Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
End of Game


__ADS_3

Jonas dan Isabela berjalan cepat menuju ruang polisi yang sedang menunggunya. .


"Apa yang terjadi?" tanya Isabela dengan wajah pucat.


"Kami sudah menemukan titik pencarian. Tim sudah diturunkan untuk melakukan pencarian." ucap salah seorang polisi.


"Bagaimana kalian bisa mendapatkan titik itu?" tanya Jonas.


"Berkat bantuan agen swasta. Ia diminta oleh Dean untuk melakukan pencarian. Kami bekerja sama mencari titik terakhir dimana terakhir ponsel Brittany hidup."


"Dean?" tanya Isabela bingung. "Jangan-jangan Dean yang menculik Brittany!"


"Maafkan menyela, tapi itu tidak mungkin. Ia bisa saja sekarang sedang menyelamatkan putri kalian. Sejak semalam ia sudah mengetahui titik dimana putri kalian berada. Dan hingga pagi ini ia tidak bisa dihubungi. Aku Will. Agen yang biasa digunakan oleh Dean untuk melakukan pencarian Brittany. Dua kali aku melakukan pencarian. Pertama ketika ia hilang tiga tahun yang lalu. Kemudian sekarang. Ketika ia diculik. Bagiku, peristiwa penculikan bukan sesuatu yang sulit. Apalagi dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman. Aku yakin putri kalian akan baik-baik saja." jelas Will dengan nada meyakinkan.


"Kenapa Dean melakukan itu?" tanya Isabela.


"Karena kau yang melarangnya sejak awal. Dean mencari Brittany sendiri tanpa bantuan siapapun. Ia ingin bertanggung jawab." jawab Joey.


Isabela menatap Joey. "Seberapa banyak kau tahu tentang ini?"


"Aku tidak tahu apa-apa. Hanya saja pengorbanan Dean terkadang terlalu besar."


"Ia mencintai Brittany. Aku melihatnya sendiri bagaimana ia terpuruk. Aku membeli apartemen yang sejak awal mereka gunakan ketika mereka baru menikah. Aku melakukannya karena kasihan. Ia melepaskan semuanya untuk Brittany."


"Kau membeli apartemen? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanya Isabela.


"Karena aku tahu kau tidak akan mengijinkannya." jawab Jonas.


"Aku akan ikut melakukan pencarian." ucap Alv tiba-tiba.


Salah seorang polisi menghampiri Alv seraya berbicara. Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan semuanya. Isabela duduk di sofa dan merasa buruk. Ia menutup wajahnya. "Aku begitu membenci Dean. Apa yang terjadi pada Brittany, semuanya karena Dean."


Disebuah tempat berbeda. Brittany terbangun dengan kepala berat. Semalam ia dipaksa minum sesuatu oleh Harris. Dan hari ini ia menyadari jika ia tidak berada ditempat yang gelap lagi. Ia melihat sekelilingnya. Jauh berbeda dengan tempat kemarin. Nuansa serba putih dengan jendela besar didepannya. Ia bangun kemudian melihat kesamping. Ia menyadari jika kedua tangannya kini tidak terikat. Namun kedua kakinya yang terikat oleh borgol.


Ia melihat kesamping. Darah kering sudah terlihat di wajah Dean. Ia masih tidak sadarkan diri.


"Dean!" panggil Brittany cemas. "Dean, bangun Dean!" ucapnya sambil menangis. Ia memegang kepala Dean. Ia meringis.


Mata Dean terbuka. Ia meringis. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Dengan sekuat tenaga, ia menggeser tubuhnya agar dekat dengan Brittany. Luka di wajah Brittany akibat tamparan Harris membuat hatinya sakit. "Kau sakit?"


"Bukan aku yang sakit. Kau yang sakit, Dean!" umpat Brittany. "Lihat kepalamu, tubuhmu.. semuanya berdarah. Dan kakimu, apakah kau bisa berjalan?"


Dean melihat kedua kakinya yang diborgol. "Sakit ini tidak seberapa. Aku mengkhawatirkan mu."

__ADS_1


"Ya, tapi kau bodoh. Kau membuat dirimu seperti ini karena melakukannya sendiri. Kenapa kau lakukan ini? Aku baik-baik saja dengan itu."


"Aku tidak mungkin membiarkan kau terbunuh. Lebih baik nyawaku terancam daripada kau harus meregang nyawa. Aku tidak akan membiarkannya." jawab Dean.


Keduanya terdiam. Brittany duduk menyandar di tembok, sedangkan Dean masih berbaring dilantai. Dean mencoba bangun dan melihat sekeliling. "Sepertinya ini rumah Harris."


Terdengar suara ombak pantai. Brittany berusaha untuk mendekati jendela agar ia bisa melihat pantai.


"Sepertinya ini bukan New York."


"Florida. Harris membawa kita kerumahnya yang di Florida."


"Kenapa ia lakukan itu?"


"Rumah ini adalah rumah kebanggaannya. Aku tidak tahu alasannya."


Brittany menoleh pada Dean. "Bagaimana dengan lukamu."


Dean tersenyum. "Aku senang kau masih perhatian padaku. Selama kau baik-baik saja, aku bisa bertahan."


"Aku tidak peduli padamu. Namun karena kau berada di ruangan ini denganku, aku prihatin melihat kondisimu." jawab Brittany malas.


"Terimakasih, sayang. Aku akan baik-baik saja."


Brittany melotot. "Jangan panggil aku sayang! Kau bukan siapa-siapa. Kau hanya mantan suami."


Pintu kamar terbuka. Harris masuk kedalam kamar dengan pakaian lusuh. Ia belum menggantinya sejak semalam. Ia menenteng botol minuman keras. Ia terlihat hancur.


"Aku mendapati kabar jika hari ini polisi sedang mengejar ku. Apakah kalian puas?"


"Kau pantas mendapatkannya!" seru Brittany.


"Mulutmu sangat pedas, Jessy! Aku tidak menyangka seorang wanita yang diangkat dari air comberan akan melakukan hal ini padaku. Kau menjadi istri Dean karena aku mengijinkannya. Jika saat itu aku tidak mengijinkannya, kau tidak akan bisa dikelilingi oleh orang-orang terkenal."


"Lepaskan Brittany, Harris. Kau bisa berurusan denganku." ucap Dean cepat.


Harris tertawa. "Kau pikir aku akan mendengarkan mu? Kau selalu beruntung, Dean.. Apa yang kau kerjakan akan menjadi sorotan. Sponsor menghampirimu dengan mudah, artis dan semuanya akan terpesona dengan pekerjaanmu. Kenapa kau mengambilnya dariku?" teriak Harris.


"Kau lupa jika perusahaan mu bisa terkenal karena aku berada disana. Kau tidak mungkin memiliki rumah ini jika aku tidak berada di perusahaanmu."


Harris berjalan mengelilingi ruangan. "Kau benar. Kau yang membuatku menjadi kaya raya. Tapi semuanya hilang dalam waktu beberapa jam karena wanita itu! Ia yang harus menanggung semuanya!" seru Harris sambil menghampiri Brittany.


Dean menutupnya dengan cepat. "Kau bisa melakukannya padaku. Jangan kepadanya."

__ADS_1


Harris meninju wajah Dean dengan kencang sehingga ia terpental. Brittany menjerit ketakutan. "Jangan lakukan itu, aku mohon!" ucapnya dengan nada bergetar.


Harris tertawa puas. "Aku iri melihat kalian." ucapnya sambil berjalan keluar. Ia tidak menutup pintu dan membiarkannya terbuka.


Brittany menghampiri Dean yang terlihat kesakitan. "Kau tidak apa-apa?"


"Ya, aku baik-baik saja."


"Kenapa hidupku seperti ini? Aku takut dipenjara. Aku pernah merasakannya waktu kecil. Aku takut mereka akan menyiksaku. Aku lebih baik mati. Kalian bisa menemaniku mati disini." teriak Harris.


Dean merangkak mendekati pintu. "Kau harus melakukannya karena itu adalah konsekuensi yang harus kau terima." ucapnya.


Dean melihat Harris berjalan mondar mandir didekatnya. Ia mengambil sebuah tali.


"Tidak, jangan lakukan itu Harris!"


Harris menoleh sambil tersenyum. "Aku yakin polisi sudah tahu kalian berdua diculik olehku."


"Tidak. Jangan kau lakukan itu atau kau akan menyesalinya!" teriak Dean.


Harris menggubrisnya. Ia terus membuat simpul dari tali-tali itu. "Menyenangkan jika aku mati dirumah ku sendiri."


Brittany penasaran, apa yang akan Harris lakukan. Ia menghampiri Dean.


"Jangan mendekat!" teriak Dean. Ia tidak mau Brittany melihat apa yang akan dilakukan oleh Harris.


Brittany terdiam.


Dean kembali menatap Harris. Ia sudah berdiri. "Tidak, Harris. Jangan.." ucap Dean dengan nada bergetar. Ia menunduk karena tidak mau melihat apa yang dilakukan oleh Harris. Sangat menyakitkan. Bagaimanapun mereka pernah sangat dekat sebagai rekan kerja. Ia melihat sendiri detik-detik Harris terikat oleh tali yang membelit lehernya. Dean menangis. Ia menunduk dan berteriak. "Harris! Jangan!"


Jika ia bisa berjalan, ia mampu menggagalkan rencana Harris. Namun ia tidak mampu. Ia tidak bisa mengangkat kedua kakinya. Ia hanya bisa menopang tubuhnya dengan kedua pahanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Brittany.


"Jangan kesini!" jawab Dean sambil berteriak.


Brittany menggubris ucapan Dean. Ia menggeser tubuhnya menghampiri Dean. Brittany terdiam ketika ia melihat apa yang terjadi. Ia berteriak ketakutan.


Dean memeluknya dengan erat. "Jangan lihat itu. Jangan.." ucapnya sedih.


Brittany menangis kencang. Ia tidak menyangka akan melihat Harris terbunuh dengan tangannya sendiri. Tubuhnya tergantung didekat ruangannya.


"Ayo kita tutup pintunya." ucap Dean. Nadanya terdengar sedih.

__ADS_1


Brittany tidak henti menangis. Ia shock melihat apa yang baru saja terjadi. Ia masih memeluk Dean ketika pintu itu telah ditutup dengan rapat.


"Kita tinggal menunggu bantuan datang. Kau harus bersabar denganku. Siapakah yang akan menyelamatkan kita?" ucap Dean dengan mata tertutup.


__ADS_2