Pesona The Twins

Pesona The Twins
78 Kedatangan Dua Lelaki


__ADS_3

Bram dan Hilman tampak bercerita seputar tentang kondisi politik juga suasana daerah mereka yang memang seringnya kebutuhan pokok naik turun. Bahkan minyak yang sempat terjadi kelangkaan menjadi obrolan menarik dari Bram dan Hilman.


Saat dua orang itu terlihat akrab dan asyik, hadirnya Gede justru membuat mood Hilman seketika berubah jelek. Ia yang tadi merasa diatas angin karena hangatnya Bram dalam menyambut dirinya dan bercerita tentang banyak hal yang sangat ia sukai dan kuasai. Kini harus terputus dengan hadirnya dokter yang menjadi rivalnya.


Dokter Gede menyalami Bram dan juga Hilman.


"Maaf terlambat Pak, tadi saya kesasar. Soalnya ini baru bagi saya di kota ini." Ucap Dokter Gede yang memang sempat berapa kali berputar untuk memastikan rumah yang nomor berapa yang menjadi tujuannya. Hingga ia berinisiatif bertanya pada orang, barulah ia tahu bahwa dirinya telah melewati rumah itu berapa kali.


"Oh tidak apa-apa. Silahkan duduk." ucap Bram ramah.


Hilman sedikit memberi ruang pada Gede. Saat di Gazebo tiga orang pria itu baru berbicara hal-hal umum. Justru di dapur para wanita disana sibuk mata mereka melirik ke arah Gazebo yang bisa dilihat dari dapur.


"Yang mana kak yang namanya dokter Gede?" Tanya Nur penasaran.


"Itu Nur, yang pakai kemeja coklat. Sepertinya pak wakil rakyat lebih tahu favorit kakakmu dalam hal warna." Seloroh Ammar sambil menggigit buah apelnya. Ia melihat baju hijau yang dikenakan Hilman karena adiknya memang suka warna tersebut.


Namun melihat kakaknya menikmati buah itu sambil berdiri. Qiya yang terlihat menggunakan celemek di dapur, ia menarik satu kursi dan mendudukkan Ammar.


"Ndak ilok." ucap Qiya sambil tersenyum.


Ammar setengah tertawa melihat raut wajah Qiya.


"Katakan Nur, apakah wajah mu dulu juga begitu ketika di lamar adikku?" Tanya Ammar. Nur kembali ke tempatnya duduk.


"Aku bahkan tidak bisa berbahagia atau menunjukkan ekspresi ku Kak. Karena aku terbaring di brankar rumah sakit saat mas Ibra melamar ku." Ucap Nur apa adanya sambil melirik suaminya yang duduk bersila di hadapan Umi Laila.


"Nur, apakah belum ada tanda-tanda Ibra mulai ingat?" tanya Qiya sambil mengupas timun yang tentu menjadi menu favorit kesukaan nyonya dirumah itu juga Umi Laila.


"Belum sepertinya. Tapi Mas Ibra sudah menemukan satu kebiasaannya sebelum ia hilang." ucap Nur.


"Kenapa tidak coba melakukan kontrol ke psikolog agar lebih cepat pulih." Sara Qiya pada sang adik.


"Nur tidak berani kak. Mas Ibra juga waktu itu belum mengiyakan saran Papa yang sama dengan saran kakak." Ucap Nur.


Ia tak ada keberanian untuk meminta atau mengajak suaminya ke psikolog. Kesan dingin Suaminya justru membuat dirinya lebih menjaga jarak.

__ADS_1


Ayra meminta asisten rumah tangganya mengantar kue yang telah ia pesan untuk menyambut dua orang tersebut.


Bram dari tadi mengamati dari balik kacamatanya. Dua orang lelaki yang baginya ada kemiripan di mata, alis dan hidung. Namun memang tubuh Hilman sedikit lebih kurus dibandingkan dokter Gede. Diibaratkan Dude Herlino, maka kurang lebihnya seperti itulah ketampanan dokter Gede. Tetapi tubuhnya sedikit putih dari sang artis.


"Jadi nak Gede tinggal di minoritas muslim ya. Bagaimana bisa beribadah disana." Tanya Bram penasaran.


"Alhamdulilah, saya bertemu Niang yang betul-betul punya konsep bahwa jangan campur adukan antar beragama dengan berbangsa. Apalagi untuk urusan tolong menolong sesama manusia. Beliau tak pernah memandang agamanya. Tetapi lebih ke orang tersebut butuh bantuan dan harus ditolong." Ucap dokter Gede.


Ya Niang Ayu dan suami cukup lama hidup di Kalo Bening. Sosok Kyai Rohim dan Umi Laila memiliki tempat tersendiri di hati mereka sebagai minoritas yang hidup di mayoritas. Bagaimana sosok Kakek Shidqia Nafisah itu memiliki pemahaman dan pemikiran tentang Indonesia bukan negara agama tapi negara yang rakyatnya beragama. Indonesia negara kebangsaan bukan negara agama. Kyai Rohim salah satu ulama yang tidak mempertentangkan antara agama dan Pancasila. Bagi nya, Pancasila bukan agama dan tidak mengganti agama.


"Betul, Negara timur tengah saja banyak yang gagal bermasyarakat, dan gagal dalam hidup berdampingan dengan keberagaman bangsa. Bahkan sangat mudah perang mudah mem Bu nuh." Hilman juga ikut mengomentari apa yang Bram juga sampaikan sama persis seperti apa yang dulu sempat mertuanya obrolkan ketika ada beberapa golongan yang selalu membuat gaduh negeri. Hidup beragama di Indonesia seolah hanya agamanya dan keyakinannya yang paling benar.


Padahal hidup di Indonesia begitu indah karena bisa shalat, puasa bahkan mencari nafkah tanpa khawatir kalau-kalau ada yang menyakiti, kalau -kalau Keluarga dirumah di sakiti. Sepeti negara Timur tengah, jangan kan menikmati Shalat lail, shalat lima waktu pun mungkin mereka harus terburu-buru karena bisa kapan saja rudal mengincar mereka. Atau musuh datang ketempat mereka. Indahnya Indonesia yang memiliki kurang lebih 714 suku, bisa hidup berdampingan dan bisa beribadah dengan tenang.


"Ya. Kadang zaman sekarang ini. Ada segolongan orang yang ngajinya kurang jauh, ngopinya kurang kental. Lah Pancasila itu dianggapnya sama dengan agama. Kita yang hidup di Indonesia ini dan berlandaskan dengan Pancasila, dianggap sesat. Sungguh kadang ingin tertawa, tapi saya senang, nak Gede bisa belajar Islam yang penuh kelembutan padahal tinggal di lingkungan minoritas." ucap Bram yang terlihat menyandarkan tubuhnya di kursi lesehan yang ada di Gazebo tersebut.


Bram juga meminta pendapat Hilman sesekali terkait apa yang menurut dirinya dari sudut pandang pernah menjadi salah satu santri Furqon.


Saat mereka mengobrol asyik, tampak Ayra mendekat.


Sebentar lagi waktu shalat Maghrib. Kedatangan dua tamunya yang hampir pukul 5 tiba memang disengaja oleh Bram. Disinilah ia akan melihat salah satunya. Bukan hanya sudut pandang calon menantu melihat dunia tapi juga bagaimana mereka beribadah. Ia tahu jika dirinya dulu seperti apa ketika menikah. Ia nol akan ilmu agama. Ia tak ingin kembali terjadi kisah istrinya yang lebih pandai dari suaminya.


Hilman semakin merasa diatas angin. Kala Ammar mengumandangkan adzan dan Ia diminta untuk menjadi Imam shalat Maghrib. Ia pun dengan percaya dirinya mengimami shalat Magrib tersebut. Santri yang mondok cukup lama, membuat bacaan Al Fatihah dan surat pendek yang menurut Bram tidak pendek yang dibacakan Hilman begitu merdu. Ia juga ketika berdoa kembali memilih dzikir terbaik.


Gede tak berkecil hati ketika Hilman di minta oleh sang calon mertua jadi imam, ia lebih sadar diri. Ia bukan alumnus pondok pesantren manapun. Maka untuk menjadi Imam, Hilman memang lebih pantas dari dirinya. Selesai shalat Maghrib, Bram meminta tamunya makan bersama. Saat makan malam terlihat Hilman terlihat paling akhir datang ke meja makan. Mungkin ia membaca beberapa amalan yang biasa ia baca ketika selesai shalat.


Umi Laila, Eyang Lukis dan keluarga Bram sesekali melirik dua lelaki yang sama-sama tak berani mengangkat kepalanya. Bram sengaja menarik kursi yang ada disisinya. Ketika tamunya hadir. Dan dua orang itu duduk bersebelahan dengan di depannya Ayra, Qiya dan dua orang sepuh keluarganya. Ammar duduk di sisi Bram yang juga disisi Hilman.


Sedangkan Ibrahim duduk di sebelah Gede. Nur duduk di sisi Ibrahim. Setelah makan malam, seolah apa yang direncanakan Bram berjalan lancar. Ia meminta kedua tamunya untuk shalat isya dulu baru pulang.


Jika tadi di shalat magrib Hilman yang diminta oleh Bram untuk menjadi imam. Kini Bram mempersilahkan Gede. Seketika wajah dokter itu pucat Pasih. Ia yang tadi menjadi makmum dari Hilman merasa minder dengan dirinya.


"Tidak Pak. Biar Bapak saja lebih pantas." tolak dokter Gede.


"Tidak apa-apa. Kehormatan bagi saya bisa menjadi makmum nak Gede." ucap Bram.

__ADS_1


"Atau biar Mas Hilman saja." ucap Gede sopan sambil gesture nya mempersilahkan Hilman untuk menjadi imam.


"Ya tidak apa-apa mas Gede. Saya tadi sudah menjadi imam pas Magrib. Toh ini bukan masjid. Tapi Mushola. Silahkan." Ucap Hilman. Ia sebenarnya bisa saja menggantikan Gede yang diminta menjadi imam oleh Bram.


Ia paham maksud dan tujuan Bram meminta mereka datang sore. Ia sengaja menolak, setidaknya batin Hilman jika yang dinilai bacaan dan cara memimpin shalat, maka Hilman sudah satu langkah di depan. Maka tentu pilihan mertuanya akan jatuh pada dirinya yang lebih baik menjadi imam bukan Gede yang bukan alumnus pondok pesantren.


Ammar menepuk pundak Gede sambil berbisik.


"Ayolah calon adik ipar. Mau menjadi imam adik ku. Masa' jadi imam shalat saja kamu tidak percaya diri." Semangat Ammar untuk lelaki yang ia lebih sukai menjadi adik iparnya daripada Hilman. Maka ia seolah timses untuk bersatunya dokter tampan itu dengan adiknya. Ia seakan menjadi bagian dari Cita. Berharap Dua dokter itu bersatu dalam ikatan pernikahan.


Akhirnya Gede pun mengimami shalat itu. Ia lebih memilih surat Al ikhlas dan Annas ketika shalat. Al Fatihah yang ia baca pun tak terlalu mendayu dan terdengar merdu. Karena ia bukan ahlinya. Baginya, tajwidnya benar, lafadzs nya tak mengubah arti itu sudah cukup. Doanya pun tak terlalu panjang. Umumnya doa. Sehingga shalat itu terasa cepat bagi Umi Laila yang sudah sepuh namun masih menguatkan diri untuk shalat berdiri. Eyang Lukis memang tak kuat lagi untuk berdiri karena osteoporosis nya lumayan menganggu tulang kakinya.


Malam itu Gede sebenarnya sedikit selamat karena nervous nya tak terlalu besar. Karena gadis pujaan hatinya sedang tak shalat sepertinya.


Saat di ruang depan. Bram pun bertanya pada dua orang lelaki yang ia lihat mungkin bingung menyampaikan cara ingin pamit. Terlihat dua orang itu saling menunggu siapa yang akan pulang lebih dulu.


"Jadi begini nak Hilman, nak Gede. Saya ucapkan terimakasih atas kedatangan kalian yang begitu gentleman, kehormatan dan kebanggaan saya karena kalian menyukai anak saya tanpa menjatuhkan marwahnya sebagai perempuan." Bram terhenti karena asisten rumah tangga datang bersama Ayra.


Lalu ia sedikit bergeser meminta istrinya untuk tinggal disana mendampingi dirinya.


"Namun tak mungkin saya menerima kalian berdua untuk putri saya. Dan apapun nanti hasilnya, semua tetap ada pada pilihan hati Qiya. Kami hanya merestui. Dan semoga apa yang menjadi pilihan putri kami juga kami restui." Ucap Bram pada dua orang lelaki yang terlihat tegang sedari tadi.


"Jadi begini saja, nanti 5 hari lagi kalian kemari. Biar saya kabarkan lagi jadwalnya. Tapi sebelum itu boleh saya tanya sesuatu sama nak Hilman dan Nak Gede?" tanya Bram.


"Silahkan Pak." ucap dua lelaki itu secara bersamaan.


"Apa yang menjadi modal kalian untuk mencintai dan membahagiakan anak saya? Dan apa yang kalian sukai dari putri saya?" Tanya Bram. Ini sebenarnya akhir dari seleksi yang ia berikan untuk dua orang tersebut.


Hilman membenarkan posisi duduknya.


"Sebelumnya saya mohon maaf apabila kejadian kemarin mungkin melukai hati pak Bram dan Bu Ayra sebagai orang tua Qiya. Saya sebenarnya tak tahu jika Papa sampai mengambil keputusan tanpa berbicara dulu dengan saya. Kedua, saya menyukai Qiya sudah dari lama. Bagi saya Qiya adalah perempuan sempurna di era sekarang. Beliau memiliki semua dari kriteria perempuan yang dipilih untuk menjadi istri " Ucap Hilman yang juga menyampaikan dalil dan beberapa pendapat para ulama tentang kriteria memilih istri.


"Ya betul, memang perempuan itu dipilih karena kecantikan, harta, nasab dan akhlaknya." Bram menanggapi apa yang menjadi alasan Hilman.


Ia tampak manggut-manggut dan mempersilahkan untuk mencicipi camilan yang ada dihadapan mereka. Bram menoleh ke arah Gede.

__ADS_1


"Kalau Nak Gede?" Tanya Bram sambil menoleh ke arah Gede.


__ADS_2