
Dean dan beberapa orang yang ia panggil kini sudah berada disalah satu ruangan yang ada di kantor ayahnya. Ia menatap orang-orang yang pernah bekerja sama dengannya beberapa tahun terakhir. "Film ini menjadi salah satu taruhan baru untukku. Kalian sudah tahu kejadian yang menimpa keluargaku tiga tahun kebelakang. Aku kehilangan istriku. Aku hanya menginginkan ia kembali ke rumah. Cara satu-satunya adalah membuat film romantis dimana satu pasangan favoritnya menjadi aktor utama di film ini. Kalian pasti akan terkejut jika aku mengatakan tema film kali ini yang akan aku buat adalah film romantis." Jelas Dean kepada beberapa orang didepannya. Ia telah kembali. Ia menatap orang-orang terbaik didepannya. "Bagaimana menurut kalian?"
Jefry tertawa pelan. "Aku tidak terkejut kau membuat film romantis. Kami mengerti bagaimana kau tersiksa karena sebuah cinta. Lagipula apa salahnya membuat film romantis? Jika film itu dibuat dengan baik dan mendapat perhatian positif, apa salah?" goda Jefry sambil menatap teman-temannya.
"Kami siap, Dean. Kami akan melakukan yang terbaik untuk membuat film yang kau inginkan kembali. Mari kita hancurkan film yang diproduksi Harris." ucap salah satu editor.
Dean mengerutkan keningnya. "Sepertinya kau memendam sesuatu pada Harris." selorohnya.
"Ia terlalu angkuh." jawab Jefry tenang.
Dean mengangguk. Seperti dugaannya, Jefry memang pria seperti itu. Ia tidak terkejut dengan jawaban Jefry. "Kau bisa membuat naskah mengenai kisah romantis? Jujur saja, film romantis bukan kesukaan ku sejak dulu. Aku tidak tahu bagaimana melakukannya."
"Kau beruntung karena akhir-akhir ini aku sedang membuat naskah untuk film romantis. Kita bisa langsung membuatnya. Tentu saja, kau harus membacanya terlebih dahulu." jawab Jefry.
"Bisa kau jelaskan sedikit?"
"Pengambilan setting film ini dilakukan dengan menggunakan set mediteranian. Aku pernah mencari tempat yang cocok untuk pengambilan gambar. Turki. Tepatnya di capadocia. Disana adegan romantis akan muncul dengan sendirinya. Pemandangan capadocia membuat semua yang terlihat nampak romantis. Kau bisa melihatnya sendiri." jelas Jefry.
"Ya, aku pernah melihatnya disebuah reality show. Capadocia merupakan tempat paling romantis. Banyak yang sudah melakukan syuting disana." seru salah seorang produser.
"Film ini bercerita tentang sebuah cinta tak terbalas. Aku melakukan penelitian di beberapa film yang sedang tayang. Saat ini banyak penonton menyukai jenis cerita seperti itu. Pemasaran film ini sebenarnya untuk penonton wanita berusia 17 tahun ke atas. Tidak dapat dipungkiri jika penonton bisa bertambah pada penonton pria. Menurut survey para pria mulai menyukai film romantis sebanyak tiga puluh persen. Ini peningkatan yang cukup tajam mengingat film thriller dan action kurang diminati akhir-akhir ini" ucap Jefry panjang lebar.
Lee mendengarnya sambil berpangku tangan. Ia mengangguk mendengar penjelasan Jefry. Pria itu pintar. Ia tahu Dean akan kembali. Begitulah memang seharusnya tim. Ia melihat Dean, ia begitu serius mendengar setiap arahan dari teman-temannya. Tidak salah ia membuat rumah produksi dalam waktu yang sangat cepat. Ia bukan ingin mencari keuntungan, ia ingin Dean membuat karya dibawah rumah produksinya. Ia semakin tua. Ia tidak mungkin dapat membuat sebuah film seperti sebelumnya.
"Dad, bagaimana menurutmu?" tanya Dean.
Lee mengangguk. "Aku percaya padamu. Film ini akan menjadi taruhan saat kau kembali. Apakah kau masih bisa membuat film bagus atau tidak."
"Bisa kita mulai secepatnya? Lakukan casting pemain secepatnya. Untuk pemeran utama, aku sudah memilikinya."
"Tidak masalah, Dean. Besok kita bisa mulai casting."
Ketika semuanya telah selesai, Dean tidak langsung pulang ke rumah. Ia mengunjungi suatu tempat. Sudah lama sekali ia tidak minum. Lagipula iapun ingin membuat media tahu jika ia telah kembali dan siap mengacak-acak film-film yang telah ada. Para rivalnya pasti mulai ketakutan jika esok pagi media memberitakan tentang kemunculannya.
__ADS_1
Mobilnya telah sampai disebuah bar yang hanya berjarak beberapa blok saja dari kantor ayahnya. Walaupun ia telah terbiasa minum di bar ini, tapi kali ini rasanya berbeda. Dari luar saja sudah terlihat kerumunan orang. Ia menoleh ke belang, gedung apartemennya masih terlihat megah. Apartemen, ia mengingat sesuatu. Ia belum menghubungi Jonas karena telah membeli apartemennya.
Sebelum masuk kedalam, ia menyempatkan diri menghubungi Jonas di parkiran.
"Halo.." jawab Jonas ketika ia tidak lama menerima panggilan.
"Kau masih ingat siapa aku?" tanya Dean menggodanya.
"Aku tahu. Bagaimana kabarmu kid?" tanya Jonas. Nada bicaranya sangat pelan.
"Apakah kau takut istrimu tahu jika aku menghubungimu? Kid? Kau seperti ayahku." ucapnya sambil tertawa samar.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku melihat beritanya. Sudah berjalan hampir tiga tahun, bukan?" tanya Jonas serius. Sesekali ia melihat istrinya yang sedang berada di ruang keluarga. Ia sengaja menjauh setelah melihat panggilan dari orang yang telah menghilang selama bertahun-tahun itu
Dean menunduk sambil tersenyum. "Kau melihatnya? Memalukan bukan?"
"Kehilangan seorang istri bukanlah sebuah aib. Kau menyesal bukan?" tanya Jonas berhati-hati.
"Aku ingin mati. Ketika aku sudah hampir menyerah untuk menemukan Jessy, aku ingin mati saja. Aku tidak bisa hidup tanpa Jessy."
"Aku bukan pria seperti itu. Aku hanya mencintai Jessy. Sampai kapanpun. Aku pantas disebut suami paling brengsek. Jessy pergi dalam keadaan tengah mengandung. Aku sudah melakukan berbagai upaya untuk mencarinya. Aku menyewa puluhan FBI yang tersebar di beberapa negara besar. Dan aku mencarinya sendiri. Berbekal ransel dan pakaian yang aku pakai, aku mencari Jessy hingga ke pelosok negara kecil di benua Amerika dan Eropa. Dan aku mencari di sebagian Asia. Walaupun dalam hati aku sedikit ragu, Jessy akan pergi ke Asia."
Jonas hanya bisa menghela nafas. Ia berjalan keluar rumah. Nada Dean terdengar sedih. Ketika merubah nama Jessy menjadi Brittany, ia melakukannya karena emosinya sesaat. Ia tidak bisa memiliki cucu dan anaknya hidup dalam penderitaan. Namun setelah melihat tayangan Dean berhenti menjadi sutradara, dari situlah ia mulai terbuka. Ia merasa tersentuh. Dean terlihat terluka. Jika pria lain belum tentu akan melakukan hal yang sama seperti yang Dean lakukan. Ketika Anastasia menawarkan apartemen Dean, ia tidak berpikir banyak. Ia langsung membelinya. Ia pikir jika waktunya telah siap, Brittany bisa tinggal disana.
"Apakah kini kau menyerah?" tanya Jonas.
"Lima puluh persen aku menyerah. Hal terakhir yang aku lakukan adalah membuat sebuah film baru. Ya, aku kembali membuat film. Ini bisa menjadi pertaruhan. Apakah aku masih bisa membuat film yang bagus atau tidak. Dengan sisi lain harapanku adalah Jessy akan muncul karena pemeran utama film ini adalah kesukaan Jessy. Aku sangat merindukan Jessy, aku membuat sebuah film yang dapat menyampaikan kerinduanku pada Jessy ketika ia melihatnya."
"Aku harap kau mendapatkan kabar baik." ucap Jonas.
Dean tiba-tiba tertawa.. "Maafkan aku, aku menceritakan hal yang tidak seharusnya aku ceritakan. Kini kau tahu kelemahan ku. Sebenarnya aku menghubungimu karena masalah penjualan apartemen itu."
"Ya..."
__ADS_1
"Aku dengar kau menutupinya dari istrimu.."
Jonas terdiam. Jika saja Dean tahu istrinya kini sangat membencinya. Gara-gara kejadian itu, Isabela menutup hatinya untuk seorang Dean. Ia tidak mau melihat bagaimana pengorbanan Dean.
Dean mengerutkan keningnya. "Sepertinya aku mengganggumu. Nanti aku hubungi kau kembali. Aku harus melakukan sesuatu. Jika esok pagi kau melihat sebuah gosip baru di media, percayalah.. aku melakukannya untuk membuat orang-orang terkejut dengan kemunculanku."
Sesaat setelah telepon ditutup, Dean mulai masuk kedalam bar. Suara musik dari luar sudah terdengar sangat kencang. Lampu terlihat gemerlap. Lama sekali ia tidak datang ke bar ini. Ia melihat ke sekelilingnya. Wajah-wajah baru. Tetap saja ia tahu siapa mereka. Mata-mata media. Hampir semua selebriti mengawali gosipnya dari bar ini. Sudah tidak aneh baginya. Ia memulai gosipnya karena kedatangannya ke bar ini.
Baru saja berdiri di pintu, beberapa wanita berpakaian sexy menghampirinya. Dean berusaha untuk membuat gosip panas. Ia hanya ingin menunjukkan jika ia sudah muncul untuk memberikan ancaman pada orang-orang yang menyerangnya dulu.
Ia mengangkat kedua tangannya sebagai tanda jika ia tidak mau disentuh. Ia masuk dengan mudahnya. Pengunjung bar tidak terlalu padat. Para penari sedang meliuk-liukkan tubuhnya diatas panggung. Begitu pula dengan DJ yang sudah memainkan musiknya dengan panas. Dean duduk didepan seorang bartender. Pria itu terlihat terkejut.
"Dean!" teriaknya.
Dean tersenyum. "Kau masih mengingatku? Kalau begitu, kau pun masih ingat minuman apa yang aku pesan, bukan?"
Pria itu tersenyum. "Karena malam ini kau kembali, aku memberikan satu ramuan khusus untukmu. Gratis!" ucapnya.
Dean melihat bagaimana pria itu membuat minuman. Ia selalu takjub dengan cara pria itu bekerja.
"Apakah media masih banyak disini?"
"Walaupun tidak ada, aku yakin wajahmu yang akan muncul di headline news besok pagi."
Tiba-tiba kedua matanya ditutup oleh sepasang tangan. Ia tidak tahu siapa yang menjahilinya. "Siapa?" tanya Dean
"Aku yakin kau akan mengetahuinya jika aku membuka suaraku, bukan?" tanya wanita itu.
Dean langsung berbalik untuk melihat siapa wanita yang menutup matanya. Kedua tangan itu langsung terlepas ketika ia berbalik. Ia menatap wanita didepannya. Wanita yang sudah ia masukkan ke penjara dan kehilangan popularitasnya. Namun ia pikir, wanita ini akan membocorkan sesuatu tentang rivalnya.
"Halo, Cindy. Kau sudah tidak marah padaku.?" tanya Dean.
"Tentu saja aku masih marah padamu. Tapi aku tersentuh ketika melihat kau mundur dari pekerjaanmu. Aku sedih.." ucap Cindy yang tidak pernah berubah sedikitpun.
__ADS_1
Dean tersenyum. Ia tidak mudah percaya dengan wanita seperti Cindy. Mari kita lihat bagaimana media mengenalkannya ke media esok hari.