Pesona The Twins

Pesona The Twins
60 Dokter Gede PDKT


__ADS_3

Ayra mengajak Ibrahim ke kamarnya yang sudah hampir satu bulan lebih menjadi kamar miliknya. Sebuah album foto juga Ayra tunjukkan pada sang anak. Ibrahim masih tak mengingat apapun.


Bram pun mengingatkan Ayra untuk memberi waktu anaknya untuk beristirahat. Ayra akhirnya membiarkan Ibrahim dan Nur di kamar mereka. Kamar itu kini telah kedatangan pemiliknya. Namun lelaki itu masih tak mengingat apapun. Nur yang memang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren.


Ia pun cepat merapikan tempat tidurnya untuk Ibrahim yang mungkin masih lelah dan butuh istirahat.


"Istirahatlah Mas." Ucap Nur pada Ibrahim.


Ibrahim hanya menatap perempuan yang dikatakan istrinya.


"Kemarilah, duduk bersamaku. Jika kamu istriku maka kamu pasti tahu banyak tentang aku. Ceritakanlah tentang aku. Bagaimana aku." Pinta Ibrahim pada istrinya.


Nur pun mengunci pintu kamarnya. Ia membuka kerudungnya dan ia gantungkan pada hanger yang berada di balik lemari. Ia juga memberikan sedikit wewangian yang diberikan Ayra padanya. Sebuah buku yang pernah ia baca di ruang k


baca milik keluarga Bram yang berjudul menjadi wanita Bahagia memberikan pengetahuan pada Nur bahwa memakai wewangian ketika bersama sang suami itu adalah salah satu wujud kewajiban seorang istri agar sang suami merasa nyaman dan tenang saat bersama istrinya.


Ia duduk di sisi Ibrahim. Ia menceritakan pertemuan awal mereka. Tetapi ia m minta pada sang suami untuk merahasiakan tentang jika dirinya adalah seorang agen. Karena demi keselamatan bukan hanya dirinya tetapi juga keluarganya. Nur tidak tahu jika Bram langsung meminta pengacaranya untuk mengurus administrasi pengunduran diri Ibrahim sebagai agen di salah satu lembaga. Ia juga telah meminta Marvin menyiapkan denda sebagai yang tertuang di surat perjanjian kerja saat Ibrahim bergabung dengan lembaga intelejen tersebut.


Ibrahim yang mendengar kisah pertemuannya dengan Nur merasa cukup heran bagaimana ia hanya bisa menyukai Nur hanya dengan mendengarkan suara Nur mengaji di saat ia tak sadar. Ia pun akhirnya bertanya.


"Lantas, apa yang kamu sukai dari aku?" Tanya Ibrahim.


"Mas Ibra lelaki yang lemah lembut, Penyayang, selalu mengalah dan selalu diam disaat aku akan sedikit cerewet."Jawab Nur.


Sebenarnya ia ingin sekali bermanja-manja seperti biasanya saat dimana sang suami belum mengalami amnesia. Namun prihatin dengan kondisi suaminya, ia hanya berusaha menahan euforianya. Ia hanya berkali-kali meng3cup punggung tangan Ibrahim.


"Betapa dia sangat mencintai aku? Ayolah ingatanku. Kembali lah,aku ingin merasakan hangatnya cinta yang istriku berikan." Ucap Ibrahim sambil memperhatikan wajah cantik Nur yang tersenyum sedari tadi dan menahan air mata yang akan jatuh.


Disaat Nur merasa bahagia, separuh hatinya telah kembali. Namun sulung Ayra yang berada di kamar terlihat duduk di kursi meja kerjanya. Ia terlihat mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jari tangannya. Ia ingin segera menemui Bram tetapi ia tak ingin cintanya pada Arumi membuat ia lupa adab pada orang tua. Arumi masih calon istrinya. Namun Bram adalah Ayahnya. Maka ia mencoba berkali-kali membuang napasnya dengan kasar. Ia khawatir cinta yang sudah bisa bersatu dengan proses lamaran minggu depan tak akan terjadi karena keputusan Bram.


Ammar tahu betul perempuan yang melahirkannya itu akan patuh dan taat kepada suaminya. Apapun yang menjadi keputusan Bram maka Ayra akan mengiyakan. Nyaris tak pernah Ammar melihat Ayra membantah atau menentang keputusan Bram.


Tetapi Ammar belum berumahtangga, belum menjadi ayah atau ibu. Sehingga ia tak tahu jika Ayra dan Bram adalah orangtua yang baik. Mereka selalu berdiskusi terlebih dahulu di belakang anak-anaknya. Maka ketika sang anak meminta sesuatu, Ayra akan mengatakan 'mintalah pada Papa karena Papa adalah pemimpin di keluarga ini'. Maka ketika anak-anak meminta pada Bram. Ia akan mengatakan tunggu, disaat itulah, Suami istri itu menjalankan peran mereka menjadi orang tua yang baik.

__ADS_1


Mereka akan berdiskusi tentang keputusan apa yang akan diberikan untuk anak-anak mereka. Sehingga ketika Bram menyampaikan keputusannya. Anak-anak akan tahu bahwa Ibunya saja tak berani membantah sehingga figur dan wibawa seorang Ayah Dimata anak-anak Ayra begitu di jaga. Kalaupun keputusan Bram Sedikit bertentangan dengan apa yang anak-anak mereka pelajari. Maka cara mereka adalah bertanya dengan sopan. Bukan mendebat orang tua mereka apalagi menyalahkan orang tua mereka karena tak sepaham tentang satu kondisi dengan ilmu yang berbeda.


"Mas... Ayra paham mas merasa kecewa pada Pak Broto. Tetapi mas tidak boleh mengabaikan hak Ammar sebagai anak Mas Juga. Ia memilih Arumi. Dan Arumi menerimanya." Ucap Ayra sambil memberikan secangkir kopi yang baru saja ia buatkan untuk suaminya.


"Tetapi terlalu banyak syarat. Ammar nyaris sempurna. Sedangkan Arumi, dia siapa. 10 kali lebih baik dan sempurna dari Arumi. Ammar bisa mendapatkannya." Ucap Bram sambil menyeruput kopinya.


"Tetapi Ammar apakah bisa menyukai atau mencintai perempuan itu. Bukan mudah memulai rumah tangga kala hati sudah berlabuh di lain hari mas. Mas lupa masalalu?" Ucap Ayra.


"Kamu sedang merendahkan suami mu?" Tanya Bram yang merasa sedikit keberatan karena istrinya membahas masalalu.


Ayra mendekati suaminya. Ia duduk dengan kedua kakinya ia naikkan ke sofa. Istri Bram itu menghadap ke arah Bram.


Ia memberikan satu kecup@n di pipi sang suami.


"Maksud Ayra, Mas sudah terlanjur jatuh hati pada perempuan yang bertubuh drum dan menikah dengan Ayra. Saat menikmati sentuhan Ayra pun mas teringat satu perempuan tetapi lain nama yang mas sebutkan. Dan Tak usah mas pungkiri, kisah mas dan She-" Ucapan Ayra belum selesai.


Bram sudah membungkam mulut Istrinya itu. Beberapa detik kemudian ia menyelipkan rambut Ayra ke sisi kupingnya.


"Iya mas ingat dan tak perlu kamu sebut nama perempuan lain di hadapan suami mu ini." Ucap Bram sambil menghapus ujung bibir istrinya.


Bram pun menceritakan semuanya pada Ayra. Istri Bramantyo itupun termenung. Ia memejamkan matanya.


"Jangan libatkan rasa benci kita pada seseorang dengan kisah anak-anak kita mas. Justru kata kuncinya adalah ketika kita orang tuanya keberatan atau tak ridho, maka itulah awal mereka akan tak mendapatkan kebahagiaan dalam berumahtangga mas...." Ucap Ayra.


Bram tampak menghela napasnya.


"Lalu kamu setuju punya menantu Arumi?" Tanya Bram penasaran. Ia belum mendengar isi hati istrinya.


"Jika ditanya setuju atau tidak.Ayra setuju karena Ammar yang akan menjalani kehidupannya. Tetapi bukan berarti Ayra melepaskan keputusan pada Ammar tanpa Ayra juga ikhtiar. Sebagai Ibunya, Ayra sudah melakukan tugas Ayra, mengajarinya, mendidiknya, mendoakannya. Bahkan setiap doa Ayra selalu selipkan untuk jodoh yang baik menurut Allah. Maka jika Ammar menikah dengan Arumi bisa dikatakan jodohnya telah tiba dan itu Arumi." Ucap Ayra pada Bram.


"Baiklah. Tetapi aku belum tenang kalau belum bertemu Kang Furqon Ay. Aku ingin sharing dengan nya tentang ini." Ucap Bram.


Ayra pun merasa tenang karena dari kedua mata suaminya tak terlihat lagi pancaran kemarahannya pada Pak Broto sehingga berujung pembatalan pernikahan Ammar dan Arumi.

__ADS_1


Sungguh Pesona Ayra begitu ada untuk suaminya. Andaikan seorang Ayra tak memiliki pesona maka mungkin dalam setiap keputusan Bram, ia tak akan pernah melibatkan istrinya dalam membuat keputusan. Sepasang suami istri itu mengubungi Furqon. Esok mereka akan menemui Furqon di Kali Bening.


Dikediaman Ayra ada banyak rasa dan kejadian. Di Wahana Internship Qiya pun tak lepas dari sebuah kejadian. Dokter Gede yang di desak ibunya pun memberanikan diri mendekati Qiya. Hal yang ia lakukan adalah pedekate dengan sahabatnya Qiya siapa lagi kalau bukan Cita. Malam saat Ia melihat Upin dan Ipin, panggilan yang disematkan para perawat dan sesama dokter Isip untuk Cita dan Qiya. Karena hampir bisa dipastikan jika dimana ada Qiya disana ada Cita. Dimana ada Cita disitu ada Qiya.


Tentu saat istirahat. Karena mereka terpisah di antara IGD dan rawat inap.


Dokter Gede mengikuti Cita yang terlihat ke kantin. Tetapi ia tak melihat sahabatnya ikut bersama. Ia lupa bahwa Qiya ia minta keliling mengontrol pasien. Tiba di kantin, dokter Gede ikut antri di belakang Cita. Bahkan ketika dokter itu duduk disatu bangku untuk menikmati mie ayam pesanannya bersama satu cup cupucino miliknya. Dokter Gede duduk di hadapannya.


"Permisi dok, boleh saya duduk disini?" Tanya Dokter Gede.


Cita hanya melihat ke kanan dan ke kiri. Karena sungkan ia pun mempersilahkan dokter Gede untuk duduk di depannya.


"Terimakasih." Ucap Dokter Gede.


Ia sebenarnya sedang kenyang namun karena merasa moment pas untuk mencari tahu tentang Qiya lewat Cita. Ia pun ikut memesan mie ayam.


"Dokter Qiya tidak makan?" Tanya Dokter Gede.


"Tidak dok. Dia jarang makan malam begini. Itu anak siang aja bisa ga makan karena sering puasa." Ucap Cita ceplas ceplos.


"Maksudnya puasa Senin Kamis?" Tanya dokter Gede.


"Iya, itu masih mending. Waktu masih kuliah itu anak puasanya bisa satu hari puasa satu hari tidak. Puasa apa... gitu diagamanya. Lupa saya." Ucap Cita masih sambil mengunyah makanannya.


Dokter Gede tampak berdoa dengan mengangkat tangannya dan mengucapkan 'Aamiin'.


Cita melongo dan tersedak.


"Uhuk.... uhuk... uhuk... "


"Astaghfirullah...Ada apa dok? Ini minum dulu dok..." Ucap Dokter Gede menyerahkan segelas air putih.


Namu dokter Iship itu makin tersedak mendengar Dokter Gede beristighfar.

__ADS_1


"Uhuk.... uhuk.... uhuk....."


__ADS_2