
Tell me his name i want to know..
The way he looks and where you go
I need to see his face
I need to understand
Why you and I came to an end
Tell me the words I never said
Show me the tears you never shed
Give me the touch
That one you promised to be mine
Or has it vanished for all time
- josh groban-
"Alv..." panggil Lily sambil membuka pintu. Tidak ada jawaban dari Alv. Pria itu terlalu kesakitan. Ia tidak bisa menolongnya. Jika saja ia tidak terobesesi pada Alv, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Alv sudah bahagia dengan wanita itu, tapi ia malah merusaknya. Ia membawa kursi rodanya memasuki kamar. Ia melirik makan siang yang belum tersentuh. "Alv, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Setiap kau putus dengan kekasihmu, kau tidak sehancur ini. Aku minta maaf jika akulah penyebab kau menjadi seperti ini. Aku bersalah bukan hanya padamu. Tetapi pada keluarga itu pula" ungkap Lily dengan nada bergetar.. Tetap tidak ada jawaban dari Alv. Pria itu tetap memunggunginya.
Lily baru kali ini merasakan penyesalan yang tidak tertahankan. Ia yang telah menghancurkan semuanya. Kepercayaan Alv, kebaikan Jessy dan keluarganya dan perhatian dari orang-orang disekitarnya. Semuanya sudah terjadi. Ia tidak bisa apa-apa. Kedua kakinya lumpuh akibat dari perbuatannya. Lily menghela nafas. Ia berbalik dan membawa kursi rodanya keluar dari kamar Alv. Sudah satu bulan mereka tinggal di rumah mereka di Ankara. Namun status pernikahan antara Alv dan Joan masih menggantung. Dengan perpisahan mereka berdua, apakah dirinya senang? Tidak sama sekali.
Lilypun benar-benar keluar dari kamar Alv. Ia menutup pintu kamar Alv pelan, terdengar olehnya suara bell pintu berbunyi. Ada tamu. Tamu pertama sejak ia pindah ke rumah ini. Siapa yang datang kerumahnya malam-malam seperti ini? Ia hanya mendengar suara pintu terbuka dan suara pelayannya. Ia penasaran, siapa yang datang kerumahnya. Terdengar suara laki-laki berbicang dengan pelayannya. Iapun bergegas membawa kursi rodanya menuju ruang depan. Baru saja membuka pintu, ia terkejut. "Kau!"
"Ya, ini aku Dean. Dean Justin Lee. Aku ingin menemui Alv." ucap Dean tenang. Ia melihat keadaan wanita didepannya sambil tersenyum.
Lily tahu arti senyum itu. Pria itu pasti senang dengan keadaannya sekarang. "Percuma kau menemui Alv, ia tidak akan menandatangani dokumen apapun dari kakakmu." ucap Lily ketus.
Dean mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak membawa dokumen apapun. Aku hanya ingin melihat keadaan Alv dan menanyakan kabarnya. Bagaimanapun aku masih menjadi adik iparnya. Mereka masih terikat pernikahan."
Lily menunduk. "Bisakah kau melepaskan kakakku? Jika tidak, aku meminta kau mempersatukan mereka kembali. Bisakah kau melakukannya?"
"Bisa kau panggilkan?" tanya Dean kembali.
"Lebih baik aku mengantarmu ke kamarnya." ucap Lily.
__ADS_1
Dean cukup terkejut dengan keadaan Alv ketika pintu kamar dibuka. Pria itu tidak terlihat segar. Wajahnya pucat. Tubuhnya terlihat kurus. Ada nampan berisi makanan dimeja nakas. Ia seakan menatap dirinya dimasa lalu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dean.
Alv menoleh. Cukup terkejut melihat pria itu ada disana. Ia berjalan menghampiri Dean dan melihat kedua tangan Dean. Pria itu tidak membawa apa-apa. Ia melirik pada Lily. "Kita bicara di ruang baca." ucapnya pada Dean. Iapun berjalan menuju ruang baca sedangkan Dean mengikutinya di belakang.
"Rumahmu sangat bagus, Alv. Mediteranian. Aku pernah melihat rumah seperti ini ketika syuting beberapa tahun yang lalu. Tadi aku melihat air mancur didepan rumahmu. Sepertinya kau bukan pria biasa saja jika kau berada dinegaramu." goda Dean.
Alv tidak menjawabnya. Ia terus berjalan menyusuri lorong. Terdapat sebuah pintu besar diujung jalan. Ketika Alv membukanya, ia mendengar decak kagum dari Dean.
"Rumahmu bisa aku sewa untuk tempat syuting." ungkap Dean. Ia melihat ke setiap sudut ruangan. Koleksi buku-buku milik Alv cukup banyak. Jika tidak mengenal Jessy dan menikah dengan Joan, kehidupan Alv sudah lebih baik. Tapi lihatlah sekarang, baru satu bulan ia dan kakaknya berpisah, keadaan Alv sangat memprihatinkan. Ia terlihat lusuh. Wajahnya seperti kurang tidur. Keadaannya sama seperti dirinya beberapa tahun yang lalu. "Kau tidak terlihat baik-baik saja. Kau sudah melihat foto-foto yang aku kirimkan padamu?"
Alv menatap Dean tajam. "Menurutmu? Apakah aku terlihat baik-baik saja?"
"Tidak. Kau lebih parah dariku. Ketika aku kehilangan Jessy..." ucapnya tertahan seraya membayangkan saat-saat itu. "ah..lebih baik tidak aku ceritakan. Yang pasti aku pun pernah mengalami hal yang sama sepertimu."
Alv duduk di kursi kerjanya. "Tidak perlu membandingkan. Jo bahkan tidak mau mendengar penjelasan dariku sedikitpun. Aku tidak memliki kesempatan."
"Lalu bagaimana menurutmu mengenai foto-foto itu? Aku dengar mereka berpacaran. Apakah kau akan diam saja melihat istrimu menjalin asmara dengan pria lain?" tanya Dean kesal.
"Sudah aku katakan sejak awal, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikannya. Aku tidak akan membiarkannya bersama pria lain."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau masih akan diam disini dan menikmati kesedihanmu sendiri? Aku tidak setuju kalian berpisah. Begitu pula dengan kedua orangtuaku. Seandainya kau tahu, Joan tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Ia belum pernah merasakan patah hati. Perpisahan kalian mungkin saja menjadi patah hati terbesarnya."
Dean melihat kepergian Alv. Kemudian ia melihat Lily yang datang menghampirinya.
"Semuanya terjadi karena aku." ucap Lily ketika melihat Alv sudah berjalan ke kamarnya.
Dean melihat keadaan wanita yang sudah mencelakakan keluarganya itu dengan tatapan sebal. "Ya, kau sangat bersalah. Kau tidak akan bahagia. Kau ingat itu!" Ucap Dean sambil melangkah pergi.
"Bantu aku menyatukan mereka, tolong.." seru Lily.
Dean berbalik. "Membantumu?"
***
"Turki?" seru Joan ketika mendapat telepon dari Dean.
"Ya, aku harus melakukan syuting disana. Paling lambat bulan depan film ini akan diproduksi." jelas Dean.
__ADS_1
Joan turun dari mobilnya dan berjalan kedalam butiknya. "Bukankah drama mu masih tayang? Jangan serakah, Dean. Kau harus menyelesaikan proyekmu satu persatu. Aku tidak mau menjadi bagian dari proyekmu yang baru jika proyekmu yang lainya belum selesai."
"Percayalah padaku, aku bisa melakukannya. Dad juga pernah melakukannya. Kita adalah Lee. Orang yang paling bersemangat." Dean mencoba untuk meyakinkan walaupun akan sulit.
Joan menhela nafas. "Kenapa harus Turki? Kenapa harus negara dimana Alv tinggal? Kenapa bukan negara orangtua istrimu?"
Dean tersenyum. Joan wanita pintar. Apakah ia curiga dengan rencananya untuk membawa Joan ke Turki? "Emm.. karena timku sudah memesan sebuah tempat disana. Jefri sudah melihat lokasinya. Ia mengatakan jika lokasinya pas sekali. Lokasi itu sudah sesuai dengan apa yang dipikirkan Jefri."
"Seharusnya Jefri bisa bisa mencari negara baru untuk dijadikan lokasi syuting."
"Kau lupa jika aku pernah syuting disana? Kau juga lupa jika Jessy pernah menjadi bintang iklan di sana? Karena banyak pengalaman, aku harus melakukannya. Lagipula namaku sudah terkenal di Turki."
"Aku tidak akan berjanji. Tapi akan aku pikirkan." ucap Joan tegas. Ia menutup teleponnya dengan cepat. Turki? Lucu sekali. Apakah Dean ingin ia bertemu dengan Alv? Tidak bisa. Itu tidak akan terjadi. Ia tidak mau menemuinya walaupun hati kecilnya ingin sekali. Kehilangan Alv menjadi patah hati terbesarnya. Namun ia baik-baik saja dengan itu, Kejadian ini ia anggap sebagai kenangan pahit yang pertama dan terakhir. Ia tidak mau jatuh cinta, ia tidak mau menikah dan ia tidak mau sakit lagi.
Langkahnya terhenti ketika ia berada didepan kantornya. Ia mendengar percakapan antara Gerard dan Sophie.
"Buka matamu. Pria itu jelas sudah menyakiti Joan. Mereka harus berpisah."
"Ada kesalahan yang bisa dimaafkan. Tapi Joan menutup itu. Anak itu tidak memberikan kesempatan Alv untuk berbicara. Joan melarikan diri." seru Gerard.
"Pria itu memang tidak boleh diberikan kesempatan. Ia akan mengulanginya kembali. Joan akan disakiti."
"Itulah mengapa sampai sekarang kau tidak memiliki kekasih. Karena kau sulit memaafkan. Tidak semua pria seperti itu. Sebagai sahabat, kita berdua bisa mendorong kebahagiaannya."
"Tentu saja Joan akan bahagia dengan kekasihnya yang baru."
"Siapa maksudmu? Adrian?" ejek Gerard.
"Tentu saja." Sophie membalasnya dengan nada tinggi.
"Adrian seorang model merangkap sebagai playboy kelas kakap. Kau lihat berita mengenai skandal Adrian?"
"Tapi hatinya hanya untuk Joan. Kau lupa perjuangannya mendapatkan Joan?"
"Aku tidak peduli. Joan harus kembali pada pelukan suaminya." seru Gerard.
"Tidak. Ia harus dengan pria baru. Hanya Adrian yang pantas!"
"Kau tega sekali. Joan harus kembali pada suaminya."
__ADS_1
"Adrian yang pantas!"
Joan masuk ke ruangannya dengan langkah pelan. "Dengarkan baik-baik apa yang aku katakan sekarang. Aku tidak akan kembali pada Alv. Dan.. aku tidak akan memilih Adrian. Tidak akan ada pria manapun yang aku pilih. Jelas?"