Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
stubborn


__ADS_3

"Kau bukan wanita seperti itu, Jo"  Gerard melipat kedua tangannya didepan dada. Ia menatap tajam Joan. Jawabannya sangat tidak masuk akal. Ia tidak akan memilih suaminya? Yang benar saja! Pria itu yang benar-benar pantas.


"Sejak dulu hidupku tanpa seorang pria. Aku tidak memerlukannya. Aku bisa hidup sendiri."


"Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian? Kalian bercerai?"


"Pada akhirnya kami akan bercerai." jawab Joan tenang.


"Kau mengatakannya dengan wajah setenang itu?" tanya Gerard seraya menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?Apakah aku harus gugup atau cemas? Atau aku harus menangis?"


"Kau berubah."


Joan menatap Gerard. "Aku akan sangat berterimakasih padamu jika kau tidak ikut campur. Kau dan Sophie tidak perlu ikut memikirkan kebahagianku. Seperti yang kalian lihat sekarang. Aku bahagia. Aku hanya akan fokus pada pekerjaanku. Aku tidak akan tertarik pada pasangan selama aku bisa hidup sendiri.


Gerard menggelengkan kepalanya. Ia keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun.


Joan menatap kepergian sahabatnya. Ia bertanya dalam hati. Mengapa Gerard harus marah? Ini adalah hidupnya. Ini adalah keputusannya. Sakit ataupun bahagia hanya ia yang merasakannya. Ia melirik pada Sophie yang terlihat tidak peduli dengan masalahnya.


Joan memegang pensil dan mulai fokus menggambar, Namun fokusnya tiba-tiba terganggu oleh suara ponsel yang berbunyi diatas meja. Ia melihatnya, ada pesan masuk dari Dean padahal adiknya itu sudah menghubunginya. Ia membukanya. Dean mengirimkan sebuah gambar. Itu Alv dengan kondisinya saat ini. Tiba-tiba kedua matanya terasa panas. Kedua tangannya bergetar. Lidahnya kelu. Ia benar-benar gugup. Apakah itu karena dirinya?


“Apa yang terjadi? Siapa yang mengirimmu pesan?” Tanya Sophie yang masih bertahan diruangannya. Ia kini sedang menatapnya cemas.

__ADS_1


Joan melihat Sophie dan berjalan dengan cepat keluar dari ruangannya. “Aku harus ke toilet.” Ucapnya cepat. Sesampainya di toilet, ia langsung menutup pintu dan menguncinya dengan rapat. Ia kembali melihat gambar yang dikirimkan oleh Dean.


“Alv..” ucapnya lirih. Airmatanya mulai turun. Ia mengakui, tidak mudah melupakan Alv.  Dan ia tidak menyangka perubahan Alv hanya dalam waktu singkat. Ia menunduk dan menutup wajahnya. Apa yang harus ia lakukan? Kembali pada Alv sama saja dengan menerima kembali rasa sakit yang ia terima sebelumnya. Ia mulai terisak. Begitu sulitnya untuk menjadi seseorang yang kejam. Ketika ia mulai merasa tenang, mengapa harus terjadi lagi? mengapa seolah-olah ialah yang jadi tersangkanya?


Perut Joan terasa kram. Lagi dan lagi. Ketika ia merasakan stress, perutnya sering bergejolak akhir-akhir ini. Ia memegangnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia menghapus airmatanya dengan cepat. Ia langsung melihat ponselnya. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Dean menghubunginya kembali.


“Sudah kau lihat foto Alv? Aku mengambil fotonya kemarin. Ya, aku berbohong dengan mengatakan tidak ada di Turki. Aku sedang ada di Turki sekarang dengan Jessy. Tapi aku memiliki janji pada dad untuk melihat kondisi Alv. Lihatlah, ia seperti itu karena kehilanganmu. Jangan kau lakukan lagi, Jo. Kembalilah pada Alv. Aku pernah merasakan apa yang terjadi pada suamimu ketika aku kehilangan Jessy.  Jika kau pikir, mengapa dad begitu peduli pada Alv? Padahal kau tahu sendiri jika dad tidak akan tinggal diam jika anaknya disakiti."


“Itu tidak sama. Dad melakukannya karena Alv mengatakan sesuatu. Sejak awal dad tidak mendukung perpisahanku.” Jawab Joan berusaha untuk tenang.


"Kau tahu apa yang dikatakan Alv ketika ia menemui dad sebelum ia kembali ke Turki?" tanya Dean tajam.


Dada mulai sesak. Ia tidak menyangka Alv akan menemui orangtuanya ketika mereka berpisah saat itu. "Aku tidak peduli." ucapnya dengan nada bergetar.


"Kau tidak tahu apapun, Dean."


"Untuk itulah bicara dengan Alv. Apa yang membuatmu tidak ingin kembali pada Alv. Apakah karena Lily? Atau karena kekasih barumu?"


"Kekasih baruku?"


“Apakah kau tidak malu, pernikahan kalian belum berakhir tapi kau bersenang-senang dengan pria lain. Jangan pernah membantahnya. Foto-foto itu membuktikan semuanya. Kau berselingkuh dibelakang suamimu!" ucap Dean marah.


Joan tertegun. Bersenang-senang dengan pria lain? Apakah maksud Dean adalah Adrian? "Aku sibuk. Jangan ganggu aku beberapa hari ini?"

__ADS_1


"Lari? Lari tidak akan menyelesaikan masalah." sorot Dean.


Joan langsung mematikan sambungan teleponnya. Sebenarnya apa yang dikatakan Dean ada benarnya. Ia seharusnya memberikan kesempatan pada Alv untuk bicara. Tapi, ia takut. Ia takut jawaban Alv hanya akan menyakitinya.


***


"Apa yang akan kau lakukan untuk menyatukan mereka?" tanya Jessy ketika mereka melakukan perjalanan menuju rumah Alv.


"Aku tidak tahu. Aku masih kesal pada Jo. Ia memang wanita yang keras kepala. Sama sepertimu." jawab Dean kesal.


"Kenapa tidak kau buat skenario untuk menyatukan mereka? Bukankah kau sutradara? Hanya dengan pesonamu, kau bisa melakukan semuanya." goda Jessy


"Pesonaku hanya untuk menarik wanita, bukan untuk yang lain." jawab Dean. Ia menghela nafas kemudian berbicara kembali. "Aku sudah mengeluarkan semua pesonaku untukmu, tapi kau ingin menemui mantan kekasihmu saat ini."


Jessy tertawa ringan. "Kakak iparmu. Alv hanyalah dokter yang membantu kesembuhanku."


Taxi yang membawa Dean dan Jessy melewati sebuah mall. Dean tersenyum. "Disana aku menemukanmu." ucapnya sambil menunjuk salah satu billboard yang terpasang pada tembok gedung. "Saat itu malam hari. Aku lelah karena baru menyelesaikan syuting film. Aku melihatmu disana. Wajahmu sangat cantik walaupun berbeda dengan wajahmu sebelumnya. Tapi aku tidak peduli. Wajahmu dahulu ataupun sekarang, aku tetap menyukainya. Namamu menjadi Brittany, aku masih memanggilmu dengan panggilan Jessy. Mengapa? Karena bagiku kau tetap Jessy Julian. Dari seorang petugas laundry, menjadi seorang model dan memiliki suami tampan sepertiku, bukankah itu sebuah keberuntungan untukmu?"


Jessy tertawa kembali. "Ya, aku beruntung."


Dean memegang tangan Jessy dengan erat. Ia menatap perut Jessy. "Aku ingin melihatnya tumbuh besar didalam perutmu. Ketika bayi kita sudah keluar, perhatianmu akan terbagi."


Jessy mengangkat alisnya. "Maksudmu, kau tidak ingin anak kita lahir dan hanya ingin melihatnya terus tumbuh diperutku?"

__ADS_1


Dean tertawa. "Tidak seperti itu.."


__ADS_2