
"Sudah puas? " goda Alv ketika ia melihat wanita disampingnya tengah tertidur. Ia tahu Joan sudah bangun. Tapi ia terlihat malas.
Joan tersenyum dan membuka matanya. "Ya, besok kau bisa mulai bekerja kembali." ucapnya sambil menoleh padanya.
"Sekarang kau yakin dengan perasaanku? " tanya Alv kembali. Ia bangun dari tidurnya dan menyandarkan punggungnya.
Joan mengangguk. Tapi ia tidak terlihat hendak bangun. Ia malah menutup tubuhnya dengan selimut.
"Kemari lah" ucap Alv sambil mengulurkan tangannya. Joan bangun dan mendekatinya. Ia pun menyandarkan tubuhnya pada Alv dan memeluknya dengan erat. "Jangan pernah berfikir macam-macam. Aku akan bertahan untuk apapun. Kau mengerti? "
"Adikmu itu, aku memiliki firasat buruk. Biasanya firasat selalu benar. "
Alv menundukkan wajahnya. "Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Aku akan berbicara pada Lily mengenai hubungan kita. Pada awalnya mungkin ia menolak. Tapi perlahan pasti ia menerimamu. Jadi itu yang kau pikirkan beberapa hari ini? "
Joan mengangguk. "Aku ketakutan. Ditambah ucapan Jessy mengenai kehamilan itu. "
"Jadi kau masih tetap dengan rencana mu untuk hamil anakku?"
Joan tertawa ringan. " Aku akan bersyukur jika kita memiliki anak. Kapanpun itu waktunya. "
Mereka pun terdiam. Suara musik romantis terdengar diluar kamar. Mereka berdua menikmati musik itu.
"Kau mau pergi ke Turki? " tanya Alv.
"Sangat. Jika ada kesempatan itu, aku tidak akan menolaknya. Aku ingin tahu dimana kau tinggal, bagaimana kau hidup sendirian di sana dan bagaimana teman-teman mu. Aku ingin tahu semua. Aku juga ingin mengunjungi makam orangtuamu. Aku ingin mengunjungi makam ibumu kemudian ayahmu. "
"Ayahku dimakamkan di Athena. Ketika kau ke Turki, hanya makam ibuku yang bisa kau kunjungi. " jawab Alv.
"Kita bisa ke Athena untuk mengunjungi makam ayahmu. " seru Joan antusias.
__ADS_1
"Kau mendengar sesuatu? " tanya Alv.
"Ya, sebuah ketukan di pintu depan. Siapa yang datang kesini pagi-pagi seperti ini?" tanya Joan bingung.
"Aku tidak tahu. Biar aku buka. Siapa tahu satpam apartemen." jawab Alv sambil melepaskan pelukannya. Ia turun dari atas tempat tidur kemudian memakai kaos oblong. Ia merapikan rambutnya dengan kedua tangannya.
Alv berjalan keluar kamar. Selama ia tinggal di New York, baru Joan dan Lily yang datang ke apartemennya. Lalu siapa yang datang pada pukul 6 pagi?
Alv membuka pintu dan terkejut ketika melihat siapa yang sedang berdiri didepan pintu apartemennya.
"Aku datang, kakakku sayang! "
...***...
Athena
Lily menatap rumah masa kecilnya sedih. Keputusan besar telah ia buat. Ia akan tinggal dengan Alv di New york. Ia telah mengundurkan diri sebagai pegawai pemerintahan Athena karena ingin dekat dengan Alv. Akhir-akhir ini Alv jarang menghubunginya. Ia menjadi khawatir dan mulai berfikir yang tidak-tidak. Alv tidak boleh terpikat pada wanita itu. Jelas-jelas keluarga itu telah mempermainkannya. Termasuk Brittany. Ia marah pada wanita itu. Jika ada yang mengatakan ia tidak tahu diri karena menabrak perempuan itu dan sekarang malah berbalik memusuhinya, ia tidak peduli. Kewajiban dan tanggung jawab atas kerusakan yang terjadi pada Brittany telah ia lakukan dengan membuat wajahnya menjadi cantik oleh Alv.
Alv, aku akan berada di sampingmu agar kau tidak terpikat oleh wanita itu. Kita akan hidup bersama berdua. Jika kisah cintaku harus berakhir tragis, kau pun tidak boleh bahagia dengan cintamu. Aku akan membawamu kembali ke Istanbul.
Ketika ia mengunci gerbang rumahnya, ada seseorang yang memanggilnya.
“Lily.. Kau yakin dengan keputusanmu? “ seru salah seorang tetangganya.
“Aku pergi untuk menemui kakakku, apakah itu salah? “
“Tidak salah. Tapi kau melepaskan pekerjaanmu untuk itu. “
“Jangan ikut campur urusanku, bibi. Alv akan bertanggungjawab pada adiknya. Aku tidak mungkin tidak bisa makan jika ada Alv. Jangan ikut campur dengan urusanku. Urus saja anakmu yang malas itu! Jika kau membiarkannya terus seperti itu, ia bisa membunuhmu“ ucap Lily sambil mendorong kopernya menjauh dari rumah masa kecilnya. Ia tertawa ketika mendengar umpatan dari wanita itu.
__ADS_1
Setiap orang berhak mengeluarkan pendapat, tapi tidak terlalu jauh untuk mencampuri semua urusannya. Ia sudah cukup dewasa untuk melihat mana yang terbaik dan mana yang terburuk. Situasi dan keadaan saat ini mendesaknya untuk pindah ke New York. Ia ingin Alv hidup bahagia tanpa bayang-bayang Brittany. Perlahan namun pasti, ia akan membuatnya kembali ke Istanbul, ke tempat asalnya. Kota kelahirannya.
Taxi membawanya langsung ke bandara. Ia sudah tidak sabar. Apakah Alv akan menyambutnya dengan hangat? Atau ia akan terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba? Apapun yang akan terjadi disana, ia siap. Dan satu lagi, ia akan membuat Alv bercerai dengan wanita itu.
"Sedang apa kau disini? " tanya Alv bingung.
Lily mendorong kopernya kedalam apartemen. "Kenapa kau tanyakan itu? Aku datang kesini untuk menyusul mu. Aku akan tinggal denganmu mulai saat ini. " ucapnya tegas.
Alv melihat pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Terdengar gagang pintu bergerak. Pintu kamarnya terbuka.
"Siapa Alv? " tanya Joan yang keluar dengan rambut berantakan. Namun bukan Alv yang ia tatap, melainkan tatapan marah wanita muda yang menatapnya penuh kebencian padanya.
Lily berjalan cepat menuju Joan. Ia menarik pakaian Joan. "Untuk apa wanita ****** ini disini, Alv! Kau bersekongkol di belakangku?"
Joan yang tidak siap terhuyung karena ditarik dengan sangat cepat."
"Aysun! " teriak Alv marah.
"Kau memanggilku apa, Alv? " tanya Lily yang terkejut.
Alv berjalan cepat dan menarik bahu Joan dan memeluknya. "Kau keterlaluan! " ucapnya marah.
"Pergi! Bawa wanita itu pergi! Aku ingin muntah jika melihatnya! " teriak Lily histeris.
"Ya, bawa aku pergi, Alv." bisik Joan yang masih shock karena hal yang begitu tiba-tiba ini. Firasatnya tidak pernah salah. Tangan Alv yang memeluk bahunya terasa bergetar.
Alv membawa mobil dengan kecepatan sedang menuju Brooklyn. Karena masih pagi hari, jalanan masih kosong. Ia sesekali menatap Joan yang banyak diam sejak mereka meninggalkan apartemen.
Alv memegang tangan Joan dengan erat. "Aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat."
__ADS_1
"Ya.. " jawab Joan pelan.