Pesona Sang Sutradara

Pesona Sang Sutradara
I'll be waiting


__ADS_3

Lelah? Tidak mungkin. Alv tidak akan lelah. Perjalanannya yang panjang tidak membuatnya patah semangat. Ia ingin bertemu Joan. Alv cukup berani karena tidak mendapatkan bantuan dari siapapun. Hanya karena beberapa foto antara Joan dengan pria itu, ia bertekad untuk mencari sendiri. Pertemuan mereka terakhir ketika di bandara membuatnya lemas, ditambah foto-foto itu. Sebelum ia mendapatkan jawaban dari Joan, ia tidak akan mundur. Ia tidak akan membiarkan Joan direbut oleh pria lain.


Alv menyimpan tas ranselnya dilantai. Boulevard Haussmann menjadi tempat pencariannya yang lain. Ia bertekad untuk menemukan dimana Joan tinggal. Ia yakin bisa menemukannya walaupun ia harus berkeliling kota Paris untuk melaluinya. Ia kini berdiri didepan resepsonis. Beberapa orang dibelakangnya berjalan lalu lalang. Paris memang bukan tempat yang sepi. Negara yang menjadi pusat mode dunia itu tidak pernah kehilangan wisatawan. Pantas saja Joan senang kembali ke sini. Kota Paris adalah impiannya. Ia tidak mungkin menghalangi hal yang menjadi impiannya saat ini. Tiba-tiba seorang pria dengan pakaian rapi menghampirinya.


"Aku memerlukan satu buah kamar untuk dua malam.  Apakah tersedia?"


"Untuk kau dengan pasangan?"


"Tidak, untuk kutinggali sendiri."


"Kau beruntung. Masih ada dua kamar single tersisa." Pria itu mulai menyiapkan kunci kamar untuk Alv. "Pembayaran menggunakan kartu atau cash?"


"Cash. Boleh aku bertanya padamu?"


Pria itu menatap Alv. "Silahkan.."


Alv mengeluarkan sebuah kartu nama. "Apakah kau pernah melihat sebuah butik dengan logo seperti ini?"


"Tentu saja aku tahu itu. Merk pakaian itu sedang ramai dibicarakan karena menjadi sponsor sebuah drama televisi. Kekasihku baru minggu lalu dari sana. Ada dua cabang tapi aku hanya tahu yang ada di tempat ini"


"Tidak apa-apa. Itu cukup." jawab Alv. Walaupun Joan tidak berada di tempat ini, ia bisa mencarinya ditempat lain. Selama butik itu masih ada. Alv tersenyum lega. Sepertinya pencariannya membuahkan hasil. Setelah mendapatkan kunci, ia tidak sabar untuk segera melakukan pencarian.


Dean menatap Jessy lama. Ia menopang dagunya dengan satu tangan. Dahinya berkerut. "Surat pembatalan kewarganegaraan. Aku merasa aneh. Kenapa Lily melakukan pembatalan? Memang Lily bukan warga Turki?"


Jessy duduk disampingnya sambil membawa cangkir kopi. Dua hari terakhir menjelang kepulangannya ke Manhattan. Rasanya waktu berlalu sangat cepat. Setelah Dean mendapatkan liburan selama satu minggu dari syuting dramanya, ia diminta ayahnya untuk menemui Alv. Ayahnya mengkhawatirkan keadaan Alv setelah kedatangannya malam itu. Beruntung hanya ia yang bisa memberitahu dimana Alv tinggal. Pertama kali sampai di Istanbul, mereka harus mendapatkan kabar jika Alv berada dirumahnya yang ada di Ankara. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju Ankara dan benar saja. Mereka menemukan Alv disana.


"Sayang, kau dengar aku?" panggil Dean kembali.


"Apa yang kau katakan tadi?"


"Mengapa Lily membatalkan kewarganegaraannya? Apakah Lily bukan orang turki?" tanya Dean kembali.

__ADS_1


"Mungkin saja. Ibu Lily merupakan warga negara Yunani dan ayahnya Turki. Tapi seingatku, Lily mempunyai dua kewarganegaraan. Ia bisa memilih salah satu. Aku tidak tahu banyak tentang itu. Kenapa kau bertanya padaku? Kau tertarik dengan Lily?"


"Aku tertarik dengan jalan cerita Lily. Mengapa ia sampai harus berkorban dengan melepaskan satu kewarganegaraan?"


"Mungkin ia sadar karena telah menyakiti orang yang telah banyak menolongnya. Ketika kita bertemu dengannya, aku melihat banyak perubahan. Ya, sepertinya ia sudah sadar."


"Seharusnya jika Lily pergi dari kehidupan Alv, Joan dan Alv bisa kembali bersama. Bagaimana menurutmu?"


Jessy menyandarkan punggungnya. "Mungkin tidak mudah. Joan sangat keras kepala. Lebih baik kau tanyakan padanya, mengapa ia tidak mau kembali pada Alv? Apakah ia benar-benar telah memiliki kekasih? Lalu, apakah Alv sudah bertemu dengan Joan? Ini sudah beberapa hari bukan?"


"Kau benar. Tapi menurutku kita tidak perlu ikut campur urusan mereka. Jika aku menjadi Joan, aku tidak akan melepaskan seseorang yang kucintai dengan mudah. Aku akan mempertahankannya."


Dean tertawa hambar. "Lalu apa yang kau lakukan padaku dulu?"


"Itu karena kau menyebalkan. Aku harus meninggalkanmu sehingga kau sadar jika aku berharga!" jawab Jessy kesal.


Dean langsung memeluk Jessy. "Ya, aku mengakuinya. Tapi kau juga menyebalkan sama sepertiku."


"Aku ingin mengundangmu makan malam,mylady.."


Joan terkejut ketika tiba-tiba pria itu datang ke butiknya. Adrian berdiri didepan pintu sambil membawa bunga kesukaannya. Ia berdiri dan berjalan menghampirinya. Sambil melihat bunga itu, Joan hanya bisa menghela nafas. Padahal hari ini ia tidak mau diganggu oleh siapapun.  Ia menatap wajah Adrian. "Untuk apa kau datang kesini?"


"Tentu saja untuk mengundangmu makan malam." jawab Adrian tenang.


Joan melihat jam tangannya. "Lihatlah. Masih pukul 12 siang. Kau mengajakku makan malam. Kau tidak tersesat bukan?"


Adrian menyerahkan bunga itu pada Joan. "Aku akan menunggu sampai malam ini kau mau ikut denganku makan malam." Ucapnya.  "Jo, aku baru turun dari pesawat satu jam yang lalu dan pergi menemuimu. Kau tega sekali jika menolak ajakanku untuk makan malam." tambahnya.


"Maaf, tapi malam ini aku harus bertemu dengan seseorang." ucap Joan.


Kedua mata Adrian membesar. "Siapa? Kau kembali pada suamimu?"

__ADS_1


Joan terdiam. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia akan menemui dokter malam ini. "Itu bukan urusanmu."


"Itu menjadi urusanku karena aku sudah mengatakannya sejak awal jika aku menyukaimu Joan Lee."


"Apakah kau seperti ini jika mengejar sesuatu?"


"Tidak pernah. Tolonglah, ikut makan malam denganku? Apakah bertemu seseorang itu lebih penting?"


"Tentu saja. Ini menyangkut masa depanku." seru Joan.


Adrian tertunduk lesu. "Baiklah, tapi kau tidak akan menolak jika aku mengajakmu makan siang bukan?"


Joan hanya bisa menatap wajah kecewa Adrian. "Baiklah, aku tidak akan menolak untuk makan siang." ucapnya.


Merekapun berjalan keluar dari ruangannya. Ketika mereka melewati butik, Joan cukup dikejutkan dengan sosok pria yang ada didepannya. Untuk apa ia datang ke Paris? Siapa yang memberitahunya letak butiknya? Ia terus menatap Alv dari kepala hingga kaki. Benar saja, sangat terlihat sekali berat badannya turun banyak. Hatinya bergetar karena kasihan. Ia menarik nafas berat dan menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Alv melihat adrian sejenak kemudian menatap Joan. "Aku ingin bertemu denganmu. Ada yang harus kita bicarakan."


"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, Alv. Kembalilah ke tempatmu." ucap Joan.


"Apakah karena kau sudah memiliki kekasih baru? Kau harus ingat statusmu, Jo. Kau masih bersuami." ucap Alv. Ia melihat ke sekelilingnya. Suaranya mengecil. "Aku bukan pria yang mau merusak bisnismu. Kita harus bicara."


Adrian maju dan berdiri diantara Alv dan Joan. "Maaf, tapi kami harus pergi sekarang. Aku harap kau tidak mengganggunya lagi. Tolong hargai keputusannya untuk tidak mau kembali lagi padamu."


Adrian memegang tangan Joan dan berjalan keluar.


"Aku akan menunggu hingga kau mau berbicara denganku." ucap Alv.


Joan hanya menunduk. Ia sedih ketika menyadari hatinya begitu rapuh ketika melihat Alv. Merekapun berjalan keluar meninggalkan wajah pria yang seperti kehilangan harapan itu.

__ADS_1


__ADS_2