Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
Bad Times


__ADS_3

"Jadi kau sudah memutuskan semuanya?" tanya Isabel ketika ia dan beberapa orang lainnya tengah berbincang diruang makan. Nadanya masih saja terdengar cemas.


Dengan diberikan tempat tinggal pada orang asing seperti dirinya pun membuatnya malu. Ia terasa menjadi sebuah benalu. Ia ingin pergi tanpa merepotkan Isabel dan Jonas. Mereka berdua yang ia tahu adalah sahabat Dean. Mereka bisa merusak rencananya. Ketika dokter disampingnya menyanggupi permintaannya, ia merasa kemenangannya ada didepan mata.


"Aku akan ikut dengan Dokter Alv ke Turki. Karena disana Dokter Alv bisa mengerjakan semuanya."


"Berapa lama?" tanya Isabel kembali.


"Proses pembedahan hingga penyembuhan akibat operasi bisa saja lama tergantung kondisi pasien." jawab Alv.


Isabel tampak menahan rasa kecewa. Wajahnya langsung berubah sedih. Ia memainkan jari-jarinya. Baru saja ia menemukan putrinya, mereka akan kembali kehilangannya. Kapan ia siap mengatakan pada Brittany jika ia dan suaminya adalah orangtua kandungnya?


"Lagipula, kalian berdua sudah sangat baik padaku dengan mengijinkan ku tinggal dirumah kalian." ucap Brittany.


"Lalu bagaimana dengan status mu dengan suamimu?" tanya Jose tajam. "Apakah kau pernah melihat berita?"


Brittany menatap Jose. "Statusku masih sama seperti sebelum menikah. Berita? Aku tidak membutuhkannya. Aku bukan seseorang yang memerlukan sebuah berita. Aku tidak peduli pada apapun. Aku hanya ingin lahir kembali. Aku sudah banyak mengalami hal buruk. Apakah aku akan tetap diam? Jawabannya tidak. Aku tidak akan diam. Apakah kau mulai membela pria itu?"


"Aku tidak membela siapapun. Namun kau harus melihat kenyataan. Pria itu suamimu. Kau harus melihat sendiri bagaimana putus asanya ia mencarimu! Apakah tidak ada kesempatan untuknya meminta maaf? Kalau pria itu tidak mencintaimu, untuk apa ia terus mencarimu hingga ia mengabaikan filmnya?" seru Jose.


"Ucapan mu tidak akan membuatku berubah pikiran." jawab Brittany.


"Memang siapa suami Brittany?" tanya Lily bingung.


Alv menahan Lily agar tetap diam. "Kau tidak sopan." bisiknya. Lily langsung terdiam. Ia menatap serius pada pria di sebrang nya.


Perdebatan diruang makan tadi membuat kepalanya sakit. Ia kembali ke kamar tidurnya dibantu oleh Alv. Alv mengatakan ia akan kembali ke Turki esok pagi sehingga kemungkinan ia tidak akan bertemu pagi harinya. Ia kini seorang diri di kamarnya. Ia sengaja tidak menutup jendela kamar. Malam ini tidak terlihat bintang diatas sana. Ia berdiri dibantu sebuah tongkat dan berdiri didepan jendela. Ia diam. Hanya terdengar suara air sungai yang mengalir dibelakang rumah.


Seandainya saja ia tidak kehilangan bayinya, ia tidak akan seperti ini. Separuh nyawanya telah hilang sejak ia harus mengalami kecelakaan itu. Setiap malam ia selalu mengingat malam mengerikan itu. Jika Dean mau baik-baik berbicara dengannya saat itu, semuanya akan berbeda. Jangan salahkan dirinya jika suatu saat ia akan membalas semua permainan Dean padanya. Jose tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaannya saat ini.

__ADS_1


Dean putus asa? Ia yakin itu hanya sementara. Seorang playboy seperti Dean pasti kehilangan sebuah mainan. Namun tak lama lagi, ia pasti mendengar Dean bersama dengan wanita lain. Suatu saat nanti, ia yang akan menjadi wanita lain itu untuk membalas semua perbuatan Dean padanya. Rasa sakit dihatinya akan ia balas dengan sakit yang lebih parah. Demi bayinya yang sudah tiada, ia berjanji untuk melakukannya.


Suara barang didorong terdengar sangat keras oleh orang-orang. Ia kembali keluar dari ruang kerjanya. Beberapa orang tengah memindahkan barang-barangnya keluar. Ia memutuskan untuk mengganti semua barang-barang yang mengingatkannya pada Jessy. Ketika ayahnya datang ke apartemen, ia mengatakan sesuatu yang menyakitinya. Barang-barang yang pernah ia pakai harus ia ganti dengan barang baru karena hal itu mengakibatkan dirinya akan sosok Jessy. Namun itu memang benar. Setiap detik ia selalu mengingat Jessy. Terlebih ketika ia menyadari Jessy tengah mengandung.


Dean kembali masuk kedalam ruang kerjanya. Ia berjalan keluar dan melihat langit yang sudah gelap. Belum ada kabar tentang Jessy. Kemana kau pergi, Jessy?


...Aku telah berubah. Sejak kau datang di kehidupan ku, aku telah berubah. Aku bukan pria yang selama ini kau takuti. Aku bukan seorang playboy yang seperti kau pikirkan. Asal kau tahu, ditempat yang tidak akan ditemukan oleh siapapun, kau telah hadir didalam lubuk hatiku yang paling dalam, Jessy. Kau telah memenuhinya tanpa ada seorangpun yang bisa memasukinya. Namun selamanya aku menyadari hal dalam ingatanku. Yaitu kenangan ketika aku melihatmu menahan tangis. Aku ternyata pria brengsek. Aku menyesal. Aku tidak termaafkan. Aku ingin mengatakan padamu, jika kau adalah segalanya bagiku. ...


Sebuah tetes air hujan membasahi wajahnya. Alam seperti tengah berduka seperti dirinya. Atau malah mengejeknya?


Terdengar teleponnya berbunyi. Iapun menutup jendela dan kembali ke meja kerjanya. Ia mendapatkan panggilan. Jarang sekali ada yang menghubunginya melalui telepon rumah.


"Halo.." jawabnya hati-hati.


"Aku sulit sekali menghubungi ponselmu!" seru seseorang.


"William?"


"Maafkan aku. Aku sedang melihat film ku yang tengah diedit oleh editor. Aku mematikan ponselku karena aku sedang fokus bekerja. Kau tidak bisa ku hubungi beberapa hari ini." jelas Dean.


"Aku sedang berada di Santorini. Aku sedang menyelidiki sesuatu."


"Santorini? Apakah ada kabar? Kau menemukan istriku?" tanya Dean dengan nada terburu-buru.


"Apakah kau mau mendengar sebuah kabar buruk?" tanya William serius.


Dean terdiam. Jantungnya berdebar dengan kencang. "Kabar buruk?" tanyanya dengan mata nanar.


"Ya, aku harap ini salah karena tidak ada keterangan lebih lanjut dari hasil ini."

__ADS_1


"Apa yang kau temukan?" tanya Dean kembali.


"Beberapa hari yang lalu ditemukan sesosok mayat warga asing bernama Jessy. Ia ditemukan telah mengambang di laut. Ketika dilakukan autopsi, ia berkewarganegaraan Amerika. Aku harap itu bukan Jessy istrimu. Aku bisa mengirimkan padamu hasil autopsinya. Kau bisa memeriksanya.


Dean tidak pernah mau mendapatkan berita buruk seperti ini. Tubuhnya ambruk dilantai. Ia mulai membayangkan semua kemungkinan.


"Jessy tidak mungkin meninggalkanku begitu cepat! Itu tidak mungkin! Jessy masih hidup. Ia akan kembali padanya." ucapnya dengan mata nanar. Namun ia kemudian membayangkan jika hal itu benar. "Kau tidak mungkin mati Jessy! Bukan berita ini yang aku tunggu!" teriaknya histeris. Ia mulai terisak.


... ***...


"Aku penasaran dengan suami Brittany." bisik Lily ketika ia dan Alv berada dibelakang rumah.


"Jangan penasaran. Kau akan terkejut nanti." ucap Alv.


"Jadi kau tahu? Siapa Alv?" tanya Lily memaksa.


"Aku sudah berjanji untuk tetap diam. Aku telah disumpah untuk menjaga privasi pasienku."


Lily berdiri dan berjalan menjauhi kakaknya. "Aku malas berbicara denganmu. Lebih baik kau memang cepat pulang daripada berada disini. Ucapan mu menyakitkan.."


Alv tersenyum tanpa melepaskan tatapannya pada Lily. Tidak semua hal ia sampaikan pada Lily. Ketika ia masuk kedalam, ia melihat pria itu tengah duduk di meja dapur seorang diri. Ia sedang melamun.


"Aku akan menemanimu ketika kau merasa sendiri." ucap Lily percaya diri.


Jose menyimpan gelas yang tengah dipegangnya diatas meja. Sebagai gantinya, ia menoleh pada wanita disampingnya. Tidak pernah seumur hidupnya ia bertemu dengan wanita yang percaya dirinya begitu tinggi.


"Aku kasihan padamu.." ucap Jose.


Lily tersenyum. "Mengapa?"

__ADS_1


"Kau pasti banyak ditolak oleh pria sehingga kau mengejar ku terus seharian ini. Aku tidak mau kau menunggu lama. Aku tidak menyukaimu. Sekalipun kau teman Brittany!" jawab Jose sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.


Lily menarik nafas perlahan dan menghembuskan nya pelan. "Tenanglah Lily Aysun. Tidak ada yang tidak menyukaimu. Kau memilih pria yang tepat. Semakin kau membenciku, aku semakin penasaran."


__ADS_2