencari Jessy bukan sesuatu yang sulit. Ia merasa mengkhianati dirinya sendiri. Sejak awal menikah, ia pernah menekankan asal Jessy hidup dengannya, ia tidak akan peduli dengan apapun lagi. Namun kali ini ia salah. Seharusnya ia harus bersedia dengan segala resiko. Ya, sepertinya ia harus minta maaf.
"Dean!" panggil kru lagi.
Dean berbalik. "Ada apa?"
"Kita harus melanjutkan syuting. Atau kau mau syuting kita diundur?"
Dean terdiam sejenak. Jika syuting diundur, ia tidak akan bisa menyelesaikannya dengan cepat.
"Ya, panggil semua pemeran ke dalam set. Aku akan bersiap lima menit lagi. Jangan ada kata terlambat karena kita telah kehilangan waktu selama lima jam." jawab Dean sambil berjalan keluar dari gubug. Ketika keluar, ia mencari sekeliling. Apakah Jessy masih ada di lokasi. Namun sepertinya tidak ada. Jessy pasti marah padanya. Iapun duduk di kursi sutradara seperti biasa.
Para pemeran sudah bersiap ditempat masing-masing.
"Kamera dua siap! Cek sound! Kamera tiga tidak terdengar suaranya." teriak Dean.
"Ok!" teriak kru.
"Kamera! Roll.. Action!" teriak Dean. Ia dengan serius melihat layar didepannya. "No! Cut! bukan seperti itu! Tendangan mu kurang kasar!" serunya.
Para kru saling berbisik. Mereka mendengar Dean berteriak ketika istrinya datang untuk menghampirinya. Mereka juga tahu istrinya Dean keluar dengan wajah tertekan. Padahal badai tengah berlangsung, tapi Dean tidak menghentikannya.
"Rossy!" panggil Dean.
Tidak terlihat Rossy menghampirinya. Ia menoleh pada kru nya. "Dimana Rossy?"
__ADS_1
"Sejak badai berlangsung, ia tidak terlihat. Tadi ada yang mengatakan Rossy pergi menggunakan taxi."
Dean duduk kembali. Apa yang terjadi dengan para wanita hari ini?