
Tidak ada harapan yang tersisa. Ketika Brittany menatap Dean saat melihatnya untuk pertama kali, ia merasa tidak ada lagi harapan. Kesedihan yang ia alami karena kehilangan bayinya kembali memenuhi kepalanya. Airmata yang ia keluarkan karena kehilangan bayinya telah habis. Jika melihat Dean saat ini, kesakitan nya sudah pantas ia terima. Tubuh kurus itu sedikit tidak terawat. Dean telah kehilangan berat badannya.
Belakangan ini ia sering melihat televisi ketika sedang libur. Beberapa artis yang mendapatkan skandal dengan Dean mulai bermunculan dengan berita masing-masing. Namun tidak ada berita mengenai Dean kecuali Cindy yang saat ini sedang bekerjasama dengannya.
Pikiran itu sedikit mengganggunya. Namun genggaman tangan itu mengejutkannya. Ia tersadar dan menatap wajah Dean dengan serius. Ia sedang tersenyum padanya.
"Brittany Jonas? Nama yang bagus. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan wanita cantik seperti dirimu. Kau membuatku terpesona." ungkap Dean. Ia tidak pernah menoleh sedikitpun dari wanita didepannya. Perasaan berkecamuk di dadanya. Jessy, kau kah itu? Entah mengapa ia hanya memikirkan satu nama ketika melihat seorang Brittany.
Brittany mencoba tersenyum. "Gombalan mu tidak membuatku lebih baik. Kau seperti pria-pria lain yang melihat kecantikan sebagai senjata utama untuk merayu wanita."
"Aku mengatakan apa adanya. Kau cantik dan mengingatkanku pada.."
Brittany menunggu jawaban itu. Ia tanpa sadar menekan gelas berisi wine itu sambil menatapnya.
"Ah..sudahlah. Mengingatnya membuatku sedih."
Jadi, kau sudah melupakanku Dean? Aku tidak percaya kau mampu melakukannya. Sedangkan aku, aku tidak akan pernah melupakan malam ketika anakku direnggut oleh badai itu.
Lana menatap wajah tidak biasa pada Brittany. Ia kemudian menatap Dean.
"Kalian baru saja berkenalan, tapi pembicaraan kalian seperti telah berkenalan untuk waktu yang cukup lama." seloroh Lana.
Brittany meminum wine itu dengan cepat dan menyimpannya di meja. Ia menatap Lana. "Aku harus pergi karena sepertinya acaranya akan dimulai. Sampai jumpa lagi " ucapnya sambil berjalan meninggalkan kedua orang itu.
Dean berpangku tangan. Ia terus menatap Brittany yang sudah berjalan menjauhinya.
"Lana, kau lihat kalung itu? Itu kalung yang sama dengan yang dimiliki Jessy. Apakah itu masih sebuah kebetulan? Aku ingin kau menyelidikinya untukku."
"Kau tidak perlu khawatir, Dean. Aku sudah masuk di perusahaan ini. Aku akan menyelidikinya. Aku ingin tahu alasan Jessy mengubah identitasnya. Ia hingga rela merubah wajah serta tubuhnya. Apa yang terjadi padanya?"
Dean menunduk sedih. "Aku akan bertanggungjawab jika itu memang Jessy. Dan aku ingin tahu, dimana ia menyembunyikan anakku."
Lana hanya melirik Dean. Melihat tubuh wanita itu ketika acara di Paris, ia tidak pernah melihat tanda-tanda jika Brittany pernah melahirkan seorang anak. Tapi, ia harap ia salah. Jika ia mengatakannya pada Dean, itu akan menambah kesedihannya.
Brittany berjalan dengan cepat untuk menemui orang-orang. Ia yang akan menjadi bintang hari ini. Ia akan menunjukkan pada Dean jika ia bukan ingin wanita biasa saja. Ia bukanlah seorang gadis polos yang bisa dimainkan sesuka hati. Ketika langkahnya semakin cepat, ia dipanggil oleh Deniz. Deniz tengah berbincang dengan seorang pria.
Ia tersenyum dan berjalan menggoda. Beberapa pria disekitarnya terlihat melirik padanya.
__ADS_1
"Aku mencarimu. Apakah kau tahu dimana asistenku?" tanyanya sambil melirik pria disampingnya.
"Asistenmu baik-baik saja. Kau harus berkenalan dengan pria ini. Ia adalah Will, seorang produser terkenal dari LA. Ia sengaja kami undang untuk melihat potensi mu." ungkap Deniz.
Pria itu mengulurkan tangan padanya. Ia menyambutnya sambil tersenyum. "Aku menunggu saat ini tiba. Aku Will. Aku berasal dari LA. Seperti yang agensimu katakan. Aku adalah seorang produser besar. Beberapa artis besar berada pada naunganku."
Brittany melepaskan tangannya dan tersenyum. "Senang sekali bisa berkenalan denganmu, Will. Suatu kebanggaan bisa mengenalmu."
"Apakah kau tertarik pada dunia film?" tanya pria itu tiba-tiba.
Tanpa berpikir ulang, Brittany langsung mengangguk dengan cepat. "Aku pernah belajar akting walau sebentar. Kau bisa melihatnya jika suatu saat diadakan sebuah casting. Aku akan dengan senang hati melakukannya."
"Itu bagus sekali, aku akan dengan senang hati menawarkan sebuah projek film padamu." ucap seseorang yang berada dibelakang mereka.
Brittany menoleh ke belakang. Dean berada tepat dibelakangnya. "Sungguh tidak sopan mendengarkan pembicaraan orang lain."
Dean seperti tidak peduli. Ia menghampiri Will dan menyapanya seperti biasa.
"Dean, aku terkejut melihat kau berada disini." ucap Will sambil memeluknya.
"Kau tahu sendiri. Dimana ada bintang baru yang bersinar, disitulah aku hadir. Ketika syuting di Turki, aku menemukan banyak bintang baru. Termasuk Brittany Jonas." ucap Dean.
"Jika produser itu yang menawarkan projek, aku akan terima dengan cepat. Namun jika sutradara itu, aku tidak mau. Aku tidak mengenalnya." jawab Brittany kesal.
"Aku mendengarnya. Tapi aku tidak akan pernah berhenti menawarkan sebuah projek untukmu" ucap Dean sambil tersenyum samar. "Dan aku paling tidak suka ditolak." tambahnya.
Ya, kau memang paling tidak suka ditolak. Untuk itulah aku terlibat pada semua permainanmu itu.
"Aku tidak memiliki kemampuan untuk akting sebuah film action seperti yang kau buat." ucap Brittany membela diri.
"Aku bisa melakukan semua genre. Lagipula, jika kau tidak mengenalku, bagaimana kau tahu aku membuat film action?" Jawab Dean tidak mau kalah.
"Ya, saat ini Dean tengah mengerjakan sebuah film romantis. Kau bisa mencobanya.." ucap Will.
"Dengarlah. Aku bukan sutradara yang hanya membuat satu buah genre. Aku bisa melakukan semuanya tergantung mood."
Setiap ucapan Dean membuat Brittany kesal. Ia selalu kalah sejak dulu. Ia terpancing dengan mengatakan pekerjaan Dean.
__ADS_1
"Yang pasti aku tidak mau melakukannya jika kau yang menjadi sutradaranya." jawab Brittany. Ia kemudian menatap produser itu. "Permisi, aku harus mencari asistenku terlebih dahulu."
...***...
Acara itu masih berlangsung namun para pengunjung perlahan sudah meninggalkan tempat acara. Disebuah sudut ruangan, Brittany sedang menunduk dengan memegang pinggiran meja. Sial, ia mabuk malam ini. Pertemuan dengan beberapa produser lokal dan pemilik majalah membuatnya harus meminum satu gelas wine untuk menghormati mereka. Ia bukanlah seorang wanita yang senang pada minuman mahal itu. Ia tidak pernah meminumnya sebelum menjadi model.
Wajahnya merah dan ia menutup matanya. Ia merasa pusing. Dimana Joey? Kenapa ia menghilang kembali? Ia membuka matanya dan melihat kedalam ruangan. Masih banyak orang yang menikmati acara itu. Ia tetap harus mencarinya. Ia berdiri tegak dan mencoba untuk berjalan dengan high heelsnya. Untungnya ketika mabuk seperti sekarang, ia masih bisa menjaga pakaiannya yang terbuka.
Ia berjalan terhuyung dengan tangan memegang tembok. Baru saja melangkah, ia kembali terdiam. Ia mengambil nafas panjang dan kembali melangkah. Namun baru melangkah, tubuhnya terhuyung. Tubuhnya ditangkap oleh seseorang. Ia menyipitkan matanya.
DEAN! Ketika ia berada pada keadaan seperti inipun, Dean ada disampingnya. Ia tidak mau kelemahannya terlihat oleh pria itu. Ia mencoba melepaskan diri.
"Aku bisa berjalan sendiri.." ucap Brittany ketus
"Benarkah?" tanya Dean sambil terkekeh. Sepanjang acara ia selalu melihat gerak gerik Brittany. Ia telah minum banyak dan ia merasa khawatir. Jessy jarang minum ketika bersamanya. Mereka bertolak belakang. Ia ingat ketika membuat Jessy benar-benar mabuk ketika mereka tengah berbulan madu. Tapi hal itu sangat berbeda jauh. Ia mulai tidak yakin. Berada beberapa jam dengan wanita ini, membuatnya sedikit tahu jika pesona wanita ini tidak bisa diremehkan. Ia dapat mempesona pria manapun termasuk dirinya. Ketika melihatnya seperti saat ini, ia mulai ragu. Jika wanita ini bukan Jessy, lalu bagaimana ia akan bertindak? Sedangkan ia langsung terpesona dengan kecantikan wanita ini.
Tangan Brittany terlepas dari genggaman Dean. Ia kembali berjalan sambil terhuyung
"Sudah aku katakan, aku tidak menyukaimu. Kenapa kau harus terus terlihat olehku, Dean!" teriak Brittany.
Dean terhentak. Ia terkejut dengan nada itu. Ia banyak tahu tentang rengekan wanita itu. Ia menarik Brittany dan menekan tubuhnya ke tembok. "Aku tidak tahu mengapa kau tidak menyukaiku?" bisik nya. Wajahnya menunduk dan menatap kedua mata wanita didepannya.
"Jika kau melakukan sesuatu padaku, aku tidak akan segan-segan untuk berteriak." ancam Brittany
"Kau tahu, wajahmu ini sangat menggodaku. Sejak kau muncul di billboard itu, aku tidak pernah tidak memikirkan mu. Ada rasa sakit disini." bisik Dean sambil menyentuh dadanya. "Kau mengingatkanku kepada..."
Dean tidak melanjutkan ucapannya karena tubuhnya didorong oleh Brittany dengan kencang. Ia terhuyung ke belakang sedangkan Brittany melangkah menjauhinya.
"Brittany...." teriak seseorang.
Brittany melihat siapa yang memanggilnya. Akhirnya, pahlawannya muncul. Alv sedang berdiri tak jauh darinya. Ia terlihat tampan dengan setelan jas.
"Alv!" panggil Brittany sambil berjalan menghampirinya.
Kedua tangan Alv terangkat keatas. Ia memeluk Brittany dengan erat. "Kau mabuk?" bisik Alv.
"Bawa aku pulang.." bisik Brittany.
__ADS_1
Alv mengangguk. "Baiklah.."
Ketika mereka berdua melangkah keluar, mereka berdua tidak sadar seseorang tengah melihat mereka.