Pesona The Twins

Pesona The Twins
100 Isi hati Ammar dan Qiya 1


__ADS_3

Ammar yang melirik ke arah jam dinding. Di letakkan nya ponsel yang dari tadi menarik perhatian nya. Lama tak berkomunikasi dengan gadis bernama Chub By itu, membuat ia lupa. Bahwa ia sedang dirumah sakit dan menunggu istrinya. Ia berjalan kearah Arumi yang masih terpejam. Istrinya yang disangkakan masih tidur. Ia membenarkan posisi rambut yang sedikit berantakan. Ia usap kepala yang terbungkus jilbab.


"Maafkan aku yang egois Arumi. Aku tak ingin kamu pergi, aku ingin menjadi obat sakit hati mu. Maaf aku tak mampu kehilangan kamu, walau kadang ada rasa lelah berjuang untuk cinta mu. Aku merasa tersiksa dengan rasa cinta ku Ar. Sakit karena mencintaimu, tapi lebih sakit lagi jika harus melepaskan kamu disaat kamu masih tersakiti karena cinta. Luapkan lah rasa kesal, kecewa mu pada takdir dengan disini. Aku akan bersabar." Ammar mengecup dahi Arumi dalam sekali.


Ammar juga mengusap kepala istrinya.


"Ada banyak perempuan yang mendekati aku. Tapi tak satu pun mampu membuat aku jatuh hati. Sedang kamu, pertemuan pertama kita sudah membuat hati ku jatuh pada wajah mu. Sekarang tak hanya wajah mu Ar. Jiwa raga mu aku cintai.... Semoga kamu bisa memberikan aku sedikit saja ruang di hati mu untuk ku sebagai suami mu." Ucap Ammar dengan suara lirihnya.


Arumi mendengar jelas apa yang diucapkan Ammar. Tapi hatinya terlanjur kesal karena pesan yang masuk dari gadis Cubi tadi. Namun saat Ammar merasakan sakitnya cinta yang masih belum terbalas.


Gede dan Qiya sedang merasa bahagia dia atas panggung pesta pernikahan mereka. Mereka menyambut dan mendapatkan banyak ucapan selamat. Gede juga kedatangan tamu yang teman ketika ia menjalankan Koas.


"Selamat ya Ge. Ga nyangka bisa move on. Awas nanti malam-malam kamu nginggau mantan. Hahaha...." Ucap dokter Wahyu yang memang satu kamar dengan Gede kala ketika melakukan magang.


Qiya yang merasa was-was. Ia yang belum berani membahas perihal suaminya sering mengigau saat malam-malam hangat mereka. Teman sejawat suaminya justru seperti skak mat. Gede mengusap punggungnya. ia sedikit menonjok perut temannya. Ia memang sering mendengar keluhan Wahyu karena tengah malam atau menjelang pagi, Gede akan mengigau. Kadang menangis, kadang tertawa, kadang ketakutan.


Saat resepsi selesai. Malam itu Niang Ayu sengaja meyiapkan kamar khusus pengantin baru di hotel yang sama untuk Gede. Kamar yang ketika di buka jendela akan menatap indahnya pantai.

__ADS_1


Entah kenapa malam itu Gede terus memperhatikan istrinya. Qiya yang baru saja mengganti bajunya dengan pakaian yang dihadiahkan oleh Cita untuk dirinya ketika acara ijab.


"Baru beli dek?" ucap Gede menautkan alisnya dan tersenyum lebar serta cepat menyibakkan selimutnya. Ponselnya bahkan ia langsung non aktifkan.


Qiya hanya tersipu-sipu. Ia cepat masuk ke dalam selimut dan menarik selimut tebal itu sampai ke atas dada.


"Kenapa harus ditutup? Percuma juga. Sudah hapal setiap incinya." Ucap Gede.


Qiya pun cepat menyembunyikan kepalanya kedalam selimut. Gede tertawa karena melihat tingkah istrinya. Maka malam itu pun ia berterimakasih pada Cita.


"Besok kalau Cita menikah. Gantian, Kita belikan satu lusin buat kamu Hanoman." Ucap Gede dalam hatinya sambil mematikan lampu.


Saat malam begitu indah dilewati oleh mereka yang memang sedang dimabuk oleh cinta. Gede yang penasaran dan masih kepikiran ucapan temannya tadi sore. Ia menghidupkan mode rekam suara di ponselnya. Ia letakkan di sisi tempat tidur. Ia pun seperti biasa akan terlelap sambil memeluk tubuh istrinya.


Malam itu keindahan Cinta ketika saling menghormati, saling ingin membahagiakan. Allah mendengar tangis dari istri yang tak ingin mengeluh pada suami saat cinta sedang begitu menggebu, saat cinta begitu besar, saat bahagia begitu nyata di hati sang suami. Ia tak ingin mengeluh hingga suaminya merasa terganggu karena merasa bersalah, merasa tak sempurna.


Saat ia terbangun. Seperti biasa, Qiya hanya mampu mengadu pada Yang Maha Pemberi, Maha Pengampun. Bekal dari guru dan orang tua, Allah dulu, Allah dulu, Allah lagi, Allah lagi ketika setiap masalah datang dalam rumah tangga. Maka akan ada jalan, akan ada kemudahan walau harus melalui terjalnya perjalanan, sakitnya duri yang menusuk. Yakin Allah akan beri indahnya sebuah doa yang dilantunkan diiringi kesabaran menanti solusi bukan memburu agar tergesa-gesa diselesaikan semua masalahnya.

__ADS_1


Ia tahu rumus hidup berumahtangga. Tak akan bisa makin kuat hubungan dirinya dan suami jika tidak ada masalah. Dan akan jadi lemah cinta jika ia tak melibatkan ilmu, Allah di setiap masalah yang datang menerpa kehidupan berumah tangga nya.


Gede terbangun. Ia memasang headset di telinganya. Ia ingin memastikan semoga ia tak mengganggu istrinya setiap malam. Karena ia juga merasa tak tenang kala temannya menyindir perihal dirinya sering mengigau. Istrinya selalu terbangun lebih dulu dengan wajah sembab. Dan alasan sang istri ia terbiasa seperti itu. Menangis kala membaca Qur'an di malam-malamnya. Ia pun hanya percaya karena memang hampir setiap malam sang istri terlihat sembab matanya.


Gede tidak tahu, airmata istrinya adalah air mata kesedihan, sakit karena suami menyebut nama perempuan lain disaat ia menjadi penghangat malam-malam suami. Pemberi ken!kmatan malam-malam sang suami.


Qiya tak tahu jika Gede telah bangun. Karena di hotel itu posis kiblat nya membuat ia memunggunginya suaminya yang terlelap.


Gede memejamkan matanya saat ia mendengar Isak tangis sang istri. Ia bahkan memaksimalkan volume ponselnya karena tak terdengar jelas. Dan akhirnya baru bisa ia dengar jelas. Di menit ke 235 menit ia tak mendengar lagi dengkuran nya. Ia mendengar suaranya memanggil nama Mayang.


Bahkan terdengar beberapa kali suara ia memanggil Mayang. Sampai suara Qiya terdengar dirinya tak menyebut lagi nama perempuan dari masalalu nya. Sebenarnya saat itu Qiya mengusap dahi sang suami yang selalu mengeluarkan keringat yang besar saat ia mulai mengigau dan menyebut nama perempuan itu.


"Hiks... Hiks... Aku ikhlas Mas. Aku ikhlas akan takdir saat ini. Aku tahu alam bawah sadar mu masih merasa sakit akan luka yang ditinggalkan masalalu mu mas. Tapi maafkan aku... Aku cuma perempuan biasa yang punya hati, punya airmata. Aku tak mampu menahan air mata ibu mas... Aku akan menanti bibir mu tak lagi menyebut nama perempuan lain. Aku akan Berbaik Sangka dengan takdir ini. Mungkin Allah ingin menyembuhkan luka mas lewat diriku. I love you Mas. Cinta ku Se Gede Cinta mu padaku." Tak terdengar lagi suara Qiya.


Lalu menit berganti menit. Hanya suara tangis dan diakhiri suara istrinya yang sayup-sayup melantukan Kalam Allah yang begitu ingin di dengar para malaikat di sepertiga malam. Gede menitikkan airmata dalam kondisi kelopak matanya terpejam.


"Alhamdulilah. Terimakasih kamu memberikan ganti yang tiada tandingannya untuk aku Rabb. Begitu besar cinta mu pada ku Dek. Sampai kamu tak mau mengatakan pada ku jika setiap malam aku menyebut nama perempuan lain. Jadi airmata mu yang jatuh adalah airmata kesedihan... Aku harus konsultasi dengan ahlinya. Teruslah menjadi Bunga yang memberikan aroma indah mu tanpa kamu ingin orang tahu bahwa kamu sedang berjuang." Gede pun bangun dan segera menuju kamar Mandi.

__ADS_1


__ADS_2