
Jessy terus menatap jam dinding yang ada di kamarnya. Dean masih belum kembali. Ia tidak bisa dihubungi sejak pagi. Begitu pula oleh Anastasia. Sesibuk apapun ia bekerja, ia tidak pernah membuatnya menunggu. Keringat dingin mulai terasa di kedua tangannya. Ia merasakan perasaan tidak enak. Ia merasa ingin menangis walaupun tidak ingin. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada Dean. Ia duduk di sofa kamar dan menunggu. Ia kemudian berdiri dan mengambil ponselnya. Jika Dean tidak bisa dihubungi, ia bisa menghubungi Harris. Dari awal ia tidak pernah menuntut apapun pada Dean. Tapi jika pria itu tidak memberikan kabar padanya, itu jelas bukan tuntutan. Ia hanya meminta agar Dean selalu memberikan kabar padanya. Pintu kamarnya diketuk. Jessy berlari untuk membukanya.
Anastasia melihatnya cemas. "Apa Dean sudah menghubungimu?"
"Belum. Aku cemas sekali." Jawab Jessy tanpa bisa menutupi wajahnya yang cemas.
Anastasia memegang tangannya. "Tenang. Aku akan mencari tahu dimana Dean." Ucapnya.
Jessy mengangguk cepat dan kembali kedalam. Ia mulai menghubungi Harris untuk menanyakan keberadaan Dean. Nada sambungan pertama mulai terdengar. Tidak ada jawaban. Nada sambung kedua, cukup lama namun masih belum ada jawaban. Nada sambung ketiga, terdengar sedikit kencang.
"Halo.." jawab Harris.
"Harris, aku Jessy. Apakah kau tahu dimana Dean berada? Aku cemas sekali. Aku menghubunginya sejak siang tapi Dean tidak memberikan kabar padaku." Tanya Jessy cemas.
"Hari ini aku tidak bertemu dengannya. Ia tidak datang ke kantor." Jawab Harris berbohong.
Jessy berdiri dan berjalan ke jendela. Ia berharap Dean akan segera menghubunginya. Ia menggenggam ponselnya dengan erat. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Ia mulai merasa ketakutan.
"Dean..." Panggilnya pelan.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dean menghubunginya. "Halo, Dean.. Kau dimana?" Tanya Jessy panik.
Terdengar suara nafas Dean. "Jessy, aku ada di apartemen. Kau bisa datang kesini sekarang?"
"Kau kenapa Dean?" Tanya Jessy panik.
"Cepatlah kau kesini. Aku takut tidak bisa bertahan." Jawab Dean.
"Aku kesana sekarang! Tunggu aku!" Ucap Jessy panik. Ketika sambungan ditutup, Jessy langsung menyambar cardigan nya dan berlari keluar. Ruangan diluar sudah gelap. Tidak terlihat kedua orangtuanya ada disana. Ia mengurungkan niat untuk memberitahu mereka. Ia ingin tahu apa yang terjadi terlebih dahulu. Disaat seperti ini, kakinya bergetar karena cemas. Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi.
"Jessy..." Panggil Dean.
"Dean! Ini hampir tengah malam. Aku harus membangunkan supir untuk mengantarku kesana. Kau harus bertahan!" Jawab Jessy.
"Jessy, kau bisa berjalan pelan mulai sekarang. Aku percaya kau langsung pergi saat ini. Diluar ada sebuah mobil berwarna hitam. Kau akan diantar, jadi kau tidak perlu membangunkan supir untuk mengantarmu. Aku masih bisa bertahan. Aku baik-baik saja." Ucap Dean.
"Baiklah.."
Jessy keluar dari pintu depan dengan menggunakan mantelnya. Ia melihat ada beberapa paparazzi yang menunggunya. Blitz kamera mulai membuatnya silau. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia dapat melihat mobil hitam di sebrang jalan. Tiba-tiba langkahnya terhenti oleh sebuah karangan bunga mawar putih didepannya. Ia terkejut dan menatap siapa yang memberinya bunga itu.
"Selamat ulang tahun, Jessy!"ucap seseorang.
"Terimakasih tapi aku belum berulang tahun." Ucap Jessy cepat.
"Hanya tinggal tiga puluh menit. Aku ingin menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat untukmu." Ucap pria itu.
Jessy tersenyum. "Terimakasih, tapi aku tidak membutuhkannya." Jawabnya sedikit frontal. Ia kembali berjalan untuk sampai mobil. Paparazzi itu sedikit kurang ajar. Menjadi seorang selebriti bukan kemauannya. Wajar saja setelah menikah dengan Dean, data pribadinya mulai terkuak termasuk hari ulangtahunnya. Dean saja belum tentu ingat dengan ulangtahunnya, bagaimana bisa pria itu mengucapkannya terlebih dahulu? Dan bagaimana ia bisa tahu jika bunga yang disukainya adalah mawar putih?
"Suamimu lupa dengan ulang tahunmu!" Ejek pria itu.
Jessy tidak mau mendengarnya. Ia membuka pintu mobil dan masuk. "Kau disuruh Dean? Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Jessy cemas.
"Aku hanya bertugas mengantarmu saja, nona. Selebihnya aku tidak tahu." Jawab pria itu.
__ADS_1
Jessy terdiam. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia takut Dean menghubunginya kembali.
Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi. Jessy semakin cemas dibuatnya. Tidak lama untuk sampai ke depan apartemen. Mobil mulai memasuki basement. Tidak biasanya ia diturunkan di basement. Penerangan basement tidak terlalu terang. Iapun turun dari mobil dan berdiri untuk melihat pintu masuk melalui lift. Tubuhnya bergetar ketika ia dikejutkan oleh mobil disampingnya yang langsung pergi. Ia menekan dadanya karena terkejut. Ia mulai melangkah pelan karena takut. Suasana begitu sepi.
"Jessy.." teriak Dean.
Jessy mencari arah suara. Ia tidak melihat siapapun. "Dean.. jangan menggodaku!" seru Jessy dengan suara bergetar.
"Aku disini.." panggil Dean.
Jessy menyipitkan matanya. Ia melihat Dean sedang berdiri tak jauh darinya. Ia menggunakan jas lengkap. Jessy langsung berlari dan memeluknya. "Dean! Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil menangis.
Dean membalas pelukan Jessy. "Aku baik-baik saja. Maafkan aku karena tidak menghubungimu.." ucapnya. Ia melihat jam tangannya masih ada waktu 5 menit untuk sampai pukul 12 malam.
"Apa yang terjadi?" tanya Jessy ketika melepaskan pelukannya.
Dean menghapus airmata Jessy. "Tidak ada. Aku hanya menunggumu disini. Apakah kau cemas?"
"Aku sangat cemas seperti aku mau mati. Aku ketakutan." jawab Jessy. Ia kembali memeluk Dean.
Dean tersenyum. Ia menatap jamnya kembali. Sudah tepat pukul 12 malam. "Jessy..." panggilnya pelan.
Jessy melepaskan diri. Kedua tangan Dean mulai memegang kedua tangannya.
"Selamat ulangtahun, sayang. Aku mencintaimu, Jessy."
Kedua mata Jessy terbuka lebar. Apakah ini mimpi? Air mata Jessy sudah tidak terbendung. Air mata itu mulai mengalir begitu saja.
"Aku mencintaimu, Jessy." ucap Dean kembali.
"Kau tidak senang dengan surprise ini?" tanya Dean bingung.
"Aku terharu, Dean. Kau tidak tahu bagaimana perasaan aku seharian ini memikirkanmu!" tangis Jessy pecah.
"Maafkan aku, aku hanya ingin semuanya sempurna." jawab Dean sambil tertawa.
Jessy langsung menghambur kedalam pelukannya. Ia memeluk Dean dengan erat. "Terimakasih Dean, malam ini tidak akan pernah aku lupakan." isaknya.
"Ini belum, sayang. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu." ucap Dean.
Jessy mengangkat wajahnya. Hidungnya yang merah seperti tomat tak kuasa untuk tidak menggoda Dean. Pria itu mengecup hidung Jessy. Ia tidak melepaskan tangannya di pelukan Jessy. Ia membalikkan tubuhnya ke belakang.
"Aku menyiapkan ini untukmu.." ucapnya.
Jessy melihat sebuah mobil berwarna merah metalik yang jarang sekali ia lihat diluar. Ia menatap Dean. "Kau akan mengajakku berjalan-jalan dengan mobil ini?" tanyanya polos.
Dean menggelengkan kepalanya. "Mobil ini milikmu"
Jessy mengerutkan keningnya. "Milikku?"
Dean mengangguk. "Aku membelinya sebagai hadiah ulangtahun mu."
Jessy menoleh dan menatap Dean. "Aku tidak bisa menerimanya, Dean. Ini terlalu banyak untukku.."
__ADS_1
Dean memegang tangannya. "Kau pantas mendapatkannya. Aku sudah memesannya sebelum kau mengatakan tentang ulang tahunmu.."
"Jadi kau sudah tahu? Kenapa kau diam saja?" seru Jessy.
"Jika aku mengatakan padamu, itu tidak surprise." Jawab Dean pelan.
"Terimakasih Dean.." bisik Jessy
"Masih ada. Ikut aku.." ucap Dean.
Mereka mulai meninggalkan basement untuk menuju apartemen mereka. Dean tiba-tiba berdiri dibelakang Jessy dan menutup kedua matanya. "Kau harus menutup matamu terlebih dahulu."
Jessy menutup matanya dan berjalan dengan bantuan Dean. Ia mendengar Dean membuka pintu apartemen. Mereka berdua pun masuk. Dean mulai melepaskan tangannya
"Lihatlah. Ini hadiah untukmu.." ucap Dean
Jessy terkejut ketika melihat setiap ruangan penuh dengan bunga mawar putih. Ia menutup mulutnya. Ia menatap Dean. "Berapa banyak kejutan yang kau siapkan untukku?"
"Belum. Masih ada lagi." ucapnya sambil melihat jam. "Tunggu sebentar."
Terdengar suara bell berbunyi. Dean membukanya. "Masuklah.." ucap Dean
Jessy tidak pernah mendapatkan hal seromantis ini seumur hidupnya. Ia melihat petugas toko bunga masuk kedalam apartemennya sambil membawakan bingkisan bunga mawar putih. Ia menatap Dean. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jessy.
Dean hanya tersenyum. Sedangkan Jessy mulai menghitung bucket demi bucket yang masuk kedalam apartemen. Dua puluh satu bucket bunga. Pas dengan usia ulang tahunnya saat ini. Ia kembali menatap Dean. "Aku kesulitan berkata-kata. Aku tidak bisa berfikir dengan benar. Ini terlalu banyak Dean.." ucap Jessy sambil berjalan menghampirinya.
Dean mengangkat satu tangannya. Jessy pun ikut mengangkat tangannya. Ketika tangan mereka bertemu, Dean menariknya. Ia memeluk Jessy dengan erat. "Aku tidak mau berpisah denganmu." bisiknya.
Jessy mengangkat tangannya dan menyentuh rambut Dean. "Aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Aku ada disini. Aku akan menunggumu pulang. Aku akan sangat senang sekali jika kau mendapatkan penghargaan dari film yang akan kau buat. Aku akan membuat kejutan untukmu nanti."
Dean menatap Jessy lama. Ia menyentuh wajah Jessy dengan jari-jarinya.
"Kau terlalu baik untukku. Terkadang aku merasa keberuntungan selalu menyertaiku setelah kita menikah. Aku tidak mau membohongi diriku sendiri. Aku tidak akan bosan mengatakan jika aku mencintaimu, Jessy.."
Jessy menatapnya nanar. Ia tidak percaya Dean mengatakan hal itu berulang kali tepat di hari ulangtahunnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia dapat merasakan jari-jari Dean menyentuh matanya.
"Apakah ini balasannya atas pernyataan cintaku malam ini?" bisik Dean.
Jessy menutup matanya sejenak dan membukanya kembali. "Aku takut semua ini hanya mimpi."
Dean mengecup ringan pipi Jessy. "Ini nyata. Kau bisa merasakannya?"
Jessy mengangguk. "Tidak pernah aku mendapatkan kasih sayang sebesar ini seumur hidupku. Terima kasih, Dean. Aku juga mencintaimu." ungkap Jessy malu.
Dean terkejut. "Katakan sekali lagi, aku belum mendengarnya."
"Aku juga mencintaimu." bisik Jessy.
Sudah cukup pernyataan cinta bagi mereka. Dean langsung mengangkat tubuh Jessy.
"Apa yang akan kau lakukan?" bisik Jessy.
"Aku membutuhkan pembuktian." jawab Dean sambil berjalan.
__ADS_1
Jessy hanya tertawa bahagia. Ia melingkarkan tangannya dileher Dean dan memeluknya dengan erat. Ketika Dean merebahkan tubuhnya di tempat tidur, Jessy mulai merasakan jika ia telah diperlakukan seperti putri. Dean dengan lembut membawanya ke dunia yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Dean memperlakukannya seperti sebuah bunga yang harus diperlakukan dengan lembut agar tidak rusak. Semuanya terlalu indah untuk diungkapkan. Secepat ini ia mendapatkan kebahagiaan. Ia tidak ingin semuanya berakhir. Ia takut ketika membuka matanya nanti, semuanya hanya mimpi.