Pesona The Twins

Pesona The Twins
116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.


__ADS_3

"Kamu, apa-apaan Hilman. Jangan Ikut-ikutan dengan partai sok suci itu. Kenapa kamu juga ikut menandatangani perda yang dimana banyak di tolak oleh para pengusaha. Ingat kamu bisa duduk sekarang salah satunya bantuan pengusaha." Ucap Pak Rendra yang langsung meluapkan kekesalannya pada putranya yang baru saja bangun dari pingsannya.


Bu Ratih yang baru saja dari musholla langsung meninggikan suaranya.


"Mas! kamu apa-apaan sih! Tidak bisa tunggu Hilman keluar dari rumah sakit." Ucap Bu Ratih.


Ia masih belum menceritakan pada Pak Rendra juga Hilman terkait hasil pemeriksaan dari lab tentang penyakit yang di idapnya.


Bahkan minggu-minggu ini putra satu-satunya itu harus melakukan operasi karena ketika terjatuh pingsan kemarin terjadi penggumpalan darah di otaknya.


Ia tak terima sang suami masih membawa urusan politik atau pekerjaan ke rumah. Ia merasa saat ini bukan saatnya lagi dia diam. Selama ini ia selalu diam jika ada masalah atau keputusan yang harus ditaati dirinya dan Hilman. Seperti biasa Pak Rendra tak bisa menerima nasihat. Terbiasa dari kecil dibela ketika salah, maka watak mau benar sendiri dan tak pernah merasa salah membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang cukup keras.


"Diam kamu Ratih. Ini akibatnya dulu kamu mondok. Papa sudah tidak setuju kamu dari kecil mondok. Sekarang, lihat hasil kamu mondok. Mau jadi pahlawan kamu dengan jabatan mu sekarang?!" Ucap Pak Rendra.


Hilman hanya memandangi lelaki yang ia panggil Papa. Ia tak menggubris, ia hanya ingin istirahat. Tubuhnya lemah, kepalanya sakit. Menanggapi Pak Rendra pun tak ada artinya. Ia tak akan menang. Ia memejamkan kedua matanya disaat Pak Rendra kembali mengoceh tak jelas.


Bu Ratih akhirnya menarik tangan Pak Rendra keluar dari ruangan. Ia melempar hasil lab tentang Hilman ke arah suaminya.


"Baca sendiri. Tidak bisakah kamu memperhatikan anak mu? Apakah harus menunggu Hilman kehilangan nyawanya kamu baru mau sadar. Sadarlah Mas. Hilman butuh dukungan mu saat ini. Tidakkah anak mu lebih penting dari partai dan eksistensi mu di dunia politik!" ucap Bu Ratih meninggalkan Pak Rendra sendiri di depan ruangan itu.


Ia membaca satu persatu lembaran kertas itu. Ia hanya terduduk diam. Alih-alih merasa sadar ia justru menyalahkan kenapa penyakit itu bisa bersemayam di tubuh anaknya. Hati yang sudah kotor juga membuat jasad selalu melakukan hal-hal yang kadang merugikan masyarakat disekitarnya. Itulah yang terjadi pada pak Rendra. Terlalu fokus pada gemerlapnya dunia hingga sebongkah daging yang disebut hati, dikuasai yang namanya nafsu. Ia lupa semua yang ia gapai di dunia ini akan dipertanggungjawabkan, akan ditinggal mati. Tak akan ada yang menolong diri kita selamat dari hisab kecuali jiwa kita yang diiringi qolbu yang bersih.


Hilman sedang diberikan Allah ujian, tapi bibirnya yang terlihat kering, mata yang cekung, tubuh yang juga mulai kurus tak membuat lelaki itu berputus asa. Ia masih menghibur perempuan yang melahirkannya.


"Hilman sakit apa Ma?" Tanya Hilman pada sang Ibu.


"Kamu kurang istirahat saja,"Kilah Bu Ratih pada sang anak.


"Ma... Apa yang mama sembunyikan? Hilman merasakan sakit teramat kemarin, lebih dari biasanya." Ucap Hilman lirih.


Ibu Ratih mendekati anak satu-satunya, buah cinta dirinya bersama sang suami yang selalu memikirkan untuk sukses, lelaki yang selalu tertawa untuk orang diluar rumah, lelaki yang akan sangat penyayang kepada orang-orang diluar tapi dingin pada istri dan anaknya, seorang suami yang selalu terlihat manis disaat kamera mengincarnya tapi tak pernah bermuka manis pada anak dan istri.


"Kamu yang sabar ya Hil, Allah kembali mencoba kamu nak. Allah beri kamu cobaan lagi. Nanti biar dokter yang beri kamu penjelasan. Mama akan selalu ada untuk kamu. Kita akan berobat ya, kemana pun kita akan cari cara agar kamu sembuh." Suara tangis Ibu ratih.

__ADS_1


Disaat Putra yang diakui dan dibanggakan Pak Rendra sedang terbaring sakit. Salah satu anaknya yang tak diakui ternyata sedang merasakan indahnya kesabaran selama ini, disaat ia terpuruk, ia memantaskan diri untuk mendapatkan pendamping hidup yang memang bisa menerima dirinya apa adanya.


Gede sedang berada di kediaman Ayra. Qiya yang libur membuat mereka mengunjungi Arumi. Qiya yang baru tahu jika kakak iparnya terkena air panas maka ia ingin membesuk sekaligus menghilangkan rasa rindu pada Ayra.


Dan Ibrahim juga berkumpul di kediaman Ayra. Hari itu Ayra betul-betul bahagia. Karena putra bungsunya telah kembali menjadi Ibrahim yang dulu. Ibrahim yang hanya akan tersenyum. Selalu ada senyum yang menyejukkan mata yang memandang. Disaat mereka berkunjung di ruangan keluarga. Ammar turun dengan Arumi. Arumi hanya menundukkan kepalanya. Ia malu, sang suami tak ingin menggunakan kursi roda, membuat ia digendong.


Qiya memberikan ruang untuk kakak iparnya duduk di sisinya dan Ayra.


"Sini kak...." Ucap Qiya.


Dua perempuan itu pun saling berpelukan.


"Nginap Qiy?" tanya Arumi. Qiya mengangguk.


Adik Ammar itu melihat kaki kakak iparnya. .


"Masih dua mingguan lagi ini sembuhnya. Kok bisa sih kak. Ngapain juga kakak sampai angkat air hangat. Kak Ammar dimana?" Lirik Qiya ke arah Ammar.


"Kan, apa ku bilang Ar. Bukan hanya Mama yang membela mu." Ucap Ammar.


"Kemarin mereka lagi liburan di Palembang. Arumi rindu suasana kampung. Insyaallah jadi wujud rasa saya Allah karena niat ingin melayani suami lewat musibah itu." Ucap Ayra sambil merangkul dan mengusap lengan Arumi.


Arumi menggenggam erat tangan Ayra. Ayra terlihat mengedipkan kedua matanya. Ia tak ingin aib rumah tangga Sulungnya diketahui anak-anak yang lain. Ia justru paling cerewet jika sang anak terlambat pulang bekerja sedang sang menantu lagi sakit.


Arumi merasakan kehangatan Ayra, Ammar. Ia dengan kekurangannya tapi masih coba di jaga dan ditinggikan derajatnya untuk adik-adik iparnya. Hal itulah yang membuat Arumi merasa bahwa ia ingin terus belajar menjadi lebih baik lagi. Cinta yang begitu besar membuat ia tak ingin juga memberikan yang terbaik.


Bram yang pulang kerja merasakan kebahagiaan saat semua berkumpul. Ayra cepat menghampiri suaminya. Ia bahkan langsung ke dapur menyiapkan kopi yang menjadi favorit suaminya.


"Biar Qiya saja Ma. Mumpung Qiya disini." Cegah Qiya saat Ayra akan kedapur.


"No... No... Papa cuma mau buatan Mama." Ucap Bram.


"Ih.. Papa masih seperti pengantin baru saja." Ucap Qiya.

__ADS_1


"Oh... Cinta papa ini tidak berkurang karena umur yang berkurang." Ucap Bram.


"Memangnya yang dulu jatuh cinta dulu, Papa atau Mama?" Tanya Ammar.


"Papa," Ucap Bram.


"Mama," Ayra cepat menjawab dari arah kitchen set.


Anak-anak mereka pun tersenyum melihat kedua orang tua mereka betul-betul punya cinta yang sama besar. Sore itu keluarga Bram sedang merasakan kebahagiaan karena dapat berkumpul bersama. Saat malam hari Qiya justru memaksa sang kakak untuk memeriksa kaki Arumi. Ammar yang biasa memberikan salep. Malam itu, Qiya yang memberikan salep. Dua perempuan itu pun bercerita tentang banyak hal.


Saat Ayra datang ke kamar Arumi mencari Qiya. Putrinya itu baru selesai memberikan salep.


"Itu disela-selanya agak dibanyakin ga apa-apa salepnya kak. Itu kak agak tertutup tempatnya. Jadi biar cepet sembuh " Ucap Qiya.


"Qiya, dicari suami mu nak." Ucap Ayra.


Saat kepergian Qiya. Arumi memegang tangan Ayra.


"Ma... Terimakasih Mama selalu menutupi kekurangan-kekurangan Arumi di depan orang lain."


Ayra membenarkan kacamatanya.


"Ar, Mama pun ada aib. Jika aib orang lain, aib Mama saja mampu Mama tutupi kenapa aib anak dan menantu sendiri tidak bisa." Ucap Arya mengusap rambut panjang Arumi.


"Ma... apakah ini azab karena Arumi ke-."


"Arumi.... Allah tak akan memberikan azab pada hambanya yang beriman. Musibah itu tanda Cinta Allah pada kita makhluknya. Saat tertimpa musibah jangan langsung menyalahkan diri sendiri atau bahkan menyalahkan Allah. Umi dan Abi Mama dulu sering bilang, Setiap musibah akan ada hikmahnya jika kita bersabar. Sekarang lihat hikmahnya. Hubungan kamu dan Ammar sangat membaik. Bukankah Allah melembutkan hati kamu dengan musibah ini sehingga kamu butuh Ammar untuk melakukan sesuatu karena tak bisa berjalan." Ucap Ayra.


Arumi mengangguk. Ia membenarkan apa yang Ayra ucapkan.. Semenjak kakinya melepuh. Musibah itu melembutkan hatinya yang keras.


"Mama benar. Sejak kejadian itu. Arumi bertambah sayang pada Mas Ammar." Ucap Arumi malu.


"Mendapatkan cinta itu kadang mudah Nak. Tapi yang sulit merawatnya. Butuh perjuangan, kesabaran, dan doa untuk merawat cinta... " ucap Ayra lagi.

__ADS_1


Itulah Cinta, Ketika cinta berlabuh dihati ia membuat pesona kita keluar sendirinya. Dan bisa memicu pesona mereka yang kita cintai juga keluar dan berkembang lebih indah.


__ADS_2